Atlas: Lightning From The Wild West

Atlas: Lightning From The Wild West
30: TIDAK BISA DITANDINGI



TIDAK BISA DITANDINGI


Pertarungan terus berlanjut, meskipun Ignael dan Iglea menyalakan api di segala arah tidak satu pun yang mengenai Indra. Awalnya Ignael sendiri lah yang melawan Indra. Namun, Ignael sangat kesulitan. Sehingga Iglea mau tidak mau membantunya. Seluruh halaman itu habis dilahap api.


Ignael dan Iglea menggabungkan sihir mereka dan membuat dinding api yang mengurung Indra. Namun, bahkan setelah bertarung disana cukup lama. Mereka belum mampu menyentuh Indra.


"Sial! Orang ini tidak seperti yang dikatakan oleh Ken. Bahkan kita sudah memenjarakannya di dalam api. Namun, tidak satupun serangan kita mengenainya" ujar Iglea.


"Tentu saja, aku yakin kalian memakai cara ini untuk mengalahkan Ken. Namun, aku hanya kalah dalam kecepatan. Jadi, selamat berjuang" balas Indra mengejek.


Cheryl hanya mengamati dari luar penjara Api milik Ignael dan Iglea, ia yang sudah kelelahan, ia sudah tidak mampu membantu Indra. Namun, sepertinya Indra sudah berniat serius di dalam penjara api itu.


"Api ini cukup mengganggu, sepertinya lebih baik dipadamkan" ujar Indra di dalam dinding api Ignael.


Awan-awan hitam sudah mulai bermunculan di langit yang memang sudah gelap itu, tanda bahwa sihir Indra telah siap. Indra menarik pedangnya bersamaan dengan petir yang menyambar ke arah dinding api itu. Hentakan dari petir itu mampu memadamkan seluruh api disana. Setelah pedang merah itu keluar dari sarungnya, petir yang lebih kecil menyambar pedang itu. Seketika pedang itu menyala ungu.


Cheryl sudah bisa melihat Indra dikarenakan dinding api yang tadinya menghalangi pandangannya sudah hilang. Cheryl terkejut melihat Indra yang mampu menguasai teknik pedang sihir hanya dalam hitungan jam. Ia semakin percaya bahwa Indra adalah anak dari Ignis, mengingat dua anak unggulan Ignis bukan tandingan bagi Indra.


Ignael dan Iglea jatuh terduduk hanya oleh hentakan petir tadi.


"Kenapa? Hanya begitu?" Tanya Indra mengejek.


Tidak satupun dari mereka menjawab seolah mereka telah pasrah.


Indra menebas ke arah horizontal dan menghempaskan petir dari dalam pedang itu ke arah Ignael dan Iglea. Mereka tidak sempat menghindar dan hanya bisa menutup kepala dengan tangan. Namun, tepat sebelum hempasan petir itu mengenai mereka, hempasan petir itu tiba-tiba menghilang.


"Bagaimana? Masih mau lanjut? Aku tidak ingin melukai kalian karena bagaimanapun juga aku adalah kakak kalian, tidak baik jika aku melukai adik sendiri bukan? Namun, ceritanya akan berbeda jika kalian bersikeras untuk melanjutkannya" ujar Indra.


"Kenapa kau memiliki medal itu?" Tanya Ignael.


"Aku menemukannya di rumah, maksudku… puing-puing rumahku" jawab Indra.


"Jangan kecewa dengan diri kalian sendiri. Bukan kalian yang lemah. Namun, akulah yang tidak bisa kalian tandingi" lanjut Indra.


"Untuk sekarang kami akan mundur" ujar Iglea.


"Kami akan mengingat ini" balas Ignael.


Ignael dan Iglea kemudian mundur dengan membawa malu.


"Sial… sepertinya sebentar lagi aku akan menjadi buronan di Wilayah Selatan" ujar Indra.


"INDRA!! KAU TIDAK APA?!" Tanya Cheryl dari kejauhan.


"AKU TIDAK APA-APA" Teriak Indra sambil melambaikan tangannya kepada Cheryl.


Indra lalu menghampiri Cheryl dan membantunya berdiri.


"Kau bisa berdiri?" Tanya Indra sambil menjulurkan tangannya.


"Iya. Namun, aku tidak sanggup berjalan" jawab Cheryl sambil menggapai tangan Indra.


Akhirnya Indra mencoba untuk membopong Cheryl.


"TU-TUNGGU!! INDRA!! KAU BISA MEMBANTUKU BERJALAN SAJA!!" Ujar Cheryl yang merasa malu.


"Malas. Menurutku… begini lebih praktis" balas Indra yang tidak menghiraukan ucapan Cheryl.


Tiana menyambut Cheryl yang sedang dibopong oleh Indra dan membawanya ke ruang perawatan di kastil itu. Indra mengikuti dari belakang.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Indra.


"Tenang saja, aku tidak apa-apa" jawab Cheryl.


"Kau yakin?" Tanya Indra lagi memastikan.


"Iya" jawab Cheryl.


"Anda bisa tenang, Tuan. Nona Cheryl hanya memiliki luka ringan. Namun, ada baiknya untuk tetap beristirahat saja dulu" ujar Tiana.


Indra dan Tiana lalu keluar sebentar setelah memberikan obat kepada Cheryl.


"Tiana, aku punya satu pertanyaan" ujar Indra.


"Anda boleh bertanya apa saja kepada saya, Tuan Indra. Selama saya masih mengetahui jawabannya, saya pasti akan membantu" balas Tiana.


"Kalau begitu… apa kau tau siapa itu Tessa?" Tanya Indra.


"Iya, saya tau tentangnya. Ia adalah Istri dari Tuan Avalance yang meninggal saat penyerangan Chaos Dragon ratusan tahun yang lalu. Naasnya ia meninggal saat mengandung anak pertama Tuan Avalance" jawab Tiana.


Indra terkejut dengan jawabannya, Indra mengira Tessa mungkin adalah teman seperjuangan Avalance. Namun, ternyata lebih dari itu.


"Maaf, pertanyaanku aneh" ujar Indra.


"Jika ada hal lain yang anda butuhkan, silahkan panggil saya" balas Tiana.


"Baik, terimakasih, Tiana" ujar Indra.


Indra sebenarnya hanya penasaran dengan sepucuk surat di ruang harta. Tidak mungkin sebuah surat biasa dipajang di sebuah ruang harta.


Indra lalu kembali masuk kedalam ruang perawatan. Ia lalu duduk di samping Cheryl yang sedang berbaring dengan santai di kasur pasien. Indra terpikir tentang kisah dari Avalance dan wanita yang bernama Tessa itu.


Mendengar sedikit saja sudah membuat Indra mengerti kenapa sorotan mata Avalance selalu penuh dengan kesedihan. Ditambah lagi dengan teman-teman seperjuangannya yang juga tewas oleh Chaos Dragon. Lalu kakaknya sendiri yang juga memilih jalan yang salah.


Saat Avalance pulang nantinya, Indra berniat untuk menanyakan detail dari kejadian 300 tahun yang lalu, dimana Chaos Dragon mengamuk dan memporak porandakan Wilayah Selatan.


"Indra, ada apa? Kau terlihat melamun terus. Apa kau sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Cheryl yang terus mengamati Indra yang sedang melamun. 


"Ah! Tidak… aku hanya sedang ingin minum anggur" jawab Indra mencari alasan yang asal-asalan.


"Kalau begitu, ayo kita minta anggur nanti. Aku yakin anggur mereka sangat berkualitas" ujar Cheryl.


Indra jadi kembali mengingat kemarin hari dimana ia bersama Misha dan Miller menikmati makan malam bersama Avalance. Indra hanya melihat satu jenis minuman di meja, yaitu Anggur Arunika. Anggur yang hanya akan matang di pagi hari. Arunika juga merupakan Anggur yang bagus. Jadi, Indra tidak banyak protes. Saat Misha meminta Anggur lain, Tiana hanya bilang bahwa kastil itu hanya memiliki satu jenis Anggur. Terdengar aneh bagi Indra.


"Itu terdengar bagus!" Ujar Indra.


"Sialan, kau jadi membuatku sangat ingin minum anggur" balas Cheryl.


Karena Cheryl bilang begitu, Indra keluar dan mencari Tiana untuk meminta sebotol anggur.


Setelah mendapatkannya, Indra dan Cheryl menghabiskannya hanya dalam hitungan menit.