Atlas: Lightning From The Wild West

Atlas: Lightning From The Wild West
34: TESSA DAN AVALANCE



TESSA DAN AVALANCE


Tessa adalah salah satu dari murid-murid terkuat dari Perguruan Sihir. Ia adalah siswi yang ramah dan bisa bergaul dengan siapa saja. Saat itu Avalance masih murid biasa di Perguruan Sihir. Namun, kemampuannya setara dengan Ignis.


Pada suatu hari, Tessa ditugaskan dalam sebuah misi untuk berjaga di sebuah hutan yang jauh dari kota sendirian. Awalnya ia hanya disuruh untuk patroli disana. Namun, itu semua berubah ketika para Vampir tiba-tiba muncul disana.


Para Vampir itu menyerang Tessa. Namun, Tessa bukanlah orang yang lemah. Para Vampir itu bukanlah tandingannya. Setidaknya begitu sebelum pemimpin para Vampir itu muncul di hadapan Tessa. Sosok itu tinggi dengan wajah yang pucat dan pakaian serba hitam. Sosok itu memiliki aura mencekam, dan bau darah berhamburan dimana-mana ketika sosok itu muncul di depan Tessa. Untungnya sosok itu sepertinya tidak datang untuk keributan.


"Manusia, apa yang membuatmu melakukan hal ini kepada para anak buahku?" Tanya Sosok itu.


"Maafkan aku, aku-" Tessa tidak sanggup menahan bau darah itu dan tidak sanggup melanjutkan perkataannya. Tessa lalu menutup hidungnya karena tidak tahan dengan bau darah yang berhamburan.


"Pengampunanmu tergantung pada jawabanmu" balas Sosok itu.


Aura mencekam dan bau darah dari sosok itu membuat Tessa tidak mampu mengatakan apapun. Hal itu tentu membuat sosok itu menjadi kesal dan membuatnya mulai menganggap Tessa sebagai musuh.


Tessa menyadari bahwa Sosok itu sudah menganggapnya sebagai musuh. Tessa menyadarinya karena aura dari sosok itu semakin mencekam. Tessa mau tidak mau bersiap untuk bertarung dengan sosok itu.


Melihat Tessa yang memasang kuda-kuda Sosok itu terlihat semakin kesal.


"Aku datang bukan sebagai musuh. Namun, jika kau yang memilihnya. Maka aku akan melayanimu, manusia" ujar Sosok itu.


Tessa bersiap untuk menyerang. Namun, tepat sebelum serangannya itu mengenai Sosok itu, tubuhnya bergerak sendiri dan tidak jadi mengenai sosok itu. Tubuhnya seolah dikendalikan oleh Sosok itu.


"Kau yang memintanya, manusia" ujar Sosok itu.


Sosok itu kemudian melempar Tessa bahkan tanpa menyentuhnya. Syukurnya lemparan itu tidak berdampak kepada Tessa. Namun, tetap saja Tessa bukan tandingan sosok itu.


Tessa kemudian mencoba untuk kabur dari Sosok itu. Namun, Sosok itu selalu muncul di arah ia kabur. Sosok itu membuat Tessa tidak memiliki pilihan selain melawannya.


Tessa dibuat tidak berkutik oleh kekuatan Sosok itu. Sosok itu seperti bisa mengendalikan tubuh musuhnya sesuka hati, membuat Tessa tidak dapat melawan balik.


Sosok itu kemudian membuat tubuh Tessa melayang di depannya, ia berniat menghancurkan tubuh Tessa dari dalam.


"Manusia, kau yang telah memilih untuk mati. Jangan salahkan aku" ujar Sosok itu.


"Ti-tidak! Kau salah paham" balas Tessa yang menggunakan seluruh tenaganya untuk berbicara.


"Sudah terlambat untuk membuat alasan" ujar Sosok itu.


Sosok itu dengan perlahan mulai menghancurkan tubuh Tessa, rasa sakit yang dirasakan olehnya bahkan membuatnya bahkan tidak sanggup berteriak kesakitan.


Namun, dengan cepat seseorang memukul wajah Sosok itu bahkan sebelum Sosok itu menyadarinya. Orang itu adalah Avalance yang saat itu juga sedang berpatroli tak jauh dari sana. Mendengar dentuman keras saat Tessa terlempar tadi membuat Avalance datang untuk mengecek. Karena Sosok itu terpental setelah dihantam tinju Avalance, Tessa yang tadinya melayang kemudian jatuh ketanah.


"Tessa bukan? Kau tidak apa-apa?" Tanya Avalance.


"Kurasa aku tidak sanggup berdiri" jawab Tessa.


"Tunggulah sebentar, ini tidak akan lama" balas Avalance muda.


Sosok itu kemudian bangkit. Sosok itu merasakan hawa dingin yang tiba-tiba muncul dari sekitarnya.


"Cobalah mencari lawan yang seukuranmu" ujar Avalance.


"Hei manusia, tidak banyak manusia yang bisa menyentuhku ketika bertarung, kau adalah salah satu pengecualian. Siapa namamu?" Tanya Sosok itu.


"Avalance" jawabnya.


"Vandrak. Senang bertemu denganmu, Avalance" balas Sosok itu.


Aura dari Vandrak kini kembali seperti semula, auranya masih mencekam. Namun, tidak sekuat sebelumnya. Sepertinya Vandrak dan Avalance sama-sama mencoba menghindari bentrokan satu sama lain.


"Rekanmu telah membantai para anak buahku. Sampai saat ini dia belum memberikan penjelasan yang jelas" jawab Vandrak.


"Baik, aku bisa menjamin bahwa kami tidak akan menyerang siapapun kecuali kami ataupun rekan kami dalam bahaya. Namun, mari kita dengarkan alasan Tessa" balas Avalance.


"Para Vampir itu menyerang duluan, dan aku hanya mempertahankan diri" ujar Tessa yang terbaring lemas di tanah.


"Alasanmu dapat dimengerti, para Vampir itu memang tidak punya otak dan hanya mengejar makanan jika tidak diawasi. Namun, kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal, manusia?" Tanya Vandrak.


"Aku tidak berani berbicara karena aura mu yang mengerikan, ditambah lagi adanya bau darah yang berhamburan di sekitar membuatku tidak sanggup tidak sanggup mengatakan apapun" jawab Tessa.


"Yaampun, maafkan aku. Aku seharusnya tidak meminum terlalu banyak darah rusa sebelum datang kemari" balas Vandrak.


"Setidaknya, ini hanya kesalah pahaman. Namun, tetap saja kau membuat Tessa menjadi seperti ini. Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu?" Tanya Avalance.


"Tentu, aku bisa menyembuhkannya. Namun, aku tidak bisa memulihkan tenaganya" jawab Vandrak yang kemudian menyentuh tangan Tessa. Ajaibnya seluruh luka ditubuh Tessa hilang seketika.


"Sekali lagi, maafkan aku" ujar Vandrak.


"Tidak, aku yang salah karena tidak bisa meluruskan kesalahpahaman ini. Terimakasih telah menyembuhkanku" balas Tessa.


"Baiklah, sekali lagi. Aku meminta maaf, aku akan pergi sekarang" ujar Vandrak yang tiba-tiba menghilang dari pandangan Avalance dan Tessa.


"Kau benar-benar sudah tidak apa-apa?" Tanya Avalance.


"Aku masih kelelahan dan mungkin masih tidak sanggup berjalan. Kau duluan saja, aku tidak apa-apa" jawab Tessa.


"Tidak ada pilihan lain" ujar Avalance.


Avalance lalu mengangkat Tessa dan menggendongnya di pundak. Mereka berdua lalu pergi untuk pulang ke asrama.


"Namun, kau hebat juga bisa memukul Vandrak aku bahkan tidak bisa menyentuhnya" ujar Tessa.


"Saat aku ingin memukulnya, aku merasa tanganku seperti ingin berbelok sendiri. Namun, aku bisa mengendalikannya dan berhasil mendaratkan tinjuku tepat di wajahnya" balas Avalance.


Tessa tersenyum.


"Terimakasih, Avalance. Aku tidak tau apa yang akan terjadi jika kau tidak datang" ujar Tessa.


"Aku jadi semakin yakin bahwa kau mungkin tidak memakan gaji buta seperti yang mereka katakan" lanjut Tessa bercanda.


"Baru kali ini ada yang bilang seperti itu" balas Avalance.


"Aku bilang 'mungkin' ingat" ujar Tessa tertawa kecil.


Begitulah pertemuan pertama Avalance dan Tessa.


Sejak saat itu Tessa menjadi salah satu rekan dari Avalance yang paling baik. Ia adalah orang yang juga menghormati Avalance selain Ignis. Tessa selalu membela Avalance saat ada orang-orang yang mengolok Avalance.


Mereka berdua adalah rekan yang serasi. Avalance dengan sihir es dan Tessa dengan sihir air. Membuat mereka berdua menjadi kombinasi yang hebat.


Sikap mereka juga berlawanan, Avalance adalah orang yang dingin dan sulit untuk bergaul. Namun, Tessa berbeda ia adalah orang yang bisa mengalir kepada siapa saja. Dia cocok berteman dengan siapapun terutama Avalance.


Tessa jugalah yang sering membantu Avalance untuk mengobrol dengan orang lain. Avalance juga selalu membantu Tessa ketika sedang kesulitan. Ada waktu dimana hubungan mereka semakin dekat dan akhirnya menjadi sepasang kekasih.


Tidak sedikit yang iri dengan hubungan kedua orang ini. Menurut mereka Tessa tidak cocok bersama Avalance yang aneh dan pendiam.


Satu-satunya orang yang mendukung hubungan Avalance dan Tessa hanyalah Ignis.


Tempat kesukaan mereka berdua adalah hutan dimana mereka berdua pertama kali bertemu. Mereka berdua sering pergi ketempat itu saat malam. Tempat itu memiliki pemandangan yang indah, ditambah lagi dengan suasana malam yang dipenuhi oleh bintang-bintang di langit.