
*
*
π΄π΄π΄
*
Sepanjang perjalanan pulang Erlang selalu memikirkan calon anaknya, bahagia itu pasti namun ada yang mengganjal di hatinya, apalagi kalau bukan tentang hak asuh anak.
Apa mungkin dirinya bisa hidup terpisah dengan anaknya? Bagaimana jika nantinya perceraian itu benar-benar terjadi? Bagaimana jika kelak Mutiara menikah lagi dan anaknya memilik ayah tiri? Kalau ayah tirinya jahat bagaimana?
Banyak pertanyaan yang bersarang di pikiran Erlang, sampai tidak terasa ia sudah sampai di garasi rumahnya, Erlang mematikan mesin mobilnya lalu turun dari mobilnya.
Erlang memasuki rumahnya, menaiki tangga, sampai di depan pintu kamarnya.
"Mira?" Erlang tersentak kaget saat hendak membuka pintu namun pintu sudah lebih dulu terbuka dari dalam dan mereka hampir bertabrakan.
Elmira mengurungkan niatnya yang hendak keluar kamar, ia memilih kembali lagi memasuki kamarnya.
"Kenapa nggak jadi keluar?" tanya Erlang sembari berjalan mengikuti langkah Elmira.
"Nggak apa-apa, tadi cuma mau ambil minum aja." jawab Elmira lalu duduk di tepi ranjang.
Erlang menyusul Elmira, ia duduk di sebelahnya. "Aku nggak jadi cerai dengan Tiara." Erlang berujar sembari melepas jas nya.
Elmira menoleh cepat lalu menatap tajam pada Erlang. "Kenapa? Kamu udah mulai cinta sama dia?"
"Mir!!!" Erlang mengeram. "Jangan berfikir yang tidak-tidak! Hubungan kita baru saja membaik."
"Kenapa? Benar kan dugaanku?"
"Tiara hamil."
Mata Elmira membulat sempurna. "Jadi dia hamil? Tapi kan perjanjian itu sudah tidak ada."
Erlang membuang napas kasar, memang itu yang ia pikirkan akhir-akhir ini.
"Bagaimana dengan anak kalian? Hak asuh misal?"
"Entahlah." jawab Erlang lalu bangkit dari posisinya hendak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah dirinya sudah bersih ia menyusul Elmira yang sudah lebih dulu berada di ranjang, ia menatap Elmira yang sedang berbaring membelakanginya.
*
π΄π΄π΄
*
Pagi-pagi buta Erlang sudah berangkat ke rumah Yuwina untuk bertemu dengan istri dan calon anaknya. Ia sudah membaca banyak tentang ibu hamil dari internet dan salah satunya ialah tentang morning sickness.
Erlang tau kalau yang bisa meredakan rasa mualnya Mutiara adalah dirinya sebab itulah Erlang sudah berangkat pagi-pagi, ia khawatir kalau Mutiara akan seperti kemarin.
Yuwina sedang memasak di dapur, ia memang belum memperkerjakan pembantu di rumah, mengingat kalau dirinya mungkin hanya sementara tinggal di rumah yang ia tempati sekarang.
Mungkin setelah suaminya bebas ia akan kembali ke Lombok atau mungkin kalau ia akan menetap tinggal di Jakarta maka ia akan pindah rumah yang lebih besar dari yang ini, semua tergantung suaminya nanti.
Kegiatan Yuwina terhenti saat mendengar suara ketukan pintu utama. "Siapa yang datang sepagi ini?" batin Yuwina lalu meletakkan pisau yang ia pegang kemudian berjalan ke arah pintu utama.
"Erlang??" Yuwina terkejut dengan kedatangan Erlang sepagi ini dan dirinya juga tidak menyuruh Erlang datang ke rumahnya sepagi ini bahkan mungkin Mutiara belum bangun.
"Pagi mah." sapa Erlang.
Yuwina masih tenggelam dalam keterkejutannya.
"Mama nggak apa-apa?" tanya Erlang.
"Eh, tidak apa-apa. Tiara mungkin belum bangun." jawab Yuwina sembari membuka pintu lebar-lebar.
"Hmm.." Yuwina hanya menjawab dengan gumaman lalu menutup pintu rumahnya, setelah pintu tertutup Yuwina kembali ke dapur untuk menyelesaikan masakannya.
Erlang memasuki kamar Mutiara, ia bernapas lega saat melihat Mutiara masih terlelap, ia melangkah menuju meja rias kemudian meletakkan tas kerja dan paper bag berisi pakaian kerjanya di atas meja rias tersebut, setelah itu ia melanjutkan langkahnya menuju ranjang.
Erlang menaiki ranjang lalu menyibak selimut yang di pakai Mutiara, ia berniat ikut masuk ke dalam selimut namun ia terkejut saat melihat Mutiara tidur hanya dengan memakai kemeja yang ia tinggalkan kemarin, kemeja itu terlihat kebesaran di tubuh Mutiara namun sangat cocok di pakai Mutiara dan kemeja itu hanya menutupi tubuh sampai paha Mutiara bagian atasnya saja.
Erlang memejamkan matanya mencoba mengatur detak jantungnya, biar bagaimanapun ia adalah laki-laki normal apabila melihat pemandangan seperti itu pasti akan membangunkan sesuatu yang tadinya tertidur, apalagi Erlang pernah menikmati tubuh itu dan pemandangan di depannya ini mengingatkan dia dengan kejadian waktu itu di tambah dengan status mereka yang masih suami istri membuat hasratnya berasa di ubun-ubun.
Namun Erlang sudah berjanji kalau dia tidak akan menyakiti Mutiara lebih jauh lagi, ia menutup kembali selimut yang di kenakan Mutiara lalu memilih untuk duduk bersandar di kepala ranjang, tangannya terulur untuk meraih tas kerjanya lalu mengeluarkan ipad nya memeriksa beberapa email yang masuk. Ya, Erlang sedang mengalihkan hasratnya dengan mengurus pekerjaannya.
Beberapa menit Erlang dalam posisi seperti itu sampai ia merasa gerakan dari Mutiara, Mutiara sedang bergerak gelisah dalam tidurnya bahkan keringat dingin sudah keluar.
Tiba-tiba Mutiara bangkit dari posisinya lalu menuruni ranjang dengan tergesa-gesa serta membekap mulutnya, Mutiara lari ke arah wastafel. "Huekk.." Mutiara mengeluarkan semua isi perutnya.
Erlang segera menyusul Mutiara lalu memijat tengkuknya, namun Mutiara malah berusaha mendorong tubuhnya.
"Kenapa Tiara?" tanya Erlang bingung.
Mutiara berkumur lalu kembali mendorong tubuh Erlang. "Pergi kak! Ini menjijikkan."
"Kamu ngomong apa sih Tiara? Aku nggak jijik, kamu seperti ini kan karena anakku." tangan Erlang terulur untuk meraih beberapa lembar tisu lalu membersihkan sisa-sisa cairan di sekitar mulut Mutiara. "Maafkan anakku Tiara, dia yang membuat kamu jadi tersiksa seperti ini."
"Dia juga anakku kak."
"Ya udah anak kita."
Mutiara mengambil napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, ia sedang mencoba meredakan rasa mualnya.
"Udah?" tanya Erlang. "Kita kembali ke kamar ya?"
"Udah." jawab Mutiara lalu melangkah menuju kamarnya beserta Erlang di sebelahnya.
Mutiara duduk berselonjor dan bersandar di kepala ranjang, mual hari ini tidak seperti yang kemarin, hari ini tidak terlalu menyiksa.
Erlang menarik selimut hingga sebatas pinggang untuk menutupi kaki dan paha Mutiara, biar bagaimanapun pemandangan itu jika di biarkan berlama-lama akan semakin menyiksa dirinya.
Erlang duduk di tepi ranjang menghadap Mutiara sama persis seperti yang kemarin, tangannya terulur untuk mengelus perut Mutiara yang masih rata. "Sayang, jangan nakal ya kasihan mama kamu."
"Kok mama sih? Masa mama semua?"
"Terus siapa? Bunda? Mommy?"
"Bagusan mana?"
"Kayaknya bunda lebih cocok buat kamu." jawab Erlang lalu meringis masam. "Tapi aku tidak terlalu suka dengan sebutan ayah."
"Nggak apa-apa, kalau kak Erlang maunya di panggil papa, boleh-boleh aja."
"Masa papa dan bunda?"
"Terserah kak Erlang, tapi aku maunya bunda aja."
Erlang terkekeh. "Sekarang pake 'aku' bukan Tiara lagi?"
"Sebentar lagi jadi ibu masa pake nama terus."
Erlang beranjak dari tempatnya. "Aku mandi dulu, ini sudah siang."
Erlang melangkah menuju kamar mandi.
Mutiara melepas kemeja yang ia kenakan lalu menggantinya dengan piyama, setelah itu ia ke dapur membantu mamanya yang sedang menyiapkan sarapan.
*
*
Hai-hai gimana puasanya? Lancar? Alhamdulillah... kalau masih lancar.