
ADA SESUATU
Matahari sedang terbenam di tengah wilayah yang tertutup timbunan salju itu, dia berdiri diatas tebing bersalju itu sambil menghadap ke arah matahari yang mulai redup itu. Dia terus memandangi sang matahari hingga hilang ditelan malam.
Hari sudah gelap, seseorang menghampirinya dengan membawa sesuatu.
"Hei, Avalance. Kau sudah kembali?" Tanya Indra.
"Syukurlah kau memilih untuk menikmati keindahan dari matahari yang terbenam sebelum kau pulang, itu memberiku sedikit waktu untuk mencarimu" ujar Avalance.
"Pembohong, kau sudah ada di sekitar sini saat matahari itu hampir terbenam" balas Indra.
"Bagus! Kau sudah menjadi lebih peka sekarang" ujar Avalance.
"Apa kau benar-benar akan kembali ke Wilayah Timur malam ini?" Tanya Avalance.
"Sudah satu tahun aku disini, Avalance. Aku tidak bisa terus merepotkan dirimu" jawab Indra.
"Apa menurutmu semua pencapaianmu dalam setahun ini memang sudah cukup?" Tanya Avalance lagi.
"Lebih dari cukup untuk tujan kecilku" jawab Indra.
"Jangan merendah, Indra. Hal yang telah kau capai saat ini adalah… Evolusi dari sihir itu sendiri" balas Avalance.
Indra terdiam.
"Kau juga hampir melupakan benda ini" ujar Avalance sambil memberikan sebilah pedang kepada Indra.
"Storm Catcher! Aku hampir melupakannya, terimakasih sudah membawakannya untukku, Avalance" balas Indra.
"Storm Catcher, penamaan yang bagus. Omong-omong, ketika kau sampai di Wilayah Timur. Segera setelah kau memasuki Bounty Store ataupun Guild, kau akan menemukan hal yang sangat menarik" lanjut Avalance.
"Apa yang kau maksud?" Tanya Indra.
"Kau akan paham setelah melihatnya sendiri, sampai jumpa, Indra" jawab Avalance yang menghilang bersamaan dengan butiran es yang tertiup angin.
Tanpa menunggu lama, Indra akhirnya pergi ke Wilayah Timur, dia sedikit penasaran dengan hal menarik yang dikatakan oleh Avalance.
Indra pergi ke Wilayah Timur dengan berjalan kaki, ia memerlukan waktu sekitar hampir 3 hari untuk kesana.
Peperangan antara Wilayah Utara dan Wilayah Selatan berhenti setahun yang lalu, anehnya hubungan antara Wilayah Selatan dan Utara malah terlihat lebih akur.
Indra menghabiskan waktunya sebanyak satu tahun penuh untuk berlatih dibawah bimbingan Avalance, latihannya membuahkan hasil yang luar biasa. Tidak ada orang yang mengetahui sejauh apa Indra berkembang saat ini kecuali Avalance.
Tiga hari Indra berjalan menuju Wilayah Timur tanpa henti ia terus berjalan hingga akhirnya ia sampai di Kota Lunar. Hari sudah larut, tidak banyak orang yang masih berkeliaran di Kota, hanya para pemabuk yang tepat dan para gelandangan yang tertidur di pinggir jalan.
Indra pergi ke pinggir kota untuk melihat Villa miliknya yang belum pernah ia kunjungi, ia mendapatkan Villa itu satu tahun yang lalu setelah ia membantu Wilayah Utara untuk menghadapi serbuan para Wyvern.
Villa itu terpisah dari kota yang membuat suasana disekitarnya lebih tenang, dan Indra sangat menyukainya. Bangunan Villa itu juga terlihat kokoh meskipun dari bentuknya terlihat bahwa Villa itu sudah berumur cukup tua.
Indra membuka kunci pagar Villa itu dan membuka pagarnya yang berdecit saat ia buka. Ia berjalan menyusuri taman luas dari Villa itu sebelum akhirnya mencapai pintu masuk tempat itu.
Pintu itu cukup besar dan tinggi, Indra menggunakan kunci lainnya untuk membuka pintu itu.
Setelah pintu itu telah terbuka, Indra segera masuk dan terkesima dengan bagian dalam Villa itu. Barang-barang mewah sudah terpajang di seluruh sudut ruangan.
Banyak pedang dan perisai tertempel di dinding sebagai hiasan, lukisan-lukisan indah juga membantu keindahan ruangan itu.
Indra pergi ke ruangan lainnya, di ruangan itu ia melihat meja dan kursi panjang di tengah ruangan itu di dalam ruangan itu juga terdapat tungku api yang digunakan untuk memasak. Tidak ada banyak hal di dapur itu.
Indra kemudian terus menjelajah Villa miliknya itu, dan setelah selesai menjelajahinya Indra menghitung semua kamar di Villanya yang berjumlah 32 kamar diluar dapur, ruang tamu, dan perpustakaan.
Indra yang juga sudah lelah setelah berjalan ke Wilayah Timur selama berhari-hari, akhirnya memutuskan untuk beristirahat. Ia memilih kamar paling depan karena tidak sulit untuk mengaksesnya tempat-tempat lain dirumah barunya.
Indra berbaring di kasur kamar itu untuk melepas lelahnya. Kamar itu cukup mewah, karpet berpola bunga terpapar di tengahnya, selain kasur itu ada sebuah meja kecil lengkap dengan kursinya di ruangan itu. Sebuah lemari besar di sudut kamar dan dua lemari kecil disamping kasurnya. Indra tertidur tak lama setelah menyentuh kasur empuk itu.
Tanpa disadari matahari telah terbit, Indra terbangun oleh cahaya matahari yang tepat menimpa wajahnya. Indra bangun dan pergi ke dapur untuk mencari air. Namun, ia akhirnya teringat jika tidak ada apapun di dapurnya.
Dengan tenggorokan yang kering dan perut lapar, Indra mau tidak mau harus berjalan ke Kota untuk mencari sarapan. Indra berjalan menyusuri Kota itu untuk mencari sebuah Restoran yang bisa menarik perhatiannya. Di Kota banyak orang yang melihatnya dan tampak membicarakannya, Indra bertanya-tanya kepada dirinya sendiri tentang alasan orang-orang membicarakannya, dia berpikir mungkin pakaiannya sudah terlalu kuno. Dia tidak mau terlalu memikirkannya dan akhirnya menghiraukan orang-orang yang saling berbisik membicarakannya meski tidak tau apa yang orang-orang itu bicarakan.
Dia menemukan sebuah restoran yang menurutnya sangat menarik sebuah restoran yang terlihat mewah dengan tulisan "Zensky Resto" terpampang di bangunannya.
Tidak banyak orang yang mengunjungi tempat itu. Namun, semua orang yang berada di restoran itu terlihat dan beretiket seperti seorang bangsawan, sepertinya para pelanggan tempat ini adalah orang-orang penting dan para bangsawan saja.
Anehnya, para pelayan disana memperlakukan Indra dengan sopan walaupun pakaian Indra tidak bisa dibilang formal.
"Bukankah tempat ini hanya untuk para bangsawan dan orang-orang penting? Lalu kenapa kalian dengan senang hati menyambutku?" Tanya Indra.
Pelayan itu tertawa.
"Jangan bercanda Tuan, peranmu dalam pada perang antar Selatan dan Utara tahun lalu sudah tersebar ke seluruh negeri ini. Ditambah lagi fakta bahwa anda adalah salah satu Pangeran dari Wilayah Selatan juga telah menjadi rahasia umum, kami akan berusaha memberikan layanan terbaik" jawab Sang Pelayan.
Indra akhirnya paham alasan kenapa banyak orang-orang yang membicarakannya di tengah jalan.
"Ikuti saya, Tuan. Kami telah mempersiapkan tempat duduk untuk Tuan" ujar Pelayan itu lagi.
Sebelum mengikuti Pelayan itu, Indra melihat sekelilingnya terlebih dahulu. Ia melihat seorang wanita cantik sedang duduk menikmati sebuah minuman, wajah wanita itu tidak asing untuk Indra tidak salah lagi, wanita itu adalah Cheryl.
"Aku tidak boleh memilih kursi sendiri?" Tanya Indra.
"Tentu saja anda juga bebas memilih, Tuan" jawab Sang Pelayan.
Tanpa menunggu apapun, Indra segera menghampiri meja Cheryl dan menyapanya.
"Sudah lama sejak terakhir kita bertemu, Cheryl" ujar Indra.
Cheryl yang sejak tadi hanya menikmati minumannya terkejut melihat Indra yang tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Kau mengagetkanku saja" balas Cheryl.
"Bolehkah aku duduk disini?" Tanya Indra.
"Tentu" jawab Cheryl.
Indra menarik kursi itu dan duduk di hadapan Cheryl.
"Bau ini… Jus ceri! Kau tidak berubah" ujar Indra.
"Itu benar, jus ceri di tempat ini adalah salah satu yang terbaik" balas Cheryl.
"Jadi, kau sudah melihatnya?" Tanya Cheryl mengalihkan pembicaraannya.
"Apa yang kau maksud?" Indra bertanya balik, bingung dengan maksud Cheryl.
"Kau belum tau? Kupikir kau kemari untuk melihatnya sendiri" jawab Cheryl.
"Apa yang kau maksud?" Tanya Indra lagi.
"Kau akan melihatnya di Guild atau Bounty Store" jawab Cheryl.
Tak lama kemudian seorang pelayan datang membawa buku menu dan memberikannya kepada Indra.
"Silahkan memilih menunya, Tuan" ujar Sang Pelayan.