
*
*
π΄π΄π΄
*
Elmira baru saja mengantar uang untuk mamanya, sekarang ia sedang duduk di cafe, ia memang memilih cafe yang sepi supaya ia bisa menikmati waktunya.
Tidak ada sahabatnya yang menemani, ia ingin sendiri saat ini, ia sedang memikirkan nasib pernikahannya dengan Erlang semakin hari ia merasa semakin terabaikan, Erlang memang kadang berada di sisinya namun ia juga merasa kalau hati Erlang saat ini sudah tidak sepenuhnya miliknya, sebagian hati Erlang sudah terisi dengan anak dan istri mudanya.
Elmira menggeleng cepat. "Tidak! Ini tidak boleh terjadi!! Bagaimana dengan nasibku dan nasib mama jika Erlang sampai meninggalkan aku?" batin Elmira.
Elmira kembali berpikir, kemungkinan-kemungkinan yang terjadi jika Erlang sampai meninggalkannya, ia tidak bisa hidup susah dan ia juga tidak terbiasa bekerja.
Elmira menatap kosong makanan dan minuman yang telah ia pesan di meja, tidak ada niatan baginya untuk menyentuh makanan itu, ia terlalu takut memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu, anak itu belum lahir tetapi perhatian dan hati Erlang sudah terbagi, bagaimana jika sampai anak itu lahir? Dirinya pasti akan terbuang. "Shitt!!!" umpat Elmira dalam hati, ia meremas tisu di tangannya sampai tak berbentuk kemudian melemparnya kasar di atas meja.
Elmira menunduk sembari memijit pelipisnya pelan sampai ia merasa tepukan pelan di bahunya membuat menoleh untuk melihat siapa pelakunya dan saat itu juga Elmira terbelalak kaget. "Rian?"
Adrian hanya tersenyum tipis kemudian duduk di sebelah Elmira. "Bagaimana kabar kamu?" tanya Adrian basa-basi, meskipun sebenarnya ia sudah tahu.
Adrian memang masih selalu mengawasi setiap gerak-geriknya Elmira bahkan masalah yang sedang di hadapi Elmira pun ia tahu, ia menugaskan salah satu anak buahnya khusus untuk mengawasi Elmira dan selalu menginformasikan langsung kepadanya.
"Kamu ngapain disini?" tanya Elmira tanpa menghiraukan pertanyaan dari Adrian.
"Aku mau bertemu dengan teman lamaku."
Elmira mengedarkan pandangannya di sekeliling. "Mana?" tanyanya bingung.
"Belum dateng."
Elmira mengangguk kemudian kembali menatap pesanannya di meja.
"Kenapa tidak di makan?" tanya Adrian.
"Nanti aja." jawab Elmira singkat.
"Kamu sendirian?"
"Seperti yang kamu lihat."
Adrian terdiam, ia sedang berpikir pertanyaan apalagi yang akan ia ajukan, semua pertanyaannya hanya di jawab singkat oleh Elmira.
"Benarkah kamu yang membawaku pulang saat aku mabuk?" tanya Elmira tanpa menatap Adrian, ia merasa tidak enak jika menatap Adrian langsung, mengingat status mereka saat ini.
"Apa suamimu tidak bilang?"
Elmira menggeleng, sejak kejadian itu hubungannya dan Erlang sempat memburuk hingga berminggu-minggu dan Elmira tidak berani mengungkit-ungkit kejadian itu karena ia tidak mau hubungannya dan Erlang semakin memburuk.
"Benar, yang mengantar kamu pulang saat itu adalah a--"
"Rian..."
Adrian menoleh, teman yang ia tunggu sudah datang, kemudian ia beranjak dari kursi. "Kapan-kapan kita lanjut ngobrolnya, aku kesana dulu."
Elmira mengangguk dan Adrian menyusul teman lamanya.
*
π΄π΄π΄
*
Semenjak Erlang tinggal di rumah lamanya, Mutiara tinggal di panti, ia membiarkan rumah barunya kosong.
Meskipun Erlang sudah menyuruh adiknya untuk menemani dirinya namun Mutiara lebih memilih tinggal di panti melepas rindu terhadap adik-adiknya di panti, Mutiara memang sudah agak lama tidak mengunjungi panti.
"Tiara..." panggil Dewi dari ambang pintu.
Mutiara meletakkan handphonenya di atas meja kemudian menoleh ke arah sumber suara. "Iya bun."
"Kamu belum makan siang kan?"
Mutiara menggeleng pelan. "Belum bun."
Dewi melangkah memasuki kamar Mutiara kemudian ia duduk di tepi ranjang di sebelah Mutiara. "Ayo makan siang dulu."
"Nanti bun, Tiara belum laper."
Tangan Dewi terangkat untuk mengelus perut Mutiara. "Mungkin kamu memang belum merasa laper tapi dia butuh asupan nutrisi." ujar Dewi dengan suara lembutnya.
"Nak Erlang tahu kalau kamu disini?"
Mutiara mengangguk. "Tahu bun."
Dewi beralih mengusap punggung Mutiara. "Ya udah kalau belum mau makan sekarang, tapi kalau udah merasa laper langsung makan ya! Kasihan si baby kalau kamu nunda-nunda makan siangnya."
"Iya bun, sebentar lagi."
Dewi beranjak dari ranjang Mutiara kemudian ia melangkah keluar dari kamar anak asuhnya.
Setelah Dewi keluar dari kamarnya, Mutiara juga beranjak dari ranjang, ia melangkah menuju jendela.
Seperti biasanya, Mutiara akan melihat bunga-bunga kesayangannya, bunga yang masih terawat meski ia meninggalkannya.
Mutiara mengusap perutnya. "Hai sayang..."
Drttt... Drttt... belum sempat ia mengajak janinnya berinteraksi, getaran handphone membuatnya mengurungkan niatnya.
Mutiara melangkah menuju ranjang kemudian kembali duduk di tepi ranjang, tangannya terulur untuk meraih handphonenya di atas meja.
Mutiara membuang napas berat saat mengetahui siapa yang menelponnya, dari siapa lagi kalau bukan dari Erlang. Erlang selalu menelponnya setiap pagi, siang dan malam hanya untuk mengingatkannya makan atau minum susu.
"Hallo kak..." jawab Mutiara setelah menggeser icon hijau pada layar handphonenya.
"Kamu udah makan siang?" tanya Erlang to the point membuat Mutiara mendengkus.
"Emm---"
"Pasti belum kan?" potong Erlang.
Mutiara meringis kaku seakan Erlang dapat melihatnya.
"Ini udah jam berapa Tiara? Jangan telat makan nanti debay kelaperan?"
Mutiara memutar bola matanya malas, benar dugaannya Erlang pasti telepon hanya untuk menyuruhnya makan. "Kak Erlang jangan lebay deh!! Kalau cuma telat bentar doang debay nggak akan kelaperan kak. Dia belum makan, dia hanya menyerap nutisinya saja."
"Nah, itu tahu. Kalau kamu telat makan maka debay akan telat menyerap nutrisinya."
Mutiara kembali membuang napas berat. "Iya ya aku makan sekarang." jawabnya pasrah meskipun sebenarnya ia belum merasa lapar karena tadi ia ngemil.
"Tiara..."
"Ya."
"Aku kangen kamu."
Mutiara menjauhkan handphone dari telinganya, ia menatap handphonenya sambil mengernyit bingung.
"Tiara..." panggil Erlang dari seberang sana karena merasa tidak mendapat respon dari Mutiara.
Mutiara kembali menempelkan handphone di telinganya. "Kak Erlang kangen debay."
"Enggak Tiara. Aku kangen kalian berdua."
Mutiara mengerjab beberapa kali, ia sedang mencerna kalimat dari Erlang dan tidak tahu harus merespon seperti apa.
"Aku tutup telfonnya ya kak, aku mau makan dulu."
"Ya udah sana cepet makan! Lusa aku akan jemput kalian."
"Iya kak."
"I miss you..." kalimat terakhir dari Erlang sebelum memutus sambungan teleponnya.
Mutiara kembali menjauhkan handphone dari telinganya kemudian menatap layar handphone yang sudah mati, apa dirinya tidak salah dengar?
*
*
Mas Erlang udah mulai pikun kayaknya. π€π€π€ Katanya tidak ingin membuat Mutiara hanyut dalam permainan ini, itu apa barusan?
Mutiara kek burung migrasi deh, pindah sana pindah sini. π π π
Kadang tinggal di rumah mama Niar, kadang di rumah mama Wina, kadang di panti terus di rumahnya sendiri, masih ada satu lagi rumahnya mama Wina yang ada di Lombok.
Udah berapa tuh??