
*
*
π΄π΄π΄
*
Sebenarnya Hanna sudah sampai di rumah sakit semenjak tadi, namun saat ia hendak membuka pintu ruang ICU ia melihat Erlang bersama seorang pria paruh baya dan ia bisa langsung mengenali siapa pria itu, siapa lagi kalau bukan pria yang di cintainya dulu, seorang pria yang membuatnya patah hati dan frustasi.
Hanna menjauh dari ruang ICU ia tidak berani menampakkan diri di depan Mahendra, Hanna mengawasi Erlang dan Mahendra dari jauh, ia akan menjenguk Elmira setelah kepergian Mahendra.
Meskipun Elmira bukan anaknya, namun Hanna juga mempunyai rasa sayang pada Elmira, seorang anak yang telah ia besarkan dan seorang anak yang telah menemaninya kurang lebih 23 tahun lamanya.
Dulu sebenarnya Hanna ingin mengambil 2 anak perempuan kakak beradik sekaligus namun anak yang satunya tidak berada di panti tempat ia mengadopsi Elmira, entah dimana pengasuh itu menitipkan bayi itu Hanna tidak tahu, Hanna kehilangan jejak sang pengasuh kedua anak perempuan itu.
Akhirnya Hanna hanya mengadopsi sang kakak, karena sang adik di panti yang berbeda, mungkin satu anak cukup untuk membuat menderita seorang pria yang telah menyia-nyiakan cintanya.
Hanna berjalan mendekati Erlang yang sedang duduk di kursi tunggu sembari menyadarkan kepalanya di dinding. "Kamu baru sampai Lang?" tanyanya basa-basi.
Erlang menegakkan tubuhnya ia menatap sang mertua. "Sudah dari tadi mah, mama baru sampai?" tanya Erlang balik.
"Oh-- Mama sudah datang dari tadi, ini habis dari toilet." jawabnya berdusta.
Erlang mengangguk kemudian menyandarkan kepalanya kembali, ia lelah dan juga mengantuk ia hanya tidur beberapa jam saja saat menunggu Mutiara belum sadarkan diri.
"Mama masuk dulu." ujar Hanna dan di jawab anggukan pelan oleh Erlang.
Hanna membuka pintu ruang ICU kemudian melangkah masuk, ia berdiri di sebelah ranjang Elmira kemudian menatap Elmira yang masih berbaring lemah tak berdaya.
Hanna memikirkan bagaimana nasibnya selama Elmira koma, ia tidak mempunyai barang-barang yang bisa ia jual. "Istirahatnya jangan lama-lama ya Mir! Mama mau makan apa kalau kamu koma begini?" gumamnya pelan.
Detik berikutnya ide cemerlang melintas di otaknya, ia akan menjual barang-barang branded milik Elmira, pasti di rumah Elmira masih banyak barang yang bisa ia jual.
Hanna keluar dari ruang ICU, ia akan pulang ke rumah Elmira untuk mengambil barang-barang yang bisa ia jual.
"Mumpung kamu masih disini, mama pulang dulu ambil baju ganti." kata Hanna setelah sampai di sebelah Erlang.
"Iya mah."
Hanna meninggalkan Erlang yang masih duduk di kursi tunggu, ia akan ke rumah Elmira.
*
π΄π΄π΄
*
Setelah 1 minggu di rawat di rumah sakit akhirnya hari ini Mutiara sudah di perbolehkan pulang oleh dokter namun ia tetap harus bedrest di rumah.
Bi Inah sedang membereskan barang-barang milik Mutiara, Yuwina dan Mahendra menunggunya sembari duduk di sofa.
Mutiara bangkit dari posisinya kemudian Erlang mengangkat tubuh Mutiara untuk di pindahkan ke kursi roda.
"Aku pulang ke rumah mama aja ya kak?" pinta Mutiara lagi, sedari tadi ia sudah memintanya namun Erlang belum juga mengijinkannya.
Erlang mulai mendorong kursi roda tersebut menuju pintu keluar. "Rumah itu milik kamu Tiara, kenapa kamu tidak mau tinggal di rumah itu?"
"Bukannya tidak mau kak, tapi kalau aku di rumah itu nanti aku tinggal sama siapa? Hanya bi Inah, kalau di rumah mama kan ada papa juga." Mutiara beralasan, sebenarnya ia tidak ingin tinggal di rumah itu karena ia ingin menjaga jarak dengan Erlang, ia ingin membiasakan diri hidup tanpa Erlang, meskipun hasil tes DNA itu belum keluar.
Erlang berhenti mendorong kursi rodanya kemudian ia membungkuk lalu menatap Mutiara dari samping. "Di rumah itu bukan hanya ada bi Inah, ada aku juga, suami kamu."
"Kamu tinggal di rumah kamu juga nggak apa-apa Tiara, nanti mama sama papa akan sering kesana." Mahendra bersuara menyetujui keputusan Erlang, biar bagaimanapun Mutiara istrinya Erlang dan Erlang berhak atas Mutiara.
Mutiara akhirnya menyetujui keputusan Erlang, setelah Inah selesai membereskan barang-barang Mutiara mereka pulang.
Mahendra dan Yuwina tidak ikut pulang karena mereka akan ke rumah sakit untuk menjenguk Elmira, setelah menjenguk Elmira barulah mereka akan ke rumah Mutiara.
Mereka telah sampai di rumah. Erlang membantu Mutiara turun dari mobil kemudian ia membungkuk hendak membopong Mutiara namun Mutiara menolaknya, akhirnya Erlang hanya memapah Mutiara memasuki rumah mereka.
Langkah Mutiara terhenti saat hendak menaiki tangga, ia teringat pesan dokter supaya tidak terlalu capek, tidak mungkin ia akan menaiki anak tangga yang jumlahnya lumayan banyak itu pasti akan membuatnya capek. Mutiara menoleh pada Erlang. "Kak, aku tidurnya dimana?"
"Ya di kamar kita dimana lagi?"
Mutiara menatap Erlang dan anak tangga bergantian membuat Erlang paham dengan apa yang ada di pikiran Mutiara saat ini, ia segera mengangkat tubuh Mutiara membuat sang empu menjerit kaget. "Kak!!! Jangan gendong aku naik tangga!! Kalau jatuh gimana?!!"
Erlang terkekeh bobot Mutiara tidaklah berat baginya, ia tidak akan terbebani saat menaiki tangga sambil menggendong Mutiara. "Tenang aja Tiara! Kamu diem, nurut aja kalau kamunya gerak malah nanti aku kehilangan keseimbangan." ucapnya enteng.
Mutiara akhirnya pasrah, ia diam sampai di kamar mereka.
Erlang membaringkan tubuh Mutiara di ranjang. "Kamu mau makan sesuatu atau minum?"
"Enggak kak."
"Ya sudah." Erlang berbalik untuk menutup pintu kamarnya kemudian ikut naik ke ranjang, ia membawa Mutiara ke dalam pelukannya. "Kenapa tadi kamu ngotot mau tinggal di rumah mama Tiara? Kamu kan pernah janji kalau kamu akan tetap disini."
Mutiara menyembunyikan wajahnya di dada Erlang, ia tidak berani menatap Erlang.
Erlang melepas pelukannya kemudian mengangkat wajah Mutiara. "Kenapa? Hm?"
Mau tidak mau akhirnya Mutiara menatap Erlang, namun tidak ada satu kata pun yang berhasil ia ucapkan, ia tidak pandai dalam berbohong.
Erlang menangkup kedua sisi wajah Mutiara dengan kedua tangannya, ia menatap Mutiara dalam. "Jangan mencoba menjauhiku Tiara."
Mutiara terdiam, ternyata Erlang bisa merasakan jika ia sedang berusaha membiasakan diri tanpa Erlang.
"Jangan coba-coba menjauhiku apalagi meninggalkan aku." pinta Erlang kemudian ia mendekatkan wajahnya, ia mencium kening Mutiara berlanjut di kedua pipinya dan kecupan singkat di bibirnya. "Aku sayang kamu Tiara, aku cinta kamu. Aku mau kita membesarkan anak kita bersama."
"Aku juga cinta kamu kak." jawaban dari Mutiara membuat senyum Erlang terbit di sudut bibirnya.
"Bahkan jauh sebelum adanya pernikahan kita." senyum Erlang langsung memudar ia terbelalak kaget, sungguh ia tidak menyadari perasaan Mutiara padanya.
"Tapi bagaimana dengan kak Mira?"
"Aku akan berpisah dengannya setelah dia sadar."
"Jangan jahat kak!"
"Lebih jahat mana aku sama dia? Dia udah mencelakai kamu dan anak-anak kita."
Mutiara membuang napas berat, sudah berulang kali mengatakan pada Erlang bahwa Elmira melakukan itu karena ia ingin mempertahankan apa yang ia punya.
Erlang menarik tubuh Mutiara ke dalam pelukannya lagi. "Jangan bahas dia lagi!" pintanya.
*
*
Mas Erlang egois nggak sih kalau dia mempertahankan Mutiara dan anaknya??
Jangan lupa vote komen dan follow yes!!! πππ