Atlas: Lightning From The Wild West

Atlas: Lightning From The Wild West
46: PEPERANGAN



PEPERANGAN


Indra berniat pergi ke Wilayah Utara untuk bertemu dengan Avalance, untuk sekarang dia belum memikirkan tentang para Necromancer karena ia tau. Dirinya yang sekarang masih bukan tandingan Monter. Para Necromancer sepertinya juga tidak akan meninggalkan Wilayah Selatan dalam waktu dekat.


Oleh karena itu, ia berniat meminta Avalance untuk melatihnya. Namun, karena sudah tengah malam. Indra tidak memiliki tempat untuk menyewa kendaraan apapun, terpaksa ia harus berjalan kaki untuk beberapa hari.


Syukurnya, setelah berjalan selama 14 jam Indra menemukan sebuah kereta kuda milik seorang pedagang. Indra meminta tumpangan yang tentu tidak gratis, pedagang itu menyetujuinya karena kebetulan ia juga pergi ke Wilayah Utara. Meskipun sudah memiliki tumpangan, Indra akan tetap sampai di Wilayah Utara pada tengah malam.


Singkat cerita, Indra dan Sang pedagang itu akhirnya sampai di salah satu kota di Wilayah Utara, pada kota Nacht yang terletak di bawah tebing. Ribuan pasukan sedang bertempur melawan pasukan yang sepertinya berasal dari Wilayah Selatan.


"Tuan, sebaiknya kita segera pergi" ujar Sang Pedagang.


Indra melompat dari kereta itu dan melempar sekantong emas kepadanya.


"Aku sudah sampai di tujuanku, ambil saja sisanya" balas Indra yang segera berlari ke menuju tempat itu.


Para pasukan yang sedang bertempur disana terlihat berbeda dengan pasukan yang menjaga Kastil Avalance beberapa waktu yang lalu. Para prajurit ini terlihat jauh lebih tangguh, sedangkan pasukan dari Wilayah Selatan itu tidak kalah dengan mereka.


Di saat Indra sedang kebingungan dengan suasana tempat itu, Tiana datang membawa beberapa penduduk bersamanya.


"Tuan Indra … Tuan Indra!!" Ujar Tiana yang segera menghampiri Indra.


"Apa yang sedang terjadi, Tiana?" Tanya Indra.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya, Tuan. Kami mohon agar kau membantu Tuan Avalance!! Dia telah dikepung oleh pasukan selatan!!" jawab Tiana bersungut-sungut sambil bersujud di depan Indra.


"Hanya sekelompok orang seperti mereka bukanlah tandingan Avalance. Berdirilah!" Balas Indra.


"Tidak, Tuan Indra. Dia tidak hanya dikepung oleh mereka. Namun, Ignis dan semua anak buah terbaiknya juga berada di sana mengepung Tuan Avalance" ujar Tiana yang masih bersujud.


Indra menarik lengan Tiana untuk menyuruhnya berdiri. Itu pertama kalinya seseorang bersujud memohon kepadanya.


"Apa hanya ada dia sendiri di Kastil itu?" Tanya Indra.


"Hanya dia dan Sang Komandan Pasukan yang berada disana, sisanya hanyalah musuh" jawab Tiana.


"Baiklah, kau fokus saja mengevakuasi warga. Serahkan semuanya kepadaku" ujar Indra.


Bersamaan dengan perkataan Indra, awan hitam telah memenuhi langit. Indra menjentikkan jarinya dan ribuan petir menyambar secara bersamaan. Semua petir itu menyambar semua pasukan selatan sekaligus tanpa bersisa. Tiana yang melihatnya sendiri tidak bisa berkata apapun.


"Suruh mereka untuk membantu kota lain. Sekarang aku akan pergi ke Kastil Avalance" ujar Indra yang segera berlari menuju Kastil Avalance.


Setelah beberapa saat, Indra akhirnya dapat melihat Kastil Avalance. Benar saja, segala arah dari Kastil itu sudah terkepung oleh banyak pasukan. Indra juga dapat merasakan hawa ayahnya didalam Kastil itu. Di sekitar Kastil itu, awan hitam telah muncul memenuhi langit disekitar Kastil itu.


Indra merasakan hawa Avalance dan Ignis berada di ruang singgasana. Sebelum ia pergi kesana, awan hitam dilangit menjadi semakin pekat. Indra mengangkat telapak tangannya dan saat itu juga di seluruh pinggiran awan hitam itu telah muncul petir yang membentuk sebuah kurungan. Indra kemudian menutup telapak tangannya dan menariknya kebawah, kemudian kurungan itu mulai menyempitkan diri, seluruh pasukan musuh terlihat panik melihat Thunder Cage milik Indra.


Di ruang singgasana, Avalance yang sedang duduk di singgasana megahnya sedang berbicara dengan Ignis yang membawa 9 orang terpercayanya termasuk Ignael dan Iglea. Sedangkan Avalance hanya membawa satu orang.


Ruang singgasana itu sangat megah, kursi takhta yang terbuat dari emas itu terlihat sangat megah dipadukan dengan kaca dengan ukiran indah dibelakangnya.


"Ini sudah pasti deklarasi perang" ujar Avalance.


"Kau beruntung, pasukan utamamu baru saja kembali. Jika tidak mungkin kau tidak akan memiliki perlawanan" balas Ignis.


"JANGAN MEREMEHKAN TUAN AVALANCE!!" Teriak seseorang disamping takhta Avalance. Pria itu sepertinya sangat menghormati Avalance.


"Sudah cukup, Zast. Berdebat dengannya saat ini tidak akan mengubah situasi kita" balas Avalance.


"Kau akan kubiarkan hidup jika kau menyerahkan Wilayah Utara tanpa perlawanan" ujar Ignis lagi.


"Tidak akan, Ignis. Lebih baik kau langkahi saja dulu mayatku" balas Avalance yang segera berdiri dari takhtanya, Zast yang berada di sampingnya juga terlihat siap bertarung dengan pedangnya yang sudah sejak awal terlepas dari sarungnya.


"Jangan bilang aku tidak memberi kesempatan kepadamu, Avalance. Kau harusnya tetap mengingat bahwa kau tidak akan pernah menang melawanku sejak dulu" ujar Ignis.


"Aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu" balas Avalance.


Kedua belah pihak sudah bersiap bertarung, Avalance kalah jumlah dan Ignis belum mengetahui apa yang terjadi diluar karena ruangan itu tertutup.


Sebelum semuanya bersiap bertarung, sebuah cahaya muncul sekilas dan sesuatu tiba-tiba memecahkan kaca dibelakang takhta Avalance dengan berkeping-keping, semua orang di dalam melihat Thunder Cage yang sudah mengurung mereka. Bahkan Avalance dan Ignis terkejut melihat petir-petir yang tidak menghilang setelah menyambar.


Indra kemudian muncul dari pecahan kaca itu dengan memegang Storm Catcher yang sudah terisi petir. Ignis dan Avalance menyadari sesuatu yang berbeda dari Indra. Mereka sadar bahwa darah iblis telah mengalir di Indra.


"Maaf, paman. Namun, sepertinya kastilmu akan hancur" ujar Indra dengan santainya.


"Benar-benar bocah yang menarik, sebenarnya tanpa kau disini pun tempat ini akan hancur" balas Avalance.


"Avalance, jadi kau bahkan sempat memanggil bantuan" ujar Ignis.


"Tenang saja, aku kemari secara kebetulan. Kau juga tidak mungkin takut dengan seorang bocah, ayah" balas Indra.


7 orang yang berdiri di belakang Ignis terlihat kesal dengan perkataan Indra dan hendak menghampirinya. Namun, Ignael dan Iglea menahan mereka karena mereka berdua tau bahwa orang yang unggul dari Indra dalam ruangan itu hanyalah Ignis dan Avalance.


Indra kemudian tanpa basa-basi menghempaskan petir yang diserap oleh pedangnya ke arah Ignis dan 9 bawahannya.


Ignis dengan cepat melompat ke atas, sedangkan para bawahannya berhasil dikenai oleh Indra. Pertarungan pun telah dimulai.