An Agreement

An Agreement
Bab 17



*


*


"Ini sudah malam Tiara kenapa kamu masih diluar? Ayo masuk." ujar Erlang setelah memakaikan jas nya di bahu Mutiara lalu menarik tangan Mutiara.


Mutiara menahan tangannya yang di tarik oleh Erlang. "Tiara masih mau disini kak."


"Ada masalah?"


"Kok kak Erlang bisa disini?" Mutiara tidak menjawab pertanyaan Erlang namun malah melontarkan pertanyaannya.


"Tadi mama chat aku katanya kamu disini, jadi pulang dari kantor aku mampir kesini dulu. Kenapa kamu nggak bilang kalau mau nginep disini? Waktu itu kan aku bilang kalau kamu pulang kesini aku nyuruh kamu kabarin aku."


Mutiara melepas pegangan tangan Erlang. "Ada yang mau Tiara omongin kak."


Erlang melangkah beberapa langkah sampai di sebelah Mutiara kemudian berpegangan pada railing stainless di balkon serta menatap lurus kedepan sama persis seperti yang Mutiara lakukan. "Ngomong apa Tiara?"


"Aku mau kita pisah kak." kata Mutiara lalu menunduk.


Tubuh Erlang langsung menegang, sungguh sebenarnya Erlang sudah berharap akan segera memiliki anak, dia sudah membayangkan kalau dia akan segera memiliki bayi yang lucu dan mirip dirinya.


Kecewa? Itu pasti, sangat kentara di wajah Erlang saat ini, namun dirinya tidak boleh egois dengan memaksa Mutiara untuk mengandung anaknya.


"Maafkan Tiara kak, bukan maksud Tiara memberi harapan palsu dengan mau menerima perjanjian ini lalu sekarang meminta pisah sebelum bayi itu hadir." Mutiara menumpahkan air matanya, sebenarnya dirinya juga berat berpisah dengan Erlang. "Tiara tidak akan sanggup berpisah dengan anak Tiara kak."


"....." Erlang belum bisa berkata apa-apa, dirinya juga bingung harus bagaimana, ini sangat mengejutkan, di saat dirinya sudah menaruh harapan besar pada Mutiara namun ternyata hanya kekecewaan yang ia dapatkan.


Mutiara menoleh untuk menatap Erlang. "Kenapa diam kak?" tanya Mutiara dengan pipi yang basah karena air mata.


Erlang akhirnya menoleh lalu menatap Mutiara, tangannya terangkat untuk menghapus air mata di pipi Mutiara. "Jika itu memang keputusanmu aku tidak akan memaksa."


"Maafkan Tiara kak."


Erlang menarik tubuh Mutiara ke dalam pelukannya. "Aku yang seharusnya minta maaf Tiara, karena aku telah mengambil sesuatu yang paling berharga dalam dirimu."


Mutiara hanya terisak dalam pelukan Erlang.


"Aku akan menunggu gugatan cerai darimu." ujar Erlang lalu melepas pelukannya.


Mutiara masih menangis, ia menatap Erlang dengan air mata yang mengalir di pipinya.


"Jangan menangis Tiara. Aku tidak tega melihatmu menangis, apa yang kamu tangisi? Bukankah ini keputusanmu?"


Mutiara tidak berhenti menangis namun malah tambah terisak sampai sesegukan.


Akhirnya Erlang memeluk Mutiara lagi untuk menenangkannya, cukup lama Erlang memeluk Mutiara sampai pelukan itu terlepas paksa.


"Jadi jam segini kamu belum pulang ke rumah karena mampir kesini dulu?!!" kata Elmira setelah menarik tangan Mutiara untuk melepas paksa acara peluk-pelukkan antara suaminya dan istri mudanya.


"Mira...?" Erlang terkejut dengan kedatangan Elmira.


"Kenapa? Kaget? Aku bisa disini? Kamu tuh ya! Udah tau hubungan kita akhir-akhir ini sedang tidak baik, bukanya pulang cepet malah mampir kesini dulu! Ini bukan jadwal masa suburnya dia kan?!! Kamu hanya ingin berduaan dengannya kan?" cecar Elmira.


"Kamu ngomong apa Mir? Jangan ngaco!"


Mutiara melangkah untuk meninggalkan Erlang dan Elmira yang sedang bertengkar namun dengan cepat Elmira menarik pergelangan tangannya. "Jangan kabur lo! Setelah lo bikin hubungan gue dengan suami gue berantakan terus dengan enaknya lo kabur!!"


"Tiara hanya tidak mau menambah suasana menjadi semakin panas dengan kehadiran Tiara disini."


"Suasana disini panas gara-gara lo!!"


"MIRA CUKUP!!!" Erlang sudah tidak bisa lagi menahan emosinya, istrinya benar-benar kembali seperti dulu, ngomong kasar dan suka kelayapan tengah malam.


"KAMU LEBIH BELA DIA DARI PADA AKU??!!" Elmira tak mau kalah dengan bentakan Erlang.


Mutiara melepas paksa cengkraman tangan Elmira lalu berlari meninggalkannya mereka bedua, dirinya tidak mau menambah runyam keadaan dengan kehadirannya disini.


Erlang menarik napas dalam sembari memejamkan matanya sesaat lalu membuka mata sembari menghembuskan napasnya pelan, ia sedang mencari kesabaran dan menahan emosi. "Jaga suaramu Mira, jangan sampai papa dan mama mendengar pertengkaran kita."


"Kamu yang mulai duluan!!"


"AKU NGGAK MAU!!!." jawab Elmira lalu meninggalkan Erlang.


Erlang mengepalkan tangannya lalu meninju di udara. "Kenapa semua jadi begini?" gumamnya lalu duduk di kursi yang ada di balkon, Erlang mencengkram rambutnya kuat, dirinya benar-benar frustasi saat ini, Mutiara minta pisah dan hubungannya dengan Elmira juga sedang memburuk.


Cukup lama Erlang berada di balkon, ia melirik jam di pergelangan tangannya ternyata sudah larut malam, Erlang bangkit dari posisinya lalu berjalan keluar kamar.


Erlang menuruni tangga lalu melihat Mutiara sedang duduk di ruang makan ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, entah sudah berapa lama Mutiara duduk disitu Erlang juga tidak tau.


Erlang membelokkan langkahnya menuju ruang makan, niatnya tadi mau pulang kerumahnya namun ia menundanya.


"Tiara."


Mutiara menoleh ke arah sumber suara. "Kenapa kak Erlang belum pulang?"


Erlang menarik kursi di sebelah Mutiara lalu mendudukinya. "Ini mau pulang, istirahat Tiara ini sudah larut malam."


Mutiara menuruti kata Erlang ia beranjak dari kursi.


"Erlang, Tiara, kalian ngapain malem-malem disini?"


Mutiara dan Erlang kompak menoleh ke arah sumber suara. "Papa?"


Yusuf melanjutkan langkahnya menuju meja makan dimana Erlang dan Mutiara disana.


"Papa ngapain?" tanya Erlang.


"Papa cuma mau ambil minum." jawab Yusuf sembari menarik kursi lalu mendudukinya.


Mutiara berjalan beberapa langkah lalu mengambil air minum lalu menyerahkannya pada Yusuf. "Ini pah minumnya."


"Makasih Tiara. Kalian ada masalah?"


Erlang dan Mutiara saling pandang belum ada yang berani membuka suara.


"Kita bahas besok." ujar Yusuf lalu beranjak dari kursi, namun Erlang menahannya. "Tunggu dulu pah."


Mutiara kembali duduk di tempatnya ia menatap Yusuf sesaat lalu menunduk. "Ada yang mau Tiara sampaikan pah."


Yusuf membenarkan posisi duduknya dan siap mendengarkan Mutiara.


"Erlang dan Tiara mau pisah pah." kata Erlang mewakili Mutiara yang tidak berani mengatakan kalimat itu.


Yusuf menatap Erlang sesaat lalu beralih menatap Mutiara. "Benar itu Tiara?"


Mutiara mengangguk samar.


"Apa alasannya? Bukankah dulu kamu sendiri yang menyetujui perjanjian itu?" tanya Yusuf.


"Tiara nggak akan sanggup pah, jika Tiara hamil dan melahirkan terus berpisah dengan anak Tiara."


"Kan waktu itu kamu sudah mengajukan persyaratan kalau kamu bisa bertemu dengan anakmu dan kami sudah menyetujuinya."


"Ibu mana tidak ingin merawat anaknya sendiri? Hampir semua ibu pasti ingin merawat anaknya sendiri dengan penuh kasih, Tiara begini karena Tiara tau bagaimana rasanya berpisah dengan seorang ibu."


Yusuf terdiam sesaat, memang benar kata Mutiara, jika dirinya di suruh berpisah dengan anaknya dirinya juga tidak akan mau. "Kita bahas besok, sekarang kalian istirahat." ujar Yusuf lalu beranjak dari kursi dan melangkah menuju kamarnya.


Mutiara pun juga ke kamarnya dan Erlang pulang ke rumahnya.


*


*


Mereka di pisah dulu asik kali ya hahaha....


Authornya jahat banget sih. 🤭🤭🤭


*