An Agreement

An Agreement
Bab 11



*


*


Cukup lama Erlang berada di dalam mobil, dirinya bingung harus kemana saat ini, biasanya dirinya saat ini sedang sibuk.


Mau menghubungi teman-temannya juga tidak mungkin mereka punya semua punya kesibukan masing-masing.


Erlang meraih handphonenya yang berada di atas dashboard namun tidak sengaja melihat sebuah minimarket, Erlang langsung teringat dengan anak-anak panti, dulu dirinya pernah mengajak anak-anak panti makan di sebelah minimarket itu.


Erlang tau akan kemana saat ini, Erlang menyalakan mesin mobilnya kemudian melajukannya menuju minimarket untuk membeli makanan buat anak-anak di panti.


Beberapa macam makanan dan cemilan sudah di tangan, Erlang memasukkan makanan tersebut ke dalam mobil kemudian dirinya juga memasukki mobil lalu melajukannya membelah jalan menuju panti.


Kurang lebih 20 menit Erlang telah sampai di panti, dia turun dari mobil lalu mengambil makanan yang tadi ia beli untuk anak-anak.


Erlang melangkah memasuki panti beserta beberapa kantong plastik berisi makanan di tangannya.


Anak-anak yang melihat kedatangan Erlang sembari membawa oleh-oleh untuk mereka, mereka langsung lari berebutan siapa yang sampai duluan padahal Erlang baru sampai di halaman panti.


Erlang tersenyum saat melihat anak-anak yang sangat antusias menyambut kedatangannya, semua beban pikiran hilang begitu saja.


Mendengar anak-anak yang berisik diluar membuat Dewi pengelola panti keluar untuk memeriksa keributan yang terjadi. "Nak Erlang?"


"Selamat pagi bu Dewi." sapa Erlang ramah.


Dewi mengernyit. "Tumben jam segini belum ke kantor?" tanyanya bingung karena selama ini Erlang kalau datang hanya di hari libur saja.


Erlang hanya menjawab pertanyaan Dewi dengan senyuman kemudian membagikan makanan yang ia bawa pada anak-anak.


"Ayo masuk."


"Saya disini saja bu, ingin melihat anak-anak bermain."


"Oh ya sudah kalau begitu ibu tinggal dulu, kalau mau masuk, masuk aja." ujar Dewi.


"Baik bu." jawab Erlang.


Dewi meninggalkan Erlang bersama anak-anak.


Erlang duduk di bangku panjang yang tersedia di taman bermain anak-anak, senyumnya tidak luntur saat melihat anak-anak bermain seakan tidak punya beban.


Erlang merindukan masa-masa itu, dimana dirinya bisa tertawa lepas tanpa ada yang menggangu pikirannya.


Hari semakin siang, Erlang masih enggan beranjak dari bangku panjang yang ia duduki, padahal anak-anak yang bermain sudah berganti tadi anak seumuran TK dan sekarang anak-anak SD.


Erlang mengamati anak-anak yang masih bermain sampai tidak menyadari kalau ada seseorang telah duduk di sebelahnya.


"Kak Erlang ngapain disini?"


Erlang tersentak kaget kemudian menoleh ke arah sumber suara. "Tiara? Kok kamu bisa disini?"


"Seharusnya Tiara yang nanya, kak Erlang ngapain disini?" Mutiara mengulang pertanyaanya.


"Kangen anak-anak aja." jawab Erlang.


Mutiara menaikan satu alisnya. "Sampai tidak masuk kantor?"


Erlang hanya mengedikkan bahu, dia tidak mau menjawab pertanyaan dari Mutiara.


Erlang kembali menatap lurus kedepan dimana anak-anak sedang asik dengan permainan mereka dan tertawa lepas. "Enak ya jadi anak-anak?"


Mutiara menatap Erlang mencoba mencerna ucapan Erlang. "Kenapa gitu?"


"Yaa enak aja, mereka bisa tertawa lepas tanpa beban." jawab Erlang kemudian menoleh dan tatapan mereka langsung bertemu.


"Makanya aku kesini karena aku rindu dengan masa itu."


Mutiara mengangguk, dia tau kalau ada beban pikiran yang sedang di pikul Erlang namun dia juga tidak mau menanyakannya karena tidak mau ikut campur terlalu jauh.


"Ini sudah waktunya makan siang kak, ayo kita makan dulu."


"Makan apa?"


"Belum tau, Tiara belum ke dapur. Atau kak Erlang mau makan apa? Biar Tiara yang masakin."


Erlang mengangkat alisnya. "Kamu bisa masak?"


Mutiara terkekeh. "Jangankan masak, semua pekerjaan rumah Tiara bisa kak, masak, nyapu, ngepel, cuci baju, cuci piring, semua deh, kan emang disini sudah di ajari hidup mandiri sejak kecil."


"Oya? Kapan-kapan Kayla di ajarin masak tuh, masa cewek nggak bisa masak." ujar Erlang lalu terkekeh, adiknya memang seperti itu mungkin karena sejak kecil selalu di manja.


"Jadinya kak Erlang mau makan apa?"


"Ayam goreng sama sambel terus lalapan juga. Bisa?"


"Gampang itu kak cuma ayam goreng doang."


"Okey, sana masak aku tunggu disini."


"Kak Erlang nunggu di kamar Tiara aja, disana bisa sambil tiduran." ujar Mutiara lalu beranjak dari tempatnya.


"Emang boleh?"


Mutiara kembali terkekeh. "Kan kak Erlang su--" Mutiara menghentikan kalimatnya, tidak sepantasnya dia menyebut Erlang sebagai suaminya karena pernikahan mereka hanya sementara. "Tentu boleh kak."


Erlang ikut beranjak dari bangku yang telah lama ia duduki. "Di kamar kamu ada charger kan?"


"Ada, tapi cari sendiri ya di laci bawah meja samping ranjang." jawab Mutiara kemudian mulai melangkah memasuki panti dan menuju kamarnya dan di ikuti Erlang di sampingnya.


Mereka telah sampai di depan pintu kamar kemudian Mutiara membuka pintu tersebut. "Masuk kak."


Erlang memasuki kamar tersebut dan Mutiara segera meninggalkan Erlang di kamarnya lalu kembali melangkah menuju dapur untuk memasak makanan permintaan Erlang.


Erlang melanjutkan langkahnya memasuki kamar Mutiara ia meneliti isi kamar tersebut, ini pertama kalinya Erlang memasuki kamar Mutiara.


Erlang membelokkan langkahnya menuju jendela kemudian membuka jendela tersebut, senyum Erlang langsung terbit di sudut bibirnya saat melihat pemandangan di luar jendela, ada berbagai macam bunga di bawah jendela membuat udara terasa sejuk.


Setelah puas melihat bunga, Erlang kembali melangkah menuju ranjang kemudian duduk di tepi ranjang, tangannya terulur untuk membuka laci bawah meja untuk mencari charger, namun bukan charger yang ia temukan tetapi album foto, Erlang mengeluarkan album foto tersebut kemudian menaruhnya di atas meja.


Erlang kembali mencari charger dan kali ini Erlang menemukannya.


Erlang menghubungkan charger dengan stop kontak dan handphonenya lalu menaruh handphone tersebut di atas meja kemudian Erlang meraih album foto dan mulai membukanya.


Semua yang ada di dalam album itu adalah foto Mutiara semasa masih kecil hingga remaja, setiap membuka lembar demi lembar album itu membuat senyum Erlang mengembang ternyata Mutiara sangat lucu masa kecilnya, rambutnya di kuncir dua, pipinya cubby dan tubuhnya yang gempal sangat menggemaskan.


Di lembaran terakhir Erlang menemukan secarik kertas bertuliskan nama lengkap Mutiara, Erlang mengamati kertas itu sesaat kemudian menyimpannya di tempat semula.


Selesai melihat foto Mutiara, dia mengembalikan album foto itu di tempat semula dan Erlang menemukan gelang mutiara di laci urutan paling atas. "Gelang?" gumam Erlang kemudian mengamati gelang itu baik-baik sepertinya gelang itu tidak asing baginya, Erlang seperti pernah melihat gelang itu namun dia juga tidak ingat dimana ia pernah melihat gelang itu. "Darimana Tiara punya gelang semahal ini?" tanyanya dalam hati.


Erlang tidak mau ambil pusing, dia menaruh gelang itu pada tempatnya lalu membaringkan tubuhnya di ranjang.


*


*


Maaf ya telat update, biasa, orang penting selalu sibuk. 🤣🤣🤣