Atlas: Lightning From The Wild West

Atlas: Lightning From The Wild West
40: PETUALANG YANG BANTING ARAH



PETUALANG YANG BANTING ARAH


Malam itu berlanjut dengan mereka yang bermain poker dengan bertaruh beberapa keping emas. Indra menjadi sang bandar dan yang lainnya menjadi pemain, kecuali Cheryl yang sudah tertidur.


Indra mulai membagikan sepasang kartu ke masing-masing pemain. Setelah Indra membuka tiga kartu pertama di meja, mereka semua mengecek kartu di tangan. Tiga kartu tersebut adalah 3 Hati, 3 Sekop, dan 3 Semanggi.


"ALL IN!!" Ujar Miller dengan penuh semangat.


"Kau cukup percaya diri, Miller" balas Indra.


Miller memegang sepasang kartu Jack ditangannya, Jack Hati dan Jack Gegatas. Membuat kartunya menjadi Full House.


"Oh tidak, aku tidak mau tambah rugi. Fold" ujar Reisth.


"Fold" ujar Bella juga.


"All in" ujar Misha membalas Miller.


"Aku harap kartu di tanganmu lebih baik dari milik ku, Misha. Namun, tenang saja aku akan mengembalikan uangmu. Pria macam apa aku jika berani merampas uang pasangannya sendiri" balas Miller.


Bella dan Reisth berusaha keras untuk menahan tawa ketika mendengarnya.


"Kau terlalu percaya diri" ujar Indra.


"Begitu ya? Jika aku menang aku tidak akan mengembalikan uangmu tau" ujar Misha juga.


Karena semua pemain sudah All in, Indra segera membuka dua kartu terakhir di meja. Kartu itu adalah sepasang kartu as. As Gegatas dan As Semanggi.


Miller tertawa.


"Jadi di meja juga sudah Full House? Jadi sekarang tergantung pada tangan pemain" ujar Miller sambil menaruh sepasang Jack di tangannya ke meja.


"Four of a kind" ujar Misha menaruh sepasang kartu di meja.


Kartu yang ia taruh adalah As Hati dan As Sekop.


"Sudah kubilang…" ujar Indra menyimpun kartu.


"I-itu semua sesuai rencanaku" balas Miller mencari alasan.


Miller rugi sebesar 8.500 keping emas.


Mereka lanjut bermain hingga tengah malam, kini itu bukan lagi poker melainkan ajang memeras Miller. Miller rugi senilai 49.610 keping emas dalam permainan itu.


Keesokan harinya, matahari sudah terbit. Namun, Bella dan Reisth sama sekali belum bersiap membuka tempat itu. Indra duduk di depan meja bartender dan berbincang dengan Reisth yang sedang mengelap gelas.


"Tidak ada minuman gratis" ujar Reisth.


"Apakah wajahku terlihat seperti seorang pencuri minuman?" Tanya Indra.


"Aku ingat ada seseorang yang dulu sering mencuri satu atau dua teguk minuman disini. Namun, aku tidak pernah mengungkitnya" jawab Reisth.


Indra segera memalingkan pandangannya seolah tau jika orang yang dibicarakan adalah dirinya sendiri.


Tak lama kemudian, Cheryl dan Misha turun dari atas.


"Misha, kau tidak sekamar dengan Miller lagi?" Tanya Indra.


Misha tiba-tiba panik dan mengode Indra untuk menyuruhnya diam.


"Sekamar? Apa maksudmu, Indra?" Tanya Reisth.


"Itu cerita yang lucu, Reisth. Beberapa waktu yang lalu, aku sempat memergoki mereka berdua dalam satu kamar. Mereka berdua tertidur sangat pulas sambu berpelukan, aku sampai kesulitan membangunkan mereka" jawab Indra.


Reisth tertawa terbahak-bahak.


"Seingatku kalian berdua sering bertengkar, bahkan sampai tidak ingin tidur di ruangan yang sama. Namun, lihatlah sekarang" ujar Reisth.


"Semua orang bisa berubah bukan? Tidak ada yang akan tau" balas Misha yang wajahnya memerah.


Cheryl kebingungan sejak awal ia sampai ke Wilayah Barat. Sikap orang-orang disana seolah tidak pernah terjadi apapun. Padahal serbuan para Wyvern baru saja berlalu, bahkan bangkai para Wyvern itu masih berserakan di Kota. Namun, orang-orang bersikap biasa saja.


"Kenapa semua orang terlihat tenang? Bukankah serbuan para Wyvern itu baru saja terjadi?" Tanya Cheryl kebingungan.


Indra tertawa.


"Mereka memanggil tempat ini Barat Liar bukan hanya sebagai julukan. Namun, karena kata 'Ketakutan' tidak ada di Wilayah ini" jawab Indra.


"Kau tidak percaya? Baiklah, ayo jalan-jalan" ujar Indra yang segera keluar dari Angel Eyes.


"Eh? Sekarang?" Balas Cheryl menyusul Indra keluar.


"Aku setuju, omong-omong… jangan katakan hal yang Indra ceritakan tadi kepada Bella, Reisht. Kumohon… dia pasti akan menertawakan kami sepanjang hari" balas Misha.


Reisht tertawa.


"Aku harus menolak, ini akan menjadi bahan yang seru untuk dibahas bersamanya" ujar Reisht.


Beberapa saat kemudian, Indra dan Cheryl sampai di Kota Houstin.


"Cheryl, kau pernah bilang ingin menjadi seorang Bounty Hunter bukan? Bagaimana jika sekarang kau menjadi Bounty Hunter, apa kau tertarik?" Tanya Indra.


"Sekarang?! Kalau begitu… baiklah, kenapa tidak? Tunjukan jalannya, Indra" jawab Cheryl.


"Baiklah" balas Indra.


Indra kemudian membawa Cheryl ke Bounty Store di pinggir Kota, sebuah tempat yang kecil ditambah lagi kayu bagian luarnya sudah busuk. Indra kemudian memasuki tempat itu disusul oleh Cheryl.


"Hai Paman, bagaimana bisnimu akhir-akhir ini?" Tanya Indra.


"Indra!! Kau kembali!! Akhirnya Bounty Store kita mendapatkan sistem yang baru, tapi sulit bagi mereka untuk beradaptasi" jawab Orang itu.


"Aku kemari untuk mencari pekerjaan, lalu aku juga membawa anggota baru" ujar Indra lagi.


"Selamat datang, orang asing. Aku adalah pemilik tempat ini, kau boleh memanggil ku Bos jangan sok akrab seperti Indra" ujar Orang itu kepada Cheryl.


"Lalu bagaimana? Ada berapa pekerjaan hari ini?" Tanya Indra.


"Sayangnya belum ada yang menarik untukmu hari ini, kembalilah besok. Mungkin saja akan ada pekerjaan yang lebih menarik untuk mu" jawab Orang itu.


"Sialan, kurasa aku tidak punya pilihan lagi. Kalau begitu sampai besok, paman" balas Indra pamit.


"Tunggu, bagaimana dengan pendaftaranku?" Tanya Cheryl.


"Kau sudah resmi menjadi Bounty Hunter, sistem kami tidak merepotkan seperti kalian para petualang" jawab Indra.


"Untuk sekarang tidak ada pekerjaan yang menarik, jadi lebih baik menunggu saja. Sangat jarang ada seorang Petualang yang banting arah menjadi Bounty Hunter" lanjut Indra.


Hari itu Indra menghabiskan waktunya bersama Cheryl, dia menunjukan seluk beluk Kota Houstin untuk Cheryl. Indra juga kembali mengajak Cheryl untuk minum kembali di kedai kemarin. Namun, kali ini Cheryl memesan minuman lain ia jera setelah meminum pesanan Indra.


Tak terasa hari sudah mulai gelap, itu adalah hari yang cukup menyenangkan untuk mereka berdua. Hari sudah larut ketika mereka kembali ke Angel Eyes, kebetulan Bella dan yang lain sedang makan malam.


"Pas sekali! Ayo makan!" Ujar Bella.


Indra dan Cheryl awalnya saling menatap sebelum akhirnya duduk di meja makan. Masakan yang sudah terhidang itu adalah masakan-masakan khas barat seperti Daging asap, daging kering, roti, dan kentang tumbuk.


"Apa kita akan kembali bermain Poker?" Tanya Indra sambil menikmati makanannya.


"Tidak, aku sudah terlalu banyak rugi kemarin" jawab Miller.


"Kau All in sebanyak 24 kali dan tidak menang sekalipun, menyedihkan" balas Misha.


Mereka semua tertawa.


Setelah makan malam itu, Indra yang sudah lelah akhirnya bisa berbaring di sebuah kasur. Ia segera tertidur pulas setelah menyentuh bantal.


Tiba-tiba, ia terbangun di tempat yang sangat asing.


"Hah? Apa-apaan? Aku yakin tadi aku hanya menyentuh bantal dan tertidur" ujar Indra panik.


Tempat itu benar-benar asing, semua daratannya berwarna putih keabuan. Ia juga melihat bola hijau yang bercampur dengan biru dilangit yang gelap itu. Di tengah daratan itu ada sebuah kastil besar, karena penasaran dengan apa yang terjadi Indra tanpa pikir panjang segera memasuki tempat itu.


Tempat itu bahkan lebih megah dibandingkan dengan Kastil Avalance. Namun, tidak ada tanda-tanda kehidupan disana.


"Selamat datang, Indra" ujar seseorang yang muncul entah darimana.


Sosok yang memiliki rambut putih panjang dan pakaian serba putih.


"Luzin!! Ternyata kau yang membawaku kesini" balas Indra.


"Benar, aku memanggil jiwamu kemari" ujar Luzin.


"Jiwaku?? Tunggu, berarti aku sudah mati?" Tanya Indra.


"Tidak, tubuhmu masih hidup. Namun, jiwamu berada di sini" jawab Luzin.


"Syukurlah. Kalau begitu… ada masalah apa saat ini?" Tanya Indra lagi.


Indra tau bahwa Luzin tidak akan memanggilnya ke bulan tanpa alasan yang jelas.