
*
*
π΄π΄π΄
*
Kayla memasuki kamar orang tuanya, ia merasa kesepian saat ini, kakaknya sudah lama tinggal bersama istrinya dan Mutiara juga sudah tinggal bersama mamanya.
"Ada apa Kayla?" tanya Niar.
Niar dan Yusuf sedang duduk di sofa sambil ngobrol santai, ini memang sudah malam tapi belum larut, jadi mereka memilih ngobrol sembari menunggu kantuk datang.
"Kayla kesepian mah." keluhnya sembari duduk di ujung sofa.
"Makanya cari pacar!" sahut Yusuf, ia selalu suka menggoda anak gadisnya.
"Masih proses pah, sabar dong." dengus Kayla.
"Oya?" tanya Niar antusias.
"Deket sama siapa kamu?" selidik Yusuf.
"Papa inget Brian?"
"Febrian?" tebak Yusuf.
Kayla mengangguk.
"Brian temennya kakakmu?" tanya Niar memastikan.
Kayla memutar bola matanya malas. "Ya iyalah mah, siapa lagi?"
"Nggak mau langsung nikah sekalian?" goda Yusuf.
"Nggak!!" tolak Kayla cepat. "Kayla masih muda."
Yusuf terkekeh dia sudah menduga kalau reaksi Kayla bakal seperti itu.
"Jadian aja belum, darimana mau nikah." batin Kayla.
"Katanya tadi kesepian?"
Kayla mendengkus sebal. "Kesepian bukan berarti harus cepet-cepet nikah kan mah!"
Yusuf menyandarkan kepalanya di pundak Niar. "Papa udah ngantuk, usir Kayla dari sini mah! Yuk kita tidur."
"Papa apa-apaan sih?! Kayla baru duduk loh, udah di usir aja." protes Kayla. "Berasa anak pung--"
"Kayla, omongannya di jaga!!" potong Niar.
Kayla meringis. "Iya mah, maaf, kelepasan."
Yusuf memejamkan matanya sambil memeluk Niar. "Ayo tidur."
"Yah.. yah.. pake acara peluk-pelukkan segala lagi! Disini ada Kayla loh, anak kalian."
Yusuf dan Niar saling lirik kemudian terkekeh melihat wajah cemberut anaknya.
"Papa mama enak-enakan pelukkan, Kayla meluk siapa dong?"
"Meluk agama aja! Biar jalannya lurus nggak belok-belok." jawab Yusuf.
Kayla membelalakkan matanya. "Papa nyebelin!!!"
Yusuf dan Niar tergelak, menggoda Kayla memang hobi Yusuf, karena anak gadisnya itu gampang sekali merajuk.
Kayla beranjak dari sofa, percuma ia disini karena papanya tidak akan berhenti menjahilinya.
"Mau kemana?" tanya Yusuf.
"Tidur." jawab Kayla ngegas.
Yusuf dan Niar kembali tergelak, mereka gemas dengan anaknya.
Kayla kembali ke kamarnya, Yusuf dan Niar kembali melanjutkan obrolan mereka yang sempat tertunda sembari menunggu kantuk menyerang, sebenarnya mereka tadi tidak benar-benar mengusir Kayla, hanya sekedar menjahilinya saja, tapi ternyata Kayla malah keluar beneran dari kamar mereka.
*
π΄π΄π΄
*
Malam menjelang pagi, seorang wanita muda masih bergelung di bawah selimut. Tubuhnya bergerak gelisah menahan gejolak di dalam perutnya karena matanya masih enggan terbuka.
"Huekk... huekk..." wanita itu memuntahkan isi perutnya.
Setelah semua isi yang ada di dalam perutnya sudah habis, ia berkumur lalu meraih beberapa lembar tisu untuk membersihkan sisa-sisa cairan di sekitar mulutnya.
Dirasa perutnya sudah enakan ia kembali berjalan menuju ranjang, namun sebelum sampai di ranjang rasa mual menderanya lagi, ia kembali membekap mulutnya dan lari ke wastafel. "Huekk.. huekk.." ia muntah lagi, namun kali ini bukan sisa makanan yang ia makan tadi malam melainkan hanya cairan bening yang berhasil ia keluarkan.
Setelah dirasa sudah enakan ia berniat kembali lagi ke ranjang namun sebelum sampai ranjang rasa mual kembali menderanya yang memaksanya kembali lagi ke wastafel dan begitu seterusnya sampai berulang-ulang sampai wanita itu lemas dan enggan kembali lagi ke ranjang, ia menyandarkan tubuhnya di dinding sebelah wastafel serta memejamkan matanya, menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan untuk menetralisir rasa mualnya.
'Tok tok tok'
"Tiara..!!" panggil Yuwina dari luar kamar Mutiara, karena tidak biasanya Mutiara terlambat ke ruang makan untuk sarapan.
"Masuk mah, nggak di kunci." sahut Mutiara dari dalam.
Yuwina membuka pintu lalu melangkah memasuki kamar anaknya. "Tiara.." panggilnya lagi karena ia tidak menemukan sosok Mutiara di ranjang ataupun di ruangan kamarnya.
"Huekk..."
Yuwina berjalan cepat menuju wastafel menyusul anaknya saat mendengar suara Mutiara yang sedang muntah, dengan sigap Yuwina memijit tengkuk Mutiara.
"Sudah??" tanya Yuwina saat melihat Mutiara telah berhenti memuntahkan cairan bening dari dalam perutnya.
Mutiara hanya mengangguk, tubuhnya benar-benar lemas saat ini.
"Ayo kembali ke kamar."
Mutiara menggeleng lemah. "Tiara disini aja mah, tadi Tiara udah mencoba kembali ke kamar namun sebelum sampai di kamar, Tiara mual lagi."
"Masa mau berdiri disini terus? Ayo kembali ke kamar terus nanti mama ambilin wadah buat kamu muntah, jadi nggak usah bolak-balik kesini."
"Nggak mau!! Jijik."
"Ya sudah kamu disini dulu, mama ambilkan kursi sebentar."
Yuwina meninggalkan Mutiara yang masih berdiri di sebelah wastafel, ia mengambil kursi.
"Duduk sini Tiara! Kamu tunggu disini sebentar mama mau ambil handphonenya sebentar." ujar Yuwina.
Mutiara segera menarik lengan Yuwina. "Mama mau ambil handphone buat telfon Dokter?"
"Iya."
"Nggak usah mah, Tiara baik-baik aja kok. Cuma masuk angin biasa, bentar lagi juga sembuh."
Yuwina menatap Mutiara. "Kapan terakhir kamu datang bulan?"
Mutiara terdiam sejenak, ia sedang mengingat-ingat kapan pastinya ia datang bulan. "Baru telat beberapa hari sih mah."
"Mama ke dapur sebentar, mau ambil minyak kayu putih."
Yuwina kembali meninggalkan Mutiara, ia ke dapur untuk mengambil minyak kayu putih di kotak P3K.
Yuwina telah menemukan apa yang ia cari, namun masih belum juga kembali ke kamar Mutiara, dia sedang berjalan mondar-mandir sambil menggigit kukunya, ia sedang gelisah.
Kalau Mutiara hamil bagaimana?
Pertanyaan itu berputar di otaknya, ia tidak tau harus bahagia atau sedih kalau Mutiara benar-benar hamil.
"Mah..." panggil Mutiara dari dalam kamar.
"Sebentar." Yuwina berjalan cepat ke kamar anaknya.
"Mama lama banget sih?"
"Mama lupa naruhnya, jadi mama nyari dulu." jawab Yuwina sembari membuka tutup minyak kayu putih di tangannya lalu membalurkannya di tengkuk serta perut Mutiara.
"Udah enakan?" tanya Yuwina.
Mutiara mengangguk samar.
Yuwina kembali meninggalkan Mutiara, kali ini ia mengambil minum, tadi ia lupa karena tadi keburu di panggil oleh Mutiara.
Mutiara masih duduk di kursi dan bersandar dinding di sebelah wastafel, rasa mual itu tak kunjung mereda, padahal tubuhnya sudah tak berdaya.
Mutiara bingung dengan tubuhnya sendiri, padahal tadi malam sebelum tidur ia merasa baik-baik saja, kenapa sekarang seperti ini? Rasa mual itu benar-benar menyiksa dirinya.
Bahkan untuk kembali ke ranjangnya pun ia tidak bisa karena rasa mual itu pasti datang lagi sebelum dirinya sampai di ranjangnya.
*
*
Hei... kalian jangan pada seneng dulu! Siapa tau Mutiara cuma masuk angin biasa. π€π€π€