An Agreement

An Agreement
Bab 50



*


*


Erlang masih berdiri diam membisu menyaksikan kedua mertuanya yang sedang melepas rindu pada putri mereka.


Yuwina duduk di tepi ranjang sedangkan Mahendra duduk di kursi yang tadi di duduki Erlang.


"Mah pah, aku udah ketemu kakak." ujar Mutiara masih sambil menggenggam tangan ibunya.


"Dimana Tiara??" tanya Yuwina antusias.


Mutiara melirik Erlang sesaat kemudian menatap Yuwina lagi. "Kak Mira mah."


"Siapa Mira?" kali ini Mahendra yang buka suara.


Mutiara melirik Erlang lagi. "Kak Mira adalah is--"


"Dia yang menyebabkan Tiara seperti ini." potong Erlang.


Yuwina dan Mahendra kompak menoleh untuk menatap Erlang dengan tatapan bingungnya. "Maksudnya gimana?"


"Kak Mira adalah istri pertamanya kak Erlang mah pah."


Yuwina dan Mahendra kompak terkejut dengan pernyataan Mutiara, jadi kedua putri mereka memiliki suami yang sama? Satu pria untuk dua wanita kakak beradik?


"Darimana kamu bisa menyimpulkan kalau istri pertamanya Erlang adalah kakakmu?" tanya Yuwina.


"Dia memakai gelang yang sama mah." jawab Mutiara.


"Apakah wajahnya mirip dengan mama atau papa?"


Mutiara menggeleng pelan.


"Kita tidak bisa menyimpulkan segampang itu Tiara, hanya karena dia memakai gelang yang sama dengan kita. Siapa tahu kakakmu dulu sedang butuh uang terus dia menjual gelang itu dan kebetulan yang membelinya adalah istri pertamanya Erlang. Kita harus melakukan tes dulu untuk memastikannya."


"Tapi mama dulu langsung percaya sama Tiara?"


Yuwina menoel hidung Mutiara gemas. "Karena kamu mirip papamu, jadi tanpa melakukan tes apapun mama sudah yakin kalau kamu adalah anak mama."


Mutiara terdiam, ia menyesal sudah bersikap dingin tadi pada Erlang.


Erlang melangkah memutari ranjang kemudian duduk di tepi ranjang berseberangan dengan Yuwina. "Kita harus cari bukti dulu Tiara."


Mutiara mengangguk, membenarkan ucapan Erlang.


"Sekarang dimana wanita itu? Papa mau bertemu dengannya, apa dia ada di rumahmu yang lama?" tanya Mahendra pada Erlang.


"Dia di rumah sakit pah, dia kecelakaan." jawab Mutiara.


Yuwina menutup mulutnya sendiri. "Ya Tuhan..."


Mutiara meraih tangan Erlang. "Katanya kalau aku udah ada yang nemenin kamu mau kesana kak?"


Erlang menatap Yuwina dan Mahendra bergantian.


Yuwina mengangguk. "Pergilah! Biar Tiara kami yang jaga."


"Papa ikut."


Yuwina menoleh untuk menatap suaminya. "Papa nggak capek? Kita baru sampai loh pah."


Mahendra beranjak dari kursi. "Nggak apa-apa mah. Ayo Lang kita kesana sekarang!"


Erlang beranjak dari ranjang, tangannya terulur untuk mengacak anak rambutnya Mutiara. "Aku pergi dulu, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku!"


Mutiara mengangguk pelan.


Mahendra dan Erlang keluar dari kamar rawatnya Mutiara, mereka akan menuju rumah sakit dimana Elmira sedang di rawat disana.


*


🌴🌴🌴


*


Mahendra dan Erlang memasuki ruang ICU, Elmira masih di ruang ICU karena kondisinya cukup parah.


Semua masalah bersarang di kepalanya sehingga ia tidak berkonsentrasi saat mengemudikan mobilnya dan terjadilah kecelakaan yang merenggut kesadarannya, benturan di kepalanya mengakibatkan pendarahan di otaknya dan membuatnya koma.


Erlang berdiri di sebelah ranjang sedangkan Mahendra duduk di kursi, Mahendra bisa melihat gelang yang di pakai Elmira, gelang itu masih melingkar di pergelangan tangan Elmira dan gelang itu memang sama dengan gelang Yuwina dan Mutiara, namun Mahendra belum bisa memastikan kalau Elmira adalah anaknya, karena ada beberapa luka di wajah Elmira yang membuat seseorang susah untuk mengenali bentuk wajah Elmira.


Mahendra akan tetap meminta tes DNA untuk Elmira, biar bagaimanapun ia harus mencari bukti, bukti bahwa Elmira adalah putrinya atau bukan.


"Bagaimana jika Elmira benar-benar kakaknya Tiara?" tanya Mahendra.


"Maaf pah, kalau memang benar Elmira adalah anak papa, mungkin aku akan menyakiti salah satu anak papa."


"Memang seharusnya kamu memilih salah satu di antara mereka!"


"Kamu pilih Tiara?"


Erlang mengangguk.


Mahendra kembali menatap Elmira, ia menatap wanita itu dengan tatapan iba. Bagaimana jika benar wanita di depannya ini adalah putrinya? Bagaimana reaksinya jika ia sadar nanti dan suaminya memilih adiknya? "Kasihan sekali kamu nak." batin Mahendra.


Mahendra beralih menatap Erlang, ia juga tidak bisa menyalahkan Erlang jika salah satu putrinya akan tersakiti.


Erlang sudah lebih dulu menjadi milik Elmira namun ada seorang anak di antara Erlang dan Mutiara.


"Maafkan aku pah." lirih Erlang.


Mahendra menepuk bahu Erlang. "Mau gimana lagi semua telah terjadi. Pesan papa, siapapun yang kamu pilih kamu akan menjaga anak papa dengan baik dan jangan menduakannya lagi!"


Erlang mengangguk. "Pasti pah, aku akan menjaga Tiara dan anak kami melebihi aku menjaga diriku sendiri."


"Papa percaya sama kamu."


"Kita tunggu di luar pah."


Mahendra mengangguk, menyetujui usul Erlang memang seharusnya mereka menunggu di luar saja.


Setelah keluar dari ruang ICU Erlang dan Mahendra duduk di kursi ruang tunggu.


Erlang melirik jam di pergelangan tangannya, ia mengernyit ini sudah hampir pagi, namun mama Hanna belum datang? Anaknya kecelakaan sampai koma dan dia sebagai orang tuanya belum menampakkan batang hidungnya.


"Kamu nunggu seseorang Lang?"


Erlang menghela napas pelan. "Ini pah, mamanya Elmira sampai sekarang belum datang, seharusnya sebagai orang tua udah dateng dong, masa anaknya kecelakaan dan kondisinya parah gitu belum dateng."


Mahendra kembali berpikir, Elmira sudah memiliki orang tua? Lantas gelang itu? Dari mana Elmira mendapatnya?


Mahendra beranjak dari kursi. "Papa mau nemenin Tiara dulu, tolong besok langsung minta tes DNA ya Lang!"


"Iya pah, papa bawa mobilku aja." Erlang berujar sembari menyerahkan kunci mobilnya.


"Nggak usah, itu pak Budi masih nunggu di luar."


"Loh pak Budi belum pulang? Ya udah hati-hati pah."


Erlang tetap disini menunggu Elmira, walaupun nantinya ia akan memilih Mutiara namun Elmira saat ini masih menjadi tanggung jawabnya.


Mahendra keluar dari rumah sakit itu, ia memasuki mobilnya. "Ke rumah sakit yang tadi pak!" titahnya pada sang supir.


"Baik pak."


Budi menyalakan mesin mobil kemudian melajukannya membelah jalan menuju rumah sakit dimana Mutiara di rawat disana.


Mahendra menyandarkan kepalanya yang terasa berat, bayangan wajah Elmira masih berputar di otaknya, ia sedang memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi jika Elmira benar-benar anaknya serta kemungkinan yang akan terjadi jika Elmira sadar dan Erlang akan meninggalkannya, bagaimana hancurnya perasaan Elmira?


Namun Mahendra juga tidak bisa membayangkan jika Erlang memilih Elmira dan meninggalkan Mutiara, bagaimana nasib Mutiara dan cucunya?


Mahendra membuang napas kasar, ini sungguh membingungkan, dua wanita yang sama-sama membutuhkan Erlang.


*


*


Mau tidak mau memang seharusnya ada yang mengalah, tidak mungkin kan dua wanita kakak beradik satu suami??


Siapa yang harus mengalah??


Pada bingung ya? Aku juga bingung 🀣🀣🀣