An Agreement

An Agreement
Bab 8



*


*


Mutiara mulai menggerakkan tangannya di punggung Erlang berjalan naik turun serta sedikit menekannya.


"Ternyata kamu jago juga mijitnya."


"Ini aja ngasal kak."


"Masa sih? Tapi enak loh."


"Enak karena gratisan." cibir Mutiara


Erlang terkekeh, Mutiara memang seperti itu dari dulu, gadis polos tapi kalau bicara membuat lawan bicaranya tertawa karena kepolosannya.


Berbeda dengan Kayla, kalau Kayla tipe cewek 'senggol bacok' makanya seumur hidup Kayla baru merasakan satu kali pacaran karena tidak banyak cowok yang berani mendekatinya, meskipun cantik tapi wajah juteknya membuat para cowok mundur teratur, namun sepertinya saat ini Kayla sedang dekat dengan cowok.


Mutiara terus menelusuri punggung Erlang, hanya sebatas punggung sampai bahu tidak lebih.


"Sudah cukup Tiara." pinta Erlang karena dia merasa otot-ototnya sudah melemas.


Mutiara menghentikan gerakannya lalu kembali duduk bersandar di kepala ranjang seperti yang ia lakukan sebelumnya, Erlang pun melakukan hal yang sama.


'Hening' keduanya sama-sama terdiam.


Erlang bingung harus bagaimana memulainya.


Mutiara juga tidak tau apa yang harus ia lakukan, namun yang ia rasakan saat ini jantungnya berdetak lebih cepat, rasa gugup menghinggapinya padahal biasanya jika sedang bersama Erlang tidak seperti ini.


Erlang menoleh ke kiri dimana Mutiara berada. "Siap?" tanyanya.


Mutiara menoleh ke kanan dan tatapan mereka langsung bertemu. "Siap untuk apa?" tanya Mutiara polos membuat Erlang bingung harus bagaimana menjelaskannya.


"Siap membuat anak untukku." jawab Erlang hati-hati.


Mendengar kalimat 'anak' keluar dari bibir Erlang membuat wajah Mutiara langsung memerah.


"Bagaimana Tiara?" desak Erlang.


"Harus ya kak Erlang nanya dulu? Tiara kan sudah sah menjadi istrinya kak Erlang."


***


Mutiara menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit di bawah sana, tangannya mencengkram kuat sprei untuk melampiaskan rasa sakitnya.


Bagaimana tidak sakit? Erlang melakukan itu tanpa pemanasan terlebih dahulu padahal itu yang pertama bagi Mutiara, bahkan pakaian atas Mutiara masih rapi, Erlang tidak menyentuh apapun mencium Mutiara pun tidak, dia membangkitkan gairahnya lewat video yang sudah ia download sebelumnya, Erlang sudah menawarkannya pada Mutiara untuk nonton bersama namun Mutiara menolaknya dia bilang itu menjijikkan, bagaimana tidak menjijikkan kalau Mutiara belum pernah melihat video seperti itu.


"Kak, tolong lakukan dengan pelan! Biar bagaimanapun ini yang pertama bagiku." pinta Mutiara karena rasanya ia sudah tidak sanggup menahan rasa sakitnya.


Erlang menghentikan kegiatannya lalu membuang napas berat. "Maaf jika ini menyakitimu, tapi ini sudah pelan Tiara."


Erlang tidak melakukan pemanasan bukan tanpa alasan, dia tidak ingin kalau nantinya Mutiara akan larut dalam permainan mereka.


Kalau sampai Mutiara larut dalam permainan mereka itu pasti akan melibatkan hatinya.


Erlang tidak mau suatu saat akan menyakiti hati Mutiara, cukup selaput dara dan fisiknya yang ia rusak asal jangan hatinya juga ikut tersakiti.


Erlang mencoba melanjutkan kegiatannya namun kali ini Mutiara menahannya. "Kak! Sakit!!!"


Erlang membuang napas kasar lalu mencondongkan tubuhnya. "Maaf..." ucap Erlang kemudian memagut bibir Mutiara, hanya sesaat lalu melepaskannya lagi. "Kamu pakai lipgloss?"


Mutiara menyatukan alisnya. "Enggak."


"Kok manis?" tanyanya lalu meraup bibir manis itu dengan bibirnya. "Tuh, emang manis Tiara." Erlang tidak sadar saat mengucapkan kalimat itu dan refleks saat mengulangi mengecap bibir Mutiara.


Erlang terkekeh. "Ya Tuhan ada ya wanita sepolos ini?" batin Erlang.


***


Tubuh Erlang ambruk di samping Mutiara dengan napas yang memburu, Erlang mengatur napasnya sembari memejamkan matanya, setelah beberapa saat napas Erlang sudah teratur namun ada yang aneh, Erlang tidak mendengar suara Mutiara, kemudian Erlang menoleh ke samping Erlang terbelalak kaget saat mendapati Mutiara hanya diam membisu dengan tatapan kosong namun air matanya mengalir di sudut matanya.


Erlang segera menarik selimut untuk menutupi tubuh Mutiara hingga sebatas leher. "Tiara kamu kenapa?" tanyanya panik.


Mutiara tidak bergeming.


Erlang menghapus air matanya Mutiara kemudian menepuk-nepuk pelan pipinya. "Kamu kenapa Tiara?" tanyanya lagi, kemudian Erlang menarik tubuh Mutiara ke dalam pelukannya dan saat itu juga tangis Mutiara pecah, Erlang bernapas lega saat isak tangis Mutiara pecah, yang Erlang takutkan tadi jika sampai merusak mental Mutiara.


"Maafkan aku Tiara, aku sudah merusak masa depanmu." ucap Erlang tulus. "Aku tidak tau dengan cara apa aku membalas kebaikanmu."


Mutiara hanya bisa menggeleng dalam pelukan Erlang, dia belum bisa mengeluarkan kata-kata.


***


Mutiara membuka matanya perlahan, mengumpulkan seluruh kesadarannya kemudian meregangkan otot-ototnya. "Ah..." Mutiara merasakan perih di pangkal pahanya, seketika dia teringat tentang kejadian semalam, dengan gerakan cepat Mutiara mengangkat selimut yang menutupi tubuhnya, ternyata benar dirinya masih polos dan yang semalam bukan mimpi.


Mutiara juga ingat semalam dirinya menangis kemudian di peluk Erlang sampai mereka berdua sama-sama tertidur.


Mutiara sedikit mendongak untuk menatap Erlang, pria yang sudah mengambil mahkotanya, Mutiara kembali memandangi wajah Erlang, dia teringat saat pertama kali bertemu dengan Erlang.


Pada saat itu Erlang datang bersama keluarganya untuk menyumbangkan sebagian harta mereka dan Mutiara sering melihat Erlang saat Erlang mengantar mamanya memberi kebutuhan untuk panti.


Semakin hari Mutiara semakin dekat dengan Erlang dan Kayla bahkan Erlang pernah menyelamatkan Mutiara saat memanjat pohon untuk mengambilkan layang-layang salah satu anak panti yang tersangkut di pohon tersebut, layang-layang itu sudah berhasil ia ambil namun saat melihat ke bawah Mutiara tidak berani turun.


Erlang sedang melihat anak-anak bermain lalu melihat Mutiara di atas pohon. "Tiara kamu ngapain disitu?" tanya Erlang dari bawah.


"Tiara takut turun kak."


"Kamu loncat aja! Aku akan menangkapmu dari sini." pinta Erlang.


"Takut kak."


"Tidak apa-apa."


Erlang bersedia menangkapnya kemudian Mutiara menjatuhkan dirinya meskipun tidak terlalu tinggi namun mereka berdua sama-sama jatuh dan sikunya Erlang terluka karena Erlang yang berada di bawah.


Mutiara tersenyum saat teringat masa itu. "Kenapa kak Erlang dulu tidak mencari tangga saja? Kenapa harus mengorbankan dirinya." tanya Mutiara dalam hati kemudian beringsut duduk, tangan kirinya memegangi selimut di dadanya supaya tidak merosot dan tangan kanannya terangkat untuk membelai pelan wajah damainya Erlang, seorang pria yang kini menjadi suaminya dan mungkin sebentar lagi menjadi ayah dari anaknya.


Erlang bergerak-gerak kecil seolah terganggu dengan sentuhan Mutiara, Mutiara menjatuhkan tangannya kemudian membaringkan tubuhnya lagi karena ini masih terlalu pagi untuk memulai aktivitas.


Mutiara berbaring menghadap Erlang, namun sepasang mata di depannya tiba-tiba terbuka membuat Mutiara terkejut. "Ini masih dini hari kak, sebaiknya kak Erlang tidur lagi."


Bukannya tidur tetapi Erlang malah beringsut duduk, dirinya lupa lupa janjinya pada Elmira kalau tidak akan menginap disini. "Aku harus segera pulang Tiara."


"Ini masih dini hari kak." cegah Mutiara sembari ikut beringsut duduk.


"Aku lupa kalau aku sudah janji pada Elmira tidak akan nginep disini."


Erlang lupa kalau sudah janji pada istrinya kalau tidak akan menginap dirumah orang tuanya.


Erlang juga lupa kalau tidak akan membuat Mutiara hanyut dalam permainan mereka, namun yang Erlang lakukan semalam adalah memancing gairah Mutiara karena dirinya juga ikut hanyut dalam permainan yang ia buat sendiri.


*


*


Maaf ya adegannya Author skip, karena tidak boleh terlalu dalam, kalau terlalu hot nanti Author bisa di cekal sama pihak Mangatoon. 🤣🤣🤣