An Agreement

An Agreement
Bab 19



*


*


🌴🌴🌴


*


"Mah Tiara mau bertemu dengan kak Erlang sebentar ya?"


Mutiara sedang berada di kamar Yuwina, ia sudah siap berangkat untuk bertemu dengan Erlang, sebelumnya Mutiara telah mengirim chat pada Erlang dan mereka akan bertemu di restoran dekat kantor, ini sudah memasuki jam makan siang.


"Tidak boleh!!"


"Hanya sebentar mah, Tiara cuma mau menyampaikan hasil dari pengadilan kemarin."


"Tapi pulang pergi di antar pak Budi."


"Iyaa.."


Mutiara melangkah meninggalkan kamar Yuwina menuju pintu utama lalu memasuki mobil. "Jalan pak!"


"Baik non."


Budi mulai melajukan mobilnya membelah jalan menuju tempat yang di tuju Mutiara.


Jalanan mulai padat karena memasuki jam makan siang.


"Ke restoran depan situ pak!" tunjuk Mutiara pada sebuah restoran kanan jalan.


"Baik non."


Budi memutar roda kemudinya ke arah kanan menyeberangi jalan lalu menuju restoran.


Mutiara telah sampai di restoran. "Pak Budi bisa tinggal dulu, nanti kalau aku udah selesai aku chat pak Budi." ujar Mutiara sebelum turun dari mobil.


"Saya tunggu disini saja non."


"Agak lama loh pak."


"Tidak apa-apa, tadi bu Wina bilang saya tidak boleh pergi kemana-mana."


"Ya sudah." kata Mutiara pasrah lalu turun dari mobil.


Mutiara berjalan memasuki restoran lalu mengedarkan pandanganya mencari sosok Erlang, tadi Erlang chat katanya sudah sampai duluan.


"Tiara.." panggil Erlang sembari melambaikan tangannya.


Mutiara melanjutkan langkahnya sampai di sebelah Erlang. "Udah lama kak?" tanya Mutiara sembari menarik kursi di sebelah Erlang lalu mendudukinya.


"Belum. Makanannya aja belum datang."


"Kak Erlang udah pesen makanan?"


"Sudah, kita tinggal nunggu pesanannya datang." jawab Erlang sembari menatap Mutiara. "Katanya ada yang mau di omongin Tiara?"


"Tiara cuma mau menyampaikan hasil di pengadilan kemarin."


"Bagaimana?"


"Gugatan cerainya belum di terima oleh pihak pengadilan, karena jarak antara terakhir kita berhubungan dan pengajuan gugatan belum memenuhi syarat, kita harus menunggu beberapa waktu lagi sampai aku benar-benar di nyatakan tidak hamil. Mengingat kasus yang terjadi sebelumnya jadi pihak pengadilan meng antisipasi."


Erlang menyatukan alisnya. "Maksudnya, kasus apa?"


"Kasus-kasus sebelumnya, ada pasangan yang mau berpisah seperti kasus kita terus pihak pengadilan mengabulkan gugatan cerainya setelah mereka pisah ternyata sang istri hamil."


Erlang merapatkan bibirnya menahan senyumnya dalam hati dia bersorak gembira dan berharap semoga Mutiara hamil sebelum perceraian itu tiba.


"Permisi.." ucap seorang waitress yang mengantar pesanan mereka kemudian ia meletakkan pesanan Erlang di meja. "Selamat menikmati." ucapnya lagi setelah selesai meletakkan semua pesanan Erlang.


"Terima kasih." jawab Mutiara.


"Kita makan dulu, ngobrolnya di lanjut nanti." ujar Erlang kemudian mulai mengambil makanannya.


Mereka makan dalam diam sampai makanan mereka habis.


Erlang menggeser piring kosongnya lalu meraih gelas berisi jus jeruk kemudian meminumnya.


"Jadi kita tidak jadi berpisah Tiara?"


"Bukan tidak jadi tapi di tunda sampai waktu yang di tentukan oleh pihak pengadilan."


"Kalau kamu hamil sebelum perceraian itu?"


Mutiara mengedikkan bahu "Entah."


Erlang meraih tangan Mutiara yang berada di atas meja. "Aku masih berharap semoga kamu hamil sebelum perceraian itu terjadi."


Mutiara menatap Erlang. "Jangan egois kak!"


"Mungkin itu tidak akan terjadi kak, buktinya sampai sekarang belum ada tanda-tanda bahwa aku hamil."


Erlang terdiam memang benar apa yang di katakan Mutiara barusan, sampai saat ini belum ada tanda bahwa Mutiara hamil.


Mutiara beranjak dari kursi. "Tiara pulang dulu kak, semua sudah Tiara sampaikan. Kita tunggu waktu itu tiba."


Erlang berdiri dan segera menarik tubuh Mutiara ke dalam pelukannya. "Sungguh aku masih berharap benihku tumbuh di rahimmu Tiara."


Mutiara bergerak-gerak hendak melepaskan diri dari dekapan Erlang. "Kak lepasin! Ini tempat umum malu di lihat orang."


Erlang masih tak bergeming, dia masih memeluk Mutiara.


"Kita tunggu nanti kedepannya gimana."


Erlang melepas pelukannya. "Aku anter pulang ya?"


"Tiara di anter sama pak Budi kak, lagian Tiara juga mau mampir jenguk papa dulu."


"Ya sudah. Ayo kita keluar."


Erlang dan Mutiara keluar dari restoran lalu berpisah di basement, mereka memasuki mobil masing-masing dan ketempat tujuan masing-masing.


"Jalan pak! Jenguk papa ya."


"Baik non."


*


🌴🌴🌴


*


Mutiara duduk di kursi ruang tunggu, ia sedang menunggu papanya datang, meskipun sebentar lagi papanya bebas tapi Mutiara ingin bertemu dengan papanya.


Beberapa saat kemudian sosok Mahendra muncul dari balik pintu.


"Papa.." Mutiara bangkit dari posisinya lalu berjalan beberapa langkah sampai di depan papanya kemudian memeluknya. "Tiara kangen papa."


Mahendra melonggarkan pelukannya lalu mencium pipi Mutiara. "Tiara... papa juga merindukanmu nak, kenapa kesini sendirian? Mamamu mana?"


Mutiara melepas pelukannya lalu duduk kembali di tempat semula. "Mama di rumah pah, mumpung Tiara lewat sini sekalian mampir."


"Emang kamu dari mana?"


"Dari---" Mutiara terdiam sejenak, dirinya dan mamanya belum menceritakan tentang pernikahannya dengan Erlang. "Tadi habis makan siang bersama temen." jawabnya tidak jujur.


"Oh.." Mahendra menarik pundak Mutiara dari samping. "Kamu tau nama panggilanmu yang dulu bukan Tiara loh."


Mutiara menoleh ke samping dimana papanya berada. "Terus siapa pah? Aulia? Rinjani?"


"Nama panggilanmu yang dulu Aulia, tapi Tiara juga bagus kok. Mau apapun nama panggilannya yang penting kamu anak papa, darah daging papa."


"Tiara boleh nanya nggak pah?" tanya Mutiara hati-hati takutnya nanti akan membuat papanya sedih.


Mahendra menaikkan satu alisnya. "Kenapa tidak boleh? Tanyakan saja apa yang mau kamu tanyakan!"


"Em... kakaknya Tiara namanya siapa pah?"


Mahendra terdiam, benar apa yang di takutkan Mutiara tadi papanya jadi teringat anak sulungnya yang belum ketemu.


"Maaf pah, papa jadi sedih gara-gara pertanyaan Tiara."


Mahendra menghela napas pelan. "Nama kakakmu hampir sama dengan namamu cuma beda nama tengahnya."


"Namanya siapa pah?" desak Mutiara tidak sabaran.


"Kenapa nggak nanya sama mamamu?"


"Lupa terus." jawab Mutiara sambil nyengir. Memang kalau dirumah ia lupa menanyakan nama kakaknya kepada sang mama, kalau di rumah yang di bahas pasti tentang pernikahannya terus.


"Mutiara Aurelia Rinjani." jawab Mahendra. "Jadi nama panggilan kamu dulu Aulia dan nama panggilan kakakmu Aurel. Nama Mutiara itu dari kakek kalian yang emang seorang pengusaha mutiara di Lombok, sedangkan nama Rinjani itu pemberian papa, Aulia dan Aurel itu nama dari mama kamu. Jelas?"


Mutiara mengangguk. "Bagusan Tiara atau Aulia pah?"


"Kan tadi papa udah bilang, siapapun nama panggilanmu yang penting kamu anak papa. Tiara aja kan kamu sudah terbiasa dengan nama itu, lagian dulu papa manggil kamu dengan nama Aulia juga kamu belum paham kan? Kamu masih bayi."


"Waktu berkunjung sudah habis." suara seorang penjaga lagi-lagi menginterubsi membuat Mutiara mendengkus sebal, ia belum puas berbicara dengan papanya pasti waktunya keburu habis.


*


*


Ini baca novel apa main teka-teki silang sih?


Hahaha nikmatin aja alurnya. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚