Atlas: Lightning From The Wild West

Atlas: Lightning From The Wild West
14: MUNGKIN BISA DIBILANG LIBURAN? BAG 1



MUNGKIN BISA DIBILANG LIBURAN? BAG 1


Malam itu Miller dan Misha mengajak Indra untuk bergadang. Namun karena terlalu mengantuk Indra menolaknya.


Keesokan harinya. Pada pagi hari itu, Indra terbangun mendengar ketukan pintu di hari yang sepagi ini, Indra yang masih setengah sadar mulai melihat sekitarnya ia bingung, kenapa ia bisa berada di tempat semewah itu. Namun, setelah nyawanya sedikit lebih terkumpul ia akhirnya ingat bahwa dia sedang berada di Kastil Avalance.


Indra bangkit berdiri dari kasurnya menuju pintu itu. Ia membukanya dan seorang pelayan sudah berdiri di sana membawa sebuah nampan dengan beberapa gelas minuman di atasnya ada segelas teh dan kopi.


"Ah… terimakasih" ujar Indra sambil meraih gelas kopi itu.


"Dengan senang hati. Tuan Avalance menunggu anda untuk sarapan" balasnya.


"Oh… baiklah aku akan segera ke sana" ujar Indra lagi.


Indra kemudian kembali masuk ke kamar tamu itu dan menaruh kopi itu di atas kabinet yang terletak di sebelah kasurnya. 


Ia menggeser gorden jendela di kamarnya untuk menambah cahaya lalu duduk di kasurnya sambil menikmati kopinya, sembari melihat matahari yang perlahan mulai naik menelan gelap.


Indra kemudian bersiap untuk sarapan, meskipun ia jarang sarapan karena biasanya ia hanya meminum segelas kopi setiap pagi. Namun, untuk menghargai Avalance ia merasa tidak ada salahnya.


Tidak seperti kemarin sore, kali ini Indra sudah sedikit menghafal Kastil itu dan tidak mengalami kesulitan untuk pergi ke ruang makan.


Sesaat kemudian Indra sampai ke ruang makan itu, disitu hanya ada Avalance yang sedang duduk sambil menunggu disana.


"Dimana yang lainnya?" Tanya Indra sambil meraih kursi disana dan duduk menemani Avalance.


"Sepertinya para pelayanku kesulitan membangunkan mereka" ujar Avalance.


"Biar kuingat lagi, ohh… aku ingat! Sepertinya mereka berdua memutuskan untuk bergadang malam tadi. Aku terlalu mengantuk jadi kutinggal saja mereka berdua" balas Indra.


"Yah mereka berdua memang sulit untuk dibangunkan sehabis bergadang. Terkadang aku juga ikut repot oleh mereka" lanjut Indra.


"Mau bagaimana lagi, kita harus menunggu sedikit lebih lama" ujar Avalance.


"Tenang saja, aku sudah terbiasa membangunkan mereka. Serahkan saja padaku, aku tidak akan lama" balas Indra sambil menguap dan akhirnya berdiri dari tempat duduknya.


Indra kemudian pergi untuk membangunkan Miller dan Misha. Dua orang itu memang sangat sulit untuk dibangunkan saat sudah tidur. Namun, Indra tau sebuah trik kecil untuk membangunkan mereka. 


Sesampainya Indra di kamar Miller ia melihat seorang pelayan yang masih belum menyerah untuk mengetuk pintunya. 


"Itu tidak akan bekerja" ujar Indra.


"Serahkan saja padaku" lanjut Indra.


Pelayan itupun mengiyakannya dan meninggalkan Indra sendiri disana. 


Indra pun membuka pintu kamar itu, benar saja Miller masih tertidur pulas di kasur itu. Namun, ada yang aneh. Indra melihat topi milik Misha didalam sana awalnya Indra mengira mungkin Misha terlalu mengantuk tadi malam dan melupakan topinya sebelum ia kembali ke kamarnya sendiri. Tetapi, teorinya terbantah setelah Indra melihat Misha yang juga tertidur pulas tepat disamping Miller.


Indra sedikit kaget melihatnya. Namun, mengingat kedekatan mereka berdua Indra juga tidak heran.


"Wow… aku tidak mengekspektasikan itu. Namun, setidaknya ini menghemat banyak waktuku" ujar Indra.


Indra kemudian memasuki kamar itu dan mencoba untuk membangunkan mereka dengan cara yang normal. Namun, setelah beberapa saat mencobanya itu tidak berjalan dengan baik. Ia sudah mencoba berbagai cara dan tetap tidak bisa membangunkan mereka


"Sepertinya aku harus memakai cara lama" ujar Indra.


Indra lalu segera membuka jendela kamar itu. Dengan sihirnya, Indra membuat petir menyambar tepat di di depan jendela itu. Gemuruh petir itu terdengar keras bahkan terdengar sampai ke seluruh penjuru Kastil.


Avalance yang masih menunggu mereka di ruang makan juga mendengar suara itu.


"Apa lagi yang terjadi disana?" Avalance berbicara sendiri.


Di kamar itu tadi, Miller dan Misha akhirnya terbangun setelah terkaget dengan suara petir Indra.


"Ah… sialan, tidak bisakah kau memakai cara lain? Itu benar-benar mengagetkanku" ujar Miller yang akhirnya terbangun dari hibernasinya.


"Itu benar, cobalah untuk menggunakan cara yang lebih baik" ujar Misha sambil menguap.


"Bicara soal kaget, aku juga sedikit kaget melihat situasi saat ini" balas Indra.


Miller dan Misha segera paham maksud Indra dan saling menatap untuk sesaat.


"Tidak, i-ini bukan seperti yang kelihatannya" ujar Misha.


"Itu benar! Situasinya tidak mudah untuk dijelaskan. Seandainya kau ada di sini malam tadi. Kau pasti paham cerita sebenarnya!" Balas Miller mengangguk canggung.


"Justru karena aku tidak ada malam tadilah yang membuatnya semakin jelas" ujar Indra.


Miller dan Misha mencoba untuk menjelaskannha kepada Indra walaupun mereka juga tau Indra juga tidak peduli dengan itu.


"Terserah kalian saja, aku kan tidak ada hubungannya dengan ini" ujar Indra.


"Kami tau kau tidak peduli. Namun, tolong jangan bilang ke Bella dan Reisth!" Balas Misha memohon.


Indra terlihat bingung.


"Memangnya kenapa?" Tanya Indra.


"Bukan apa-apa. Kami hanya belum siap jika mereka mengejek kami berdua" jawab Miller.


Indra malah dibuat semakin bingung. Namun, mengingat kembali beberapa tahun yang lalu. Bella dan suaminya itu memang suka menggoda Misha dan Miller karena mereka berdua terlihat sangat cocok sebagai pasangan. Tetapi, kala itu Misha dan Miller selalu kesal dan membantahnya. Wajar saja sekarang mereka berdua malu untuk memberitahukannya kepada Bella dan Reisth.


Setelah kembali ke ruang makan itu, Indra segera duduk kembali.


"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Avalance.


"Tidak, itu hanya trik kecilku untuk membangunkan mereka" jawab Indra.


Beberapa saat kemudian Miller dan Misha datang menyusul Indra. Untungnya hidangan-hidangan di meja itu masih hangat.


Akhirnya mereka segera menyantapnya sebelum menjadi dingin. Setelah selesai menikmati hidangan-hidangan itu pelayan Avalance membawa tiga kantong besar. Belum jelas apa isinya.


"Sesuai perjanjiannya, Indra. Aku membawakan 50.000 keping emas sebagai imbalannya. Tentu saja kalian berdua juga akan mendapatkan nilai yang sama Misha, Miller" ujar Avalance.


"Jika kalian berniat berlibur setelah ini, kenapa tidak liburan disini saja? Disini juga banyak tempat yang menarik. Ditambah lagi kalian tidak perlu membayar untuk menginap" lanjut Avalance.


"Itu tawaran yang menarik. Namun, kami bertiga harus segera kembali ke Timur hari ini" balas Indra.


"Kami setuju!!" Ujar Misha dan Miller bersamaan.


"Kau kalah suara, Indra" ujar Avalance.


Indra menghela nafasnya


"Apa boleh buat" ujar Indra.


Hari itu juga mereka bertiga memutuskan untuk berlibur. Indra juga mengingat janjinya dengan Linda. Namun, ia tidak berpikir bahwa Linda akan datang ke Bounty Store untuk mencarinya.


Setelah mereka keluar dari Kastil dan sampai di kota, mereka bingung ingin pergi ke mana.


"Lalu sekarang kita kemana?" Indra bertanya.


"Entahlah" jawab Miller.


"Pertama-tama kita coba untuk pergi ke pasar di kota ini!" Ujar Misha dengan semangat.


"Itu tidak terdengar buruk" ujar Indra.


Mereka kemudian pergi ke pasar. Nampaknya para penduduk di sana sudah benar-benar lupa dengan kejadian kemarin. Atau mungkin, sejak awal mereka sudah percaya dengan Avalance, jika benar maka Avalance benar-benar sosok pemimpin yang hebat.


Pasar itu dipenuhi oleh orang-orang yang saling berdesakan. Namun, bukan pasar namanya jika suasananya tidak seperti itu.


Banyak yang mereka jual disana, seperti sayuran, daging, suvenir, mainan, barang sihir, dan banyak lagi.


Tempat itu terlihat sama seperti pasar pada umumnya. Hanya saja pasar yang satu ini dipenuhi oleh salju dan suhunya yang dingin.


Indra melihat seorang pedagang yang dagangannya sangat menarik perhatian Indra.


"Kalian berdua duluan saja, aku ingin membeli sesuatu" ujar Indra yang segera berlari bahkan sebelum Miller dan Misha merespon.


Indra akhirnya sampai ke tempat pedagang itu, pedagang itu sepertinya bukan pedagang tetap melainkan pedagang keliling. Pedagang itu terlihat menggunakan sebuah gerobak dorong untuk membawa dagangan miliknya.


"Selamat datang, apa ada sesuatu yang kau perlukan? Aku menjual banyak hal" ujar Pedagang itu.


"Tentu, apa yang bisa kau rekomendasikan?" Indra bertanya.


Entah mengapa Indra datang ke pedagang itu tanpa mengetahui apa yang ingin ia beli.


"Reisth, sudah kuduga topi itu tidak cocok denganmu. Namun, entah mengapa dia terlihat sangat cocok memakainya" ujar sang pedagang dengan pelan.


"Kau bilang sesuatu?" Tanya Indra.


"Tidak. Oh iya … yang disini adalah barang-barang yang sangat kurekomendasikan" jawab sang pedagang.


Setelah melihat-lihat untuk waktu yang sangat lama, Indra akhirnya menghabiskan ribuan keping emas untuk barang-barang seperti Potion, Dekorasi Meja, dan Dekorasi Dinding. Pedagang itu seperti menjual hampir apa saja. Saking lamanya Indra, pedagang itu bahkan sudah mulai mengemas dagangannya.


"Kau sudah mau tutup? Cepat sekali" ujar Indra.


"Bukan aku yang cepat tutup, tapi kau yang terlalu lama melihat-lihat" balas Pedagang itu.


"Omong-omong, siapa namamu?" Tanya sang pedagang.


"Indra" jawabnya.


"Reven, Reven Stahl" balas Reven.


"Sepertinya takdir memang tidak bisa ditebak, Indra" lanjut Reven.


Indra terlihat bingung.


"Maksudnya?" Tanya Indra.


"Sampaikan salamku pada Reisth" ujar Reven yang sudah mulai jauh dengan mendorong gerobaknya.


"Ohh… dia kenalan Reisth. Reisth memang sedikit aneh jadi tidak heran kenalannya juga" ujar Indra.


Indra mulai melihat sekitarnya dan ternyata hari sudah gelap dan Indra bahkan tidak menyadarinya. Pasar itu bahkan juga mulai sepi.


"Sial… ternyata memang lama" ujar Indra.


Indra yakin Misha dan Miller pasti sudah pulang ke kastil Avalance karena kelamaan menunggunya.