
PEMIMPIN SEBAGAI UMPAN?
Mereka berdua berlari mengejar jejak yang mereka temukan. Namun, jejak jejak itu menghilang ditengah jalan dan Indra dan Miller tidak bisa melacak para pelakunya.
Indra terlihat kesal dan gelisah di waktu bersamaan.
"Sialan!! Awas saja mereka!!" Ujar Indra kesal.
Miller baru kali ini melihat Indra dilanda emosi, ia selalu melihat sahabatnya itu sebagai orang yang tenang, walaupun sedikit menjengkelkan.
"Tapi ini aneh… tidak mungkin mereka bisa menghilangkan jejaknya di tengah padang pasir seperti ini" ujar Miller.
"Indra, tenangkan dulu dirimu. Masih ada kemungkinan mereka bersembunyi disekitar sini entah bagaimana caranya" lanjut Miller.
Indra menghela nafas mencoba menenangkan diri.
"Kurasa kau benar, mari kita selidiki dulu" balas Indra yang terlihat sudah lebih tenang.
Indra dan Miller mencoba melakukan investasi di sekitar jejak terakhir itu. Namun, masih belum bisa menemukan apapun.
Indra mencoba untuk memperhatikan jejak-jejak itu lagi hingga akhirnya ia menyadari sesuatu.
Indra bersiap menggunakan sihirnya dan langit-langit itu sudah dipenuhi oleh awan hitam yang berbeda dari sebelumnya. Awan-awan itu terlihat jauh lebih gelap dari awan Indra biasanya. Miller bisa merasakan amarah Indra dari awan-awan itu. Namun, Miller masih belum tau apa yang Indra ingin lakukan.
Indra menggunakan petirnya untuk menyambar tepat didepan jejak yang telah hilang. Petir itu menyambar dengan segera membuat seluruh tempat itu bergetar kuat. Tepian tebing-tebing di sekitar mereka longsor. Miller melihat tatapan Indra yang benar-benar penuh dengan kebencian. Bahkan tanah-tanah disana masih bergetar setelah satu petir yang Indra gunakan.
"Indra!! Apapun yang kau lakukan, kurasa ini sudah berlebihan!!" Ujar Miller.
Dari kejauhan bahkan Misha di Angel Eyes bisa merasakan petir Indra. Bahkan anak kecil seperti Rana dan Rani merasa gelisah.
"Jangan menangis… itu hanya petir" ujar Misha sambil mengayunkan kedua bayi di tangannya.
"Sebenarnya apa yang mereka berdua itu lakukan…?" Tanya Misha kepada dirinya sendiri.
Bekas petir Indra membuat lubang disana dan di dalam lubang itu seseorang berteriak kesakitan beberapa saat setelah Indra menggunakan petirnya.
"Hebat juga kau! Aku tidak menyangka kalian benar-benar bisa menemukanku" ujar seseorang dari dalam lubang bekas petir Indra.
"Kau tau apa yang kami inginkan" ujar Indra menatapnya.
"Maaf saja, tapi tidak bisa. Mayat-mayat itu sangat berguna bagi kami para Necromancer" balasnya.
"Kami? Jadi ada lebih dari satu orang…" ujar Miller.
"Itu tidak penting sekarang… dimana tubuh-tubuh yang kau curi?" Tanya Indra dengan tegas.
"Aku bawa beberapa saja, sisanya teman-temanku yang membawanya. Bisa dibilang… aku hanyalah umpan" jawab orang itu.
Ia melompat dari lubang itu dan terlihat menggunakan sebuah sihir. Aura hijau terlihat disekitar tubuhnya, dalam seketika puluhan mayat keluar dari bawah tanah, mayat-mayat itu terlihat utuh walaupun sudah terkubur bertahun-tahun lamanya.
Indra dan Miller tau bahwa sihir necromancy tidak meregenerasi mayat. Namun, jika memang ada yang seperti itu harusnya mereka akan menjadi lawan yang berat.
"Setelah kita menangkapnya kita bisa mendapatkan informasi tentang markas ataupun anggota mereka. Aku rasa itu tidak seburuk itu" balas Indra.
"Menangkap ku? Ya… semoga beruntung dengan itu" ujar Necromancer itu.
"Oh iya! Aku belum memperkenalkan diri bukan? Aku adalah 'Monter' pemimpin dari para necromancer" lanjut Monter.
"Oh… jadi sang pemimpin sendiri yang datang untuk menjadi umpan" ujar Indra.
Indra dan Miller tidak terkejut mendengarnya karena bagaimanapun juga sihir necromancy orang ini berada di level yang berbeda.
"Pemimpinnya sendiri yang menjadi umpan?! Itu tidak masuk akal!" Ujar Miller.
"Sepertinya dia tau kemampuan kita, dia tidak meremehkan kita. Namun, tetap saja dia akan menjadi lawan yang sulit" balas Indra.
Tanpa banyak basa-basi lagi, Indra dan Miller segera menerjang Monter. Pertarungan mereka berlangsung tidak lama. Indra dan Miller saling bergantian untuk mendaratkan pukulan ke Monter. Namun, tidak satupun mengenainya. Pergerakannya juga lincah membuat Indra kesulitan membidiknya dengan petir. Monter mulai menyerang balik, ia menggunakan mayat-mayat yang di bangkitkanya untuk menghadapi Indra dan Miller.
Tidak sulit melawan mereka. Namun, hal yang merepotkan adalah mereka akan terus bangkit hingga sang pengguna sihir kehabisan tenaga atau juga berhasil ditaklukkan. Tetapi, kedua hal itu tidak dapat dilakukan oleh Indra dan Miller.
Indra dan Miller bukanlah tandingan Monter. Setelah beberapa saat bertarung, tak perlu membuang tenaga bagi Monter untuk menghajar dan menumbangkan mereka berdua.
"Sudah kuduga, tidak salah lagi dia memang pemimpin mereka" ujar Miller yang sudah babak belur dan tidak bisa bergerak lagi.
"Bukankah Necromancer payah dalam bertarung tanpa sihirnya? Namun, kenapa dia…" balas Indra yang tidak kalah parah dari Miller dan Indra juga mulai kehilangan kesadarannya.
Awan-awan hitam yang memenuhi langit sebelumnya juga perlahan pudar setelah kekalahan Indra.
"Sekarang… apa yang bisa kulakukan dengan kalian berdua…?" Ujar Monter.
Miller juga sudah mulai kehilangan kesadarannya setelah kelelahan menghadapi Monter.
"Mungkin mereka berdua bisa menjadi prajurit yang bagus, baiklah. Akan kubangkitkan kalian. Setelah aku membunu kalian terlebih dahulu … tentunya" ujar Monter berbicara sendiri.
Perasaan Misha masih kurang enak di Angel Eyes setelah merasakan petir Indra yang tidak seperti biasanya, karena itu dia memutuskan untuk menyusul Indra dan Miller.
Monter mencoba untuk mendekati Indra untuk membunuhnya. Namun, belum sempat ia melakukan sesuatu sebuah kobaran api yang besar menghantamnya dan membuatnya terlempar.
"Sialan!! Siapa itu?! Berani-berani-" Monter tidak melanjutkan perkataannya setelah melihat sosok yang melempar kobaran api itu.
Sosok yang seharusnya tidak berada di sana. Dari atas tebing tak jauh dari tempat itu ada seseorang dengan jubah merah.
Sosok itu tidak perlu berbicara untuk membuat Monter diam. Meski hanya saling menatap dari kejauhan. Namun, akhirnya Monster mengetahui siapa orang itu sebenarnya.
"Itu… Ignis. Apa yang dia lakukan disini? Dia memang targetku, tapi aku bukan tandingannya saat ini. Lalu kenapa dia menghentikan seranganku tadi? Apa jangan-jangan…? Tidak, aku sepertinya masih kekurangan informasi. Lebih baik mundur … untuk sekarang" ujar Monter yang segera pergi dari sana meninggalkan Indra dan Miller yang sudah tidak sadarkan diri.
"Necromancer? Sudah lama sejak aku melihat satu" ujar Ignis dari atas tebing yang cukup jauh dari tempat Indra dan Miller
"Namun, aku tidak menyangka anak itu masih hidup. Indra… dia menjadi seseorang yang cukup hebat. Petir itu tadi cukup hebat, kurasa dia sebanding dengan Ignael ataupun Iglea" lanjut Ignis dari kejauhan mengamati Indra.
"Pertanyaannya adalah… apa kau akan menjadi sekutu atau musuh? Seharusnya kau akan menjadi sekutu kalau kau belum mengungkap insiden 7 tahun yang lalu. Namun, itu pasti mustahil. Hanya para petinggi Wilayah Selatan yang mengetahui kejadian itu dan mungkin juga… Avalance. Namun, jika sebaliknya. Aku tidak akan segan karena sejak awal kau hanyalah anak yang kebetulan selamat" lanjut Ignis lagi.