An Agreement

An Agreement
Bab 29



*


*


Kayla sudah siap dengan perlengkapannya, ia keluar kamar dan kebetulan saat membuka pintu kamarnya Mutiara sedang berjalan melewati depan pintu kamarnya. "Tiara..."


Mutiara menghentikan langkahnya lalu menatap Kayla dari atas sampai bawah. "Kayla, kamu mau kemana? Udah rapi gitu" tanya Mutiara, ia heran biasanya Kayla paling susah bangun pagi apalagi kalau hari libur seperti sekarang biasanya Kayla masih bergelung di bawah selimut, tapi ini sudah rapi.


"Mau jalan-jalan dong masa di rumah mulu." jawab Kayla lalu melangkah menuju tangga bersama Mutiara di sampingnya.


"Kemana?" tanya Mutiara lagi sembari menuruni anak tangga.


"Puncak Bogor."


"Sama siapa?"


"Itu." jawab Kayla sembari menunjuk seseorang yang sedang duduk di sofa ruang tamu bersama Erlang.


Mutiara tidak bisa melihat wajah seorang pria yang akan pergi bersama Kayla karena posisinya membelakangi dirinya tapi kalau di sebelah pria itu Mutiara mengenalinya, siapa lagi kalau bukan suaminya.


Kayla menarik lengan Mutiara. "Ayo aku kenalin."


Mutiara menurut, ia mengikuti Kayla sampai di ruang tamu.


"Brian..." panggil Kayla.


Brian dan Erlang menghentikan percakapan mereka lalu kompak menoleh ke belakang dimana Kayla dan Mutiara berada.


"Kenalin ini Tiara." ucap Kayla pada Brian lalu beralih menatap Mutiara. "Tiara, kenalin ini Brian."


Mutiara mengulurkan tangannya pada Brian dan Brian pun menerima uluran tangan dari Mutiara mereka saling berjabat tangan sesaat lalu melepas jabatan tangan mereka.


"Siapa dia? Kenapa sepagi ini sudah di rumah ini?" batin Brian.


Kayla duduk di sebelah Brian dan Mutiara duduk di sebelah Erlang.


"Di minum dulu sebelum kita berangkat." ujar Kayla pada Brian.


Brian meraih gelas di atas meja namun sebelum meminumnya ia menyenggol lengan Kayla. "Dia siapa?" tanya Brian berbisik sambil melirik ke arah Mutiara lalu meminum minuman yang telah di sediakan oleh bi Lastri.


"Istrinya kak Erlang." jawab Kayla juga berbisik karena orang yang mereka bicarakan ada di dekat mereka.


Brian langsung menyemburkan minumannya. "Uhuk.. uhuk..." ia sampai tersedak bahkan wajahnya sampai memerah, bagaimana Brian tidak terkejut dengan jawaban dari Kayla, Brian tahu kalau istrinya Erlang adalah Elmira meskipun ia tidak mengenal dekat dengan Elmira tetapi ia paham siapa istri Erlang dan Brian juga pernah bertemu dengan Elmira beberapa kali saat Erlang dan Elmira belum menikah dan Brian juga hadir di pernikahan Erlang dan Elmira.


Kayla langsung menepuk pelan punggung Brian dalam hati ia merutuki kebodohannya kenapa bisa sampai keceplosan.


"Kenapa lo?" tanya Erlang.


"Nggak apa-apa terlalu terburu-buru aja minumnya." jawab Brian sambil meringis.


Kayla menjauhkan tanganya dari punggung Brian. "Kita berangkat sekarang aja ya keburu siang."


"Mama papa kamu mana? Kita belum pamitan sama mereka."


"Mereka sedang jalan-jalan di sekitaran kompleks, nanti gue yang pamitin sama mereka." sahut Erlang.


"Thanks Lang, gue jalan duluan. Pinjem adek lo ya?"


"Awas,, ntar lo terkam sama dia!" Erlang berujar pada Brian tetapi ia melirik pada Kayla.


Kayla langsung memukul lengan Erlang. "Kak!!! Apa-apaan sih!!"


Erlang terkekeh. "Hati-hati, lo harus balikin adek gue utuh!! Tidak kurang suatu apapun!"


"Sipp" jawab Brian sembari mengacungkan ibu jarinya kemudian beranjak dari sofa.


"Aku berangkat kak. Tiara." Kayla mengikuti langkah Brian namun sebelum menghilang dari balik pintu ia melambaikan tangan pada Mutiara.


Mutiara tersenyum ia juga membalas lambaian tangan Kayla. "Hati-hati!"


Kayla mengangguk lalu menghilang dari balik pintu.


"Ayo kak sarapan." ajak Mutiara pada Erlang.


"Aku belum mandi."


"Ya udah sana mandi dulu!"


Erlang beranjak dari sofa ia melangkah menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


Mutiara masih duduk di sofa, ia menunggu Erlang membersihkan diri dulu setelah itu mereka akan sarapan bersama.


Setelah sampai di depan pintu ia membuka pintu tergesa-gesa dan menutupnya rapat-rapat supaya aroma ikan goreng itu tidak masuk ke kamarnya.


Mutiara langsung menghirup banyak-banyak aroma kamarnya, ia berjalan menuju balkon udara di luar di pagi hari pasti menyegarkan.


Ia membuka pintu balkon kemudian berdiri di disana, benar saja disini udaranya terasa sejuk dan bisa melihat pemandangan yang jauh di seberang sana dan taman samping rumah serta kolam renang.


Erlang telah selesai dengan ritualnya di kamar mandi, ia melangkah menuju walk in closed tetapi sebelum ia memasuki walk in closed ia melihat pintu balkon terbuka, Erlang membelokkan langkahnya menuju balkon.


"Tiara.." panggilannya saat melihat Mutiara yang sedang berdiri di balkon kamarnya.


Mutiara menoleh. "Kak.."


Erlang melanjutkan langkahnya sampai di sebelah Mutiara. "Kok kamu disini? Bukannya tadi di bawah? Katanya mau sarapan."


"Bi Lastri sedang goreng ikan kak, aku mual mencium aroma itu terus aku kesini biar nggak mual lagi."


"Ya udah, aku ganti baju sebentar setelah itu aku akan ambilkan sarapan buat kamu."


Mutiara mengangguk.


"Kamu mau sarapan apa?"


"Roti sama susu."


"Tunggu sebentar ya, kamu nunggunya sambil duduk nanti capek kalau berdiri terus."


"Nanti kalau capek aku duduk kak."


Erlang meninggalkan Mutiara yang masih di balkon, ia memasuki walk in closed mencari pakaian santai kemudian mengenakannya, setelah selesai semuanya ia melangkah keluar dari walk in closed menuju pintu keluar untuk ke dapur mengambilkan sarapan buat Mutiara, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara getaran handphone di atas nakas kemudian ia melangkah menuju nakas dimana handphonenya berada.


"Hallo mah." jawab Erlang pada seseorang yang menelpon dirinya.


"Erlang, Mira sakit badannya panas dan tubuhnya menggigil, kamu cepetan kesini kita bawa Mira ke rumah sakit." terdengar suara paniknya Hanna dari seberang telepon.


"Iya mah, Erlang kesana sekarang juga." jawab Erlang lalu menutup sambungan teleponnya.


Erlang berjalan cepat keluar dari kamarnya, menuruni tangga pun dengan tergesa-gesa.


Niar yang baru memasuki rumah pun khawatir melihat Erlang menuruni tangga dengan tergesa-gesa. "Erlang. Hati-hati! Kamu mau kemana buru-buru sekali?"


Erlang menghentikan langkahnya setelah sampai di lantai dasar tepat di sebelah mamanya. "Elmira sakit mah dan Erlang harus membawanya ke rumah sakit sekarang." jawab Erlang kemudian melanjutkan langkahnya.


Namun kembali terhenti saat ia teringat bahwa Mutiara masih di balkon belum sarapan, ia berbalik badan lagi. "Mah, tolong bawakan susu dan roti buat Tiara di kamar, dia nggak mau turun buat sarapan disini bau ikan goreng katanya dan itu membuatnya mual."


"Iyaa, kamu hati-hati jangan ngebut!"


"Makasih mah."


Niar melangkah menuju dapur untuk memanggang roti dan membuat susu hangat buat Mutiara.


"Biar saya saja nyonya."


"Tidak usah bi." tolak Niar.


Lastri kembali melanjutkan kegiatan.


Setelah semuanya selesai Niar membawa sarapan untuk Mutiara ke atas, ia memasuki kamar anaknya dan langsung menuju balkon menyusul dimana Mutiara berada.


"Tiara... ini sarapannya."


Mutiara menoleh. "Loh, mah. Kok mama yang bawain sarapan? Kak Erlang kemana?"


Niar menaruh nampan berisi roti dan susu di atas meja samping kursi tempat Mutiara duduk saat ini. "Erlang sudah pulang, katanya Elmira sakit."


Mutiara langsung terdiam hatinya mencelos sakit, ia menyadari dirinya adalah yang kedua. Sudah pasti Erlang akan lebih memperhatikan Elmira yang sedang sakit di banding dirinya yang hanya mengalami morning sickness.


Niar menyadari perubahan raut wajah Mutiara, ia meraih tangan Mutiara untuk di genggamnya. "Maafkan kami Tiara, kami telah menempatkanmu di posisi yang sulit."


*


*


Istri pertama tetap yang utama dan istri kedua tetap nomor dua.


Aww... deritanya jadi istri kedua, untung aku jadi yang pertama dan satu-satunya.


Coba kalau jadi yang kedua??? Bisa langsing tanpa diet kali ya? πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚