An Agreement

An Agreement
Bab 41



*


*


🌴🌴🌴


*


Mutiara bangun lebih awal karena ia harus ikut mengantar kedua orang tuanya ke Bandara, Yuwina dan Mahendra mengambil jadwal penerbangan di pagi hari, pesawat take off pukul 05:45 jadi sebelum jam tersebut mereka harus sudah sampai di Bandara.


Mutiara sudah rapi, padahal belum ada yang bangun dari anggota keluarga Yusuf, hanya ada bi Lastri yang sudah memasak di dapur.


Lastri menghentikan kegiatannya saat melihat Mutiara menuruni tangga dan sudah berpakaian rapi. "Non Tiara mau kemana pagi-pagi gini?"


"Aku mau nganter mama dan papa ke Bandara bi, tolong nanti kalau ada yang nanyain bilang gitu ya!" jawab Mutiara sembari mengeluarkan gelas, ia hendak membuat susu untuk mengisi perutnya.


"Biar bibi aja non."


"Tidak usah bi, cuma bikin susu doang."


Setelah selesai membuat susu, Mutiara duduk di kursi, ia sedang menunggu kabar dari mamanya.


Tak berselang waktu lama, handphonenya bergetar tanda ada pesan yang masuk, Mutiara membuka handphonenya, ternyata kedua orang tuanya sudah sampai di depan gerbang rumah Yusuf.


Mutiara segera menghabiskan susunya, ia beranjak dari kursi. "Bi, aku berangkat sekarang."


"Di anter siapa non?"


"Mama dan papa udah nunggu diluar."


"Ya udah, hati-hati non."


"Iya bi."


Mutiara keluar dari rumah Yusuf menyusul kedua orang tuanya yang sudah menunggunya di luar.


Setelah melihat kedatangan Mutiara, Yuwina menggeser tubuhnya untuk memberi tempat duduk pada Mutiara.


Mahendra duduk di depan sebelah supir pribadi mereka.


Setelah Mutiara memasuki mobil, sang supir segera melajukan mobilnya kembali membelah jalan menuju Bandara.


"Kamu yakin nggak ikut mama dan papa ke Lombok?" tanya Yuwina.


Mutiara menyandarkan kepalanya di pundak Yuwina. "Enggak mah."


Yuwina mengeluarkan kunci rumahnya lalu memberikannya pada Mutiara. "Ini kunci rumah, meskipun kamu nanti tinggal di rumah kamu sendiri tapi setidaknya kamu bisa masuk rumah kalau kamu sedang ingin memasuki rumah kita atau nginep disana."


Mutiara memasuki kunci tersebut ke dalam tasnya. "Jangan lama-lama ya mah, Tiara sendirian disini."


"Kamu di ajak juga nggak mau."


"Kalau anak Tiara udah lahir dan agak besar, kita pasti kesana, Tiara juga pengen lihat tempat tinggal mama dan tanah kelahiran mama disana."


Mahendra menoleh ke belakang untuk menatap anaknya. "Kami hanya beberapa minggu disana, kamu hati-hati ya selama kita tinggal." pesannya pada putrinya.


"Iya pah..."


Mobil berhenti, mereka telah sampai di Bandara tepat waktu, kemudian Mereka semua turun dari mobil.


Yuwina dan Mahendra memeluk putrinya bergantian sebelum benar-benar meninggalkannya.


Setelah cukup lama berpelukan mereka melepas pelukannya, Yuwina dan Mahendra meninggalkan Mutiara.


Mutiara melambaikan tangannya mengiringi keberangkatan kedua orang tuanya.


Setelah kedua orang tuanya sudah tidak terlihat, Mutiara memasuki mobilnya. "Ayo pak pulang."


"Baik non." jawab Budi, kemudian ia melajukan mobilnya.


"Pelan-pelan aja pak sambil nyari bubur ayam ya!"


"Baik non." jawab Budi lagi.


Mutiara menatap keluar jendela mencari penjual bubur ayam yang ia cari, hari ini Mutiara ingin sarapan bubur ayam.


Mobil berhenti tepat di depan sebuah ruko yang menjual bubur ayam, Budi menoleh ke belakang. "Sudah sampai non." ujarnya.


"Ayo pak kita sarapan dulu."


"Tidak usah non tadi saya sudah sarapan dari rumah."


"Ya udah. Tunggu sebentar ya pak."


Mutiara turun dari mobil lalu memasuki ruko tersebut dan memesan satu porsi bubur ayam.


Sembari menunggu pesanannya datang, Mutiara mengeluarkan handphonenya ternyata ada banyak panggilan yang masuk dan beberapa pesan dari Erlang, handphone Mutiara sejak tadi malam memang di silent hanya mode getar yang ia gunakan.


Mutiara membaca pesan yang masuk tak lain dan tak bukan hanyalah Erlang mengingatkannya untuk sarapan.


"Makasih." balas Mutiara kemudian ia meletakkan handphonenya di atas meja di sebelah teh hangatnya.


Mutiara mulai memakan buburnya, namun baru beberapa suap handphonenya kembali bergetar, Mutiara meletakkan sendoknya lalu meraih handphonenya kembali.


"Hallo kak.." jawab Mutiara setelah menggeser icon hijau di layar handphonenya.


"Kamu kemana aja Tiara? Aku telfon nggak di angkat, aku chat cuma di baca doang nggak di bales." tanya Erlang dari seberang telepon.


"Handphonenya aku silent kak jadi nggak tau kalau kamu telfon."


"Terus kenapa chat aku nggak di bales?"


"Tadinya mau aku bales tapi nanti aja soalnya aku sedang sarapan."


"Papa dan mama jadi berangkat hari ini?"


"Udah berangkat barusan."


"Ya udah kamu ke rumah mama Niar aja, nanti sore aku jemput."


"Dari tadi malam juga udah disana kak."


"Oya? Kok nggak bilang sama aku?"


"Kak Erlang kayaknya sibuk gitu jadi aku nggak berani bilang."


"Ya udah nggak usah di bahas lagi! Kamu sarapan apa hari ini?"


"Sarapan---"


"Sarapan apa?"


"Bubur ayam."


"Bi Lastri yang bikin bubur?"


"Bukan. Ini aku makan di pinggir jalan, tadi setelah nganter mama dan papa ke Bandara aku pengen makan bubur ayam terus sekalian mampir."


"Sama siapa?!" terdengar nada khawatir dari seberang sana.


"Sama pak Budi kak. Itu orangnya nunggu di dalam mobil."


"Kamu share lok sekarang! Aku akan nyusul kamu."


"Nggak usah kak, aku nggak apa-apa kok nanti setelah selesai aku langsung pulang."


"Pokonya share lok sekarang! Aku tunggu." Erlang memutus panggilannya.


Mutiara menghela napas pelan, ia segera mengirim lokasinya saat ini.


Erlang memutar roda kemudi nya setelah menerima lokasi yang di kirim oleh Mutiara, ia memang sedang dalam perjalanan berangkat ke kantor dan kebetulan keberadaannya tidak jauh dari posisi Mutiara saat ini.


Tak butuh waktu lama, Erlang telah sampai di lokasi, ia memakirkan mobilnya di sebelah mobil mertuanya yang saat ini di kemudikan supirnya.


Erlang turun dari mobil dan langsung menyusul Mutiara yang sedang memakan sarapannya.


"Tiara... kenapa kamu makan sendirian disini? Hm?" tanya Erlang sembari menarik kursi di sebelah Mutiara.


Mutiara menghentikan suapannya lalu menoleh ke samping. "Lagi pengen kak." jawabanya kemudian meminum teh hangatnya.


"Kalau kamu pengen makan bubur kan tinggal bilang bi Lastri biar di buatin yang higienis, tidak makan sembarangan seperti ini!" bisik Erlang, takutnya terdengar oleh penjualnya.


"Disini bersih kak." jawab Mutiara malas, ia merasa Erlang berlebihan.


"Setidaknya kamu bilang aku kalau kamu pengen makan sesuatu, biar aku temani kamu makan atau aku carikan, tidak sendirian seperti ini."


"Aku nggak apa-apa kak, sungguh."


Erlang menghela napas pelan kemudian ia mengusap perut Mutiara, kebiasaan yang sudah hampir satu minggu ini ia tinggalkan. "Maaf, aku tidak bisa menjadi suami dan ayah yang siaga buat kamu dan debay." ucapnya penuh sesal.


Mutiara menatap Erlang dan tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, memang ini konsekuensi kita kan dalam menjalani pernikahan ini?"


"Udah selesai kan? Ayo aku anter pulang."


"Aku di anter pak Budi kak, kamu lanjut ke kantor aja."


"Nggak apa-apa, aku anter kamu pulang dulu."


Erlang dan Mutiara beranjak dari tempatnya, sebelum meninggalkan tempat itu Erlang membayar makanan Mutiara terlebih dahulu.


Mutiara pulang bersama Erlang dan pak Budi pulang sendirian.


*


*


Maaf ya kalau aku nggak bisa bales komentar kalian satu persatu, tapi aku pasti baca kok dan aku juga sering tertawa sendiri kalau baca komentar kalian yang lucu-lucu, apalagi kalau baca komentar kalian yang kebablasan ngayal, sumpah itu lucu banget 🀣🀣🀣🀣🀣