Atlas: Lightning From The Wild West

Atlas: Lightning From The Wild West
61: KANDIDAT TERBAIK



Tidak seperti wilayah lain yang memiliki lebih dari satu Kota, Wilayah Selatan hanya memiliki satu kota Induk. Kota itu dilindungi oleh tembok tinggi yang menjulang tinggi mengelilingi Kota besar itu. Meski tertutup oleh dinding besar, masih ada satu bangunan yang masih terlihat dari luar tembok, bangunan itu adalah Wunderlicht, Kastil besar yang menjadi saksi bisu dari kekuasaan tirani Ignis sebelum ia memutuskan menjadi orang yang lebih baik. Wilayah Selatan memang hanya memiliki satu Kota induk. Namun, Kota itu jauh lebih besar daripada kota-kota wilayah lain yang digabungkan.


"Kita akan langsung pergi ke Wunderlicht." Ujar Ignis.


"Tempat besar itu? Tidak bisakah aku pergi ke penginapan saja? Aku belum siap menemui keluargamu, aku bahkan tidak berani memanggilmu ayah jika nanti benar-benar bertemu dengan mereka." Balas Indra.


Ignis tidak merespon dan tetap berjalan.


Indra masih sedikit takut untuk bertemu dengan keluarga asli ayahnya, karena bisa dibilang ia adalah anak yang "tidak diinginkan" ia takut keberadaannya tidak akan disukai. Namun, Ignis terlihat tidak peduli dan tetap membawa Indra ke Kastilnya. Indra berhenti ketika melihat gerbang kastil itu, kastil ini jauh lebih megah dibandingkan milik Avalance.


Para pasukan yang menjaga gerbang masuk terlihat kebingungan ketika melihat Ignis membawa seseorang yang asing dimata mereka, seumur hidup mereka tidak pernah melihat Ignis membawa orang asing memasuki Kastil itu.


Tanpa menunggu lagi, Ignis segera membawa Indra menuju ke ruang singgasananya. Pelayan, Penjaga, bahkan para penasihat pun terlihat kebingungan melihat Ignis membawa orang asing kedalam ruang singgasana, Indra pun juga sedikit bingung melihat para penasihat Raja, ia tau betul bahwa ayahnya adalah Raja yang Tiran. Mustahil ia memiliki penasihat, atau mungkin saja ayahnya itu benar-benar mencoba untuk berubah.


Ketika mereka berdua memasuki ruang singgasana itu, terdapat sebuah karpet merah yang membentang dari pintu hingga singgasana besar Sang Raja. Berbeda dengan ruang singgasana Avalance, ruang singgasana Ignis terlihat lebih hidup dan berisi lebih banyak orang.


Indra berhenti di depan singgasana ayahnya, dan Ignis terus melangkah hingga ia sampai di singgasananya, ia duduk lalu menyilangkan kakinya dan kemudian melipat tangannya sambil melihat kearah Indra. Di samping singgasana itu juga terdapat tempat untuk Sang Ratu dan dibawah singgasana itu terdapat tempat untuk para penasihat Raja.


Ignael dan Iglea juga berdiri dibawah Singgasana itu sebagai Pangeran dan Putri. Disamping Sang Raja juga berdiri sang Perdana Menteri. Perdana Menteri itu tidak asing bagi Indra, siapalagi kalau bukan Ken.


"Penasihat, Perdana Menteri, apa kalian tau siapa orang yang sedang berdiri di depanku?" Tanya Ignis.


"Tidak yang mulia." Jawab salah satu perwakilan para Penasihat.


"Sama sekali tidak, yang mulia." Jawab Sang Menteri juga.


"Bagus, sekarang akan kuperkenalkan secara resmi kepada kalian. Namanya adalah Indra, dia adalah anak sulungku yang berasal dari Wilayah Barat. Kalian tidak salah dengar, dia adalah putraku." Ujar Ignis.


Betapa terkejutnya mereka mendengar hal itu, mereka semua terkejut kecuali Sang Ratu dan anak-anaknya, tentu saja mereka sudah tau. Indra hanya berdiri di sana tanpa melakukan apapun.


"Sekarang, aku akan mengumumkannya kepada seluruh penduduk Wilayah ini. Kumpulkan mereka sekarang, Perdana Menteri." Ujar Ignis lagi.


Indra terlihat terkejut mendengar itu, menurutnya itu bukan ide yang bagus.


"Tunggu sebentar!" Ujar Indra memotong.


"Ada apa, Indra?" Tanya Ignis.


"Aku belum siap untuk itu." Jawab Indra.


"Baiklah." Balas Ignis tanpa pikir panjang.


"Kalian boleh pergi." Lanjut Ignis kepada Perdana Menteri dan Penasihatnya.


Sesaat saja setelah Perdana Menteri dan para Penasihat pergi, Sang Ratu berdiri dan segera berlari menghampiri Indra, Indra mempersiapkan diri karena dia mengira Sang Ratu akan memukul ataupun menamparnya. Namun, ketika Sang Ratu mendekat, terlihat senyuman di wajahnya. Sang Ratu datang dan memegang pundak Indra dengan kedua tangannya.


"Jadi kau Indra? Tidak kusangka kau semirip ini dengan Ignis. Aku adalah ibu tirimu, namaku Rossa, tapi jangan takut untuk memanggilku ibu!" Ujar Rossa.


Indra terlihat kebingungan melihat reaksi yang tidak ia duga, ia datang siap dipukul. Namun, istri Ignis bersikap seperti Indra bukanlah anak yang tidak diinginkan.


"Eh? Kau tidak membenciku karena aku anak simpanan?" Tanya Indra.


"Apa maksudmu? Bukan salahmu kau lahir kedunia ini, itu sepenuhnya salah ayahmu, dan kau tidak ada hubungannya dengan itu. Lalu panggil aku ibu." Jawab Rossa.


"Tapi aku juga membuat anak-anakmu babak belur tahun lalu." Balas Indra.


"Panggil saja aku ibu." Ujar Rossa.


"B-baik, Bu." Balas Indra.


"Sebenarnya, aku membawamu kemari bukan hanya untuk sekedar memperkenalkanmu kepada Wilayah Selatan. Ada alasan lain." Ujar Ignis memotong.


"Eh? Kau belum memberitahunya?" Tanya Rossa.


"Dia pasti akan menolak jika aku memberitahukannya lebih awal." Jawab Ignis.


"Memangnya ada apa?" Tanya Indra.


"Sekali setiap 100 tahun, Wizards of Atlas harus merekrut Penyihir Agung baru yang pantas. Orang yang menyiapkan para kandidatnya adalah, Penyihir Agung dari peringkat pertama hingga kelima. Ini pertama kalinya aku mempunyai kesempatan untuk membawa kandidat karena aku baru bergabung sebagai Penyihir Agung selama 127 tahun. Singkatnya, kau adalah kandidat yang harus kubawa." Jawab Ignis.


"Hah? Tidak mau, itu terdengar merepotkan." Balas Indra.


"Sudah kuduga, tapi menjadi seorang Penyihir Agung akan memberikanmu akses penuh dari 'The Library of All Truth' dan itu akan menjadi sangat berguna bagimu, terutama untuk menyelidiki tentang Glimpse of Deaths." Ujar Ignis lagi.


"Apa maksudmu? Bukankah siapa saja bisa masuk kedalam The Library of All Truth?" Tanya Indra penasaran.


"Aku bilang 'akses penuh' aku sudah tau jika tempat itu boleh dikunjungi oleh siapa saja. Namun, ada banyak pengetahuan yang hanya boleh diketahui oleh kami para Penyihir Agung. Contohnya seperti… Pengetahuan tentang zaman dimana Atrocius masih berkuasa. Namun, aku tau kau tidak tertarik dengan itu. Aku hanya bisa menjamin satu hal, yaitu semua informasi yang ingin kau ketahui pasti ada disana, selama kau menjadi Penyihir Agung kau dapat dengan bebas mengacak-acak informasi itu." Jawab Ignis.


"Kenapa harus aku? Bukankah masih ada Ignael dan Iglea?" Tanya Indra lagi.


Ignis tertawa kecil.


"Jangan berpura-pura, Indra. Aku tau kau memiliki kekuatan melebihi siapapun di negeri ini, orang-orang yang bisa menghentikanmu di negeri ini saat ini hanyalah Aku, Avalance, dan Opstann. Kau adalah kandidat terbaik saat ini." Jawab Ignis.


"Jadi, apa jawabanmu?" Tanya Ignis.


Indra terdiam dan mulai berpikir sejenak.


Tiba-tiba saja, sesuatu muncul ditengah ruang singgasana itu, sesuatu berwarna emas yang sepertinya sebuah portal. Dari portal itu keluar dua orang yang Indra kenali. Saat itu juga, diluar kastil dan di sekitarnya mulai turun salju.


Seorang pria berambut putih keabuan yang mengenakan jubah musim dingin, dan seorang wanita dengan rambut yang memiliki warna rambut berwarna pirang dengan poni rambut yang memiliki warna seperti pelangi yang mengenakan pakaian berwarna krem terang, wanita itu seperti bersinar dengan penuh warna. Mereka adalah Avalance dan Weather Painter.


"Tidak akan kubiarkan kau berbuat curang, Ignis." Ujar Avalance.


"Itu benar! Hanya karena dia anakmu bukan berarti dia harus menjadi kandidatmu." Ujar Weather Painter juga.


Sepertinya saat ini Indra diperebutkan oleh tiga orang Penyihir Agung, Indra sendiri baru mengenal Weather Painter selama beberapa minggu. Namun, Weather Painter sepertinya sudah menyukai Indra.


"Paman Avalance? Lalu… Bibi Mesfera? Sepertinya ini akan menjadi semakin rumit." Ujar Indra.


Avalance mengangguk.


"Kau boleh memanggilku bibi. Namun, jangan sekali-kali memanggilku dengan nama itu lagi." Balas Mesfera (Weather Painter).


"B-baik, bibi Weather Painter." Ujar Indra.


Ignis berdiri dari singgasananya dan menghampiri mereka.


"Apa maksud kalian? Aku menjemput Indra dan dia ikut, itu tidak bisa dibilang curang." Ujar Ignis.


"Kami tau kau menjemputnya untuk alasan yang lain, sekarang kau tidak bisa seenaknya. Dia harus memilih akan menjadi kandidat dari siapa." Balas Avalance.


"Terserah saja, dia pasti akan menjadi kandidatku." Ujar Ignis lagi.


"Kita liat saja." Balas Weather Painter.