
MUNGKIN BISA DIBILANG LIBURAN? BAG2
Sambil membawa barang belanjaannya Indra sedikit kerepotan melewati tebalnya salju yang menutupi tanah. Ditambah lagi di sekitar kastil itu badai salju dari kutukan Avalance menambah tantangan saat mencoba memasukinya. Malam sudah larut, bintang-bintang bersinar terang di langit menemani redupnya sang bulan.
Di Kastil Avalance, Indra disambut oleh pelayan Avalance. Namun, karena terlalu malam Indra tidak sempat ikut makan malam. Untungnya para pelayan itu mengajak Indra untuk makan malam di dapur.
Dapur itu dipenuhi oleh ratusan pelayan Avalance yang terlihat sangat kelelahan.
Tempat itu diluar ekspektasi Indra. Dapur itu bahkan lebih besar dari Bounty Store di Timur. Ratusan pelayan memenuhi meja meja disana sembari menikmati makanan mereka dan melepas lelah. Para pelayan itu sepertinya hanya bisa istirahat pada saat Avalance juga sedang luang.
"Jadi kalian makan malam ditempat ini … pantas saja saat makan malam ataupun sarapan aku selalu melihat kalian tetap bertugas" ujar Indra melihat situasi itu.
Pelayan yang mengantarkannya tadi pun kembali membawa sebuah nampan berisi beberapa hidangan daging yang terlihat nikmat.
"Anda ingin makanan ini dibawakan ke kamar anda saja?" Tanya salah satu pelayan itu.
"Ah … tidak perlu. Aku makan disini saja" jawab Indra.
"Anda yakin? Udara di tempat ini sangat pengap" ujar pelayan itu.
Indra mengangguk dan segera menyambut makanan itu dari tangan sang pelayan. Indra lalu mencari tempat duduk yang kosong dan menemukan satu di pojokan.
Makanan yang disajikan kepada para pelayan itu sama nikmatnya dengan makanan yang disajikan pada saat makan malam bersama Avalance.
Hal itu membuat Indra semakin yakin bahwa Avalance adalah pemimpin yang luar biasa. Meskipun dia terlihat sangat kesepian karena kutukannya mencegah orang biasa untuk mendekatinya di luar ruangan.
Kutukan Avalance sepertinya tidak berlaku didalam ruangan. Kutukan miliknya turun dari awan sama seperti petir Indra. Namun, bedanya Avalance tidak bisa mengendalikannya.
Setelah menghabiskan makanannya Indra berniat pergi ke kamarnya. Namun, ditengah jalan ia berubah pikiran dan memutuskan untuk pergi ke tempat Misha dan Miller.
Indra pergi ke kamar Miller dan sepertinya tidak ada orang. Ia berasumsi Miller ada di kamar Misha karena itu ia pergi menuju kamar Misha. Namun, sama saja. Misha juga tidak ada di sana.
Dua orang itu sepertinya jera berduaan di kamar jika ada Indra di sekitar.
Indra kini bingung ingin pergi kemana. Setelah berpikir untuk beberapa saat. Ia akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarnya dahulu untuk meletakkan barang-barang bawaannya lalu kembali pergi untuk berjalan-jalan di Kastil itu.
Indra teringat bahwa bintang-bintang di malam itu terlihat sangat indah dalam perjalanannya pulang. Ia jadi ingin melihatnya lagi.
Ia menyusuri semua penjuru Kastil itu. Ia bertanya kepada seorang pelayan disana tentang tempat untuk melihat bintang-bintang dilangit.
"Ah… kalau anda mencari tempat seperti itu mungkin menara pengawas adalah tempat yang terbaik. Tenang saja, sebelum tengah malam para penjaganya belum datang" ujar Pelayan itu.
Indra pun segera pergi menuju salah satu dari menara penjaga tersebut. Menara itu menempel di empat sudut kastil. Indra menaiki salah satunya, diatas situ ia duduk sambil menikmati pemandangan langit yang indah itu.
Walaupun dingin dan salju dari kutukan Avalance terus menghujani kastil itu, Indra terlalu sibuk melihat bintang-bintang itu. Bintang-bintang itu mengingatkannya dengan Luzin, Indra sepertinya sangat merindukan sosok Gurunya itu.
"Dewa Bulan ya? Aku jadi penasaran, apa kau memang tinggal di Bulan, Luzin?" Indra berbicara dengan dirinya sendiri sambil masih duduk menatap bulan yang bersinar redup.
Setelah ia ingat lagi, hanya Luzin Lah yang mengajarkannya cara bertahan hidup sebelum ia bertemu Bella dan yang lainnya.
Malam sudah semakin larut. Namun, Indra masih belum puas menatap bintang-bintang di langit itu. Tapi, kantuknya berkata lain.
"Dipikir-pikir, liburan tidak seburuk itu" ujar Indra sambil menguap dan berniat kembali ke kamarnya.
Namun, sekilas ia seperti melihat orang di menara yang ada tepat di samping menara Indra. Indra mendengar dengan seksama. Suara itu terdengar jelas seperti suara Miller dan Misha dua temannya itu pasti sedang mesra mesraan disana.
"Apapun itu aku jadi merasa dikucilkan … apa aku cari teman baru saja? Mereka benar-benar sudah jelas lupa kawan" ujar Indra sambil mengajak pinggang dan menggelengkan kepala sambil melihat Misha dan Miller yang sepertinya asik dengan dunia mereka sendiri, bahkan mereka tidak melihat Indra yang berada di samping menara mereka, walaupun Indra awalnya juga tidak sadar.
Berapa langkah setelah ia ingin pergi ke kamarnya, Indra terpikir sebuah ide untuk menjahili kedua temannya itu. Ia berniat menyambar menara penjaga itu dengan petirnya, Indra dapat melakukan ini tanpa kecurigaan Miller ataupun Misha karena langit penuh dengan awan yang menurunkan salju milik Avalance.
Petir itu segera menyambar atap menara itu dengan gemuruhnya yang juga kencang. Seluruh Kastil itu bergetar walaupun petir itu tidak Indra rancang sebagai serangan. Namun, gemuruhnya sudah pasti membangunkan siapapun di Kastil itu, tidak terkecuali Avalance.
Miller dan Misha berteriak kaget mendengar suara dan sambaran petir itu. Indra tertawa mendengar suara mereka, tidak mau tertangkap basah Indra segera berlari turun dari menara itu.
Indra berlari di sebuah lorong yang dimana di lorong itu juga Avalance berdiri untuk mencegatnya. Avalance berdiri disana dengan mengenakan piama berwarna putih dengan motif kepiting salju di bajunya dan rambutnya yang acak-acakan. Walaupun berpenampilan seperti pemuda yang sedang tidur di rumah kawan-kawannya, Avalance tetaplah seorang pria tua yang berumur hampir lebih dari 150 tahun.
"Kau sedang terlihat senang" ujar Avalance.
Indra tergagap karena gugup saat hendak menjawab Avalance.
"Aku sudah 2 kali mendengar suara itu hari ini, Indra. Bisakah kau menjelaskannya?" Lanjut Avalance.
"i-itu, anu… ah! Aku tidak punya alasan yang logis. Baiklah, aku akan jujur. Aku hanya sedang menjahili Miller dan Misha" jawab Miller.
"Sepertinya, kau memang mirip dengan ayahmu" ujar Avalance dengan raut wajahnya yang kini terlihat bersedih.
"Maaf. Aku hanya teringat masa laluku" lanjut Avalance.
Melihat raut wajah Avalance, Indra merasa ingin sedikit menghiburnya.
"Aku tau kau selalu kesepian, Avalance. Eh, tidak. Maksudku… Paman" ujar Indra tersenyum.
"Meskipun tidak selama dirimu, aku juga sempat kesepian di tengah gurun pasir ataupun diatas tebing sambil memakan kadal" lanjut Indra.
"Mereka berdua adalah bagian dari orang-orang yang mengisi kesepianku. Mungkin kesepian yang kualami memang tidak sebanding denganmu. Namun, bukan berarti selamanya kau harus selalu kesepian. Mungkin orang-orang yang telah berbagi kenangan indah bersamamu memang sudah pergi, tapi bukan berarti mereka ingin kau malah menjadi kesepian setelah kepergian mereka" lanjut Indra lagi.
Avalance memasang wajah tidak mengerti.
"Kenapa tiba-tiba berkata seperti itu? Namun, kau memang ada benarnya" balas Avalance.
"Namun, tidak banyak yang ingin bergaul denganku semua orang menganggapku seperti orang yang derajatnya lebih tinggi" lanjut Avalance.
"Kau sudah punya tiga orang yang mau bergaul denganmu" ujar Indra.
Avalance tersenyum kecil. Itu kali pertama Indra melihatnya karena sebelumnya Avalance tidak pernah memasang banyak ekspresi.
"Terimakasih" ujar Avalance dengan senyum kecilnya.
Indra sedikit terkejut melihat Avalance yang selama ini belum pernah ia lihat tersenyum akhirnya menunjukkan senyumnya, walaupun hanya sedikit.
"Apa kau baru saja tersenyum?" Tanya Indra yang masih dengan seksama memperhatikan wajah Avalance.
"Tidak" ujar Avalance yang segera menghapus senyumnya.
"Sudahlah, kusarankan kau segera tidur" lanjut Avalance yang segera berjalan kembali ke arah kamarnya.
"Baiklah, saatnya istirahat dan bersiap untuk menikmati sisa liburanku besok" ujar Indra.