
PULANGNYA IGNIS
"Sepertinya aku terlalu meremehkanmu, Indra. Kau lebih baik dari yang kukira" ujar Ignis memuji Indra.
"Setelah mengetahui semuanya, aku merasa semua perkataan mu sejak dulu hanya seperti kebohongan" balas Indra.
"Tidak, kau salah. Aku tetap mengajarkanmu hal yang kupikir benar. Contohnya jangan menjadi budak pemerintah, syukurnya kau mampu mewujudkannya" ujar Ignis.
"Setidaknya… itu membuatku sedikit lebih lega. Kupikir semua perkataan dan nasihat mu hanyalah kepalsuan" balas Indra.
"Aku tidak sekejam itu bahkan ketika sedang berpura-pura" ujar Ignis.
Beberapa saat kemudian, Indra masih menjaga Ignis dan berniat untuk tidur di ruang perawatan.
"Kembalilah, Indra. Avalance tidak kekurangan pelayan untuk membantuku. Istirahatlah" ujar Ignis.
"Harusnya aku yang bilang begitu" balas Indra yang segera bangkit berdiri dan berjalan keluar.
Karena penasaran dengan surat yang dipajang oleh Avalance di ruang harta, Indra menyusup ke ruang harta dan mencoba untuk meminjamnya. Indra juga menemukan satu surat lagi yang tidak dipajang. Namun, surat itu ditulis oleh Avalance untuk Ignis. Karena penasaran, Indra mengambilnya dan berniat menunjukkannya kepada Ignis besok pagi.
Surat yang ditulis oleh Avalance kepada Ignis membuat Indra sangat penasaran. Apa yang dikatakan oleh Avalance kepada Ignis. Indra tidak sabaran dan mencoba membukanya.
"Kakak, aku punya hal yang ingin kusampaikan padamu. Aku tau kita memang sering bertemu. Namun, aku tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya secara langsung.
Istriku kini sedang mengandung anak kami, bagaimana perasaanmu? Kau akan segera menjadi paman!
Aku menulis ini saat istriku masih mengandung selama sebulan. Namun, ketika kau menerima surat ini, mungkin Tessa sudah mengandung selama 4 bulan.
Kuharap aku bisa menyampaikan ini secara langsung kepadamu, kak. Namun, aku terlalu gugup.
Sampai jumpa - Adikmu, Avalance"
Indra menghela nafas. Ia menjadi semakin mengerti dengan kesedihan Avalance. Kali ini dia mencoba membuka surat dari Tessa untuk Avalance.
"Sayang, aku tau kau sedang sibuk dan jarang berada di rumah akhir-akhir ini. Namun, aku punya informasi penting yang harus kau ketahui.
Kau akan segera menjadi seorang ayah!
Benar! Aku sedang mengandung, dan aku tidak memiliki kesempatan untuk memberitahukannya kepadamu. Aku tau kau sibuk. Namun, aku sangat menunggu kepulanganmu.
Sampai jumpa lagi, sayang.
Kekasihmu, Tessa"
Isi dari surat itu berada diluar ekspektasinnya. Akhirnya Indra paham sumber dari kesedihan yang selalu terpancar dari sorot mata Avalance. Indra juga merasa bahwa mungkin saja surat-surat ini bisa saja menyadarkan ayahnya. Membuat ayahnya merasa bersalah kepada Avalance.
Indra memiliki rencana untuk nantinya jika ia harus berhadapan dengan ayahnya. Lalu rencana itu memerlukan dua pucuk surat ini. Indra kemudian segera kembali ke ruang harta dan menukar surat yang dipajang oleh Avalance dengan surat lain.
Cepat atau lambat Avalance akan sadar. Namun, ia tidak terlalu peduli.
Keesokan harinya, pagi itu Indra mendengar ketukan pintu dari dalam kamarnya, berbeda dengan biasanya kali ini ketukan pintu itu terdengar lebih keras seolah memaksanya bangun. Indra kemudian membukakan pintu itu dan Ignis sudah berdiri di depannya.
"Tepati janjimu" ujar Ignis yang berdiri di depan Indra.
"Baiklah, ikuti aku" balas Indra yang masih mengantuk.
Baru kemarin Ignis terbaring lemah di kasur pasien. Namun, dalam semalam ia bisa memulihkan sebagian besar lukanya. Level dari seorang Penyihir Agung memang jauh berbeda.
"Kenapa kau bisa bersama dengan Avalance? Bukankah kalian saling bermusuhan?" Tanya Indra.
"Benar. Namun, untuk sesaat saja kami akan mengabaikan hal itu" jawab Ignis.
Indra yakin Ignis dan Avalance mengabaikan konflik mereka satu sama lain karena kehadiran Chaos Dragon di Nosferat. Hal itu sudah sangat jelas di mata Indra.
"Jadi begitu… Chaos Dragon masih berada di Nosferat" ujar Indra.
"Bagaimana kau mengetahuinya?" Tanya Ignis.
"Hanya tebakan beruntung" ujar Indra.
Beberapa saat kemudian, Indra dan ayahnya akhirnya sampai di ruang harta milik Avalance.
Indra membawa Ignis ke tempat dimana koleksi surat Avalance tersimpan. Indra tidak memberitahukan soal surat yang terpajang di dalam kaca. Ia hanya membawa Ignis ke segunung surat yang lainnya.
Ignis membuka amplop-amplop itu dan perlahan membaca surat di dalamnya satu persatu. Tak lama kemudian ia berdiri dan berjalan keluar tanpa mengatakan sepatah katapun. Indra menyusulnya keluar, Ignis terus berjalan hingga ke gerbang Kastil. Anehnya lagi tidak ada satupun prajurit yang menghalangi Ignis layaknya seorang musuh. Indra mengira itu mungkin ulah Avalance yang menyuruh para prajuritnya mengabaikan Ignis.
"Kau mau kemana?" Tanya Indra.
"Kembali ke Wilayah Selatan" jawab Ignis.
"Bagaimana dengan Chaos Dragon yang masih berada di Nosferat?" Tanya Indra lagi.
"Aku yang sekarang masih tidak mampu. Tidak jika sendiri" jawab Ignis.
"Setelah aku kembali menginjakkan kaki di Wilayah Selatan, kalian akan kembali menjadi musuhku! Sekarang… ambil lah ini, Indra" ujar Ignis melemparkan sebuah kartu ke arah Indra.
Benda itu berbentuk seperti kartu pada umumnya. Namun, terbuat dari emas. Sebuah logo yang sepertinya adalah logo Wilayah Selatan di salah satu sisinya, sedangkan sisi yang satunya terukir sebuah garis aneh yang memenuhi sisi itu.
"Itu adalah benda yang akan membantumu untuk masuk ke Wilayah Selatan. Anggap saja hadiah karena telah merawatku" jawab Ignis.
"Kau yakin? Aku bisa saja berkunjung sebagai mata-mata untuk Avalance" balas Indra.
"Avalance bukanlah orang yang pengecut. Entahlah jika itu kau, Indra" ujar Ignis yang sudah berada di luar Kastil dan melanjutkan perjalanannya untuk pulang.
Indra kemudian kembali masuk ke Kastil Avalance. Ia pergi ke kamar Cheryl untuk mencarinya karena Indra merasa bosan.
Namun, setelah mengetuk pintu kamar cukup lama, Indra merasa Cheryl sudah keluar dari kamarnya. Karena itu Indra pergi ke ruang makan dan benar saja Cheryl sudah berada di sana sambil menikmati sarapannya ditemani oleh beberapa koki yang membawakanya makanan. Indra heran dengan para koki itu, Cheryl hanya menginginkan beberapa lembar roti. Namun, semua koki itu ikut menghidangkannya kepada Cheryl. Mungkin itu memang cara mereka untuk menyambut tamu.
"Indra! Aku mencoba mencarimu di kamarmu. Namun, aku tidak mendengar jawaban. Karena itu aku mau tidak mau, aku pergi sarapan sendiri. Sayangnya, aku tidak sanggup menunggu hidangan yang lain, jadi aku memilih untuk memakan roti dan selai, kau mau mencobanya? Ini lezat!" ujar Cheryl yang berbicara sambil mengunyah dua lembar roti yang di isi selai di dalamnya.
"Tidak, makan saja sepuasmu. Kebetulan sekali, aku juga baru saja dari kamarmu untuk mencarimu" balas Indra.
"Aku tidak pernah mencium bau Selai semanis ini sebelumnya, Selai apa yang kau oleskan di roti itu?" Tanya Indra mengganti topik.
"Selai Ceri. Makanan favoritku, kurasa ini menurun dari ibuku karena dia juga sangat menyukainya dia sampai menamaiku Cheryl saking sukanya dengan buah Ceri, lucu bukan? Haha" jawab Cheryl sambil tertawa kecil.
"Ayahku pernah bilang kalau ibu hanya mengidam buah Ceri selama ia mengandung aku" lanjut Cheryl sambil kembali melahap roti selai itu.
Indra tertawa.
"Tidak heran, kalau kau tidak kalah manis" ujar Indra menggoda Cheryl.
Cheryl terkejut mendengar itu tiba-tiba keluar dari mulut Indra. Ia tersedak roti dan terbatuk karenanya. Indra bahkan juga ikut panik.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Indra sambil mengelus pundak Cheryl yang masih terbatuk setelah tersedak.
"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit terkejut" jawab Cheryl setelah batuknya mereda.
Jarang ada yang mengatakan hal seperti itu kepada Cheryl, mengigat ia adalah seorang petualang yang bisa dibilang sekelas dengan Misha. Orang-orang tidak berani sembarangan mengajaknya berbicara. Ditambah lagi, tidak banyak laki-laki yang ia ajak bicara. Hal itu membuat para lelaki lain mengira selera Cheryl cukup tinggi. Dan jika memang seperti itu, Indra pun sudah memenuhi kriterianya.
"Maaf, aku hanya terkejut mendengar candaanmu" ujar Cheryl malu-malu.
"Siapa bilang aku sedang bercanda? Aku berkata sejujurnya" balas Indra.
"Eh…? Um… terimakasih" ujar Cheryl yang masih malu-malu.
"Omong-omong, bagaimana denganmu? Apa makanan kesukaanmu?" Tanya Cheryl menambah topik.
"Aku? Aku yakin kau tidak akan percaya. Namun, aku menyukai kadal yang dibakar. Terutama kadal gurun. Ya… aku tau itu terdengar menjijikkan, tapi… menurutku rasanya cukup nikmat" jawab Indra dengan wajah yang mengatakan bahwa itu hal biasa.
Cheryl sejenak berhenti melahap rotinya dan menatap Indra. Ia lagi-lagi kehabisan kata-kata ketika berbicara dengan Indra.
Tak lama kemudian, hawa dingin yang menusuk tiba-tiba memenuhi ruangan itu. Avalance tiba di ruangan itu dengan wajah yang kurang senang.
"Oh, hei Avalance. Sudah baikan?" Tanya Indra mengabaikan hawa dingin itu.
"Indra. Dimana Ignis, ayahmu?" Avalance bertanya balik.
"Oh… ayah. Setelah mengacak-acak ruang hartamu, dia bilang akan kembali ke Wilayah Selatan" jawab Indra.
Indra sedikit berbohong untuk menutupi tentang surat yang ia curi dari ruang harta.
Avalance menghela nafas.
Avalance kemudian duduk di meja makan itu. Para koki disana sangat panik karena mereka tidak menyiapkan hidangan untuk Sang Raja. Para koki itu berlarian ke dapur untuk segera memasak sesuatu untuk Avalance. Cheryl yang juga ikut terkejut melihat kedatangan Avalance memutuskan untuk keluar karena ia tidak berani untuk memulai percakapan dengan orang sekelas Avalance.
"Indra, aku harus keluar sekarang! Aku tidak berani berbicara dengan Raja Wilayah Utara" bisik Cheryl kepada Indra.
Cheryl lalu berlari keluar sambil membawa rotinya yang belum kunjung habis. Meninggalkan Avalance dan Indra.
"Ayahmu sepertinya memang sudah berubah" ujar Avalance.
Indra tidak menjawab.
"Sepertinya kau membawa teman baru, dimana Misha dan Miller?" Tanya Avalance.
"Mereka cukup sibuk dengan para Wyvern" jawab Indra.
"Jadi begitu… maaf harus merepotkanmu untuk melindungi wilayah ini" balas Avalance.
"Aku hanya menginginkan imbalannya" ujar Indra.
"Omong-omong, bagaimana kau bisa dekat dengan para penduduk dari Negeri Avalon?" Tanya Avalance. Sepertinya Avalance belum berniat untuk mengungkap jumlah bayaran Indra.
"Kau tau soal itu? Wow. Sebenarnya aku hanya mengetahuinya dari Bella, jika kau bertanya siapa itu Bella. Bella adalah salah satu orang yang membesarkan kami bertiga. Bella mengatakan bahwa Miller dan Misha sudah bersamanya sejak umur 5 tahun, Bella memungut mereka berdua dari Negeri Avalon saat Bella masih menjadi seorang petualang. Dia bilang kalau dia memungut mereka dari 'Sebuah Insiden' yang Bella sendiri tidak mau menceritakannya kepadaku" jawab Indra.
"Negeri Avalon adalah negeri yang penuh dengan Penyihir, dari total 10 Penyihir Agung 5 diantaranya berasal dari Avalon. Para penduduknya memiliki aura yang khas dan hal itu membuat mereka mudah dikenal" balas Avalance.
"Lalu mengenai Insiden ini. 13 tahun yang lalu, seingatku memang ada Insiden yang melibatkan banyak korban di Negeri itu" lanjut Avalance.
"Ya aku juga tau. Mereka berdua memiliki masa lalu yang kelam. Namun, tetap saja mereka adalah sahabat yang baik" ujar Indra.