An Agreement

An Agreement
Bab 30



*


*


🌴🌴🌴


*


"Kay, kita sarapan dulu ya?"


Brian dan Kayla masih dalam perjalanan ke puncak dan tadi mereka memang belum sarapan dari rumah.


Kayla mengecilkan volume musik di mobil lalu menoleh ke kanan dimana Brian berada. "Tadi ngomong apa?" tanya Kayla, ia tadi memang tidak terlalu mendengarkan perkataan Brian. Selain musik yang ia dengar, Kayla juga sedang merutuki kebodohannya waktu mereka masih di rumah, bisa-bisanya ia keceplosan bisa ribet nanti urusannya.


"Kita sarapan ya?" Brian mengulang kata-katanya.


"Oh, iya... sarapan dimana?"


"Aku udah bawa sarapan."


Kayla menaikan satu alisnya. "Kamu udah bawa sarapan?" tanyanya seakan tidak percaya, dirinya yang wanita tidak kepikiran sampai sana.


Brian mengangguk. "Itu." jawabnya sembari menoleh sesaat ke kursi penumpang di belakang. "Kita tinggal cari tempatnya aja."


"Di sekitar sini ada taman nanti kita mampir di taman itu, kita sarapan disana." usul Kayla.


"Oke."


Brian kembali fokus menyetir dan sesekali menoleh ke samping dimana Kayla berada, ia masih penasaran dengan jawaban Kayla tentang wanita yang di sebut istri Erlang. Kalau wanita tadi istri Erlang terus Elmira kemana? Sejak kapan mereka menikah? Pertanyaan-pertanyaan itu masih berputar di otaknya.


"Di depan belok kiri." Kayla menginterupsi.


"Depan situ?" tanya Brian meyakinkan.


"Ya." jawab Kayla.


Brian memutar roda kemudinya ke kiri dan benar saja beberapa menit kemudian terlihatlah sebuah taman kecil yang asri dan menarik serta ramai pengunjung.


Brian memakirkan mobilnya di tempat parkir yang telah tersedia, kemudian mereka turun dari mobil berserta makanan yang telah disediakan oleh Brian.


"Kita duduk disana aja Kay." tunjuk Brian pada kursi dan meja yang masih kosong.


"Yuk."


Brian dan Kayla melangkah menuju kursi tersebut.


Brian meletakkan paper bag berisi makanan di atas meja kemudian mereka duduk di kursi panjang dan Kayla menyiapkan makanan tersebut.


"Ini tadi yang nyiapin siapa?" tanya Kayla sembari memberikan sarapan untuk Brian.


Brian menerima sarapannya. "Aku lah... yang masak pun aku loh." jawabnya kemudian mulai memakan makanannya.


Kayla langsung menghentikan gerakan tangannya yang hendak memasukkan makanan ke dalam mulutnya, ia membulatkan matanya lalu menoleh ke arah Brian. "Beneran??" tanyanya seakan tidak percaya, dirinya saja tidak bisa memasak ini malah seorang pria bisa memasak.


"Bener. Cobain deh!"


Kayla meringis dan mengangguk samar, ia jadi malu pada Brian, dirinya seorang wanita tapi tidak bisa memasak.


Akhirnya mereka memakan makanan masing-masing dalam diam sampai makanan mereka habis.


Brian menyandarkan tubuhnya di punggung kursi, tatapan lurus kedepan melihat anak-anak yang sedang bermain perosotan. "Kay." panggilnya.


Kayla menoleh ke samping dimana Brian berada. "Ya."


"Em... cewek tadi beneran istrinya Erlang?" tanya Brian hati-hati.


Kayla terdiam, ia bingung jawaban jujur atau jawaban bohong yang akan ia berikan.


"Maaf, aku terlalu kepo ya?"


Kayla tersenyum tipis. "Nggak apa-apa."


Brian beranjak dari kursi. "Ya udah kita lanjutin perjalanan kita yuk."


Kayla menahan lengan Brian. "Mau tau jawabannya kan? Duduk dulu sebentar!"


Brian menatap Kayla sesaat kemudian ia kembali duduk.


Brian terbelalak kaget, ia tidak menyangka ada pernikahan kedua di kehidupan Erlang. "Bagaimana mungkin perjanjian itu bisa terjadi? Bagaimana kehidupan selanjutnya?" batin Brian.


"Erlang punya dua istri sedangkan aku? Satu aja belum."


"Rumit ya? Atau tidak masuk akal?" tanya Kayla, ia merasa tidak enak hati pada Brian dengan rumitnya kehidupan keluarganya.


"Semua sudah jalannya Tuhan."


"Aku juga tidak menyangka kalau kak Erlang akan memiliki dua istri seperti saat ini, tapi mungkin benar katamu barusan, semua sudah jalannya Tuhan."


Brian kembali beranjak dari kursi tetapi kali ini ia menarik tangan Kayla. "Yuk kita lanjut perjalanannya keburu siang."


"Ya."


*


🌴🌴🌴


*


Sampai saat ini Yuwina dan Mahendra masih terus mencari tahu keberadaan putri sulungnya namun belum ada titik terang dimana putrinya berada.


Tok tok tok...


Yuwina mengalihkan atensinya dari layar laptop pada Mahendra. "Siapa pah?" tanyanya, ia tidak merasa sedang menunggu seseorang.


Mahendra membuka layar handphonenya, ia memeriksa chat yang masuk dan benar saja yang sedang bertamu adalah Herman, salah satu temannya yang akan membantunya mengungkap dalang di balik fitnah itu, Herman masih bekerja di perusahaan itu jadi akan lebih mudah bagi Mahendra dan Herman dalam mengorek informasi tentang seseorang di balik Mahendra yang harus mendekam di penjara selama puluhan tahun tanpa kesalahan yang ia perbuat.


"Papa buka pintu dulu, yang datang Herman rekan kerja papa dulu dan dia yang akan membantu papa menangani kasus papa."


Mahendra beranjak dari kursi ruang kerja, ia melangkah menuju pintu utama kemudian membuka pintu tersebut. "Selamat datang pak Herman." sapa ramah Mahendra pada mantan rekan kerjanya. "Mari silahkan masuk." ujarnya sembari membuka pintu lebar-lebar.


"Pak Hendra apa kabar." tanya Herman sembari melangkah memasuki rumah Mahendra.


"Baik. Mari silahkan duduk."


Mahendra dan Herman duduk di sofa ruang tamu.


"Bagaimana perkembangan kasus kita?" tanya Mahendra to the point.


Herman membuka tas kerjanya lalu mengeluarkan sebuah map dari dalam tas kerjanya kemudian menyerahkannya pada Mahendra. "Ini beberapa data yang berhasil saya dapat, disitu sudah jelas siapa yang menjerumuskan anda ke dalam penjara, tetapi kita masih butuh dua bukti lagi yaitu rekaman cctv dan beberapa orang saksi setelah kita mendapatkan keduanya kita bisa langsung menuntut balik pelakunya pak."


Mahendra menerima map tersebut kemudian ia hendak membukanya namun terhenti saat Herman mengajukan pertanyaan.


"Anda tau apa motif si pelaku?" tanya Herman.


"Iri dengan kesuksesan saya mungkin." jawab Mahendra.


Herman menggeleng. "Bukan hanya itu pak."


Dahi Mahendra berkerut dalam. "Apa motifnya?"


"Cinta." jawab Herman.


Mahendra langsung membanting map tersebut di atas meja, tanpa ia membuka map tersebut ia sudah tahu isinya dan siapa di balik kasusnya. "Brengsek!! Jadi wanita bar bar itu pelakunya!!"


Herman menepuk pelan bahu Mahendra. "Sabar pak, kita harus melengkapi buktinya setelah itu kita serang dia."


"Anda benar."


"Kalau begitu saya pulang dulu pak, saya cuma mampir sebentar untuk menyerahkan data itu pada anda." ujar Herman kemudian ia beranjak dari sofa.


"Terima kasih banyak pak Herman." Mahendra juga beranjak dari sofa ia mengantar tamunya menuju pintu utama.


"Setelah semuanya sudah lengkap saya akan langsung mengabari anda." Herman berujar sembari berdiri di belakang pintu menunggu Mahendra yang sedang membuka pintu untuknya.


"Sekali lagi terima kasih banyak pak Herman." Mahendra kembali membuka pintu lebar-lebar dan Herman melangkah keluar.


Setelah Herman keluar, Mahendra menutup pintu kembali kemudian melangkah menuju ruang kerja dimana istrinya masih berada di dalam sana, ia akan membahas kemajuan kasusnya pada sang istri.


*


*


What??? Wanita bar bar!!! Ternyata kasus para orang tua tidak jauh-jauh dari cinta ya. 🀭🀭🀭