An Agreement

An Agreement
Epilog 1



*


*


🌴🌴🌴


*


Malam yang di tunggu akhirnya datang. Malam dimana Erlang akan melamar Mutiara, seorang wanita yang pernah menjadi istrinya dan ibu dari anaknya.


Keluarga Erlang telah datang terlebih dahulu, tak berselang waktu lama di susul keluarga Adrian yang datang.


Malam ini Adrian juga akan melamar Elmira, ia datang beserta kedua orang tuanya dan Kenzo anak semata wayangnya.


Semua sudah datang dan hanya tinggal menunggu kedatangan Elmira dan Mutiara, mereka duduk di ruang tengah di temani obrolan ringan.


Elmira dan Mutiara menuruni tangga, mereka melangkah sembari menuntun Keyra, Keyra berada di tengah di antara Elmira dan Mutiara.


Mahendra tersenyum bahagia melihat kedua putrinya yang malam ini akan di pinang oleh pria yang mencintai mereka, setelah semua yang mereka berdua lewati akhirnya mereka menemukan kebahagiaan mereka masing-masing.


Yuwina pun sampai meneteskan air matanya, air mata bahagia, setelah sekian lama kedua putrinya menderita akhirnya derita itu sekarang tergantikan dengan kebahagiaan.


Elmira dan Mutiara telah sampai di ruang tengah kemudian mereka menyalami satu-persatu semua yang hadir malam ini.


"Oma tantik..." sapa Keyra pada Niar, Keyra memang memanggil Niar dengan sebutan oma cantik dan opa ganteng pada Yusuf.


Niar tersenyum kemudian menciumi pipi Keyra dengan gemas. "Keyra di pangku oma ya?"


Gadis kecil itu mengangguk antusias, Niar segera mengangkat tubuh Keyra kemudian memangkunya.


Yusuf dan Kayla yang berada di sebelah Niar pun ikut menciumi Keyra.


Erlang duduk berseberangan dengan keluarganya, ia tersenyum ketika melihat keluarganya bercengkrama dengan anaknya, ia tidak menyalahkan kedua orangtuanya yang dulu menyuruhnya menikah lagi karena ternyata memang Keyra membawa kebahagiaan bagi dirinya dan keluarganya.


"Kak!!!"


Erlang tersentak kaget kemudian menoleh ke samping dimana Mutiara berada. "Ya... kenapa Tiara?"


"Aku yang seharusnya nanya, kak Erlang kenapa? Senyam-senyum sendiri."


Erlang meraih tangan Mutiara untuk di genggamnya. "Aku bahagia Tiara, lihat anak kita, princess kecil kita membawa warna untuk keluargaku, kehadirannya membawa kebahagiaan untuk kita semua."


Mutiara ikut tersenyum kemudian ikut menatap anaknya sesaat lalu menatap Erlang. "Semoga selamanya kita semua selalu bahagia ya kak..."


Erlang mengeratkan genggaman di tangannya, senyumnya tak pernah pudar di bibirnya. "Aamiin..."


Suara Mahendra memutus obrolan mereka yang ada di ruangan tersebut, Mahendra memulai acara supaya selesai tidak terlalu larut malam, mengingat ada dua anak kecil yang ikut hadir di acara ini.


Acara pun di mulai dan Adrian yang melamar Elmira terlebih dahulu, ia mengambil alih kotak cincin yang di berikan ibunya.


Adrian membuka kotak cincin di depan Elmira serta menatap Elmira dalam. "Elmira... malam ini aku meminangmu untuk menjadi istriku, kita lanjutkan kisah cinta kita yang tertunda. Tapi bedanya kali ini aku sudah tidak sendirian, sudah ada Adrian junior yang bersamaku, maukah kamu menerima pria sepaket ini?"


Adrian meraih tangan Elmira. "Kamu mau kan menerimaku lagi?" tanyanya memastikan sebelum memasang cincin di jari manis Elmira.


Elmira tersenyum lalu mengangguk, Adrian mengambil cincin di kotak yang ia bawa kemudian memasangnya di jari manis Elmira.


Setelah itu Elmira yang mengambil pasangan cincin di kotak kemudian memasangnya di jari manis Adrian.


Setelah mereka saling memasang cincin lalu tepuk tangan riuh dari semua yang hadir mengiringi kebahagiaan Adrian dan Elmira.


Setelah sang kakak yang di pinang sekarang giliran sang adik yang di pinang.


Erlang melepas kalung yang sudah tiga tahun ia pakai, setelah kalung itu terlepas lalu ia mengambil sepasang cincin kawinnya. "Aku menjaga cincin kawin kita sama seperti aku menjaga cinta kita, tidak sedetikpun aku melepasnya, sekarang aku melepasnya untuk mengikat cinta kita."


Mutiara sudah tidak mampu menahan air matanya, Mutiara berhati lembut ia mudah sekali tersentuh.


Erlang meraih tangan Mutiara sebelum memasang cincin kawinnya. "Maukah kamu menikah denganku? Tanpa adanya batasan waktu."


"Bunda kenapa nangis?" suara Keyra membuat Erlang terkekeh. "Sepertinya kita tidak akan bisa mesra-mesraan seperti pengantin baru nantinya, anak kita pasti jadi pengganggunya." bisik Erlang.


Mutiara segera menghapus air matanya kemudian menatap Keyra sembari tersenyum. "Nggak apa-apa sayang."


"Tiara... kamu mau kan menjadi istriku lagi?"


"Kamu pasti sudah tau kan jawabnya? Untuk apa aku menolakmu sedangkan aku sangat mencintaimu. Aku dan anak kita membutuhkanmu, seorang ayah dan suami yang akan melindungi kita berdua."


"Bukan berdua." Erlang mengoreksi kata terakhir Mutiara. "Berrr..... entahlah ber berapa nanti."


Erlang memasangkan cincin kawin yang selama ini ia jaga di jari manis Mutiara, kemudian Mutiara melakukan hal yang sama, ia memasang cincin kawin di jari manis Erlang.


Tepuk tangan riuh kembali menggema di ruangan tersebut.


Acara lamaran telah selesai, sekarang mereka kembali ngobrol ringan sembari menanti hidangan yang sedang di persiapkan oleh para pembantu di rumah Mahendra.


Erlang meraih tangan Mutiara, ia menggenggamnya sembari mengusap cincin yang ia sematkan barusan. "Kamu tau kenapa cincin yang menjadi simbol seseorang untuk mengikat cinta?"


Mutiara sedikit memiringkan kepalanya untuk menatap Erlang kemudian menggeleng.


"Karena cincin berbentuk lingkaran, lingkaran yang tak berujung, di harapkan dari simbol tersebut supaya hubungan mereka nantinya juga tidak berujung atau tidak akan terpisah."


Mutiara mengangguk paham, Erlang tersenyum simpul. "Aku juga berharap hubungan kita nantinya tidak akan berujung, jadilah istriku selamanya... dunia akhirat."


*


*


Epilognya mau sampai berapa nih??


Tapi sabar ya nunggu epilognya, karena aku juga punya kesibukan lain. πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰