
BERUBAH
"Bagaimana denganmu sendiri?" Tanya Misha.
"Aku tidak bisa tidur, jadi aku jalan-jalan saja" jawab Indra.
"Badai salju bukanlah hal yang bisa kau lihat di wilayah lain, karena itu lebih baik memuaskan diri terlebih dahulu" balas Misha.
"Aku sih tidak peduli, tapi karena ini untuk menemaninya aku tidak keberatan" ujar Miller.
Indra tersenyum kecil.
"Bahkan kalian berdua juga bisa berubah, tapi itu bukan hal yang buruk" ujar Indra tersenyum kecil.
Misha dan Miller terheran mendengar perkataan Indra.
"Apa maksudmu? Bukannya kau sendiri juga sudah berubah? Buktinya kau sudah mencoba untuk bergaul dengan orang baru dan kau bahkan mencoba hal baru seperti bergabung dengan Guild" balas Misha.
"Kau mungkin benar, tapi aku ragu tentang bergaul dengan orang baru. Aku hanya berteman dengan Cheryl dan beberapa orang dari Bounty Store. Selain Cheryl aku sepertinya hanya memiliki sedikit kenalan di Guild" ujar Indra.
Miller menghela nafasnya, tapi tidak mengatakan apapun.
"Selama di Wilayah Barat, kau tidak berteman dengan siapapun selain Aku, Miller, dan Anna. Itu adalah perubahan besar untukmu, Indra" balas Misha
"Kurasa itu karena hanya Cheryl yang tidak memandangku rendah" ujar Indra.
"Itu kan salahmu sendiri! Kau sendiri yang membuat aura sihirmu menyebar dan hanya bisa dilihat samar-samar. Itulah yang membuat orang-orang memandangmu rendah" balas Miller.
Semua orang memiliki aura sihirnya masing-masing. Namun, Indra adalah salah satu yang unik, daripada memusatkan aura sihirnya di sekitar tubuhnya. Indra memilih untuk membuatnya tersebar hingga mampu menjangkau seluruh kota, aura sihir Indra ini adalah penanda untuk jangkauan petirnya. Tetapi, karena hal ini juga Indra sering dipandang rendah oleh orang lain.
"Jadi maksudmu aku harus berhenti untuk pura-pura tertindas?" Tanya Indra.
"Ya, orang-orang seperti itu lebih baik kau ladeni saja! Jika satu saja saja orang yang memandangmu rendah, maka hampir semua orang juga akan ikut menindasmu. Karena itu ladeni saja mereka, Indra. Tidak ada salahnya menunjukkan kekuatanmu sebenarnya" jawab Miller dengan kesal.
"Akan kuingat baik-baik, Miller" balas Indra.
"Tapi aku ragu akan ada orang yang memandangmu rendah setelah ini, Indra" ujar Misha.
"Memangnya kenapa?" Tanya Indra.
"Semua orang sudah mengetahui nama aslimu dan wajahmu setelah kehebatanmu dalam perang beberapa hari yang lalu" jawab Misha.
Indra terkejut mendengarnya. Ia kehabisan kata-kata setelah mendapat fakta itu.
Mereka bertiga kemudian duduk sambil menikmati badai salju yang belum kunjung berhenti, setelah merasa bosan Indra akhirnya mengantuk dan pamit duluan.
Pagi pun tiba, Indra terbangun setelah mendengar ketukan pintu di pintu kamarnya. Indra membuka pintu kamarnya sambil bersembunyi dibelakang pintu, untuk jaga-jaga supaya tidak disiram air lagi. Untungnya, itu adalah Tiana yang membawa secangkir kopi.
Tiana terheran melihat Indra yang bersembunyi dibalik pintu.
"Ada apa Tuan?" Tanya Tiana.
"Tidak apa-apa, terimakasih untuk kopinya" jawab Indra.
"Dengan senang hati, Tuan" balas Tiana.
"Meskipun dia orang yang aneh. Namun, harus kami akui jika dia adalah orang yang serba bisa. Dia bisa memasak, membuat dan meracik minuman keras, dia pandai dalam bersih-bersih. Dan yang paling menjengkelkan adalah dia melakukan semuanya dengan sangat cepat" ujar Miller.
"Kalian membicarakanku?" Tanya Indra memotong mereka sambil berjalan menghampiri mereka.
Ignis terlihat panik melihat Indra, Ignis sebenarnya hanya ingin mengetahui keadaan anaknya setelah insiden di desa asal Indra. Namun, ia tidak enak membicarakan hal itu di depan anaknya itu. Karena ia adalah dalang dari insiden yang menimpa desa itu, tentu ia takut jika Indra akan menyimpan dendam abadi padanya.
"Tidak, ayahmu hanya penasaran dengan keadaanmu 7 tahun ini. Karena itu dia bertanya dengan kami" jawab Misha.
Indra melihat ayahnya yang terlihat canggung.
"Tidak perlu canggung, ayah. Aku sama sekali tidak menyimpan dendam apapun, aku hidup tanpa terikat dendam masa lalu. Para Necromancer memanglah ancaman besar, aku tidak bisa menyalahkanmu untuk melenyapkan aset mereka" ujar Indra.
Ignis tidak menjawab.
Indra menyeruput kopinya dan ikut duduk dengan mereka, Ignis masih merasa canggung bahkan setelah Indra bilang begitu sedangkan Misha dan Miller terdiam mencari cara untuk mencairkan suasana.
Tak lama kemudian Avalance datang untuk menemui Ignis.
"Ikuti aku, ada hal yang harus kita diskusikan, kak" ujar Avalance tanpa basa-basi.
Avalance kemudian berjalan pergi menuju ruangannya.
"Oh, baiklah" balas Ignis yang segera mengikuti langkah Avalance.
Indra menyeruput kopinya lagi.
"Hebat juga kalian bisa tiba-tiba seakrab itu dengan ayah" ujar Indra.
"Sebenarnya Avalance tadinya juga ikut mengobrol bersama kami, dia jugalah yang mengenalkan ayahmu pada kami" balas Miller.
"Kami sebenarnya cukup takut berbicara dengannya, apalagi saat teringat dengan ceritamu. Namun, Avalance meyakinkan kami bahwa ayahmu yang sekarang bukanlah musuh" balas Misha juga.
"Ohh, itu bagus" ujar Indra yang kembali menyeruput kopinya.
Singkat cerita, sebulan telah berlalu. Misha dan Miller pulang beberapa hari setelah mereka berkunjung di awal bulan. Sedangkan Ignis dan kedua anaknya telah pergi setelah pulih sepenuhnya, mereka harus menghindari para penduduk Wilayah Utara karena itu mereka berangkat pada tengah malam untuk menghindari kerumunan orang.
Sebuah surat perdamaian sudah tertulis diantara Wilayah Utara dan Wilayah Selatan. Namun, surat itu dibuat secara tertutup dan masih belum diketahui publik. Membuat perjanjian damai setelah perang habis-habisan bukanlah hal yang wajar, oleh sebab itu Wilayah Utara merahasiakan perjanjian damai itu.
Satu bulan berlalu, kekacauan yang terjadi setelah perang satu malam itu kini sudah mulai mereda. Banyak perumahan dan fasilitas warga yang dibangun ulang, bahkan Kastil besar milik Avalance juga mulai dibangun kembali. Kesibukan Avalance kini semakin banyak, melihat itu Indra tidak ingin memaksa Avalance melatihnya. Banyak hal yang lebih penting yang juga harus Avalance kerjakan.
Dana Wilayah Utara juga semakin menipis, tapi Wilayah Selatan diam-diam menyuntikan dana kepada Wilayah Utara.
Indra dengan sabar menunggu Avalance hingga kesibukannya selesai, meskipun itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Selama sebulan terakhir, Indra hanya mengurung diri di rumah Avalance. Ia beberapa kali pindah ke penginapan karena tidak enak tinggal terus menerus dirumah Avalance. Namun, Tiana selalu menjemputnya dan membawanya kembali ke rumah Avalance.
Hari itu, seperti biasa Indra hanya duduk di depan perapian sambil meminum segelas kopi hingga Avalance datang menemuinya.
"Bersiaplah untuk merubah dirimu, Indra" ujar Avalance tanpa basa basi.
"Apa saja yang bisa kau rubah, paman?" Tanya Indra.
"Semua" jawab Avalance.