
2 Minggu kemudian…
"Kau sudah siap?" Tanya Ignis yang sudah berdiri di depan pintu kamar Indra.
"Sepertinya kau sangat semangat hari ini, tunggulah sebentar lagi." Jawab Indra.
Beberapa saat kemudian, Indra keluar dengan pakaian yang berbeda dari biasanya. Jika biasanya Indra mengenakan jaket kulit berwarna coklat serta sebuah topi koboi, kali ini ia mengenakan sebuah pakaian formal ala bangsawan dengan jubah berwarna putih, ia meminta ayahnya untuk setidaknya memperbolehkan mengenakan topi kesayangannya. Namun, ayahnya menolak.
Alhasil Indra akhirnya mengenakan pakaian yang tidak pernah ia kenakan sebelumnya. Lalu ayahnya, Ignis juga mengenakan pakaian bangsawan yang serupa dengan jubah emas, jubah itu terlihat sangat mewah dan berkelas. Sepertinya jubah itu adalah seragam para Penyihir Agung, Indra juga pernah melihat Avalance mengenakan jubah yang sama saat ia mengajak Indra untuk pergi ke Markas Wizard of Atlas.
Saat berjalan keluar dari Istana, Indra berhenti sejenak di sebuah kaca besar di sebuah ruangan. Indra berdiri sambil menaruh tangannya di dalam saku, ia melihat penampilannya yang baru dan kembali mengingat masa-masa dimana ia baru menjadi Bounty Hunter, dia mulai dari menangkap bandit-bandit tolol, hingga membantu seorang Penyihir Agung untuk mempertahankan wilayahnya, dan akhirnya untuk pertama kalinya ia diperlakukan seperti seorang bangsawan kerajaan.
Ketika Indra sedang berkaca disana, seseorang menghampirinya dari belakang.
"Ada apa? Apakah ada yang aneh dari pakaian yang kupilih untukmu?" Tanya orang itu.
"Eh? I-ibu? Tidak, setelah melihatnya lagi, kurasa pakaian ini terlalu bagus untuk ku." Jawab Indra.
Suara Indra terdengar ragu-ragu ketika hendak memanggil Rossa dengan sebutan Ibu.
"Aku tidak bisa menyalahkanmu. Ibu tau kau tidak terbiasa dengan hal-hal seperti ini, maaf ibu tidak bisa membawamu kesini lebih cepat. Aku juga tau tentang insiden di desa itu, jika saja ibu tau keberadaanmu lebih cepat…" Balas Rossa.
Indra tidak paham kenapa Rossa benar-benar menganggap dia seperti anaknya sendiri, meski begitu Indra selalu ragu untuk memanggil Rossa dengan sebutan "Ibu"
"Seandainya memang begitu, mungkin aku sekarang sudah menjadi Bangsawan yang sombong dan memandang rendah mereka yang dibawah." Ujar Indra.
"Aku bersyukur pernah hidup sederhana, karena ketika aku berada di atas, aku tidak akan pernah memandang mereka yang dibawah lebih rendah." Lanjut Indra.
Rossa kemudian mengusap kepala anak barunya itu untuk menyemangatinya.
"Semangat ya! Kami semua mendukungmu." Ujar Rossa.
Indra kemudian menyusul ayahnya yang duluan pergi, ia mengira ayahnya sudah menunggu diluar. Namun, ternyata ayahnya hanya duduk di singgasananya.
"Bukankah kita seharusnya sudah berangkat?" Tanya Indra sambil menghampiri singgasana ayahnya.
Ignis tidak menjawab.
"Indra, sesudah kita berada disana berusahalah sekeras mungkin untuk memenuhi kriterianya." Ujar Ignis.
Indra terlihat bingung.
"Bukankah kau memilihku karena aku memenuhi kriterianya?" Tanya Indra.
Setelah itu sebuah portal terbuka di depan singgasana Ignis.
"Ayo." Ujar Ignis tanpa menunggu lama segera memasuki portal itu.
Indra akhirnya menyusul Ignis yang sudah masuk duluan.
Ketika ia memasuki portal itu, ia mendapati dirinya berdiri di sebuah arena besar di dalam tempat terbuka bersama dengan Misha dan Miller yang juga berada di arena itu. Ia melihat sekelilingnya dan melihat Ignis, Avalance, Mesfera, dan enam Penyihir Agung lainnya diluar arena, serta satu orang lagi yang duduk dibelakang mereka, orang itu duduk dan Indra tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
"Indra? Aku hampir tidak mengenalimu. Ini pertama kalinya aku melihatmu dengan pakaian macam ini." Ujar Misha melihat Indra perlahan dari bawah keatas.
"Apakah pakaian ini seaneh itu?" Tanya Indra.
"Tidak, jujur saja pakaian itu sangat cocok denganmu. Sepertinya selama ini aku meremehkan selera berpakaianmu." Jawab Misha.
"Aku setuju, kau terlihat lebih rapi dari biasanya, Indra." Ujar Miller juga.
"Selamat datang, Indra, Miller, Misha. Seperti yang kalian tau, kalian adalah kandidat yang mungkin berhak menjadi seorang Penyihir Agung. Sekarang mari kita lihat kemampuan kalian." Ujar seseorang memotong mereka.
Ketika orang itu selesai berbicara, dua orang Penyihir Agung yang tadinya berdiri diluar arena kini memasuki arena. Salah satunya adalah seorang pria berwajah serius, wajahnya terlihat seperti pria berumur 24 tahunan dengan rambut abu-abu dan mata kuning.
Satunya lagi terlihat seperti wanita ceria, wajahnya terlihat anggun dan kekuatannya seolah sudah terukir jelas diwajahnya, dia memiliki rambut pirang yang indah serta mata merah yang tajam.
Indra dan Miller terlihat sedikit kebingungan, sedangkan Misha terlihat bergetar ketakutan.
"Ada apa ini? Bukankah kita harus memenuhi kriteria dulu sebelum memulai tesnya?" Tanya Misha yang masih bergetar ketakutan.
"Tidak, ini bukan tesnya. Jika kau bertanya-tanya, syarat untuk memenuhi kriterianya sangatlah sederhana. Kalian hanya perlu bertahan dari serangan Nibiru dan Vifirie selama 30 detik." Ujar orang itu lagi.
"Oh iya! Aku lupa memperkenalkan diri, namaku Valor seharusnya kalian sudah tau siapa aku." Lanjut Valor.
"Tenanglah, Misha. Kita hanya perlu bertahan 30 detik, mereka juga tidak melarang kita untuk bekerja sama." Ujar Indra.
"Indra benar, kita masih bisa bekerja sama." Ujar Miller juga.
Nibiru dan Vifirie kini sudah berdiri di depan mereka.
"Kalian terlihat sangat muda, jarang sekali aku melihat kandidat muda." Ujar Vifirie
"Baiklah, peraturan kali ini cukup mudah. Kalian bertahan selama 30 detik tanpa keluar arena, mudah bukan? Semoga beruntung." Lanjut Vifirie.