Atlas: Lightning From The Wild West

Atlas: Lightning From The Wild West
35: TESSA DAN AVALANCE BAG 2



TESSA DAN AVALANCE BAG 2


Avalance dan Tessa menjalin hubungan cukup lama bahkan setelah mereka lulus dari perguruan sihir. Setelah kelulusan, mereka menjadi pasukan militer di Wilayah Selatan.


Hari itu, Avalance berniat untuk melamar Tessa. Ignis adalah orang pertama yang ia datangi untuk memberitahu rencananya. Ia menghampiri Ignis yang sedang berada di Rumah.


"Kakak. Aku ingin menyampaikan sesuatu" ujar Avalance.


"Sepagi ini? Apa itu, Avalance?" Tanya Ignis.


"Aku ingin melamar Tessa" jawab Avalance.


Ignis tertawa.


"Sudah kuduga, tinggal menunggu waktu tentang itu. Baiklah, aku akan membantumu menyiapkan semuanya" balas Ignis.


"Aku akan menyiapkan semuanya segera. Datanglah ke taman kota malam ini bersamanya. Malam ini semuanya pasti akan siap" lanjut Ignis yang tersenyum kepada adiknya itu.


"Terimakasih, kak" balas Avalance.


"Kau sudah memiliki cincinnya?" Tanya Ignis.


Avalance lalu mengeluarkan kotak cincin dari sakunya untuk menunjukkannya kepada Ignis.


Ignis mengangguk.


Hari itu juga, Avalance membawa Tessa kebanyak tempat hingga di sore hari Avalance bersiap membawa Tessa ke taman kota untuk melamarnya. Hari sudah gelap saat mereka berdua sampai ke taman kota.


Taman itu dipenuhi ratusan obor yang berwarna-warni, lentera, dan banyak aksesoris lainnya yang menerangi taman itu. Banyak rekan-rekan mereka yang menyaksikan juga di taman itu. Tanpa diberitahu, Tessa sudah tau kearah mana ini akan berjalan.


Avalance lalu mengeluarkan kotak cincin dari dalam sakunya lalu membukanya. Hanya satu kata yang keluar dari mulutnya.


"Bagaimana?" Tanya Avalance.


Tessa mengangguk, dan Avalance kemudian memasangkan cincin itu ke jari manis Tessa.


Ignis melihat adiknya dari jauh dengan bangga.


Beberapa bulan setelah itu, mereka akhirnya menikah. Sayangnya, hubungan mereka harus dipisahkan oleh maut satu tahun setelah pernikahan mereka.


Di malam itu, Chaos Dragon muncul dan mulai menyerang di kota. Ignis dan Avalance bertarung di barisan terdepan. Namun, tidak banyak yang bisa mereka lakukan. Awalnya mereka berniat untuk mengulur waktu hingga para penduduk kota berhasil mengungsi.


Namun, Chaos Dragon membuat panah dari ratusan ribu panah dari elemen kegelapan lalu menghujani kota dengan itu. Membuat seluruh kota itu menjadi hancur lebur.


Avalance hanya bisa berdoa bahwa istrinya berhasil mengungsi tepat waktu. Chaos Dragon mengaum kencang, tanda pertarungan yang sebenarnya baru saja dimulai. Setelah bertarung cukup lama, hanya Ignis dan Avalance yang tersisa dari para pasukan.


Hal itu membuat Chaos Dragon kagum dan memberikan mereka keabadian. Namun, mereka juga mendapatkan kutukan yang merugikan mereka juga. Avalance mendapatkan kutukan dimana disekitarnya akan selalu turun salju dari langit.


Setelah Chaos Dragon puas dan akhirnya pergi, Avalance segera mencari istrinya di tempat penampungan para pengungsi. Tanpa mempedulikan kutukannya yang membuat salju turun kemanapun ia pergi.


Naasnya, ia tidak menemukan istrinya dimanapun pada tempat penampungan. Avalance lalu segera kembali ke kota dan mencari puing-puing rumahnya yang telah runtuh karena Chaos Dragon.


Di sana ia melihat tubuh Tessa yang sudah tidak bernyawa tepat di depan matanya. Ia terduduk dan menangis di depan mayat istrinya tanpa mempedulikan salju yang terus turun disekitarnya. Ignis hanya bisa melihat dari kejauhan tanpa berani menghampiri Avalance yang pastinya penuh dendam dengan Chaos Dragon.


"Maafkan aku, Tessa" ujar Avalance memeluk mayat Tessa yang sudah dingin.


Saat itu Avalance benar-benar kehilangan hampir semuanya. Kekasihnya, rekannya, bahkan hartanya. Syukurnya ia masih memiliki saudaranya.


Kehidupan Avalance menjadi semakin hancur setelah ia diasingkan dari Wilayah Selatan. Para penduduk menganggap dia dan Ignis gagal melindungi Wilayah Selatan, ditambah lagi kutukan Avalance sangat meresahkan para penduduk.


Setelah melakukan kudeta, Ignis pergi menemui Avalance di Wilayah Utara untuk menghapus pengasingannya dan bergabung dengan Ignis. Namun, setelah mengetahui apa yang dilakukan Ignis dan ideologi barunya membuat Avalance tidak setuju.


Hal itu membuat Ignis kesal dan kini menganggap Avalance sebagai musuhnya juga. Kini Avalance benar-benar kehilangan segalanya. Kekasihnya, Saudaranya, Kampung Halamannya. Semua telah hilang.


Namun, Avalance tidak menyerah. Ia beruntung karena kutukannya tidak berpengaruh di Wilayah Utara karena daerah itu memang dipenuhi oleh salju.


Ia memulai kembali semuanya. Mulai dari menjadi seorang prajurit di Wilayah Utara.


Perlahan ia kembali mendaki ke puncak, mungkin kini dia sudah tidak memiliki apapun. Namun, ia tidak ingin ideologi konyol kakaknya terwujud di negara itu. Avalance mengabdi pada wilayah itu selama 50 tahun


Setelah lima puluh tahun, Sang Raja yang tidak memiliki keturunan memilih Avalance sebagai Raja dari Wilayah Utara.


Namun, lama kelamaan Avalance mulai menderita karena keabadiannya. Rekan-rekannya kini mulai menua, dan tidak sedikit yang sudah tutup usia. Itu semakin membuat Avalance lelah.


Ada tahap dimana Avalance sudah terlalu lelah hingga ia memutuskan untuk berhenti mencari teman dan memilih untuk menjadi pemimpin yang penyendiri hingga masa kini.


Suatu hari, Avalance berjalan-jalan dikota untuk mencari udara segar. Saat itu ia melihat seorang pencuri yang mencuri buah dari pasar, semua orang mengejar pencuri itu. Namun, entah kenapa Avalance merasa iba dan ingin menolongnya. Sebelum para penduduk berniat menghajar pencuri itu, Avalance datang dan memberhentikan mereka.


"Berhenti, tidak kah kalian sadar bahwa kalian akan menghajar seorang anak-anak? Kalian tidak boleh bertindak sekasat itu" ujar Avalance.


"Tapi, Paduka. Dia adalah seorang pencuri!" Balas salah satu penduduk disana.


"Aku sangat paham tentang itu. Namun, semua orang berhak untuk memperoleh kesempatan kedua" ujar Avalance.


"Aku akan membawanya ke Kastilku" lanjut Avalance.


"Tapi, Paduka. Bagaimana jika ia mencuri harta-harta mu?" Tanya penduduk itu lagi.


"Harta bukanlah segalanya bagiku. Aku sudah pernah kehilangan banyak hal yang lebih berharga dari sekedar harta" jawab Avalance.


Avalance lalu menghampiri anak itu dan terkejut dengan dengan paras anak itu yang sangat mirip dengan, istrinya yang telah meninggal.


"Siapa namamu, Nak?" Tanya Avalance.


"Tiana" jawabnya.


"Tiana… nama yang indah" balas Avalance.


"Terimakasih" ujar Tiana.


"Ikuti aku, Tiana" balas Avalance.


Beberapa tahun sejak saat itu, Tiana akhirnya menjadi kepala pelayan Kastil itu. Tiana mengurus segalanya. Sedangkan Avalance masih menutup diri dari orang-orang ia tidak mau kembali kehilangan teman. Maka dari itu, lebih baik ia tidak memiliki teman.


Namun, semua itu kembali berubah ketika Indra, Misha, dan Miller mengunjungi kastilnya. Avalance paham bahwa teman barunya itu juga akan pergi suatu hari. Namun, ia merasa berbeda ketika bersama tiga orang itu. Avalance akhirnya memberanikan diri untuk kembali berteman dengan orang-orang setelah hampir satu abad menjauhkan diri dari kata "Teman" Avalance tau bahwa hari perpisahan akan selalu terjadi. Namun, entah kenapa ia seperti tidak merasakan itu akan terjadi ketika bersama Indra, Misha, dan Miller.