
*
*
Mutiara telah selesai memasak, ia melangkah menuju kamarnya untuk memanggil Erlang.
Mutiara membuka pintu kemudian melanjutkan langkahnya menuju ranjang, namun saat melihat mata Erlang yang terpejam membuat Mutiara tidak tega membangunkannya.
Mutiara duduk di tepi ranjang, tangannya terangkat untuk menyingkirkan rambut Erlang yang menutupi dahinya, andai pemilik rambut itu sedang membuka mata, Mutiara tidak akan berani melakukannya.
Siang ini sepertinya akan turun hujan, Mutiara beranjak dari ranjang menuju jendela lalu menutup jendela tersebut, setelah jendela tertutup Mutiara kembali ke ranjang kemudian menarik selimut hingga sebatas pinggang untuk menutupi kaki Erlang lalu dirinya ikut masuk ke dalam selimut.
Mereka menunda makan siang dan berakhir tidur siang.
***
Erlang membuka mata lalu mengerjab beberapa kali kemudian matanya terbuka sempurna saat menyadari bahwa saat ini dirinya berada di kamar asing.
Erlang menoleh ke samping dimana Mutiara berada dan saat itu juga dirinya ingat kalau dirinya tertidur di kamar Mutiara.
Tangan Erlang terangkat untuk menyentuh pipi Mutiara. "Pipi Tiara sekarang agak tirus tidak cubby seperti dulu." batin Erlang.
Erlang menjauhkan tanganya dari pipi Mutiara kemudian beringsut duduk lalu bersandar di kepala ranjang, dia teringat kembali dengan istrinya yang berada di rumah.
"Kak."
Suara Mutiara membuat Erlang menoleh ke arah sumber suara. "Tiara, kamu sudah bangun dari tadi?"
Mutiara beringsut duduk di sebelah Erlang. "Kak Erlang ada masalah?"
"Aku laper Tiara." kata Erlang untuk menghindari pertanyaan dari Mutiara.
Mutiara kemudian beringsut menuruni ranjang lalu melangkah menuju dapur." Ayo ke dapur."
Erlang pun melakukan hal yang sama, dia menuruni ranjang kemudian mengikuti langkah Mutiara menuju dapur.
"Tapi mungkin ayamnya sudah dingin kak, nggak apa-apa? Atau mau di angetin lagi?" tanya Mutiara sembari terus melangkahkan kakinya.
"Nggak usah di angetin, dingin juga nggak apa-apa." jawab Erlang kemudian menarik kursi lalu mendudukinya.
Mutiara menyiapkan makanan dan Erlang meletakkan sikunya di atas meja ia menunggu Mutiara yang sedang menyiapkan makanan untuk mereka sambil menopang dagu dengan tangannya, mengamati setiap gerak-geriknya Mutiara.
"Kenapa kak?" Kok ngelihatin Tiara sampai segitunya, Tiara jelek dan dekil ya kalau di dapur?" tanya Mutiara sembari meletakkan makanan terakhir di meja, ia telah selesai menyiapkan makan siang untuk mereka berdua kemudian duduk di kursi.
"Jelek dari mana, malah makin cantik loh kalau kamu sedang berkutat di dapur kayak gini, aura keibuannya jadi terpancar."
Mutiara terkekeh. "Nggak usah gombal gitu kak, Tiara nggak akan kuat."
Erlang ikut terkekeh, sejak kapan dirinya bisa menggombal?
Seperti biasa, Mutiara mengambilkan makanan untuk Erlang dan setelah itu mengambil untuk dirinya sendiri.
"Setelah ini aku anter kamu pulang ya?"
"Kalau Tiara disini dulu boleh nggak kak?"
"Boleh lah Tiara, terserah kamu."
Mereka telah selesai makan, Mutiara mulai mengumpulkan piring dan gelas kotor lalu mencucinya dan Erlang menunggu Mutiara sampai selesai.
"Udah?"
"Sudah, kak Erlang mau langsung pulang atau masih mau disini?"
"Aku mau langsung pulang tapi handphoneku masih di kamar kamu."
"Tiara ambilin kak." Mutiara beranjak dari kursinya, namun Erlang segera menahan tangannya. "Aku bisa ambil sendiri."
Erlang beranjak dari kursinya lalu berjalan menuju kamar Mutiara dan Mutiara juga ikut ke kamarnya.
"Tiara nggak jadi disini mau pulang ke rumah mama aja." ujar Mutiara.
Erlang mencabut handphonenya lalu duduk di tepi ranjang. "Kenapa berubah pikiran?"
"Nggak apa-apa, ada sesuatu yang ingin Tiara tanyakan pada Kayla."
"Ya udah kamu siap-siap, apa aja yang mau di bawa."
Mutiara mulai memasukkan barang-barang pribadinya ke dalam tas dan Erlang masih setia menunggu di tepi ranjang sembari membuka layar handphonenya, mengecek beberapa pesan yang masuk.
Erlang mendongak untuk menatap Mutiara. "Udah semua?"
"Udah, tinggal pamit sama bunda."
Erlang bangkit dari posisinya dan langsung berhadapan dengan Mutiara yang sedari tadi berdiri di depannya.
Erlang langsung memeluk Mutiara. "Terima kasih untuk semuanya Tiara."
"Terima kasih untuk apa kak?"
"Semuanya. Aku ingin berterima kasih padamu sebanyak-banyaknya, semua yang telah kamu berikan padaku."
Mutiara mengusap punggung Erlang, seorang pria yang saat ini menjadi suaminya. "Tidak perlu berlebihan kak."
Erlang melepas pelukannya. "Ayo kita pamit sama bunda."
Mutiara mengangguk lalu mereka berjalan keluar dari kamar menuju ruangan Dewi pengelola panti tersebut.
Setelah berpamitan mereka keluar dari ruangan Dewi.
Dewi menatap kepergian anak asuhnya bersama suaminya sampai mereka menghilang dari pandangannya. "Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu Tiara." do'a Dewi dalam hati.
Dewi kembali melanjutkan tugasnya mengecek semua pemasukan dan pengeluaran di panti.
"Bunda ada tamu yang mau bertemu sama bunda." kata salah satu anak asuhnya dari ambang pintu.
Dewi menghentikan kegiatannya lalu beranjak dari kursinya mengikuti langkah anak tersebut sampai di halaman panti.
"Ada yang bisa saya bantu bu?" tanya Dewi pada seorang wanita paruh baya, namun jika di lihat dari penampilannya sepertinya dia orang berada, semua yang menempel di tubuhnya barang branded.
Wanita itu tersenyum tipis. "Boleh saya masuk?"
"Oh, maaf saya sampai lupa belum mempersilahkan anda masuk, mari silahkan masuk."
Dewi berjalan menuju ruangannya dan di ikuti wanita tersebut di sampingnya.
Setelah sampai di ruangan Dewi kemudian mereka duduk di kursi.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dewi lagi.
Wanita itu mengulurkan tangannya. "Perkenalkan nama saya Yuwina panggil Wina."
Dewi menjabat tangan Yuwina. "Saya Dewi pengurus panti ini." jawab Dewi lalu melepas jabatan tangan mereka.
"Saya kesini mencari Mutiara Aulia Rinjani."
'Deg' tubuh Dewi langsung menegang, ia mencoba mencerna kalimat dari Yuwina.
"Dimana dia?" tanya Yuwina.
"Ma-- maksud anda Tiara? Anda ibunya Tiara?" tanya Dewi dengan terbata-bata karena dia masih terkejut, orang tua yang di nanti Mutiara akhirnya mencarinya setelah bertahun-tahun menunggunya.
"Ya, saya ibunya Tiara." jawab Yuwina lalu mengambil gelang mutiara sama persis dengan milik Mutiara dalam tas nya kemudian memperlihatkannya pada Dewi.
Dewi meraih gelang itu lalu menelitinya untuk memastikan bahwa itu benar-benar sama. "Tunggu sebentar." kata Dewi lalu beranjak dari kursi menuju kamar Mutiara untuk memeriksa gelang milik Mutiara yang tertinggal di kamarnya.
Dewi membuka laci di kamar Mutiara lalu mencari yang sama namun nihil gelang itu tidak ada di dalam laci tersebut, mungkin Mutiara membawanya ke rumah keluarga suaminya.
Setelah tidak menemukan apa yang ia cari, Dewi kembali lagi ke ruangannya. "Maaf bu Wina, Tiara tidak ada disini dan gelang itu di bawanya."
"Kemana Tiara?" tanya Yuwina.
"Ikut suaminya." jawab Dewi.
Yuwina terlonjak kaget dari serta membelalakkan matanya lebar-lebar. "Tiara sudah menikah?" tanyanya seakan tidak percaya, umur Mutiara masih terlalu muda untuk berumah tangga.
Dewi mengangguk, membenarkan ucapannya barusan.
*
*
Tuh ibunya Tiara sudah datang mencari anaknya.
Bagaimana reaksi Yuwina jika ia tau bahwa anaknya menikah hanya untuk memberi keturunan pada Erlang?
Apa alasan Yuwina menitipkan anaknya di panti?