An Agreement

An Agreement
Bab 32



*


*


🌴🌴🌴


*


Hari ini Elmira sudah boleh pulang, bi Atik pembantu nya sedang mengemasi pakaian Elmira sembari menunggu Erlang datang menjemput mereka.


"Sudah semua non." ujar bi Atik sembari meletakkan tas Elmira di ujung ranjang.


Elmira duduk di tepi ranjang, ia membuka layar handphonenya hendak menelepon Erlang, namun sebelum panggilannya tersambung pintu kamarnya terbuka dari luar dan sosok Erlang muncul dari balik pintu. "Sudah beres?" tanyanya.


"Sudah den." jawab bi Atik.


"Kok lama sih?!" protes Elmira.


"Biasalah macet, kayak nggak tau Jakarta aja."


"Seharusnya kamu berangkat lebih awal dong!"


"Kerjaan kantor juga banyak Mir, mana mungkin aku ninggalin gitu aja. Lagian aku telat berapa menit sih? Belum ada sepuluh menit."


"Tapi kan aku udah bosen disini!"


"Ya udah, ayo kita pulang sekarang." Erlang menuntun Elmira keluar dari kamar rawatnya menuju tempat parkir mobilnya, sedangkan bi Atik mengikutinya dari belakang sembari membawa kan barang-barang milik Elmira.


Mereka memasuki mobil, Elmira duduk di sebelah Erlang dan bi Atik duduk di belakang.


'Hening' tidak ada percakapan di antara mereka bertiga, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing sampai mereka sampai di pelataran rumah, Erlang mematikan mesin mobilnya kemudian ia turun dan membantu Elmira turun setelah itu ia menuntun Elmira lagi sampai di kamar.


"Kamu istirahat dulu aku mau mandi." Erlang berujar sembari menarik selimut untuk menyelimuti tubuh Elmira.


Elmira mengeluarkan handphonenya dari saku hoddie nya.


"Loh kok malah pegang handphone? Istirahat dong Mir."


"Iya, habis balas chat ini aku istirahat." jawab Elmira.


Erlang meninggalkan Elmira ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Elmira beringsut duduk bersandar di kepala ranjang, ia fokus pada layar handphonenya, sejak ia sakit Elmira jarang membuka akun media sosialnya hanya sesekali memeriksa chat yang masuk kemudian membalasnya setelah itu handphonenya akan tergeletak tak berdaya di atas nakas rumah sakit.


Elmira membuka semua akun media sosialnya satu persatu bergantian dari Twitter Instagram, Facebook dan yang lainnya namun gerakan jemarinya di layar handphone terhenti saat ia membuka akun Facebooknya, matanya membulat sempurna saat melihat mantan kekasihnya memposting fotonya bersama anak kecil yang mirip pria itu. "Apa itu anak Rian?" batin Elmira.


Elmira dan Adrian berpisah karena Elmira lebih memilih Erlang pria yang jauh lebih kaya di banding Adrian, mereka berpisah dan Elmira menikah dengan Erlang, Adrian pun akhirnya juga menikah dengan wanita lain.


Adrian pria yang di tinggalkan Elmira dengan keadaan hidup pas-pasan namun ternyata kini pria itu bisa kaya menyaingi Erlang, sebenarnya itu yang membuat hati Elmira sedikit menyesal, mengapa dulu ia meninggalkan pria itu? Namun semua sudah terjadi dan tidak bisa di ulang lagi, mereka saat ini sudah memiliki kehidupan masing-masing.


Elmira tenggelam dalam masa lalunya sampai ia tidak menyadari kalau Erlang telah selesai dengan ritualnya di kamar mandi bahkan Erlang telah memakai piyamanya.


"Kok belum istirahat?!" tanya Erlang dari ambang pintu kamar mandi.


Elmira langsung mengembalikan aplikasi nya ke menu utama kemudian ia menoleh ke arah Erlang. "Aku laper."


Erlang melangkah sampai di samping ranjang. "Kenapa tidak minta bi Atik membawa makanan kesini?"


"Kamu aja yang bawain."


"Tunggu sebentar." Erlang melangkah keluar dari kamar menuju dapur.


"Bi Atik udah masak?" tanya Erlang setelah sampai dapur dan mendapati bi Atik sedang membereskan dapur.


"Sudah den, tapi cuma seadanya beberapa hari ini kan kita di rumah sakit jadi persediaan bahan masakan habis karena banyak yang busuk dan basi."


"Baik den."


"Tolong siapkan makan malam buat Elmira bi!"


"Sebentar den." jawab bi Atik, kemudian ia menyiapkan makan malam buat majikannya yang sedang sakit.


Makan malam buat Elmira telah tertata rapih di atas nampan. "Sudah den."


Erlang meraih nampan berisi makan malam buat Elmira dari tangan bi Atik. "Makasih bi."


Bi Atik mengangguk di sertai senyum tipis.


Erlang membawa nampan tersebut ke kamarnya setelah itu ia duduk di tepi ranjang sembari menggelengkan kepalanya saat melihat Elmira sudah tertidur, Erlang mengguncang pelan bahu Elmira. "Makan dulu Mir terus minum obat setelah itu tidur lagi."


Elmira membuka matanya perlahan kemudian mengerjab beberapa kali lalu beringsut duduk. "Aku ketiduran."


Erlang mulai menyuapi Elmira sesuap demi sesuap sampai makanan yang ia bawa hanya tinggal sedikit.


"Aku udah kenyang."


Erlang memberikan obat buat Elmira yang sudah di siapkan oleh bi Atik sebelumnya. "Minum obat dulu!"


Elmira menuruti perintah Erlang ia meminum obatnya. "Udah..."


Erlang beranjak dari ranjang beserta nampan masih di tangannya. "Sekarang boleh tidur." ujar Erlang, kemudian ia keluar kamar lagi untuk mengembalikan nampan kosongnya di dapur.


Elmira kembali membaringkan tubuhnya, matanya memang sudah berat, tak butuh waktu lama Elmira sudah terlelap.


Erlang kembali ke kamar setelah mengembalikan nampan nya, ia menaiki ranjang kemudian menarik selimut sampai sebatas pinggang.


Erlang menatap Elmira yang sudah terlelap kemudian ia menatap langit-langit kamarnya menunggu kantuk menyerang, pikirannya melayang entah kemana sampai perlahan matanya terasa berat dan perlahan tertutup.


*****


Tengah malam Erlang terbangun dari tidurnya dengan napas tersengal-sengal, jantungnya berdebar bahkan sampai berkeringat dingin, ia baru saja mengalami mimpi buruk, mimpi buruk tentang Mutiara dan anaknya.


Erlang mengatur napasnya, setelah beberapa saat napasnya sudah sedikit teratur ia menoleh ke arah Elmira dan ternyata Elmira masih di alam mimpi, dengan gerakan pelan Erlang menuruni ranjang kemudian berjalan cepat keluar dari kamarnya, ia menuruni tangga dan langsung menuju garasi, sebelum menyalakan mesin mobilnya terlebih dahulu Erlang menghubungi Mutiara namun tidak ada jawaban dari seberang sana, perasaan Erlang semakin tidak enak ia takut jika terjadi apa-apa dengan Mutiara atau anaknya.


Akhirnya Erlang nekat ke rumah mertuanya di tengah malam begini, ia tidak bisa menahan rasa gelisahnya ia ingin mengecek langsung keadaan Mutiara beserta anaknya.


Tak butuh waktu lama Erlang telah sampai di rumah mertuanya, karena ini tengah malam jalan raya sedang sepi.


Erlang mengetuk pintu utama dengan tidak sabaran, cukup lama ia mengetuk pintu tetapi tidak ada tanda-tanda pintu akan terbuka, akhirnya Erlang menelepon mertuanya berharap salah satu dari mereka mau membukakan pintu untuknya.


"Hallo Lang..." jawab Yuwina.


"Mah tolong buka pintu, Erlang sekarang ada di depan rumah mama."


Yuwina menjauhkan handphone dari telinganya, ia menatap layar handphonenya untuk melihat jam berapa sekarang kemudian ia mengernyit bingung, ini masih tengah malam tetapi Erlang sudah datang. "Ngapain Erlang jam segini kemari?" batin Yuwina.


"Mah... mama masih disana kan?"


"Tunggu sebentar, mama akan buka pintu."


"Makasih mah, maaf udah ganggu malem-malem."


"Tidak apa-apa.." kata terakhir Yuwina kemudian ia memutus sambungan teleponnya.


*


*


Telat update lagi. 🀭🀭 ✌️✌️