An Agreement

An Agreement
Bab 25



*


*


Setelah selesai mandi Erlang memakai pakaian kantornya, ia duduk di kursi depan meja rias, setelah menyisir rambutnya kini ia sedang memasukkan baju kotornya ke dalam paper bag serta memasukkan iPad ke dalam tas kerjanya.


Dirasa sudah beres semua, Erlang keluar dari kamar untuk mencari Mutiara yang sudah tidak ada di kamarnya. "Tiara..." panggilnya sembari mengedarkan pandangannya mencari sosok Mutiara.


Mutiara yang mendengar dirinya di panggil oleh Erlang langsung menghentikan kegiatannya lalu mendekati Erlang. "Ada apa kak."


"Aku berangkat dulu."


"Sarapan dulu ya?"


Erlang melirik jam di pergelangan tangannya. "Ayo." jawab Erlang sembari melanjutkan langkahnya mengikuti langkah Mutiara menuju ruang makan.


Erlang dan menarik kursi lalu mendudukinya. "Mama mana?" tanya Erlang setelah membalikkan piring kosongnya lalu menyerahkannya pada Mutiara.


Mutiara mengambil alih piring kosong dari tangan Erlang lalu mulai mengisinya. "Mama udah sarapan duluan dan sekarang di ruang kerja." jawabnya lalu menyerahkan piring Erlang yang sudah terisi sarapannya.


Setelah makanan untuk Erlang selesai kemudian Mutiara mengambil untuk dirinya sendiri lalu duduk di kursi sebelah Erlang.


"Kok makannya cuma segitu Tiara?" tanya Erlang saat melihat makanan yang di ambil Mutiara hanya sedikit. "Kalian berdua loh, makan yang banyak."


"Ini aja belum tentu habis kak."


Erlang teringat sesuatu, ia beranjak dari kursi. "Aku ke mobil sebentar." Erlang berujar sembari melangkah meninggalkan ruang makan tersebut.


"Kemana kak?"


"Ambil sesuatu." jawab Erlang sedikit berteriak karena jarak mereka sudah agak jauh.


Mutiara melanjutkan makannya, meskipun sebenarnya ia tidak berselera namun ia memaksanya biar bagaimanapun bayinya butuh asupan nutrisi.


Erlang telah kembali lalu meletakkan sebuah kantong plastik berisi beberapa kaleng susu hamil di atas meja lalu kembali duduk di tempat semula.


"Banyak banget kak?"


"Kapan ke dokternya?" tanya Erlang sebelum melanjutkan makannya tanpa menanggapi protes dari Mutiara.


"Belum tau."


Erlang melanjutkan makannya dan Mutiara hanya menatap Erlang yang sedang memakan sarapannya.


"Kalau mau ke dokter bilang aku ya, nanti aku anter." Erlang berujar sembari menggeser piring kotornya lalu meminum teh hangat.


"Iya."


Erlang beranjak dari kursi. "Aku berangkat dulu." ucapnya lalu melangkah meninggalkan Mutiara yang masih duduk di kursinya.


"Tunggu kak."


Erlang menghentikan langkahnya lalu membalikkan tubuhnya. "Ada apa Tiara?"


Mutiara beranjak dari kursi lalu melangkah beberapa langkah sampai di depan Erlang kemudian meraih tangan kanan Erlang lalu mencium punggung tangannya. "Hati-hati."


Erlang tersenyum lalu mengacak rambut Mutiara setelah itu ia membalikkan tubuhnya kemudian melanjutkan langkahnya menuju pintu utama.


Mutiara menatap punggung Erlang yang kian menjauh sampai menghilang di balik pintu, setelah kepergian Erlang tangan Mutiara terangkat untuk mengusap perutnya. "Maafkan bunda nak, kehidupanmu kedepannya mungkin tidak akan seperti anak-anak lainnya, seharusnya bunda dulu tidak menyetujui perjanjian itu. Tapi bunda mencitai ayahmu." lirihnya pelan.


"Tiara..."


"Iya mah."


"Itu ada yang ngetuk pintu kok nggak di buka?"


Mutiara langsung menajamkan pendengarannya, benar saja ada suara ketukan di pintu utama. "Maaf mah tadi nggak denger."


"Biar mama aja." ujar Yuwina lalu melangkah menuju pintu utama.


Mutiara kembali ke ruang makan untuk membereskan meja makan.


"Tiara..."


Mutiara menghentikan kegiatannya lalu menoleh ke arah sumber suara." Mama?"


Niar berjalan cepat sampai di depan Mutiara lalu memeluknya. "Gimana cucu mama? Sehat?"


Mutiara melepas pelukannya. "Sepertinya dia agak nakal mah."


Niar mengusap lembut perut Mutiara. "Oya?? Nakal gimana?" tanya Niar penasaran.


"Papa boleh peluk menantu papa nggak sih mah?" suara Yusuf memotong percakapan antara Niar dan Mutiara.


Niar mundur untuk memberi tempat pada suaminya yang ingin memeluk menantunya.


Yusuf berjalan sampai di depan Mutiara kemudian memeluknya. "Papa bahagia sekali Tiara, terima kasih."


"Mari silahkan duduk." Yuwina berujar untuk mengajak tamunya duduk di ruang tamu.


Yusuf melepas pelukannya. "Ayo kita duduk."


"Sudah ke dokter belum Tiara?" tanya Niar setelah duduk di kursi ruang tamu.


"Belum mah."


"Kok belum?" kali Yusuf yang bersuara.


"Kemarin kan baru tes sendiri pah, mah."


"Nanti ke dokter ya? Papa anter."


"Iya pah."


*


🌴🌴🌴


*


Erlang menyempatkan diri untuk mampir ke rumah istri keduanya, dan itu mungkin akan ia lakukan rutin selama istri keduanya itu hamil. Sebelum dan setelah pulang kerja Erlang akan mampir untuk melihat kondisi istri dan calon anaknya.


Mutiara saat ini sudah di kamar dan bersiap untuk istirahat meskipun sebenarnya ia belum ngantuk.


Pintu kamar terbuka dari luar, ia memang belum mengunci kamarnya, entah mengapa ia sangat berharap kalau Erlang akan datang.


Benar saja, yang memasuki kamarnya adalah Erlang, ia memasuki kamar lalu menutup pintu.


"Kak Erlang? Ini sudah malam ngapain kak Erlang kesini?" tanya Mutiara setelah Erlang berdiri di sebelah ranjang.


Erlang duduk di tepi ranjang. "Kok ngapain sih? Ya mau bertemu anakku lah." jawabnya kemudian mencondongkan tubuhnya untuk memberi kecupan pada sang anak yang masih di dalam kandungan.


Mutiara tersenyum tipis lalu tangannya terangkat untuk mengusap bahu Erlang. "Kak Erlang capek? Mau aku pijitin lagi?"


Erlang menegakkan tubuhnya. "Tidak usah. Kamu udah minum susu?"


Mutiara bangkit dari posisinya. "Aku lupa kak, sebentar aku ke dapur dulu."


Erlang langsung mencekal lengan Mutiara yang hendak menuruni ranjang. "Biar aku aja."


Mutiara mengurungkan niatnya dan membiarkan Erlang yang membuat susu untuknya.


Tak butuh waktu lama, Erlang sudah masuk kamar berserta segelas susu untuknya lalu menaiki ranjang. "Nih susunya."


Mutiara mengambil alih susu dari tangan Erlang dan langsung meminumnya, setelah tinggal sedikit Mutiara menaruh gelas di atas meja.


"Kok nggak di habiskan?"


"Udah kenyang kak, kalau di paksa nanti malah muntah."


Erlang menarik tubuh Mutiara ke dalam pelukannya. "Tidurlah aku akan disini sampai kamu tidur."


Dengan senang hati Mutiara langsung menyandarkan kepalanya di dada Erlang, memang itu yang ia inginkan, menghirup aroma tubuh Erlang.


"Kamu nggak ngidam Tiara?"


Mutiara menggeleng tanpa merubah posisinya.


"Gimana tadi, apa kata dokter?"


"Semua sehat, suruh istirahat yang cukup, makan makanan yang bergizi, tidak boleh capek dan stress."


"Terus apa la--"


Getaran handphone dari dalam saku celananya membuat Erlang menyimpan kembali pertanyaannya lalu merogoh handphonenya.


"Iya Mir."


"....."


"Iya, sebentar lagi aku sampai rumah."


Erlang memutus panggilannya lalu mengembalikan handphonenya ke tempat semula, setelah itu menatap Mutiara. "Maaf Tiara aku pulang dulu ya? Tidak apa-apa kan?"


Mutiara menjauhkan tubuhnya. "Tidak apa-apa." jawabnya terpaksa.


Erlang menuruni ranjang sebelum ia melangkah Erlang menyempatkan diri untuk memberi kecupan lagi pada sang anak. "Jangan nakal ya sayang!" pesannya pada sang anak.


"Aku pulang Tiara." ucapnya pada Mutiara lalu melangkah menuju pintu keluar.


Mutiara hanya bisa menatap punggung Erlang yang kian menjauh dan semakin jauh sampai menghilang dari pandangannya, air matanya mengalir di pipinya. Bolehkah dirinya egois? Jika boleh ia ingin memiliki Erlang seutuhnya.


Tangain terangkat untuk mengusap lembut perutnya. "Biarkan ayah pergi sayang, karena dia bukan hanya milik kita."


*


*


Wah gara-gara nonton drakor jadi lupa update kan, sekarang nonton drakor nya malam, soalnya kalau siang takut batal puasanya 🀭🀭🀭


Sebenarnya setelah nonton drakor sempat mengkhayal buat ngelanjutin cerita ini tapi aku mengkhayalnya kebablasan, jadi lupa ngetik deh. πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜