
SERBUAN GEROMBOLAN WYVERN
Di depan gua itu, para petualang yang sedang terluka sedang terheran-heran melihat langit yang tiba-tiba ditutupi oleh awan hitam. Mereka tidak tau bahwa itu adalah sihir milik Indra.
Misha juga sedang menuju ke gua itu, dari kejauhan ia bisa melihat Indra menggunakan petirnya. Ia sudah tidak risau jika awan-awan hitam itu sudah bertebaran dilangit, dia tau bahwa sahabatnya itu sudah serius. Dari kejauhan Misha sudah bisa melihat gua itu.
Tak lama kemudian, gerombolan Wyvern muncul dari arah mulut gua itu. Ada ribuan dari mereka bahkan lebih banyak daripada yang berada di gua, para petualang itu ketakutan. Namun, mereka juga tidak bisa membiarkan diri mereka mati begitu saja, karena itu mereka bersiap-siap beberapa dari mereka menarik pedang dari sarungnya, ada juga yang menyodorkan tombaknya, beberapa juga menggunakan perisai untuk menemani pedang dan tombak mereka.
Hanya Indra yang hanya duduk seolah tidak ada apapun yang terjadi. Para Wyvern itu sudah semakin dekat, para petualang juga sudah bersiap melakukan perlawanan. Namun, tepat saat mereka berkedip terdengar suara guruh yang keras menggelegar di langit walaupun hanya sesaat. Selesai mereka berkedip para Wyvern itu secara ajaib mulai berjatuhan dari udara, meskipun masih menyisakan puluhan. Namun, puluhan juga masih bisa ditangani oleh para petualang, meskipun masih akan sangat sulit bagi mereka mengingat bahwa mereka rata-rata adalah petualang tingkat perak, tidak sedikit juga yang perunggu seperti Indra. Satu-satunya tingkat emas hanyalah Cheryl yang masih di dalam gua itu.
Agar tidak dikira tidak melakukan apapun, Indra ikut melawan para Wyvern itu. Namun, dengan menahan diri. Misha sampai tak lama kemudian, dan segera Misha membabat habis para Wyvern yang tersisa tanpa kesulitan. Misha ingin menghampiri Indra dan memujinya. Namun, secara tak terduga Indra menempatkan jari telunjuknya di bibirnya menyuruh Misha untuk diam tentang kejadian itu.
Misha tidak mengerti alasan Indra ingin menutupi jati dirinya, karena cepat atau lambat orang-orang juga akan tau bahwa dia adalah Bounty Hunter nomor 1 di seluruh penjuru Compax. Keuntungan Indra hanyalah tidak banyak orang mengenal wajahnya, semua orang hanya mengetahui julukannya, yaitu Lightning From The Wild West. Misha tidak jadi menghampiri Indra, setelah isyarat yang diberikan Indra.
"NONA!! TERIMAKASIH TELAH MENYELAMATKAN NYAWAKU!!" Ujar salah satu dari para petualang itu dengan terharu, wajahnya terlihat sangat melebih-lebihkan.
Misha tertawa kaku. Tak lama kemudian Cheryl akhirnya keluar dari dalam gua itu dan melihat ribuan mayat Wyvern diluar, dia juga melihat Misha. Dia menyimpulkan bahwa semua itu adalah ulah Misha. Namun, ia juga sadar bahwa sihir Misha tidak membuat lawannya menjadi gosong dan terbakar. Ia tidak merubah kesimpulannya karena Misha adalah satu-satunya orang yang menurutnya bisa melakukan hal seperti itu disana, ditambah lagi Misha baru saja mengambil cuti. Menurut Cheryl, Misha pasti melakukan latihan berat. Walaupun faktanya sebagian besar cuti Misha digunakannya hanya untuk bermesraan dengan Miller. Namun, pandangan para petualang sangat berbeda.
Setelah bersusah payah menumpuk mayat para Wyvern itu, mereka mengambil bagian-bagian yang bisa dijual dari para Wyvern itu, mereka mulai membakar mayat-mayat itu.
Para petualang itu lalu kembali ke kota dan melepas lelah dari pekerjaan mereka sambil meminum minuman di Guild.
Indra kecewa karena di misi pertamanya ia tidak mendapatkan apa-apa. Karena kesalahan Guild yang menetapkan sarang Wyvern sebagai sasaran Dungeon Raid membuat para petualang harus menderita, sebagai permohonan maaf pihak Guild memberikan minuman dan makanan gratis selama seminggu khusus untuk para peserta. Tidak terdengar setara. Namun, para petualang tampak senang dengan itu.
Indra lalu berniat untuk pulang. Namun, setelah ia keluar dari pintu keluar, kota itu sedang hujan dan Indra tidak punya pilihan lain selain menunggu hujan berhenti. Lama-kelamaan hujan itu menjadi semakin deras. Beberapa saat kemudian, melihat Indra yang merenung seseorang menghampirinya.
"Hei, Indra. Bagaimana keadaanmu?" Tanya Cheryl sambil menepuk pundak Indra.
"Tenang saja, aku tidak apa-apa. Tapi, jujur saja aku sedikit kecewa karena tidak dapat apa-apa di misi pertamaku" jawab Indra.
"Tapi aku masih penasaran, kenapa tidak ada yang kembali masuk untuk minta tolong denganku saat para Wyvern itu mendekat?" Tanya Cheryl.
"Itu karena mereka semua ketakutan dan tidak bisa berpikir jernih" jawab Indra.
"Termasuk kau?" Tanya Cheryl lagi.
Indra tidak menjawab. Dari situ Cheryl mulai curiga dengan Indra. Namun, tidak ada bukti bahwa Indra yang mengalahkan ribuan Wyvern itu.
"Indra, apa kau sudah bergabung dengan sebuah party?" Tanya Cheryl lagi.
"Kebetulan sekali! Party ku baru saja bubar akhir-akhir ini. Bergabunglah denganku!" Ujar Cheryl dengan semangat.
"Itu tawaran yang bagus. Namun, apa kau yakin ingin mengundang petualang Tingkat Perunggu?" Tanya Indra memastikan.
"Kalau begitu besok aku akan menunggumu disini, aku akan sangat menantikannya!!" ujar Cheryl mengabaikan pertanyaan Indra dan berjalan pergi ditengah hujan itu.
Hujan itu tidak berhenti hingga malam. Karena bosan menunggu, Indra menerobosnya saja. Ia bukannya takut dengan hujan hanya saja dia tidak suka pakaiannya basah. Namun, kali ini dia tidak punya pilihan.
Di tengah perjalanannya pulang, Indra disusul oleh Misha yang juga berniat pulang ke penginapan.
"Hei Indra, kenapa tadi kau tidak mau aku mengungkap tentang apa yang terjadi tadi?" Tanya Misha kepada Indra.
"Oh, soal itu… aku hanya ingin menjadi petualang selama beberapa bulan saja dan jika aku menjadi petualang dengan tingkat emas, akan sulit untuk keluar dari Guild" jawab Indra.
"Itu masuk akal. Omong-omong muridmu sepertinya sudah berhasil membakar kain itu" ujar Misha lagi.
"Aku juga sudah melihat potensinya, setelah ini aku tidak ragu untuk memberinya latihan yang berat" balas Indra
"Eh?, Tunggu dulu. Darimana kau tau aku punya murid?" Tanya Indra.
Misha tidak menjawabnya.
Singkat cerita, mereka akhirnya sampai di penginapan itu. Tempat itu memang kecil dan sedikit kumuh bagi orang-orang. Namun, bagi Indra, Misha, dan Miller tempat itu suasananya sama seperti kampung halaman mereka.
Setelah mereka berdua memasuki tempat itu, tidak ada siapa-siapa di depan. Namun, ada suara orang di dapur Indra dan Misha akhirnya pergi ke dapur. Di situ sudah duduk Miller dan Nenek pemilik penginapan, ada juga Linda yang sedang menyiapkan makan malam.
"Selamat datang, kalian pasti sudah lelah. Duduklah" ujar Nenek itu.
"Makan malamnya akan siap sebentar lagi" ujar Linda.
"Muridmu ini ternyata sangat baik, Indra. dia benar-benar banyak membantu aku dan nenek hari ini" ujar Miller.
"Memangnya kau punya pekerjaan saat sedang senggang? Seingatku kau hanya akan malas-malasan ketika sedang tidak sedang bekerja" ujar Indra mengejek.
"BERKACA DULU SEBELUM BICARA!!" balas Miller kesal.