
Indra kembali diam sejenak, ia berusaha memilih. Namun, ia tidak bisa memilih satu diantara ketiga orang itu. Satu dari mereka adalah ayahnya, pamannya, dan bibinya.
Setelah dia pikir lagi, ayahnya mungkin memang pernah menjadi seorang brengsek. Namun, ia terlihat seperti sedang mencoba untuk merubah dirinya dan Indra menghormatinya. Lalu Avalance adalah orang yang banyak membantunya, mulai dari membantu Indra untuk mencari lebih banyak informasi tentang masa lalunya hingga melatih Indra hingga ia cukup hebat untuk menjadi kandidat untuk Penyihir Agung. Indra juga baru mengenal bibinya Mesfera belum lama ini. Namun, bibinya itu sangat baik dengannya.
Jika memang harus memilih diantara mereka, Indra pikir dia harus memilih diantara Avalance dan Ignis.
"Setelah kupikir lagi, sepertinya aku harus memilih Ayah atau Paman Avalance, tapi aku tidak akan memilih, kalian berdua yang akan memutuskan aku pergi dengan siapa." Ujar Indra.
"Indra, kau yakin tidak ingin memilih bibimu ini saja? Aku kecewa." Ujar Mesfera (Weather Painter).
"Maaf, tapi aku bahkan juga sulit untuk memilih diantara mereka berdua. Karena itu aku biarkan mereka memutuskannya." Balas Indra.
"Dia adalah anak ku, aku memiliki hak untuk membawanya." Ujar Ignis.
"Kau bahkan tidak tau dia masih hidup selama bertahun-tahun." Balas Avalance.
Mesfera menepuk jidatnya dan menghela nafas panjang.
"Indra, sepertinya kau akan membuat mereka bertarung sebentar lagi." Ujar Weather Painter.
Benar saja, Ignis dan Avalance menyelesaikannya dengan bertarung. Namun, pertarungan ini bukan pertarungan hidup dan mati, ini lebih seperti pertarungan persahabatan. Mereka memilih perbatasan antara Wilayah Timur dan Wilayah Barat sebagai lokasi pertarungan mereka.
Weather Painter membukakan portal untuk mereka.
Weather Painter dan Indra melayang di udara ketika Ignis dan Avalance mulai bersiap untuk bertarung. Kutukan Avalance membuat area perbatasan itu dipenuhi oleh salju.
Avalance membuat sebuah patung dengan sihir esnya, patung itu berbentuk seperti naga yang terbuat dari es dengan duri di punggung naga itu. Avalance pernah menggunakan itu ketika ia melatih Indra, dia menyebutkan Ice Jade Dragon. Melihat Ice Jade Dragon membawa sedikit trauma untuk Indra, patung naga itu sangatlah keras meski hanya terbuat dari es, petirnya bahkan tidak mempan untuk melawan patung itu, petirnya menyambar lalu petir itu hanya mengalir ke seluruh patung itu tanpa memberikan dampak lainnya.
Ice Jade Dragon memiliki ukuran yang cukup besar, mungkin sebesar sebuah gunung. Avalance bisa mengendalikan Ice Jade Dragon sesuka hatinya.
Ignis disisi lain tidak mau kalah, dia menggunakan apinya untuk membuat sesuatu yang berbentuk sayap api di belakang tubuhnya, beberapa saat setelah itu sesuatu keluar dari tubuh Ignis sebuah serangan berbentuk seperti burung Phoenix, ternyata sayap api tadi adalah ancang-ancang untuk serangan berbentuk Phoenix ini.
Avalance melindungi dirinya dan patung naga itu dengan sebuah tembok es besar yang ia buat sebelum serangan Ignis mengenainya, serangan itu ternyata hanya pancingan Ignis untuk membuat Avalance lengah, Ignis muncul dibelakang Avalance yang berdiri diatas kepala Ice Jade Dragon, saat Ignis bersiap menyerang, kakinya dibekukan dan menyatu di kepala Ice Jade Dragon. Avalance memotong kepala Ice Jade Dragon kemudian menyerang Ignis dengan duri dipunggung Ice Jade Dragon, duri-duri itu meluncur dan berbelok menuju ke arah Ignis. Ignis tidak sempat menghindar dan akhirnya terkena serangan itu.
Saat itu juga Ignis mengeluarkan hawa panas yang melelehkan semua duri es yang mengenainya.
Indra yang menyaksikan pertarungan mereka mulai paham bahwa didalam perang satu tahun yang lalu tidak satupun dari mereka yang bertarung dengan serius, pertarungan mereka kali ini sangat sengit. Indra melamun ketika mengingat perang antara Wilayah Utara dan Wilayah Selatan setahun yang lalu.
Indra hanya melamun sebentar, tetapi tiba-tiba saja Indra melihat daerah perbatasan itu sudah hampir hancur, lalu Ignis dan Avalance masih bertarung dengan sengit dan sekarang setengah dari Ice Jade Dragon sudah meleleh oleh panasnya api Ignis.
Ignis kemudian mengangkat telapak tangannya keatas dan dia membuat sebuah bola api raksasa yang sama besarnya dengan Ice Jade Dragon, Avalance segera memulihkan Ice Jade Dragon. Ketika Ignis melempar bola api sebesar gunung itu, Avalance menggunakan Ice Jade Dragon untuk menabrak bola api itu.
Weather Painter melihat pertarungan kedua kakaknya itu sudah diluar batas, jika terus lanjut mereka bisa menghancurkan dataran di perbatasan itu.
Sebelum Ice Jade Dragon dan Bola api raksasa Ignis bertabrakan, Weather Painter dengan cepat bergerak ketengah dan menggunakan sepasang perisai transparan dibelakang tubuhnya untuk menahan serangan itu. Dua perisai kecil itu membesar hingga mampu menahan kedua serangan itu. Ketika kedua serangan mereka mengenai perisai Weather Painter, seketika serangan mereka menyebabkan ledakan besar. Namun, jika tidak ada perisai Weather Painter yang memisahkannya, ledakannya bisa saja menjadi lebih besar.
"Ayolah, kami baru saja pemanasan." Ujar Ignis.
"Kalian hampir menghancurkan dataran ini dan kalian masih pemanasan? Lalu bagaimana dengan satu tahun yang lalu? Kalian tidak serius ini satu tahun yang lalu." Ujar Indra.
Tentu Indra bingung, terakhir kali ia melihat Ignis dan Avalance bertarung adalah satu tahun lalu. Namun, pertarungan itu tidak sebrutal ini.
"Valor terus mengawasi kami, membuat kekacauan yang seperti ini akan menarik perhatiannya, dia tidak menghiraukan pertarungan ini karena cukup jauh dari pemukiman. Namun, jika mereka berdua benar-benar menghancurkan dataran ini, dia tidak akan tinggal diam." Ujar Weather Painter.
"Jadi para Penyihir Agung dilarang untuk memakai kekuatan penuh mereka?" Tanya Indra.
"Tidak selalu, ada kalanya kami harus bertempur dengan sekuat tenaga." Jawab Avalance.
"Bukankah konsep seperti ini sangat cocok untukmu, Indra?" Tanya Avalance.
"Aku tidak mengerti." Jawab Indra.
"Jangan berlagak bodoh, kami semua tau jika kau tidak pernah sekalipun mengeluarkan kekuatan penuhmu semenjak setahun yang lalu. Kau yang sekarang bahkan sudah tidak bisa dibandingkan lagi dengan dirimu yang sekarang." Balas Ignis.
"Pokoknya, sekarang kalian berdua harus memutuskan siapa yang akan membawa Indra." Ujar Weather Painter.
"Sepertinya membuat kalian yang memilih malah membuat semuanya semakin sulit, kalau begitu kita tentukan dengan sebuah permainan." Ujar Indra juga.
"Permainan macam apa, Indra?" Tanya Avalance.
Indra mengeluarkan sebuah kantong kecil berisi beberapa keping emas.
"Tebaklah berapa isi kantong emas ini, aku akan ikut orang yang jawabannya paling mendekati." Jawab Indra.
"Sebelas." Ujar Avalance tanpa pikir panjang.
"Empat belas." Ujar Ignis juga.
Indra mengeluarkan semua kepingan emas didalam kantong itu, dan jumlah semuanya adalah 13. Tebakan Ignis adalah yang paling mendekati. Indra akhirnya menjadi kandidat Ignis.
"Sepertinya aku akan mencoba untuk membawa Miller atau Misha." Ujar Avalance pasrah dengan hasil itu.
"Siapa mereka?" Tanya Weather Painter.
"Mereka adalah sahabat Indra. Mereka memiliki potensi yang setara dengan Indra, aku ragu untuk membawa anak buahku." Jawab Avalance.
"Ada dua? Berikan satu kepadaku!" Balas Weather Painter.
"Meskipun salah satu dari mereka pasti tertarik dengan tawaranmu. Namun, cobalah untuk tidak berbicara seperti mereka adalah sebuah barang." Ujar Indra memotong.