
NECROMANCER
Indra menghabiskan waktunya untuk berbicara dengan Reisth hingga sore.
"Hei, Indra. Kau harusnya sudah berumur 18 tahun bukan? Bagaimana kalau kau mencoba untuk minum alkohol?" Tanya Reisth sambil menuangkan segelas minuman dari botol.
Indra mendatanginya dan duduk di kursi bar itu. Reisth menyuguhkan minuman itu kepada Indra, Indra menyambutnya dan segera meminumnya dalam seteguk. Reisth terlihat terkejut melihatnya.
"Sejak kapan kau bisa minum sekuat itu?" Tanya Reisth dengan wajah terkejut.
"Eh? Anu… i-itu kebetulan saja" jawab Indra.
"Oh… sekarang aku mengerti. Pantas saja dulu minuman-minuman ku sering habis dengan sendirinya. Kupikir aku yang salah ingat. Namun, ternyata itu menjadi jelas sekarang" ujar Reisth.
"Maaf" ujar Indra memalingkan pandangannya.
"Omong-omong, kemana Bella?" Tanya Indra mengalihkan pembicaraan.
"Dia keatas untuk melihat Rani dan Rana" jawab Reisth.
Nama itu cukup asing bagi Indra.
"Rani? Rana? Siapa itu?" Tanya Indra lagi.
"Mereka adalah anak kami, walaupun masih berumur 7 bulan. Namun, hebatnya mereka sudah bisa berjalan. Aku yakin gen petualang ibunya terwariskan" jawab Reisth.
Indra juga tidak kaget mendengar itu. Karena dia tau bahwa Bella adalah mantan seorang petualang dan dia jugalah yang melatih Miller dan Misha menggunakan sihir.
Bella akhirnya turun dari lantai atas dengan menggendong dua bayi perempuan kecil yang menggemaskan.
"Wow… anak-anak ayah yang cantik ini sudah bangun" ujar Reisth melihat dua bayi kecil itu.
"Rani, Rana. Sapa kakak Indra. Dia mungkin terlihat seram. Namun, dia cukup baik" ujar Bella mendekati Indra dengan menggendong kedua anaknya.
"Itu jahat sekali, Bella. Sudah cukup Miller, Misha, dan Reisth saja yang mengejekku" ujar Indra.
Kedua bayi itu sepertinya tidak takut kepada Indra. Mereka berdua tersenyum menggemaskan ketika melihat Indra.
"Reisth, apa kau sedang sibuk?" Tanya Bella.
"Sayangnya, Iya. Aku masih harus membereskan gelas-gelas ini" jawab Reisth.
"Tidak ada pilihan lagi, Indra tolong jaga mereka berdua aku harus memasak di dapur" ujar Bella.
Indra akhirnya harus menggendong dua anak itu sekaligus, dua bayi menggemaskan itu sangat senang ketika Indra menggendong mereka.
"Indra, dimana jaketmu?" Reisth bertanya setelah memperhatikan Indra lagi.
"Jaketku? Oh… aku meminjamkannya kepada seseorang" jawab Indra sambil asyik bermain dengan Rani dan Rana.
"Tidak seperti dirimu" ujar Reisth.
Indra tidak menanggapinya. Ia lanjut bermain hingga pintu tempat itu terbuka dan ternyata Miller dan Misha akhirnya datang menyusul Indra.
"Kami pulang!" Ujar Misha setelah memasuki tempat itu.
"Oh… kalian akhirnya sepasang kekasih kita datang juga!" Balas Reisth.
"Hah? Wah… aku memang sudah yakin kalian akan menjadi sepasang kekasih sejak dulu dan lihatlah kalian sekarang!!" Ujar Bella yang baru saja keluar dari dapur.
Mendengar itu Indra segera memalingkan dirinya dari mereka sambil masih menggendong Rani dan Rana.
"Eh? Kenapa kau tau? Oh, aku tau… Indra!! Aku tau ini ulahmu!!" Ujar Misha mendatangi Indra.
"Maaf" ujar Indra.
Kemarahan Misha menghilangkan setelah ia melihat Rani dan Rana yang menggemaskan.
"Wah… lucu sekali! Anak siapa ini?" Tanya Misha sambil meraih Rana dan menggendongnya.
"Anak kembar Bella dan Reisth" jawab Indra.
Miller juga ikut meraih Rani dan menggendongnya. Namun, Rani menangis saat digendong oleh Miller.
"Hei, jangan menangis. Aku orang yang baik kok" ujar Miller sambil mengayunkan Rani di tangannya.
"Wajahmu memang terlalu seram" balas Indra mengejek.
"Miller! Bukan begitu caranya" ujar Misha yang segera meraih Rani dan menggendongnya juga.
Rani dan Rana terlihat jauh lebih senang dibandingkan bersama Indra saat bersama Misha.
"Mereka terlihat menyukaimu, Misha. Kenapa kau dan Miller tidak segera membuat satu?" Reisth bercanda.
Indra tertawa mendengarnya. Sedangkan Miller dan Misha terdiam menahan malu.
"Itu kejam… aku juga sedang berusaha tau" ujar Indra.
Misha sibuk bermain dengan Rani dan Rana, ia terlihat seperti kakak yang penyayang.
Sedangkan Bella dan Reisth terus menggoda Miller dan Misha.
Indra merindukan suasana itu dan kali ini bahkan lebih baik dari sebelumnya karena mereka kedatangan anggota baru.
"Omong-omong, kenapa kalian tutup dari pagi tadi?" Tanya Indra.
"Hari ini kami libur, kami kelelahan melayani para pelanggan setelah kepergian kalian. Karena itu kami memutuskan untuk libur 2 kali seminggu" jawab Bella.
Hari mulai sore dan Indra sedang bersiap untuk pergi ke desanya dulu untuk mencari informasi walaupun sedikit.
"Kau mau kemana?" Tanya Miller melihat Indra pergi keluar.
"Mencari angin" jawab Indra.
"Aku ikut" ujar Miller.
Mereka berdua berjalan melewati tebing-tebing tinggi dan padang pasir itu satu jam.
"Sebenarnya kita mau kemana? Pola jalanmu tidak seperti orang yang tidak punya tujuan" ujar Miller.
"Sherif memang hebat, aku memang sedang menuju ke puing-puing desaku dulu untuk mencari sesuatu" balas Indra.
Miller tidak mengeluh dan tetap mengikuti Indra.
"Oh iya, Miller. Sejak kapan kalian berdua menjadi sepasang kekasih?" Tanya Indra.
"Kenapa tiba-tiba tanya begitu…? Mungkin… sejak 3 tahun yang lalu" jawab Miller.
"Tunggu. Jadi sejak masih bersama Bella dan Reisth kalian sudah…" ujar Indra.
"Benar, hebat bukan? Kau bahkan tidak sadar sampai kemarin" balas Miller.
Indra tidak menanggapinya lagi dan tetap lanjut berjalan.
Beberapa saat kemudian mereka akhirnya sampai ke desa Indra. Tempat itu memang benar-benar hancur.
"Apa yang sebenarnya kau cari disini?" Tanya Miller.
"Sebenarnya aku juga tidak tau. Namun, pertama-tama kita harus ke puing-puing rumahku" jawab Indra sambil mencari jalannya menuju puing-puing itu.
Mereka menuju rumah Indra. Rumah itu sudah hampir runtuh. Namun, Indra membuka jalannya memasuki rumah itu.
"Aku tidak punya teh" ujar Indra menyuruh Miller masuk.
"Kau pasti bercanda" balas Miller.
Tidak banyak hal di dalam rumah itu. Indra membuka sebuah lemari milik ayah dan ibunya. Ia cukup kaget barang-barang disana masih utuh, tapi tetap saja ia teringat dengan ibunya setelah melihat baju ibunya yang masih utuh di dalam lemari itu. Indra sampai saat ini masih belum percaya bahwa dalang dari insiden di desa itu adalah ayahnya sendiri.
Ia lanjut membongkar lemari itu dan menemukan lukisan keluarga mereka.
Indra senang menemukannya. Namun, ia juga sedih mengingatnya.
Ia tidak banyak menemukan barang milik ayahnya di lemari itu. Namun, ia menemukan satu barang menarik milik ayahnya. Sebuah medali emas dengan tulisan "Ignis" serta ukiran disekitar nama itu. Walaupun kondisinya sudah cukup berantakan karena umur.
"Ini milik ayahku" ujar Indra.
"Medali emas? Ditambah lagi ini emas asli" balas Miller.
Indra merasa sudah tidak ada lagi yang bisa ia temukan disana, Indra lalu mengajak Miller untuk pulang. Namun, sebelum itu ia berniat mengunjungi makan ibunya.
Makam-makam itu terletak di belakang desa itu, Indra dan Luzin lah yang menguburkan semua penduduk desa yang telah dibantai.
Miller tetap mengikuti Indra kesana. Namun, ada yang aneh di makam-makam itu. Semuanya terlihat baru saja digali. Indra dan Miller kaget melihatnya dan segera berlari untuk melihatnya lebih dekat.
"Apa-apaan?!?" Ujar Indra.
"Sabar, Indra. Kita selidiki terlebih dahulu. Liat baik-baik, makam-makam itu sepertinya baru saja digali. Yah… sudah banyak kasus seperti itu. Namun, yang kau harus waspadai adalah orang yang melakukannya" balas Miller.
"Memangnya siapa yang melakukan semua ini?" Tanya Indra.
"Jika tebakanku benar, maka pasti Necromancer. Mereka adalah pengguna sihir pembangkit, mereka bisa membangkitkan mereka yang telah mati. Namun, jiwa-jiwa yang dipanggil lagi itu akan sangat menderita. Ditambah lagi, Syarat untuk melakukan sihir itu adalah… mayat. Tentu saja itu illegal, karena itu aku rasa aku harus membantumu kali ini" jawab Miller.
Indra mulai mengerti keadaannya, memang benar makam-makam itu terlihat baru saja selesai digali. Miller menyelidiki lebih dekat dan menemukan sebuah jejak kaki beberapa orang.
"Jejak ini masih segar… Indra!! Ayo!! Mereka belum jauh. Kita harus mengejar mereka!" Ujar Miller yang segera berlari mengikuti jejak itu.
Indra juga segera berlari menyusulnya.