An Agreement

An Agreement
Bab 40



*


*


🌴🌴🌴


*


Sudah hampir satu minggu ini Erlang tidak ke rumah Mutiara, seperti kesepakatan sebelumnya.


Sebelumnya Erlang bilang kalau dia akan mampir sebentar saat berangkat atau pulang kerja, namun sampai hari ini Erlang belum juga mampir hanya sesekali mengirim pesan untuk sekedar mengingatkan dirinya makan, minum susu, minum vitamin dan istirahat yang cukup.


Mutiara merindukan pria yang saati ini berstatus sebagai suaminya, namun ia tidak berani mengganggu Erlang apalagi meminta untuk menemuinya.


Mutiara mengeluarkan handphonenya, ia memeriksa chat yang masuk dan berharap itu dari Kayla, Mutiara sudah ada janji dengan Kayla, pulang kerja Kayla akan mampir ke rumah Mutiara untuk menjemput dirinya.


Ya, Mutiara berencana akan menginap di rumah mertuanya, ia ingin tidur di kamar Erlang untuk mengobati rasa rindunya, lagi pula kedua orang tuanya akan ke Lombok besok pagi dan akan disana beberapa minggu kedepan, jadi kalau ia tetap disini maka akan tinggal sendirian.


Tak berselang waktu lama terdengar suara ketukan pintu dari pintu utama, Mutiara segera memanggil Yuwina dan Mahendra karena ia tahu yang mengetuk adalah Kayla dan dirinya akan berpamitan.


"Ayo masuk dulu." ujar Mutiara pada Kayla setelah membuka pintu.


"Nggak usah, kita langsung pulang aja ya?" tolak Kayla.


"Mah... pah..." Mutiara kembali memanggil kedua orang tuanya karena sedari tadi ia memanggil namun kedua orang tuanya tak kunjung datang.


"Oh.. nak Kayla sudah sampai." sapa ramah Yuwina yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Selamat sore tante." ucap Kayla di sertai senyuman.


"Papa mana mah?" tanya Mutiara.


"Papamu masih mandi." jawab Yuwina.


"Ya udah, Tiara berangkat dulu ya mah."


"Hati-hati." pesan Yuwina pada anaknya.


"Kayla pulang dulu tante."


"Hati-hati ya Kay nyetir mobilnya." pesan Yuwina lagi.


"Iya tante."


Yuwina masih berdiri di pintu utama, melihat anaknya memasuki mobil. Setelah mereka siap, Kalya menurunkan kaca mobilnya lalu mereka berdua melambaikan tangan pada Yuwina dan Yuwina juga melambaikan tangannya lalu menutup pintu setelah mobil Kayla menghilang dari pandangannya.


Yuwina melangkah memasuki ruang kerjanya, ternyata suaminya sudah berada di dalam ruangan tersebut. "Loh, pah. Kok udah ada disini?"


"Baru aja sampai mah, Tiara sudah berangkat?"


"Sudah." jawab Yuwina sembari duduk di kursi putarnya.


Mahendra membuka handphonenya dan matanya membulat sempurna saat melihat ada pesan dari Herman yang memberitahukan bahwa ia sudah menemukan saksi yang butuhkan Mahendra. "Mah kita sudah mendapatkan saksinya mah, tinggal selangkah lagi kita akan mengungkap kasus kita."


Yuwina menoleh ke arah suaminya. "Syukurlah pah, dia harus mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatannya." ujar Yuwina geram.


"Pasti."


"Tapi kita belum bisa mengungkap dia dalam minggu-minggu ini pah, kita kan harus ke Lombok dulu beberapa minggu. Kita urus dia setelah kita pulang dari Lombok."


"Iyaa, kita juga butuh waktu untuk merencanakannya matang-matang mah."


"Mama setuju pah."


Mahendra dan Yuwina akan ke Lombok, Yuwina sudah terlalu lama meninggalkan usahanya, dia harus mengecek langsung usahanya dan memastikan semua berjalan dengan sempurna.


*


🌴🌴🌴


*


"Non Kayla dan non Tiara..." sapa bi Lastri setelah membuka pintu utama.


"Malem bi..." sapa Mutiara.


Lastri membuka pintu lebar-lebar, Mutiara dan Kayla melangkah memasuki rumah.


Mutiara menyerahkan kantong plastik yang ia bawa sedari tadi. "Tolong bawa ini ke dapur bi!"


"Baik non." Lastri menerima kantong plastik dari Mutiara lalu berlalu dari hadapan Kayla dan Mutiara.


Mutiara dan Kayla berjalan kemudian menaiki tangga menuju kamar mereka masing-masing.


"Tiara..." panggil Niar yang baru saja keluar dari kamarnya dan melihat Mutiara baru saja melewati kamarnya.


Mutiara menoleh saat mendengar suara mama mertuanya. "Mama?"


"Aku duluan ya? Mau mandi, gerah." Kayla meninggalkan Mutiara dan hanya melambaikan pada mamanya. "Kayla mau mandi dulu mah."


Mutiara berbalik badan lalu melangkah sampai di depan Niar. "Mama apa kabar?"


"Baik." jawab Niar lalu mengusap perut Mutiara yang sedikit menonjol, memang jika di lihat belum begitu terlihat namun jika di raba sudah begitu terasa perubahannya. "Cucu mama tidak rewel kan?" tanyanya.


"Tidak mah, dia baik-baik aja."


"Kamu udah makan malam?" tanya Niar lagi.


"Udah mah, tadi makan malam sama Kayla."


"Ya udah kalau mau istirahat, kamu pasti capek kan?"


"Tiara ke kamar dulu mah."


Niar melanjutkan langkahnya menuju dapur, ia akan membuat kopi untuk suaminya yang masih berkutat di ruang kerjanya sekaligus menyuruh bi Lastri untuk membuat dan mengantar susu hamil untuk Mutiara.


Mutiara memasuki kamar Erlang, kamar yang sudah beberapa minggu ini kosong, ia melangkah kemudian meletakkan tasnya di ranjang kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju walk in closet.


Mutiara memilih dan mengambil salah satu kemeja Erlang yang masih tertinggal banyak disana, namun belum sempat Mutiara memakainya ia mendengar suara ketukan pintu kamarnya.


Mutiara kembali melangkah menuju pintu lalu membuka pintu tersebut.


"Ini non susu hangatnya." ujar bi Lastri.


Mutiara mengernyit bingung karena ia tidak merasa menyuruh bi Lastri membuat susu untuknya.


"Nyonya yang menyuruh saya membuatkan susu untuk non Tiara." ujar bi Lastri lagi, seakan tahu kebingungan Mutiara.


Mutiara mengambil alih nampan dari tangan bi Lastri. "Makasih bi."


"Sama-sama non." Lastri berlalu dari hadapan Mutiara dan Mutiara kembali menutup pintu kamarnya.


Mutiara meletakkan nampan yang ia bawa di atas nakas kemudian ia kembali ke walk in closet, Mutiara mengambil kemeja yang telah ia pilih tadi kemudian ia membuka pakaiannya lalu menggantinya dengan kemeja Erlang, setelah selesai mengganti bajunya Mutiara keluar dari walk in closet ia mengambil gelas berisi susu hangatnya lalu membawanya menuju balkon.


Mutiara berdiri di balkon tersebut sambil sesekali meminum susu hangatnya, Mutiara menyukai hal itu, berdiri di balkon atau di dekat jendela kamarnya. Bedanya kalau di balkon ia bisa melihat jauh kedepan serta melihat lampu-lampu yang menyala, tapi kalau di dekat jendela kamarnya ia akan melihat bunga-bunga yang ia tanam sendiri.


Cukup lama Mutiara dalam posisi seperti itu sampai tidak terasa susu yang ia bawa sudah habis, Mutiara meletakkan gelas kosong itu di atas meja di dekat pintu balkon dan menduduki kursi di sebelah meja tersebut.


Mutiara memandangi cincin kawinnya yang tersemat di jari manisnya, ia tersenyum miris kala mengingat bahwa ada masanya suatu saat nanti ia akan melepaskan cincin itu, ia tidak akan memakai cincin itu lagi jika pernikahannya berakhir.


Haruskah pernikahannya berakhir? Bagaimana nasib anaknya jika pernikahannya berakhir?


Mutiara beralih mengusap perutnya. "Maafkan bunda nak, kamu harus terlahir dari pernikahan yang di landasi sebuah perjanjian, maafkan bunda jika kelak kamu akan hidup terpisah dengan ayahmu."


*


*


Kalau bom waktunya meledak terus ada badai air mata, nanti kalian misuh-misuh nggak sih???


Aku jadi takut deh πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ