
*
*
Erlang mematikan sambungan teleponnya, ia berpikir sejenak kemudian ia teringat dengan papanya. Ya, papanya pasti bisa di mintai tolong lagi pula jarak antara rumah papanya dan rumahnya lebih dekat di banding dengan keberadaan dirinya saat ini.
Erlang duduk di tepi ranjang tepat di sebelah Mutiara. "Tahan sebentar ya Tiara aku telfon papa dulu."
"Iya kak, kasian kak Mira dia terabaikan gara-gara aku."
"Kalian sama-sama penting buat aku."
Erlang kembali membuka layar handphonenya lalu mencari kontak papanya kemudian menekan icon hijau.
"Erlang? Ada apa telfon papa pagi-pagi gini?" sahut Yusuf dari seberang sana.
"Pah, tolong bawa Elmira ke rumah sakit! Erlang sekarang berada di rumah Tiara tadi malem dia terpeleset di kamar mandi dan Erlang harus membawanya ke rumah sakit sekarang juga."
Terdengar helaan napas dari seberang sana.
"Baiklah papa dan mama akan ke rumah kamu sekarang."
"Makasih pah."
Erlang memutus sambungan teleponnya lalu mengantonginya di saku celananya. "Kita ke rumah sakit sekarang Tiara."
Mutiara hanya bisa pasrah ia memang sudah tidak tahan lagi menahan rasa sakitnya.
Erlang mengangkat tubuh Mutiara keluar dari kamarnya.
"ERLANG. TIARA KENAPA??!!" teriak Yuwina dari dapur, Yuwina langsung mematikan kompornya kemudian berlari kecil menyusul Erlang yang sedang membopong anaknya.
Erlang menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke arah Yuwina yang sedang berlari ke arahnya. "Tadi malem Tiara terpeleset di kamar mandi mah." jawabnya setelah Yuwina sampai di depannya.
"PAH... PAPA..." Yuwina kembali berteriak memanggil suaminya yang masih di dalam kamar.
Mahendra keluar kamar, ia berjalan tergopoh-gopoh saat mendengar teriakkan dari istrinya, langkah Mahendra terhenti di belakang Erlang. "Ya Tuhan Tiara... kamu kenapa nak?"
"Tiara terpeleset pah." jawab Yuwina.
"Ayo ke rumah sakit sekarang, biar papa yang nyetir."
Mereka ber empat keluar dari rumah, tidak memperdulikan penampilan mereka yang masih memakai piyamanya, yang mereka pikirkan saat ini adalah keselamatan Mutiara dan janinnya.
Yuwina membuka pintu mobil penumpang bagian belakang kemudian membantu Erlang memasukkan Mutiara ke mobil, setelah Mutiara masuk Erlang langsung ikut memasuki mobil.
Mutiara dan Erlang telah masuk mobil di susul Yuwina dan Mahendra juga masuk mobil.
Mahendra yang menyetir, Yuwina di sebelahnya, Erlang dan Mutiara duduk di belakang.
Erlang menarik kepala Mutiara supaya bersandar di dadanya, tangan kiri Erlang memeluk Mutiara sedangkan tangan kanannya mengusap lembut perut Mutiara. "Yang kuat nak, kita akan menolong kamu, kita ke rumah sakit sekarang. Ayah sayang sama kamu, bertahanlah demi ayah dan demi kami semua yang menanti kehadiranmu." lirih Erlang kemudian ia memeluk tubuh Mutiara dengan kedua tangannya. "Tiara, kamu masih kuat kan?"
Mutiara hanya mengangguk samar dan sesekali meringis menahan sakit yang teramat sangat.
Tak henti-hentinya Erlang melafalkan do'a memohon pada Tuhan untuk keselamatan istri dan calon anaknya.
Erlang juga merutuki kebodohannya, kenapa tidak membawa Mutiara ke rumah sakit sejak tadi malam? Andai Mutiara mendapatkan pertolongan secepatnya mungkin keadaannya tidak akan seperti sekarang, Mutiara sudah tak berdaya.
Kedua tangan Mutiara yang melingkar di pinggang Erlang perlahan merosot, jemari yang bertautan perlahan terlepas dan Mutiara menutup matanya rapat.
"TIARA... BANGUN TIARA!!" teriak Erlang panik, ia menepuk-nepuk pipi Mutiara. "Jangan bikin aku takut Tiara. Bangun!! Bertahanlah." mata Erlang terasa memanas ada cairan yang memaksa ingin keluar dari matanya saat melihat kondisi Mutiara yang tidak sadarkan diri. Bagaimana jika dirinya kehilangan anaknya? Bagaimana jika dirinya kehilangan Mutiara? Erlang menggeleng cepat. "Ya Tuhan selamat kan istri dan anakku." doa Erlang. "PAH LEBIH CEPAT!! TIARA PINGSAN."
"Hati-hati pah." Yuwina memperingatkan suaminya.
"Iya, ini papa juga udah hati-hati." jawab Mahendra tanpa menoleh, tatapannya lurus kedepan fokus pada jalan di sekitarnya.
Jarak antara rumah dan rumah sakit memang agak jauh dan akhirnya mereka telah sampai.
Mahendra langsung mematikan mesin mobilnya, ia buru-buru turun untuk meminta pertolongan dan mengambil ranjang brankar.
Ranjang brankar telah tersedia bersama seorang perawat, Mahendra membantu Erlang menurunkan Mutiara dari mobil lalu memindahkannya di ranjang brankar.
Mereka mendorong ranjang brankar tersebut menuju IGD.
Sampai di depan IGD Mutiara laangsung masuk bersama seorang perawat. Erlang, Mahendra dan Yuwina menunggu di luar, tak berselang waktu lama seorang dokter dan ikuti beberapa orang perawat juga memasuki ruangan tersebut.
Yuwina dan Mahendra duduk di kursi tunggu di depan ruangan sedangkan Erlang berdiri bersandar dinding, ia masih merutuki kebodohannya kenapa tidak membawa Mutiara sejak tadi malam.
Yuwina yang melihat Erlang seperti itu akhirnya ia beranjak dari kursi kemudian melangkah sampai di samping Erlang, tangannya terangkat untuk mengusap bahu Erlang. "Erlang, kita tunggu di kursi nanti kamu capek kalau berdiri terus."
Erlang menoleh ke samping dimana mertuanya berada. "Bagaimana kondisi Tiara mah?"
Yuwina membuang napas berat. "Kita berdo'a semoga tidak terjadi apa-apa pada Tiara dan anak kalian."
Yuwina menuntun Erlang sampai di kursi tunggu, Erlang duduk di sebelah Mahendra, ia duduk menunduk dengan siku berada di atas lutut nya serta menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Mahendra kini yang menepuk bahu Erlang. "Yang sabar, semua akan baik-baik saja."
Erlang mengangkat kepalanya kemudian menoleh sesaat pada Mahendra. "Makasih pah." ucapnya kemudian ia kembali ke posisi semula.
Setelah menanti cukup lama akhirnya pintu IGD terbuka dan muncullah seorang dokter yang menangani Mutiara dari balik pintu.
Erlang langsung bangkit dari posisinya, ia berjalan cepat sampai di depan dokter tersebut. "Bagaimana keadaan istri dan anak saya dok?" tanyanya to the point.
Yuwina dan Mahendra juga beranjak dari tempatnya mereka tidak juga ingin tahu bagaimana kondisi putrinya dan calon cucunya.
Dokter menghela napas pelan. "Usia kandungan pasien masih di trimester pertama jadi masih rentan keguguran, namun kandungan istri anda masih kuat hanya saja pasien butuh bedrest pasien harus di rawat beberapa hari disini." jelas dokter.
Mereka bertiga bisa bernapas lega setelah mendengar penjelasan dari dokter.
"Syukurlah..." gumam Erlang. "Lakukan yang terbaik dok!"
"Itu sudah pasti pak."
"Boleh kami masuk?" tanya Yuwina, ia juga tidak sabar ingin melihat kondisi putrinya.
"Tidak usah bu, sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke kamar rawat, anda bisa menemani pasien disana dan ingat pasien butuh banyak istirahat."
Benar saja tak lama kemudian beberapa orang perawat mendorong brankar yang di tempati Mutiara.
"Terima kasih banyak dok." ujar Erlang kemudian ia mengikuti Mutiara menuju kamar rawatnya.
*
*
Haishh.. ngetiknya jadi ikutan tegang πππ
Napas dulu ah.. πππ