
GUILD PETUALANG
"Siap?" Tanya Indra.
"Siap, Guru!" Jawab Linda.
"Sudahlah, aku terlalu muda untuk dipanggil sebagai guru" ujar Indra.
"Tidak ada aturan bahwa kau harus lebih tua untuk menjadi seorang guru" balas Linda.
"Itu benar. Tapi… ah sudahlah" ujar Indra lagi.
Indra kembali melatih Linda di tempat biasanya, kali ini ia ingin mengajarkan cara untuk bisa mengontrol sihirnya lebih baik. Di tengah lapangan itu terpasang ratusan lilin yang mengitari sebuah lingkaran yang diukir di tanah. Sepertinya akan digunakan untuk latihan kali ini.
"Baiklah, kalau begitu sekarang kita mulai latihanmu selanjutnya!" Ujar Indra.
"Tapi, aku tidak menyangka kau benar-benar memasang lilin sebanyak ini" balas Linda.
"Karena kau menggunakan sihir api dengan Inner Magic maka kau harus menghidupkan lilin-lilin itu tanpa merusak bagian lain selain sumbunya. Beda cerita jika kau menggunakan Outer Magic, maka kau akan kusuruh memindahkan api dari sebuah lilin ke lilin lainnya" ujar Indra lagi.
"J-jadi dulu kau memindahkan petir?!" Tanya Linda setelah mendengar pertanyaan Indra tentang Outer Magic.
"Mungkin…" jawab Indra.
"Pokoknya untuk sekarang kau harus meditasi di tengah lingkaran itu! Lalu cobalah untuk menghidupkan lilin-lilin itu dan usahakan hanya untuk menyalakan sumbunya. Kalau kau belum merasa bisa lakukan saja dulu perlahan" lanjut Indra.
Linda tanpa mengatakan apapun langsung duduk di tengah lingkaran itu dan mulai bermeditasi sambil sedikit demi sedikit mengeluarkan apinya untuk menghidupkan lilin itu satu persatu.
"Salah!" Ujar Indra.
"Eh? Kenapa?" Tanya Linda.
"Nyalakan semuanya secara bersamaan" jawab Indra.
"Namun, itu terdengar mustahil!" Ujar Linda.
Indra mengacungkan jari telunjuknya dan seketika menggunakan sedikit petirnya untuk menyalakan lilin tersebut. Semua lilin itu langsung menyala seketika. Lebih cepat dari kedipan mata Linda yang melihatnya dengan seksama.
"Masih terdengar mustahil?" Tanya Indra yang lalu segera mematikan lilin-lilin itu lagi.
Linda terdiam dan kembali mencoba bermeditasi. Ia paham bahwa ia tidak bisa mencapai level Indra semudah itu.
Linda sekali lagi mencoba untuk bermeditasi kali ini apinya menyebar ke seluruh arah dimana lilin itu terletak. Namun, gerakan apinya ia hentikan. Dia ragu dengan apinya, apakah apinya benar-benar hanya akan membakar sumbunya? Atau akan membakar lilinnya juga? Itu yang ia pertanyakan dalam pikirannya.
"Jika kau terlalu lama berpikir maka apimu akan melelehkan lilinnya duluan" ujar Indra.
"Aku akan meninggalkanmu untuk pergi ke kota sebentar. Kalau kau mau kau boleh saja curang, aku juga tidak dirugikan" lanjut Indra sambil berjalan pergi.
Indra pergi kembali ke Lunar untuk mampir ke Guild petualang, ia ingin mencari pengalaman dalam melawan sesuatu yang bukan manusia.
Sesampainya di kota, Indra segera mencari Guild tersebut. Bangunannya tidak jauh berbeda dari Bounty Store, hanya saja isinya lebih teratur dibandingkan Bounty Store. Orang-orang di dalamnya terlihat lebih mengenal sopan santun.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang wanita yang mendatangi Indra di depan pintu masuk.
"Ah, aku berniat untuk bergabung menjadi seorang petualang" jawab Indra.
"Oh! Silahkan masuk kalau begitu!" Ujar wanita itu.
Ia menggiring masuk Indra dan membawanya ke meja resepsionis. Wanita itu tampaknya juga seorang resepsionis disana.
"Namaku Katlyn, aku adalah seorang bekerja disini" ujar Katlyn.
"Indra" balasnya.
"Baiklah Indra, sekarang aku harus bertanya beberapa hal sebelum mengijinkanmu bergabung sebagai Petualang, langsung saja. Pertama apa yang membuatmu berminat masuk kemari? Kedua, apa kau terpaksa bergabung kerena keadaan ekonomi? Ketiga, apakah kau mengenal seseorang di tempat ini?" Tanya Katlyn.
"Aku tidak mengerti hubungannya apa… tapi baiklah. Pertama, aku hanya ingin mendapat pengalaman untuk melawan sesuatu yang bukan manusia. Kedua, tidak seperti yang kukatakan tadi. Ketiga, aku memang mengenal seseorang disini dia adalah salah satu sahabatku, Misha namanya" jawab Indra.
"Misha?! Ah… jadi kau temannya! Tenang saja, sahabat dari sahabatku adalah sahabat" ujar Katlyn yang tiba-tiba bersemangat.
"Oh iya, kau mau menjalani tes untuk menghitung Tingkatan penyihir atau mulai dari bawah saja?" Tanya Katlyn lagi.
"Tes apa?" Indra bertanya balik.
"Aku akan mulai dengan perunggu" ujar Indra.
"Eh? Kau tau tingkatannya? Um… baiklah kalau kau mau" balas Katlyn sambil memberikan sebuah pengenal khusus petualang untuk Indra, tentunya dengan bahan perunggu dan nama Indra terukir disana.
"Harus kutaruh dimana ini?" Tanya Indra.
"Kau bisa mengalungkannya, digunakan sebagai gelang, ataupun cara yang unik untuk memakainya" jawab Katlyn.
"Oh iya! Kau bisa mengambil 'Quest' atau bisa disebut juga Misi di sebelah sana" lanjut Katlyn sambil menunjuk ke arah kanan dimana sebuah papan besar yang penuh dengan kertas terletak disana.
"Terimakasih" ujar Indra yang segera berjalan menuju papan.
Indra melihat-lihat kertas disana dan awalnya berpikir bahwa kertas-kertas itu hampir sama dengan Bounty. Namun, ia salah. quest tersebut dikirim oleh para warga yang resah oleh para monster yang berada di sekitar kediaman mereka, ada juga yang sengaja mencari bagian tubuh para monster sebagai bahan alat sihir.
Indra belum berniat mengambil quest apapun mengingat dia masih harus melatih Linda untuk beberapa hari kedepan.
Ia memutuskan untuk kembali menemui Linda lagi saja.
Di pintu keluar itu ia tidak sengaja menyenggol seseorang.
"Hei, gunakan matamu ketika berjalan!" Ujar Pria itu.
Pria itu memiliki tubuh yang besar dan seluruh tubuhnya dilindungi oleh zirah besi dan membawa sebuah "Claymore" (pedang berat yang digunakan dengan dua tangan) dibelakangnya .
"Ah… salahku, maaf" ujar Indra.
Entah kenapa pria itu malah menjadi emosi dan menarik kerah baju Indra. Sepertinya suasana hatinya sedang buruk. Dari kalungnya, nama pria ini adalah Greaz dan dia tingkat emas.
Indra awalnya tidak melawan sampai Greaz melemparnya keluar.
"Itu sakit…" ujar Indra berdiri seolah tidak terjadi apa-apa.
Sepertinya suasana hati Greaz memang kurang baik sehingga dia tidak segan menarik claymorenya dan mengayunkannya kepada Indra.
Indra ingin menggunakan sihirnya. Namun, itu tempat umum. Akan aneh jika orang-orang melihat sihirnya yang bisa dibilang mencolok di sana. Karena itu Indra berniat menghadapinya tanpa sihir, awalnya ia kira berat. Namun, yang berat hanyalah zirah besi dan claymore milik Greaz. Gerakannya begitu lambat walaupun bertenaga dan kuat.
Berkali-kali ia mengayunkan seranganya kepada Indra. Namun, tidak sulit untuk Indra menghindarinya.
Kali ini Greaz terlihat menggunakan sihirnya, sihir itu adalah sihir tanah. Greaz menggunakan tanahnya untuk menahan Indra.
Tanah-tanah itu lebih keras dari tanah pada umumnya, tanpa sihirnya Indra tidak akan bisa keluar dari sana. Namun, ia tetap tidak berniat menggunakan sihirnya.
Kali ini Greaz menggunakan bagian tumpuk dari claymorenya dan mengayunkannya ke arah Indra.
"Oh… yang satu ini sepertinya terlalu berbahaya" ujar Indra pasrah melihatnya.
Namun, tepat sebelum claymore itu mengenainya. Seseorang menangkisnya dengan sebuah pedang.
"Greaz, apa kau memang semenyedihkan itu sampai merundung Penyihir Perunggu" ujar Orang itu.
"Brengsek itu yang memulainya!!" Balas Greaz.
"Dia sudah meminta maaf bukan? Itu artinya sudah tidak ada masalah lagi" ujar Orang itu lagi.
Greaz mengeram menahan emosinya sampai akhirnya memutuskan pergi dan melepaskan sihirnya yang menahan Indra. Meskipun sebenarnya tidak sulit bagi Indra untuk melepaskannya.
"Kau tidak apa-apa? Maafkan dia, dia sepertinya sedang stress setelah kami gagal mengalahkan seekor naga di gunung timur" ujar Orang itu.
"Tidak apa-apa. Kalau boleh tau mengapa kalian gagal?" Tanya Indra.
"Salah satu party kami belum kembali dari cutinya" jawab orang itu.
Orang itu mengenakan kalung dengan pengenal berbahan emas dan bertuliskan "Leon"
"Cuti? Apa mungkin maksudmu Misha?" Tanya Indra.
"Kau mengenalnya? Ya, dia adalah salah satu anggota kami. Omong-omong aku Leon" ujar Leon menjulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Indra" balas Indra sambil meraih tangan Leon.
Leon kemudian masuk kedalam Guild dan Indra kembali untuk melihat perkembangan Linda.