Atlas: Lightning From The Wild West

Atlas: Lightning From The Wild West
50: TUJUAN SEBENARNYA



TUJUAN SEBENARNYA


Beberapa hari setelah perang itu, Avalance dan Ignis telah pulih sepenuhnya. Karena Kastilnya telah hancur, Avalance untuk sementara tinggal pada sebuah rumah di Kota Licht. Meski hanya sebuah rumah. Namun, rumah itu cukup besar untuk menampung ribuan orang.


Ignis datang untuk menemui Avalance, para penjaga di rumah itu ketar ketir hanya karena melihat Ignis yang datang sendirian. Ignis mengangkat kedua tangannya, seolah mengatan dia tidak datang untuk mencari masalah.


Di ruangan Avalance, Ignis akhirnya datang untuk sedikit berbincang dengan Avalance. 


Dua gelas anggur sudah tersedia di sebuah meja, seolah Avalance sudah tau kedatangan Ignis.


"Duduklah dulu, aku sudah menyediakan minum" ujar Avalance.


Ignis tanpa basa-basi lagi langsung duduk diikuti oleh Avalance.


"Arunika?" Tanya Ignis sambil meraih anggur itu.


"Kau juga sudah tau bahwa hanya anggur ini yang selalu kuminum" jawab Avalance memainkan gelas anggurnya.


"Lalu, apa yang ingin kau bicarakan denganku? Apa ini deklarasi perang lagi?" Tanya Avalance.


"Tidak" jawab Ignis.


Ignis kemudian meminum anggur itu.


"Maafkan aku" ujar Ignis.


Avalance terlihat kebingungan mendengar perkataan Ignis.


"Kau tidak pernah mengatakan hal itu kepadaku selama 300 tahun terakhir. Namun, meski kau bilang begitu, kekacauan dan korban dari perang tiga hari yang lalu tidak akan bisa pulih hanya dengan permintaan maafmu" balas Avalance.


"Aku meminta maaf bukan untuk soal itu" ujar Ignis.


"Lalu?" Balas Avalance.


Ignis kemudian mengeluarkan dua pucuk surat yang diberikan oleh Indra tempo hari. Avalance terkejut melihat dua surat itu.


"300 tahun yang lalu, aku merasa menjadi yang paling tersakiti. Aku kehilangan semuanya, reputasi, teman, kehidupan semuanya hilang. Namun, tanpa kusangka kau bahkan kehilangan lebih dari itu. Teman, reputasi, kekasih, bahkan seorang anak yang belum lahir. Dan di masa seperti itu, aku malah membuang dan mengasingkanmu" ujar Ignis.


"Sebagai saudaramu, aku sudah memaafkanmu sejak dahulu. Namun, sebagai Raja dari Wilayah Utara. Aku tidak bisa membiarkan apa yang dilakukan Wilayah Selatan berlalu begitu saja" balas Avalance.


"Itu sudah cukup" ujar Ignis yang kemudian meneguk habis sisa anggur di gelas itu.


Beberapa jam kemudian Avalance dan Ignis terus berbincang. Dua saudara itu nampaknya sudah lebih akur sekarang, tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangan itu dengan keras, membuat Avalance dan Ignis sedikit terkejut.


"Hei, Avalance! Eh? Ada ayah juga, jarang sekali melihat kalian sedikit akur" ujar Indra.


"Jadi kau yang mencuri surat itu, Indra" balas Avalance.


Indra kemudian melihat surat yang kemarin ia beri kepada ayahnya terletak di atas meja ruangan itu.


"Um… aku bisa jelaskan" ujar Indra.


"Lupakan saja, disamping fakta bahwa kau mencurinya. Aku bersyukur surat berharga ini tidak hancur bersama dengan Kastil itu" balas Avalance.


"Ditambah lagi, kau harus menjelaskan bagaimana kau bisa menjalin kontrak dengan Iblis" lanjut Avalance.


"Aku juga lupa menanyakan hal itu kepadamu. Semua orang tau jika menjual jiwamu kepada seorang Iblis untuk mendapatkan kekuatan adalah hal yang tabu. Namun, yang terpenting adalah bagaimana kau bisa menemukan Iblis yang jumlahnya tidak banyak?" Tanya Ignis juga.


"Soal itu…" ujar Indra.


Indra berpikir sejenak mencari alasan.


"Tenang saja, kontrak yang kujalin dengan Iblis itu adalah kontrak yang tidak setara untuknya" lanjut Indra.


"Beberapa waktu yang lalu aku melawan seorang Iblis, Iblis itu sangat kuat. Aku bahkan kehilangan satu lenganku ketika bertarung dengannya. Setelah pertarungan yang sulit, aku berhasil membuatnya sekarat. Sebelum aku membunuhnya dia menawarkan ku sebuah kontrak. Dia akan memberikanku kekuatan dan lenganku akan kembali pulih, dengan syarat aku harus mengampuni nyawanya" ujar Indra mengarang cerita.


Indra sudah keringat dingin, dia mengira ayahnya dan Avalance tidak akan mungkin mempercayai omong kosong itu. Diluar perkiraannya, Ignis dan Avalance justru percaya dengan omong kosong itu dan memaklumi keputusan Indra.


"Jadi begitu… syukurlah kau tidak menjual jiwamu sebagai harga untuk A Sign of a Sin itu" balas Ignis.


"Omong-omong, aku sebenarnya datang kemari bukan untuk ikut berperang" ujar Indra mengganti pembicaraan.


"Lalu apa tujuanmu?" Tanya Avalance.


"Aku kemari untuk bertambah kuat. Itulah tujuan sebenarnya aku datang kemari" jawab Indra.


Ignis tertawa.


"Kurasa kau memang anak ku" ujar Ignis sambil tertawa.


"Jadi kau datang untuk memintaku melatihmu?" Tanya Avalance.


"Awalnya begitu. Namun, melihat kesibukanmu setelah perang kemarin. Sepertinya aku tidak boleh memaksakan kehendak ku" jawab Indra.


"Aku akan membantumu. Namun, tidak dalam waktu dekat. Aku akan menemuimu satu bulan dari sekarang, jadi sebelum itu kau bebas untuk pergi kemana saja" ujar Avalance.


"Satu bulan ya? Kurasa aku akan tetap tinggal disini saja. Aku juga sudah mendapatkan 250.000 keping emas. Jadi aku tidak punya alasan untuk mencari uang dalam waktu dekat" balas Indra.


"Baiklah jika memang itu keputusanmu" ujar Avalance.


Indra kemudian keluar dari ruangan itu menyisakan Avalance dan Ignis.


"Menurutmu, bagaimana dia bisa menemui Beelzebub dan menerima A Sign of a Sin?" Tanya Avalance.


"Entahlah. Namun, sepertinya anak itu memang tidak menjual jiwanya kepada Beelzebub" jawab Ignis.


"Dia menolak untuk memberitahukannya, aku jadi semakin penasaran" balas Avalance.


Sementara itu, peperangan yang terjadi pada Wilayah Utara beberapa hari yang lalu akhirnya diketahui oleh seluruh penjuru Compax. Berita tersebar bahwa Frostbite Raja dari Wilayah Utara dan Lightning From the Wild West berhasil memenangkan perang melawan Wilayah Selatan.


Berita itu akhirnya sampai kepada Bella saat ia membeli persediaan makanan untuk Angel Eyes. Melihat kabar itu dikoran membuatnya terkejut, dia sudah sering mendengar Indra keluar malam-malam. Namun, baru kali ini ia mendengar berita besar tentang Indra selain menjadi Bounty Hunter terbaik di Compax.


Bella kemudian buru-buru pulang untuk memberitahukan berita itu kepada Reisth, Misha, dan Miller.


"Semuanya! Kalian harus melihat berita ini!" Ujar Bella segera setelah ia membuka pintu Angel Eyes.


"Ada apa?" Tanya Reisth sambil meraih kertas koran yang dibawa Bella.


Reisth mulai membaca berita itu dan akhirnya ikut terkejut setelah membacanya.


"Indra membantu menyelesaikan perang di Wilayah Utara?! Itu terdengar mustahil!" Ujar Reisth.


Mendengar itu, Misha dan Miller ikut terkejut. Mereka akhirnya mengambil kertas itu dan membacanya sendiri.


"Jadi bocah itu tidak pergi hanya untuk berkeliaran bebas? Tapi tidak kusangka dia malah ikut berperang disana. Misha, kita harus pergi menemuinya di Wilayah Utara!" Ujar Miller.


"Aku setuju!" Balas Misha.


"Memangnya kenapa kalian tiba-tiba ingin sekali menemuinya?" Tanya Bella.


"Dia menjadi salah satu orang penting yang menyelesaikan perang itu. Yang artinya… dia mendapatkan banyak bayaran" jawab Miller.


"Lalu?" Tanya Bella lagi.


"Lalu kami akan meminjam emas!" jawab Misha.