
YANG SEBENARNYA
"Bagaimana jika dimulai dengan pertanyaan yang ringan? Apa yang terjadi sehingga kau dan Avalance menjadi babak belur?" Tanya Indra kepada ayahnya.
"Chaos Dragon. Mahkluk itu bahkan masih bukan tandingan kami setelah 300 tahun. Aku, Avalance, dan Raja para Werewolf Lycaon tidak sanggup menghadapinya. Jika saja Vandrak tidak menyelamatkan kami, mungkin aku tidak akan berbicara denganmu disini" jawab Ignis.
"Vandrak? Nama yang asing bagiku. Siapa dia?" Tanya Indra lagi.
"Seorang Drakula yang juga berasal dari Nosferat. Sepertinya dia dan Lycaon memiliki hubungan yang baik" jawab Ignis.
"Sekarang. Bisakah kau menceritakan kepadaku, apa yang terjadi pada 7 tahun yang lalu?" Indra bertanya dengan wajah yang lebih serius.
"Jadi, bahkan Avalance tidak mengetahui detail kejadiannya ya? Baiklah, akan kuceritakan. Pertama-tama, kau harus mengetahui tentang identitas asli para penduduk itu, termasuk ibumu. Para penduduk desa itu adalah anggota dari 'Necromasters' mungkin terdengar asing bagimu. Necromasters adalah organisasi yang terdiri dari seluruh Necromancer di dunia" jawab Ignis.
"Jadi. Ibu adalah…" ujar Indra.
"Benar, dia adalah seorang Necromancer. Alasan aku menyusup ke desa itu adalah untuk membunuh Opstann. Salah satu dari 10 pemimpin Necromasters" balas Ignis.
Indra terlihat terkejut mendengar nama yang disebutkan oleh Ignis. Ia sudah mengenal nama itu, dan jika ia ingat lagi. Opstann tidak pernah terlihat pada saat Avalance pergi ke Wilayah Timur, padahal Avalance benar-benar datang ke Bounty Store. Namun, saat itu Opstann benar-benar hilang. Tidak dia sangka tengkorak itu adalah mantan 10 pemimpin Necromasters.
"Kenapa kau terlihat terkejut?" Tanya Ignis.
"Opstann. Apakah orang itu adalah seorang Necrosummoner?" Indra bertanya balik.
"Seluruh pemimpin Necromasters adalah Necrosummoner" jawab Ignis.
"Namun, itu tidak menjawab pertanyaanku yang pertama" lanjut Ignis.
"Opstann. Sepertinya orang itu belum benar-benar mati. Aku pernah menemuinya dan wujudnya hanya berupa sebuah tengkorak hidup" ujar Indra.
Kali ini justru Ignis yang terlihat sedikit terkejut.
"Jadi, bajingan itu masih bisa hidup lagi" ujar Ignis.
"Aku paham jika tujuanmu hanyalah untuk membantai seluruh necromancer desa itu. Namun, kenapa harus melahirkanku?" Tanya Indra.
"Necromasters adalah musuhku.
Tidak mudah untuk menyusup kedalam desa mereka, aku harus menyamar dan mencari orang dalam. Karena itu aku memanfaatkan ibumu, salah satu necromancer terlemah yang bahkan sudah pasti kelelahan setelah membangkitkan satu jiwa saja" jawab Ignis.
"Jujur saja, 7 tahun yang lalu kupikir kau mewarisi darah Necromancer dari ibumu yang memang seorang Necromancer. Karena itu aku menyuruh para bandit itu untuk membunuh semuanya termasuk dirimu. Namun, aku tidak menyangka kau bisa hidup" lanjut Ignis.
"Banyak yang terjadi hingga saat ini" ujar Indra.
"Pertanyaan terakhirku. Negara seperti apa yang akan kau ciptakan jika berhasil menguasai keempat Wilayah Compax?" Tanya Indra.
Ignis tersenyum.
"Akan kubuat Compax menjadi negara yang tidak mampu ditembus oleh apapun, bahkan ketujuh The Envoys sekalipun. Mereka yang lemah harus dibuang, mereka yang kuat akan berkuasa lalu-" jawab Ignis.
"Pikiran yang dangkal" balas Indra memotong.
"Aku tidak menyesal telah memihak kepada Avalance" lanjut Indra.
"Apa kau tidak dendam denganku?" Tanya Ignis.
"Tidak, aku tidak terikat pada masa laluku sama sekali. Aku bertanya hanya untuk mencari kebenarannya, bukan untuk membalaskan dendam" jawab Indra.
"Aku tidak punya pertanyaan lagi" lanjut Indra.
Indra kemudian pergi meninggalkan Ignis dan berjalan menuju Avalance.
"Bagaimana, Indra. Kau sudah berbicara dengannya?" Tanya Avalance yang terbaring di kasur pasien.
"Iya, dia lebih baik dari yang kukira" jawab Indra.
"Kau akan terkejut jika melihat sikapnya 300 tahun yang lalu" balas Avalance.
"Aku tau. Dia orang yang periang, bertanggung jawab, rendah hati, dan sayang dengan keluarganya" ujar Indra.
"Namun, aku yakin itu palsu. Hanya kau yang pernah melihatnya seperti itu tanpa sedang berpura-pura, Avalance" lanjut Indra.
"Bagaimana? Setelah kau berbicara dengannya, apakah kau akan berpihak kepadanya?" Tanya Avalance lagi.
"Tidak, aku akan tetap memihakmu, Avalance" jawab Indra.
"Dan mengapa seperti itu?" Tanya Avalance.
"Aku memilih untuk tidak menjawab" ujar Indra.
Tanpa diberitahu pun, Indra mengerti bahwa Avalance adalah seorang pemimpin yang bijaksana dan penuh wawasan. Indra sudah banyak melihat bukti kehebatan Avalance sebagai seorang pemimpin. Bahkan semua penduduk Wilayah Utara sangat mempercayai Avalance.
"Avalance, apakah Chaos Dragon memang sekuat itu?" Tanya Indra.
"Itu benar, bahkan setelah 300 tahun aku dan Ignis tidak mampu menandinginya. Bahkan dengan bantuan Raja para Werewolf pun kami tidak bisa menghadapi Chaos Dragon yang sedang terluka" jawab Avalance.
"Aku dengar dari ayah, seseorang bernama Vandrak menyelamatkan kalian. Siapa dia?" Tanya Indra lagi.
"Vandrak adalah sosok drakula yang kekuatan dan posisinya setara dengan Lycaon. Bahkan jika kami berempat melawannya, kami tidak akan sanggup. Karena itu, Vandrak membantu kami untuk mundur" jawab Avalance.
Setelah banyak berbincang dengan Avalance, Indra kembali mendatangi ayahnya yang juga masih terbaring di kasur pasien.
"Ayah, kau butuh sesuatu?" Tanya Indra.
"Aku ingin segelas anggur" jawab Ignis.
Indra lalu keluar untuk mencari sebotol anggur lengkap dengan gelas minumnya. Indra kembali membawa anggur arunika.
"Sepertinya mereka hanya punya anggur arunika. Aku bingung dengan selera Avalance" ujar Indra sambil menuangkan anggur itu ke gelas minuman.
Ignis tersenyum melihat anggur itu. Di dalam senyuman itu juga tersimpan kesedihan yang terpampang jelas.
"Anggur ini adalah anggur yang selalu aku dan Avalance minum bersama dengan rekan-rekan kami dahulu. Minuman ini mungkin masih memiliki rasa yang sama. Namun, ada rasa yang tidak bisa kami rasakan lagi. Hanya kenangan yang bisa kami ingat ketika meminum anggur ini" balas Ignis.
"Aku tidak menyangka, Avalance juga masih meminum anggur ini" lanjut Ignis.
Indra akhirnya mengerti kenapa hanya ada Anggur Arunika di kastil Avalance.
"Minuman itu mungkin membawa kenangan untuk kalian. Namun, kenangan itu setidaknya juga membawa mereka kembali" ujar Indra mencoba menghibur ayahnya.
Ignis kembali tersenyum. Namun, kali ini kesedihan di dalam senyuman itu sedikit lebih pudar.
"Ayah, aku penasaran" ujar Indra.
"Tentang apa?" Tanya Ignis.
"Ada seseorang yang sepertinya sangat berharga bagi Avalance. Namun, sepertinya orang itu menjadi korban dari penyerangan Chaos Dragon 300 tahun yang lalu" jawab Indra.
"Orang itu bernama Tessa. Aku hanya penasaran jadi, siapakah wanita ini sebenarnya?" Tanya Indra.
Ignis terlihat sangat terkejut mendengar Indra mengetahui tentang Tessa.
"Sebelum aku menjawabnya, darimana kau mendapatkan informasi tentang orang ini?" Tanya Ignis.
"Di ruang harta Avalance, ada sepucuk surat tua yang sepertinya sudah sedikit terbakar dan ditujukan kepada Avalance dari Tessa. Kupikir hanya itu saja. Namun, aku menemukan ratusan surat lagi dari Tessa di lemari ruangan harta itu, dan sama juga surat-surat itu terlihat tua dan sedikit terbakar. Karena itu aku penasaran dengan Tessa" jawab Indra.
Ignis kembali terkejut, Tessa mungkin memang orang yang berharga bagi Avalance menurut Ignis. Namun, pasti ada alasan yang membuat Avalance tidak bisa melupakannya bahkan setelah 300 tahun. Ignis kini ikut penasaran dengan surat-surat itu.
"Baiklah, akan kuceritakan. Namun, dengan satu syarat" ujar Ignis.
"Apa itu?" Tanya Indra.
"Kau harus membawaku ke surat-surat itu setelah aku menceritakannya" jawab Ignis.
"Baiklah, aku setuju" balas Indra.
"Kalau begitu dengarkan baik-baik" ujar Ignis.