
MAKAN MALAM
Semua pasukan disana segera menyambut Avalance sambil sujud kepadanya.
"Hei, kenapa mereka sujud kepadanya? Bukankah dia hanya seorang Penyihir Agung?" Miller bertanya.
"Bodoh! Penyihir Agung adalah gelar untuk level sihir yang sudah dicapai" jawab Misha berbisik.
"Aku baru tau" ujar Indra.
"Makanya dulu aku mengajak kalian untuk memasuki guild petualangan saja, tapi kalian tidak mau. Akhirnya kalian bahkan tidak tau gelar dari para penyihir … menyedihkan" balas Misha.
Gelar penyihir memiliki 4 tingkatan.
Penyihir Tingkat Perunggu, mereka adalah penyihir dengan penguasaan sihir dibawah rata-rata.
Penyihir Tingkat Perak, mereka adalah penyihir dengan kemampuan dan penguasaan sihir pada umumnya.
Penyihir Tingkat Emas, mereka adalah penyihir yang memiliki kemampuan, penguasaan, dan ketrampilan sihir diatas rata-rata.
Dan yang terakhir, Penyihir Agung. Orang-orang di tingkat ini bisa dihitung dengan jari di seluruh dunia. Kemampuan sihir mereka sudah tidak masuk akal sudah tidak bisa dibandingkan lagi. Avalance dan Ignis adalah dua orang yang menyandang gelar itu di Compax.
"Guild petualang ya? Hm… mungkin itu tidak seburuk yang kukira" ujar Indra pelan.
"Kau bilang sesuatu?" Tanya Misha.
"Tidak" ujar Indra.
Setelah selesai memuji para pasukannya, Avalance mendatangi mereka bertiga dan berterimakasih.
"Tidak salah aku percaya kepada kalian, sekali lagi Terimakasih" ujar Avalance.
"Um … maaf, sepertinya aku telah merusak beberapa bangunan di kota" balas Indra sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Selama itu tidak memakan korban, aku tidak keberatan" ujar Avalance.
"Sebenarnya kau siapa? Aku tidak yakin hanya seorang Penyihir Agung bisa membuat orang-orang itu sujud, siapa kau sebenarnya?" Miller bertanya.
"Pertanyaan yang menarik, jika itu membuatmu penasaran aku adalah Pemimpin wilayah ini. Mungkin bisa dibilang … seorang Raja? Ya, begitulah" jawab Avalance.
Misha dan Miller terlihat terkejut. Namun, Indra sepertinya terlalu banyak terkejut hari ini karena itu ia biasa saja mendengarnya.
"Kalian tidak bisa langsung pulang bukan? Bermalam sajalah disini dulu, anggap saja sebagai liburan kecil" ujar Avalance.
Mereka bertiga saling menatap, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menerima tawaran Avalance.
Beberapa saat kemudian, Avalance mengajak mereka untuk pergi ke kastilnya yang terletak diluar kota itu. Bersama para tahanan yang baru saja mereka tangkap dan juga beberapa pengawal Avalance mereka pergi menuju kastil milik Avalance.
Tak lama kemudian, bangunan besar dan megah itu mulai terpampang jelas Dimata mereka. Bangunan itu terlihat sangat megah meskipun tertutup oleh salju, disekitarnya terdapat hutan pinus dan cemara yang lebat.
Setelah melewati gerbang besar itu, Avalance segera menyuruh tiga pelayannya disana untuk mengantarkan Indra, Misha, dan Miller ke kamar tamu.
"Aku akan menunggu kalian saat makan malam, sebelum itu istirahatlah sebaik mungkin" ujar Avalance.
Indra tak pernah berhenti terkagum ketika berada di dalam kastil Avalance. Karpet merah di membentang di setiap lorong, dengan ratusan altar lilin yang menyala meneranginya.
Setelah sampai di kamar tamu, Indra terkejut dengan kemewahan ruangan itu. Kasur besar yang terlihat sangat empuk, meja kecil dan lemarinya yang diukir indah.
"Apa ini benar kamar tamu?" Indra bertanya kepada pelayan yang mengantarnya.
"Apakah kamar ini masih kurang luas? Kami punya yang lebih luas jika anda mau" jawab sang pelayan itu.
"Eh, tidak perlu. Ini sudah cukup untukku" ujar Indra.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi. Tuan Avalance menunggu anda saat makan malam nanti" balas sang pelayan.
Pelayan itupun pergi meninggalkan Indra yang masih terkagum dengan kamar tamu itu. Indra yang masih kelelahan kemudian segera membaringkan dirinya di kasur empuk itu.
"Ini bahkan lebih empuk dari yang kubayangkan" ujar Indra berbicara sendiri.
Tidak sanggup menahan lelahnya, Indra pun akhirnya tertidur selama beberapa jam hingga makan malam.
Setelah ia mulai bangun, ia mencoba melihat-lihat isi kamar tamu itu. Ia membuka lemari besar di kamar itu, di dalamnya terdapat berbagai jenis pakaian entah itu milik laki-laki ataupun perempuan.
"Berdasarkan isinya … sepertinya sudah jelas bahwa ini memang kamar tamu" ujar Indra.
Melihat bajunya yang sedari tadi masih kotor, Indra mencoba memakai baju yang ada di lemari itu. Dia memilih baju yang mirip dengan bajunya sebelumnya, yaitu kemeja putih.
Sesaat kemudian, Indra keluar dari kamar tamu itu untuk pergi ke tempat makan malam. Namun, Indra tidak tau dimana tempatnya.
Ruangan itu cukup besar dengan meja yang memanjang ditengahnya, diatasnya sudah terhidang berbagai hidangan yang siap untuk disantap. Di meja itu juga Avalance, Miller, dan Misha sudah duduk terlebih dahulu.
"Kau terlambat, Indra!" Ujar Miller.
"Yah … Maaf aku ketiduran" balas Indra.
"Apa kau tau, Indra? Setelah kuselidiki, ternyata Ken adalah salah satu orang kepercayaan Ignis. Jadi sepertinya, kau baru saja menghadapi salah satu dari tangan kanan Ignis" ujar Avalance.
"Pria tua itu adalah salah satu tangan kanan ayahku? Tidak heran kalau dia cukup merepotkan" balas Indra.
"Kau salah, Indra. Orang itu hanyalah penasihat dan seharusnya daya tempurnya tidak sehebat itu dibandingkan dengan petinggi wilayah selatan yang lain" ujar Avalance lagi.
"Sial. Jadi maksudmu Ignael dan Iglea bahkan jauh lebih kuat darinya?" Tanya Indra.
"Tepat sekali. Namun, berdasarkan informasi yang kuterima. Kau kesulitan melawannya hanya karena kecepatan dan kelincahannya bukan? Kalau begitu aku menyarankanmu untuk meningkatkan kemampuanmu untuk membidik target" ujar Avalance.
Mereka lanjut menikmati hidangan yang tersedia. Indra, Miller, dan Misha tidak tau bagaimana etika para bangsawan untuk menikmati makanan mereka. Oleh karena itu, mereka bertiga berusaha untuk mengikuti cara Avalance untuk menikmati makanannya. Avalance nampaknya menyadari hal tersebut.
"Tidak perlu seperti itu. Makanlah dengan cara yang biasanya. Hanya karena aku adalah sosok pemimpin negara ini bukan berarti aku tidak pernah makan masakan di pedesaan, faktanya aku cukup merindukan masakan semacam itu" ujar Avalance.
"Hah? Orang sepertimu juga pernah tinggal di pedesaan?" Misha bertanya.
"Aku dulunya hanyalah seorang berandalan jalanan, begitu juga Ignis. Namun, hidup kami sedikit berubah setelah kami mendapatkan kesempatan untuk memasuki perguruan sihir" jawab Avalance.
"Tapi aku masih penasaran tentang sihirmu, paman. Bukankah sihir hanya memiliki 7 elemen dasar? Namun, kau memiliki sihir es itu cukup aneh bagiku" ujar Indra menyela.
Belum sempat Avalance menjawab, Misha menatap Indra dengan tatapan aneh, seolah bingung dengan pertanyaan Indra.
"Bagaimana mungkin kau tidak mengetahui hal seperti itu, Indra?" Misha bertanya dengan tatapan anehnya tadi.
"Hei, hanya karena aku bisa menggunakan sihir, bukan berarti aku paham semua tentang! Aku hanya seorang Bounty Hunter" jawab Indra.
Misha menghela nafasnya.
"Sihir es adalah sihir pencabangan dari air. Ada banyak sihir seperti itu, contohnya… Kristal dan Besi yang merupakan pencabangan dari tanah dan juga sihir es milik Avalance" ujar Misha menjelaskan.
"Dan jangan kau bilang kau juga tidak paham dengan Inner Magic dan Outer Magic!" Lanjut Misha sambil kembali menatap Indra.
"Kalau soal Inner Magic dan Outer Magic aku juga tau! Tapi, beda cerita dengan sebutan sihir yang lainnya" balas Indra.
"Syukurlah… kurasa kau tidak sebodoh itu" ujar Misha yang akhirnya kembali menyantap makanannya.
Miller sejak tadi hanya diam sambil menikmati makanannya, ia sepertinya tidak mau membuang waktu makannya untuk berdebat.
"Sudah lebih dari seratus tahun aku menikmati hidangan-hidangan ini, resepnya tidak pernah berubah lebih dari satu abad. Rasanya tidak berubah. Namun, ada satu hal yang membuatnya terasa berbeda" ujar Avalance.
Indra dan Misha bingung kenapa tiba-tiba Avalance bercerita tentang dirinya.
"Apa itu?" Tanya Miller menanggapi perkataan Avalance.
Kini Indra dan Misha mengalihkan pandangannya ke Miller. Namun, ternyata makanan miliknya telah habis karena itulah dia mulai berbicara.
"Keabadian bukanlah sebuah 'Anugrah' melainkan sebaliknya, yaitu 'Kutukan' daging ini mungkin masih terasa sama dalam satu abad ini. Namun, jitu juga tidak terasa sama dengan saat aku menikmatinya dengan teman-temanku dulu" jawab Avalance.
"Kalian lanjut saja dulu, aku sekarang punya urusan untuk mengintrogasi orang-orang yang berhasil kita tangkap. Jika kalian tertarik, kalian boleh menyusulku. Minta tolong saja dengan para pelayanku untuk mengantarkan kalian" lanjut Avalance sambil berdiri dari tempat duduknya menyisakan makanannya di yang masih tersisa banyak di piring.
Sesaat setelah Avalance pergi.
"Miller!! Itu semua salahmu!! Kau mengacaukan suasana hatinya dan membuatnya kehilangan selera makannya" ujar Misha kesal kepada Miller.
"Tapi, aku kan hanya menanggapi perkataannya" balas Miller.
"Kau memang parah, Miller" ujar Indra ikut-ikutan.
Beberapa saat kemudian, Indra dan Misha akhirnya menghabiskan makanan mereka.
Indra berdiri dan mencoba mencari pelayan Avalance untuk mengantarkannya untuk menyusul Avalance.
"Indra, kau mau kemana?" Miller bertanya.
"Aku ingin menyusul Avalance" jawab Indra.
"Aku ikut! Aku penasaran dengan cara orang-orang di wilayah ini mengintrogasi para kriminal" Balas Miller yang segera berdiri dan berlari menyusul Indra.
"Hei! Tunggu aku!" Ujar Misha yang juga segera menyusul.