Atlas: Lightning From The Wild West

Atlas: Lightning From The Wild West
27: KEMUNCULAN CHAOS DRAGON



KEMUNCULAN CHAOS DRAGON


Kedua orang itu tampak akur untuk sesaat ketika meminum anggur itu, seolah hari-hari lama yang telah berlalu bagi mereka.


"Sepertinya, sesekali mengesampingkan masalah juga tidak terlalu buruk. Namun, kurasa kita berdua tau bahwa kita akan segera menjadi musuh lagi" ujar Ignis.


"Mungkin Wilayah Selatan memang memiliki banyak orang yang kuat. Namun, aku juga memiliki satu orang sekutu yang hebat" balas Avalance.


"Satu orang? Hanya satu orang bisa membuatmu percaya diri seperti itu? Menarik… siapa dia?" Tanya Ignis.


"Orang yang sedang banyak dibicarakan beberapa tahun terakhir 'Lightning From The Wild West' dialah orang yang kumaksud. Apa kau ingin tau siapa dia sebenarnya? Dia adalah putra sulungmu, Indra" jawab Avalance.


"Indra? Begitu ya, jadi kau sudah menemuinya… aku tidak banyak menaruh harapan padanya. Aku yakin dia bukan tandingan Ignael dan Iglea" ujar Ignis.


"Memang. Namun, manusia bisa berkembang. Kau yang mengajarkanku tentang hal itu" balas Avalance.


"Itu adalah diriku yang dulu. Manusia memiliki batas. Itu yang kupercaya sekarang" ujar Ignis.


"Kalau begitu, kita tunggu saja hasilnya. Aku juga meninggalkan hadiah kecil untuk Indra. Mungkin saja itu akan membantunya" balas Avalance.


"Jika Ignael dan Iglea tidak bisa menghadapinya, barulah aku juga akan mewaspadai anak itu" ujar Ignis.


Tak lama kemudian, Lycaon kembali ke ruangan itu. Setelah kembalinya Lycaon, Ignis dan Avalance berhenti berbincang.


"Bagaimana anggur yang telah kupilih untuk kalian?" Tanya Lycaon.


"Luar biasa" jawab Ignis.


"Nikmat, terimakasih" jawab Avalance juga.


"Senang mendengarnya" ujar Lycaon.


Lycaon pun kembali duduk, kali ini ia ingin mulai membicarakan hal yang lebih serius. Itu bisa ditebak hanya dengan melihat raut wajahnya yang berubah.


"Tentang Chaos Dragon… berdasarkan informasi yang dari para pengintaiku, Chaos Dragon terlihat sedang terluka, entah apa yang bisa membuat mahkluk itu terluka, naga itu sepertinya memilih Nosferat sebagai tempat untuk memulihkan dirinya. Sejauh ini, hanya itu Informasi yang kumiliki" ujar Lycaon dengan wajah yang sangat serius.


"Bukankah itu adalah kesempatan emas? Kita mungkin memiliki kesempatan untuk memusnahkan naga sialan itu" balas Ignis.


"Kali ini aku setuju" ujar Avalance.


"Namun, kita tidak bisa membunuh The Envoys. Mereka adalah utusan para dewa, mustahil untuk membunuh salah satu dari mereka. Dalam seratus tahun lagi dia akan kembali" balas Lycaon.


"Itu sudah cukup, saat naga itu bangkit kembali maka aku akan kembali memusnahkannya" ujar Ignis.


Entah mengapa, suasana disana terasa mencekam seolah sesuatu sedang mengamati mereka. Lycaon menutup matanya dan mencoba menajamkan inderanya.


"I-INI!!" Ujar Lycaon panik berkeringat.


"Chaos Dragon sudah berada di sini. Tepat diluar, para pasukanku sudah mati dibantai olehnya" jawab Lycaon.


Ignis dan Avalance terkejut mendengarnya. Mereka berdua segera berlari menuju keluar kastil bersama Lycaon yang menyusul mereka dibelakang.


Di depan kastil itu sudah terlihat Makhluk besar dan tinggi dan dibawah Makhluk itu sudah ada ratusan mayat werewolf yang hampir terkubur oleh salju, masih ada yang selamat walaupun tidak banyak.


"Kalian… kalian sepertinya sudah tidak seperti 300 tahun yang lalu" ujar Chaos Dragon.


"Chaos Dragon. Aku sudah memburumu selama ratusan tahun. Namun, kini kau yang menghampiriku" balas Ignis.


"300 tahun aku dibayangi oleh masa laluku yang sudah hancur olehmu. Sekarang aku datang untuk membalasnya" ujar Avalance.


"Kalian berdua berbicara seolah aku sudah bukan tandingan kalian. Hanya karena sedikit terluka bukan berarti kalian sudah cukup kuat untuk mengalahkanku. Baiklah… mari kita lihat seberapa hebat perkembangan kalian selama 300 tahun" balas Chaos Dragon.


Ignis akhirnya mengeluarkan apinya, sebagiam besar salju milik Avalance meleleh olehnya. Api itu melesat ke arah Chaos Dragon. Chaos Dragon mengaum kencang, tanda bahwa ia juga siap menyerang kapan saja.


Avalance dan Lycaon juga sudah bersiap untuk ikut bertarung melawan Chaos Dragon bersama Ignis. Avalance menggunakan sihirnya membuat dinding es raksasa yang menyempitkan Chaos Dragon membuat gerakan naga itu menjadi terbatas, dinding es itu sangat kokoh. Bahkan api Ignis tidak bisa melelehkannya dengan mudah. Lycaon menggunakan wujud serigalanya dan maju untuk membantu Ignis yang sedang menghadapi Chaos Dragon secara langsung.


Sementara Ignis, Avalance, dan Lycaon sedang menghadapi Chaos Dragon, Compax sedang mempersiapkan diri untuk melawan para Wyvern yang populasinya meningkat pesat di seluruh penjuru negara itu.


Wilayah Selatan memiliki banyak orang-orang kuat untuk menjaganya, begitu juga dengan Wilayah Timur. Namun, Wilayah Barat dan Utara tidak memiliki cukup banyak orang kuat, mungkin memang ada. Namun, itu tidak ada artinya jika mereka tidak ada di sana. Indra, Miller, dan Misha adalah Top 3 dari barat, sayangnya ketiga orang itu sedang tidak berada di Barat. Miller dan Misha sedang berada di Wilayah Timur, Indra juga sedang berada di Wilayah Utara. Meskipun begitu, bukan berarti Wilayah Barat kehilangan harapan. Masih ada satu orang lagi yang bisa mengatasi para Wyvern di barat.


Indra yang sedang berada di Wilayah Utara masih tenang untuk saat ini. Ia mengajak Cheryl untuk berkeliling Kastil milik Avalance.


"Cheryl, jika kau tiba-tiba harus melawan sesuatu yang sangat kuat dan tidak bisa kau kalahkan. Apa kira-kira yang akan kau lakukan?" Tanya Indra.


"Secara tiba-tiba ya? Bukankah itu sudah jelas? Tentu saja mencari senjata! Bahkan jika senjata itu belum cukup, setidaknya kau bisa melawan lebih baik" jawab Cheryl.


"Senjata ya? Itu jawaban yang bagus! Terimakasih, Cheryl" ujar Indra.


Cheryl terlihat bingung dengan pertanyaan Indra. Indra kemudian pergi mencari seorang pelayan disana.


"Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanya Sang Pelayan itu.


"Maaf, tapi apakah kau memiliki senjata? Sepertinya aku sangat membutuhkannya untuk nanti" jawab Indra.


"Ah! Kebetulan sekali! Tadinya Tuan Avalance juga menyiapkan hadiah itu untuk anda. Namun, maafkan saya karena telah lupa untuk memberitahukannya kepada Anda" ujar Sang Pelayan.


Pelayan itu membawa Indra ke ruang harta. Di sana terdapat banyak sekali barang-barang berharga milik Avalance. Senjata, perhiasan, dan barang-barang langka lainnya terpajang di di dalam sebuah kaca dan terususun rapi diruangan itu.


Mata Indra tertuju ke sepucuk surat yang juga dipajang oleh Avalance di tempat itu. Indra awalnya mengira itu adalah surat berisikan dokumen penting negara. Namun, setelah ia pikir lagi. Kenapa dokumen negara dipajang di ruang harta? Indra merubah pikirannya dan mencoba melihat surat itu lebih dekat.


Di surat itu tertulis "Untuk Avalance, Tessa" hanya itu tulisan yang terbaca di luar sepucuk surat itu. Surat itu sudah menguning, dan beberapa bagian dari surat itu seperti sudah terbakar.


"Tessa? Siapa orang ini? Kenapa Avalance sampai repot-repot untuk menyimpan surat darinya?" Tanya Indra dengan dirinya sendiri.