Atlas: Lightning From The Wild West

Atlas: Lightning From The Wild West
29: DUA ADIK KEMBAR INDRA



DUA ADIK KEMBAR INDRA


Militer Wilayah Utara sangatlah lemah, bahkan prajurit terkuatnya bisa tumbang dengan satu serangan dari Indra, tanpa sihir dan hanya menggunakan senjata yang juga tidak pernah ia pakai sebelumnya.


"Kau ternyata juga terlihat cocok menggunakan pedang" ujar Cheryl.


"Oh iya? Kenapa begitu?" Tanya Indra.


"Entahlah, kau hanya terlihat keren saat menggunakannya" jawab Cheryl.


"Percuma saja, jika aku bahkan tidak bisa menggunakannya. Untungnya sekarang aku sudah sedikit memahami dasar-dasarnya" ujar Indra.


"Berjuanglah! Kau tau? Para warrior yang memang sudah hebat bahkan mampu menggabungkan sihir dan pedangnya, teruslah berlatih sampai kau bisa seperti itu" balas Cheryl.


"Maskudmu?" Tanya Indra.


"Maksudnya adalah pedang mu bisa saja kau kombinasikan dengan sihirmu, ditambah lagi sihir petirmu akan sangat mengerikan jika kau mampu melakukan hal itu. Ya… mungkin memang sulit. Namun, semangat! Aku tidur duluan ya, selamat malam" jawab Cheryl sambil menguap dan berjalan pergi ke kamarnya.


Keesokan harinya, matahari terbit di wilayah bersalju itu. Indra juga telah bangun dan langsung bersiap untuk menjalankan tugasnya. Tidak ada yang tau kapan para Wyvern akan menyerbu. 


Indra pergi ke menara di kastil Avalance, tidak seperti sebelumnya kali ini langit-langitnya lebih cerah, sebelumnya kutukan Avalance membuat langit itu tidak pernah secerah ini sebelumnya.


Namun, dengan sihirnya Indra membuat langit-langit itu kembali gelap. Namun, bukan karena kutukan Avalance, melainkan awan-awan hitam yang siap menjatuhkan petirnya.


Indra lalu mengarahkan pedangnya keatas dan menyambarnya dengan petir. Petir memang bisa tersalurkan dari besi, itu membuat petir itu seolah tersimpan di pedang Indra. Namun, hanya sementara dan itupun membuat pedangnya terasa bergetar kuat dan sulit diayunkan.


"Sial, sekali lagi" ujar Indra.


Ia melakukan hal yang sama berulang kali. Namun, ia sadar itu tidak bisa membantu banyak. Ia lalu terpikir untuk menahan petir itu secara paksa walaupun getarannya akan semakin kuat lagi.


Indra mencobanya dan hasilnya pedang itu menyala ungu, birunya petir Indra dan merah dari pedangnya bergabung menjadi ungu.


Namun, Indra tidak sanggup menahan getarannya, apalagi mengayunkannya.


"Sialan, ini tidak semudah yang kubayangkan" ujar Indra.


"Ya… Cheryl pun tidak bilang mereka yang menguasainya mampu melakukannya dengan mudah" lanjut Indra.


Indra lalu mencoba berbagai cara untuk melakukannya. Seperti memegang pedang itu dengan dua tangan, bahkan mencoba berbagai posisi lain saat memegang pedang itu.


Ia lalu terpikir sebuah ide yang seharusnya bisa ia pikirkan sejak awal, ia hanya perlu memperlemah petir miliknya menjadi jauh lebih lemah dari biasanya. Meskipun itu akan mengurangi daya serangnya, itu masih lebih baik daripada tidak bisa menggunakannya sama sekali.


Kemudian, ia pergi keluar Kastil untuk mencari objek untuk mencoba teknik barunya itu. Ia menemukan sebuah batu besar yang besarnya kira-kira sebesar sebuah bangunan besar. Indra merasa kurang yakin. Namun, tidak ada salahnya untuk mencoba.


Indra lalu menyambar pedangnya dengan petir dari langit, lalu ia menebas batu itu secara horizontal . Mengejutkannya, batu itu terbelah menjadi dua. Serangan itu lebih kuat dari yang ia kira, jika saja ia bisa menggunakannya dengan petirnya yang terkuat mungkin dia sudah bisa membelah sebuah kota, jangankan yang terkuat petir normal pun mungkin sudah cukup untuk menebas hutan.


Petir itu seperti terhempas keluar dari pedang Indra ketika ia mencoba menebas batu itu.


Indra akhirnya berencana untuk kembali melakukan latihan fisik kedepannya, agar ia mampu menahan getaran dari pedang itu saat menyambarnya dengan petir yang lebih kuat.


Indra menghabiskan waktunya untuk beradaptasi dengan teknik barunya itu hingga sore. Saat itu, ia sudah merasa lelah dan ia berniat pulang ke kastil Avalance.


Sesampainya Indra di gerbang kastil, ia melihat sebuah ledakan dari halaman kastil. Ia mencoba mendatanginya dan ternyata di halaman kastil itu sudah ada Cheryl yang sedang kelelahan karena sedang bertarung. Diliat dari kondisinya, orang yang dihadapi oleh Cheryl berjumlah lebih dari satu. Indra lalu menghampiri Cheryl yang sudah kelelahan.


"Ada apa, Cheryl?" Tanya Indra.


"SIAL!! Aku tidak menyangka mereka bisa sekuat itu" Cheryl mengabaikan pertanyaan Indra.


Indra sudah bisa menebak siapa dua orang ini.


"Minggir!! Kami hanya punya urusan dengan wanita itu" ujar Ignael.


Iglea memandang Indra dengan seksama, entah kenapa Indra mengingatkannya dengan ayah mereka Ignis.


"Kalian salah orang. Orang yang dimaksud oleh Ken adalah aku" balas Indra.


"Bagaimana kau bisa mengenal Ken?" Tanya Ignael.


"Tentu saja karena akulah orang yang sudah menangkapnya" jawab Indra.


"Sepertinya… Ken tidak banyak bercerita tentangku" lanjut Indra.


"Siapa kau sebenarnya?" Tanya Ignael lagi.


"Aku? Oh iya! Aku lupa memperkenalkan diri. Aku Indra. Namun, jika kalian ingin nama yang mungkin kalian kenal. Kalian bisa memanggilku Lightning From The Wild West. Yah… itu terlalu panjang, Indra sudah cukup" jawab Indra.


"Bukan itu yang kumaksud, maksudku adalah kenapa Ken punya hak untuk menceritakan sesuatu tentangmu?" Ignael membenarkan pertanyaannya dengan kesal.


"Oh… soal itu. Aku adalah putra sulung Ignis, benar… aku adalah kakak kalian. Aku tau, aku tau itu sulit dipercaya" jawab Indra.


"AH!! PANTAS SAJA!!" Ujar Iglea.


"Ignael, tidakkah kau melihat orang ini terlihat mirip dengan ayah?" Tanya Iglea.


"Jika dilihat lagi… mungkin benar. Namun, mungkin saja ia hanya mirip. Masih ada kemungkinan dia adalah seorang penipu" jawab Ignael.


Indra lalu meraih sesuatu dari kantong celananya, ia mengambil medal yang ia dapatkan dari puing-puing desanya kemarin saat ia berkunjung ke Wilayah Barat.


"Bukankah benda ini sudah cukup menjelaskannya?" Tanya Indra sambil menunjukkan medal itu.


Ignael mendekat untuk mengamati medal itu lebih seksama.


"Ini… INI ASLI!!" Ujar Ignael dengan terkejut.


"Aku tidak menyangka aku punya kakak yang lain" balas Iglea.


"Tunggu, Iglea. Dia adalah orang yang sama dengan orang yang menangkap Ken. Meskipun dia keluarga kita. Namun, dia berada di sisi musuh" ujar Ignael.


"Aku paham. Namun, kalianlah yang salah memilih kubu" balas Indra.


"Mustahil! Avalance adalah musuh abadi ayah. Ayah bilang Avalance adalah musuh bagi ideologinya, dan kau berpihak dengannya" ujar Ignael.


"Aku tau dan menurutku ideologi Ignis itu tidak masuk akal dan hanya akan menyusahkan masyarakatnya sendiri" balas Indra.


"KAU TAU APA?!" Ignael terlihat kesal dan maju untuk memberikan pukulan kepada Indra.


Indra menangkisnya dengan telapak tangannya. Namun, kepalan tangan Ignael tiba-tiba menjadi terbakar. Indra mundur dan bersiaga. Namun, belum berniat menggunakan sihirnya.


"Baiklah, aku akan meladeni kalian. Namun, tenang saja… aku akan melembutkan diri dengan kalian, aku tidak boleh kasar dengan adik sendiri" ujar Indra mengejek. 


Indra cukup percaya diri, ia juga paham bahwa dua adik kembarnya itu mungkin saja sekuat dia sendiri, dan berdasarkan perkataan Ken Ignael dan Iglea jauh lebih kuat dari Ken sendiri. Namun, Indra tidak menganggapnya serius karena hal yang membuat Ken unggul dari Indra hanyalah kecepatan dan kelincahan.