Atlas: Lightning From The Wild West

Atlas: Lightning From The Wild West
38: KEMBALI KE BARAT LIAR



KEMBALI KE BARAT LIAR


Para koki Istana kemudian kembali dengan membawa beberapa hidangan dan sebotol anggur arunika untuk Avalance dan Indra. Namun, Indra menolak. Avalance kemudian meraih sepasang gelas dan menuangkan anggur itu ke dua gelas itu, dan menyuguhkan salah satunya kepada Indra.


"Avalance, seandainya kau berhenti menjadi seorang Raja. Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Tanya Indra.


Avalance menaruh kembali gelas anggur yang baru ia minum seteguk itu.


"Aku pikir… aku ingin membuka sebuah akademi sihir. Bukan di Negeri ini tentunya, aku berniat membangunnya di Negeri Avalon tempat dimana isinya memanglah para penyihir hebat" jawab Avalance.


Indra tertawa mendengarnya.


"Itu terdengar hebat, apakah suatu hari aku juga bisa menjadi guru disana?" Tanya Indra dengan bercanda.


"Aku tau kau sedang bercanda. Namun, jika suatu saat kau menganggapnya serius maka aku akan selalu menerimamu" jawab Avalance.


"Ayolah… umurku tidak akan sepanjang itu sampai sempat melihatmu membuka sebuah akademi sihir" balas Indra.


Mendengar itu Avalance memasang wajah yang terlihat sedih mengingat Indra suatu saat juga akan menjadi sebuah kenangan baginya.


"Tentang upahmu…" ujar Avalance mengganti topik.


"Aku mendengarkan" balas Indra.


"Aku menyediakan 20.000 keping emas" ujar Avalance.


Indra berniat protes. Namun, Avalance melanjutkan perkataannya sebelum Indra sempat protes.


"Ditambah dengan sebuah Villa di Wilayah Timur. Awalnya aku berniat menggunakan Villa itu untuk tempat berlibur. Namun, karena kutukanku aku tidak bisa sering-sering pergi kesana. Daripada tempat itu kosong selama lebih dari satu abad, lebih baik aku memberinya kepadamu, Indra" lanjut Avalance.


Indra tidak jadi protes dan menerimanya dengan senang hati. Setelah makan siang itu, Tiana membawakan Indra beberapa kantong emas senilai 20.000 keping emas dan puluhan kunci.


"Kukira aku hanya mendapat satu Villa" ujar Indra.


"Benar, Tuan Indra. Namun, ini bukan hanya kunci pagar dan pintu. Sebuah Kunci pagar, Empat buah kunci masuk dari pintu yang berbeda arah, sebuah kunci perpustakaan, 5 buah kunci toilet, dan sisanya adalah kunci kamar" balas Tiana sambil menunjukan kunci-kunci itu satu-persatu.


Indra akhirnya mengerti dan menerima semua itu dari Tiana. Ia sudah berniat kembali. Namun, sebelum itu ia harus pamit dengan Avalance.


Indra mencari Avalance kemana-mana. Namun, tidak menemukannya dimanapun. Hanya ada satu tempat yang Indra belum lihat. Ruang harta, Indra segera pergi menuju ruangan itu dan benar saja. Avalance sudah ada disana melihat surat yang telah Indra curi menghilang dari tempatnya. Namun, Avalance mengira Ignis yang mencurinya setelah perkataan Indra tadinya.


"Ternyata kau disini, Avalance" ujar Indra.


"Menurutmu, mengapa Ignis harus repot-repot mencuri surat itu?" Tanya Avalance.


Indra langsung panik mendengarnya, Indra tidak tau harus mengarang apa untuk menjawab pertanyaan Avalance.


"Um…coba kupikir. Ada pepatah yang mengatakan bahwa 'Cinta adalah kekuatan. Namun, cinta juga mampu menjadi senjata makan tuan' kalau tidak salah kata Ignis dan Tiana, Tessa adalah mantan kekasihmu bukan? Menurutku Ignis berniat mencari kelemahanmu dari masa lalumu bersama Tessa" jawab Indra.


Tentu saja itu adalah hasil karangan Indra, tidak pernah ada pepatah seperti itu. Dan parahnya, Avalance mempercayainya.


"Orang itu memang tidak bisa kau prediksi. Namun, jika itu memang benar, maka itu tidak akan berguna. Aku selalu belajar dari masa lalu" balas Avalance.


"Yah… kau benar. Namun, orang itu sangat licik. Kita tidak tau apa rencananya selanjutnya" ujar Indra.


"Kau benar… aku sebaiknya harus lebih berhati-hati mulai sekarang" balas Indra.


"Omong-omong, Ignis juga mengatakan bahwa sesampainya ia di Wilayah Selatan. Maka Wilayah Utara akan kembali menjadi musuhnya" lanjut Indra.


"Jika itu jalan yang ia pilih. Maka akan kuladeni kapanpun" ujar Avalance.


"Apakah kalian tidak bisa akur sebagai saudara? Sudahlah… untuk saat ini aku ingin kembali ke Wilayah Timur, jika kau butuh bantuanku lagi hubungi saja aku. Terutama jika itu soal ayah, aku akan segera membantu. Sampai jumpa. Jaga dirimu, Avalance" ujar Indra pamit dan berjalan keluar dari ruang harta itu.


"Berhati-hatilah" balas Avalance.


"Ayo, tugas kita sudah selesai. Bayaran kita juga sudah kuterima" ujar Indra.


"Eh? Sekarang? Tunggu! Aku belum berkemas" balas Cheryl.


Hal itu membuat Indra harus menunggu sedikit lebih lama. Beberapa saat kemudian, Cheryl keluar sambil memakai jubah musim dingin dan membawa beberapa barang belanjaan yang ia gantung di lengannya.


"Ayo!" Ujar Cheryl menarik tangan Indra.


"Kapan kau membeli semua itu?" Tanya Indra.


"Sebelum kedua adikmu datang mengacau" jawab Cheryl.


"Oh iya! Aku lupa, ini jaketmu yang kau pinjamkan kemarin" lanjut Cheryl yang memberikan jaket Indra kembali.


"Terimakasih, eh? Kenapa ada bau buah ceri yang menempel?" Tanya Indra bingung setelah mengendus jaketnya.


"Bukankah itu bau yang manis? Aku pikir kau akan menyukainya, jadi…" jawab Cheryl.


Indra kembali mengendus jaketnya untuk mencium aroma ceri dari jaket itu lagi.


"Ya, kau benar. Baunya sangat manis dan terasa lembut ketika dihirup. Aku menyukainya" balas Indra.


"Oh iya, tentang bayaran kita. Ini bagianmu" ujar Indra memberikan beberapa kantong emas yang berisi emas sebanyak 20.000 keping.


"Ah! Terimakasih. Namun, sepertinya… akan sulit membawanya" balas Cheryl.


Cheryl tidak merasa bahwa pembagian Indra tidak adil mengingat Indra adalah yang menghabisi sebagian besar dari para Wyvern itu. 20.000 keping emas juga bukan nilai yang sedikit baginya.


Mereka berdua kemudian berangkat ke kota Kals untuk menyewa Kereta Kuda Sihir. Sebelum itu, Cheryl menaruh emasnya di bank agar tidak repot membawa banyak kantong emas. Indra tidak mengambil bagian dari emas itu karena sebuah Villa sudah lebih dari cukup baginya.


Akhirnya mereka berdua kembali ke Wilayah Timur setelah beberapa jam mengendarai Kereta Kuda Sihir. Cheryl dan Indra berpisah di taman kota setelah saling pamit. Taman kota itu dipenuhi oleh mayat Wyvern dan banyak penduduk yang terluka. Indra yakin Misha dan Miller tidak ada di Wilayah Timur karena jika kedua orang itu ikut bertempur, maka pasti ada bangunan yang rusak karena kedua orang itu. Melihat kondisi bangunan-bangunan disana yang masih utuh membuat Indra tidak yakin dengan kehadiran Miller dan Misha disana. Dua sahabatnya itu kemungkinan besar sedang berada di Wilayah Barat.


Indra awalnya berniat mengecek Villa pemberian Avalance. Namun, ia tidak jadi melakukannya dan memilih untuk pergi ke Wilayah Barat menyusul Misha dan Miller.


Saat Indra berada di gerbang keluar dari Kota. Ia kembali bertemu dengan Cheryl yang kebetulan juga sedang lewat sana.


"Indra! Kita bertemu lagi. Sekarang kau ingin pergi kemana?" Tanya Cheryl menghampiri Indra.


"Wilayah Barat" ujar Indra.


"Wilayah Barat?! Aku tidak pernah kesana sebelumnya! Bolehkah aku ikut denganmu?" Tanya Cheryl memohon.


Indra tidak punya alasan menolak, ditambah lagi Cheryl banyak membantunya di Wilayah Utara.


"Aku tidak keberatan. Namun, aku menyarankanmu memakai pakaian yang lebih tipis dan terbuka" ujar Indra.


"Hm… jadi kau suka tipe yang seperti itu? Tapi aku tidak mau" balas Cheryl.


"Tidak, bukan itu maksudku. Wilayah Barat adalah daerah yang sangat panas, terutama di siang hari. Karena itu aku menyarankan mu memakai pakaian yang lebih tipis. Jangan samakan aku denganmu, aku sudah berada di sana sejak lahir. Akan sulit bagi pendatang baru untuk beradaptasi dengan suhu disana" ujar Indra.


"Eh…? Um… b-baiklah. Aku akan segera kembali" balas Cheryl.


Cheryl merasa sedikit malu salah paham dengan maksud Indra.


Tak lama kemudian, Cheryl kembali dengan pakaian yang lebih tipis dan lebih terbuka. Cheryl menggunakan bandeau berwarna hitam dengan sebuah blouse tipis berwarna putih.


"Apa kira-kira begini?" Tanya Cheryl malu-malu.


"Benar… meski warna hitam lebih menyerap panas. Namun, itu terlihat cocok denganmu" jawab Indra.


"Kalau begitu, ayo kita berangkat ke Barat Liar!" Balas Cheryl.