An Agreement

An Agreement
Bab 18



*


*


🌴🌴🌴


*


Erlang telah memasuki pelataran rumahnya lalu menuju garasi, namun setelah memasuki garasi Erlang langsung geram saat tidak menemukan mobil Elmira di dalam garasi tersebut.


Erlang mematikan mesin mobilnya lalu memukul roda kemudinya untuk meluapkan emosinya. "Elmira kemana lagi? Jam segini belum pulang." gumamnya.


Erlang merogoh handphonenya di saku celana kemudian mencari kontak Elmira, mencoba menghubungi Elmira namun nihil tidak ada jawaban dari seberang sana, Erlang menuruni mobil sambil terus menghubungi Elmira sampai memasuki rumah, menaiki tangga, dan sampai ke kamarnya tetap tidak ada jawaban dari Elmira.


Erlang duduk di tepi ranjang lalu melempar handphonenya di atas kasur kemudian memijit pelan pangkal hidungnya untuk meredakan rasa pening di kepalanya.


Setelah beberapa saat Erlang menoleh ke arah nakas di samping ranjang kemudian ia beringsut sampai di dekat nakas, tangannya terulur untuk membuka laci di nakas tersebut lalu mengambil sebuah kotak kecil kemudian membukanya.


Erlang menatap isi kotak itu, dua cincin kawin dari kedua istrinya dan kedua pemilik pasangan dari cincin itu sedang menjauhi dirinya.


Erlang memang tidak mau memakai salah satu cincin kawin itu karena ia tidak mau salah satu istrinya akan menjadi iri jadi ia memilih menyimpan kedua cincin kawin itu.


Setelah cukup lama menatap cincin itu Erlang mengembalikan kotak itu pada tempatnya lalu membaringkan tubuhnya di ranjang, tubuh lelahnya butuh istirahat supaya bisa menjalani hari esok.


"Apa aku harus mempertahankan Tiara demi anak? Tapi Tiara sendiri yang tidak mau mempertahankan pernikahan ini. Kalau aku mempertahankan Tiara bagaimana dengan Elmira?" pertanyaan-pertanyaan itu selalu berputar di otaknya sampai perlahan mata Erlang tertutup dan memasuki alam mimpi.


*


🌴🌴🌴


*


Yusuf duduk di sofa kamarnya bersama Niar di sebelahnya, mereka sedang menunggu kedatangan Yuwina dan Mutiara sembari membahas tentang Erlang dan Mutiara yang mau berpisah.


Sebenarnya Yusuf dan Niar keberatan dengan keputusan Mutiara namun mau bagaimana lagi mereka juga tidak bisa memaksa Mutiara untuk melanjutkan perjanjian itu, meskipun sebenarnya perjanjian itu sah tetapi mereka juga tidak mau menuntutnya secara hukum, pihak Yusuf masih mau berhubungan baik dengan pihak Mutiara.


"Kita nggak jadi punya cucu dari Erlang mas?"


Yusuf membuang napasnya berat, sebenarnya ia juga sangat kecewa, di saat ia sudah menaruh harapan yang besar pada Mutiara, namun harapannya hanyalah tinggal harapan. "Kita tidak bisa memaksa Tiara sayang, mau tidak mau kita harus menerima keputusan yang di ambil Tiara."


"Padahal aku sudah membayang kalau aku bakalan menimang cucu yang lucu."


"Aku pun begitu."


"Bagaimana dengan Erlang? Kasian anak kita mas, Erlang pasti sangat kecewa."


"Semoga dia bisa berbesar hati mau menerima ini semua."


'Tok tok' "Tuan, non Tiara sudah datang." suara Lastri dari luar kamar Yusuf.


"Suruh tunggu sebentar bi!" sahut Niar dari dalam kamar.


"Baik nyonya." jawab Lastri lalu kembali turun ke bawah untuk menyampaikan pesan Niar pada tamunya.


Yusuf dan Niar segera turun menuju ruang tamu untuk menemui Yuwina dan Mutiara. Membahas perjanjian yang telah di buat sekitar dua bulan yang lalu dan kini mereka akan membahas pembatalan perjanjian itu.


Kali ini Elmira dan ibunya tidak hadir karena hubungan Elmira dan Erlang memang sedang tidak baik.


Yang hadir saat ini hanyalah, Yusuf, Niar, Erlang, Mutiara dan Yuwina yang hadir menemani Mutiara.


Yusuf duduk berseberangan dengan semua orang yang hadir di ruangan itu lalu membuka kembali map berisi surat perjanjian itu.


"Kamu yakin Tiara? Mau membatalkan perjanjian ini?" tanya Yusuf.


"Kamu boleh yang merawatnya Tiara, kita bisa mengubah isi surat perjanjian itu, kita balik kamu yang mengasuh dan aku yang akan datang menemuinya." keputusan Erlang pada akhirnya, dari pada sama sekali tidak memiliki anak mungkin lebih baik memiliki anak meskipun nantinya ia akan hidup terpisah dengan anaknya.


Yusuf dan Niar menatap Erlang, mereka terkejut dengan keputusan anaknya.


"Saya yang tidak setuju!" Yuwina membuka suara, menolak keputusan Erlang. "Saya tidak mau cucu saya kekurangan kasih sayang dari ayahnya, bagaimana kehidupannya nanti?"


Mereka semua terdiam membenarkan ucapan Yuwina, bagaimana tumbuh kembang sang anak jika jauh dari sosok ayahnya.


"Kita batalkan perjanjian ini, dan saya akan mengurus secepatnya perceraian mereka." Yuwina bersuara lagi.


"Bagaimana Erlang? Tiara? Keputusan ada di tangan kalian." tanya Yusuf. "Meskipun sebenarnya perjanjian ini sah di mata hukum, tetapi kami tidak akan menuntut apa-apa karena kami ingin hubungan baik antara kami dan Mutiara tetap terjalin."


"Tiara tetap ingin berpisah pah." jawab Mutiara lalu menatap Erlang. "Maafkan Tiara kak."


"Jangan minta maaf terus Tiara, jika ini memang sudah keputusanmu aku akan menyetujuinya."


"Baiklah berarti kita batalkan perjanjian itu." Yuwina kembali bersuara.


Jangan heran mengapa Yuwina yang bersikeras menginginkan mereka berpisah, ia melakukan itu semata-mata untuk menyelamatkan masa depan anaknya.


Erlang menarik napas dalam lalu menghembuskan perlahan, seolah mencari kebesaran hati disana. "Baiklah aku setuju dengan keputusan Tiara."


Yusuf menggeser surat perjanjian itu di tengah-tengah Mutiara dan Erlang. "Silahkan di musnahkan surat itu." ujar Yusuf dengan berat hati.


Mutiara dan Erlang saling pandang, akhirnya Mutiara menggeser kertas itu pada Erlang. "Kak Erlang aja!"


Erlang menggeser kembali kertas itu pada Mutiara. "Kamu aja! Kan kamu yang menginginkan kita pisah."


"Bi Lastri...!" Niar memanggil pembantu di rumahnya.


Lastri berjalan tergopoh-gopoh dari dapur menuju ruang tamu. "Iya nyonya."


"Tolong bakar kertas itu bi!" titah Niar sembari menunjuk kertas di depan Mutiara.


"Baik nyonya." Lastri melangkah beberapa langkah lalu meraih kertas di depan Mutiara lalu membawanya ke belakang untuk di bakar sesuai permintaan majikannya.


Yuwina beranjak dari sofa. "Baiklah semua sudah selesai, sekarang kita langsung ke pengadilan Tiara."


Mutiara beranjak dari sofa lalu berpamitan pada Erlang, Yusuf dan yang terakhir Niar.


Niar memeluk Mutiara, dialah yang paling berat melepas Mutiara sejak awal Niar memang sudah terpikat pada Mutiara, gadis lugu, cantik dan baik. "Tidak ada yang berubah dari kami Tiara, meskipun kamu berpisah dengan Erlang, tapi kami tetap menganggap kamu sebagai anggota keluarga kami dan sering-seringlah kemari dan menginap disini seperti biasanya." ujar Niar sembari tetap memeluk Mutiara. "Dan satu lagi, tetap panggil mama ya!"


Mutiara melepas pelukan Niar. "Iya mah, Tiara akan sering-sering kesini." jawab Mutiara lalu melangkah bersama Yuwina keluar dari rumah Yusuf.


Erlang hanya terdiam melihat kepergian Mutiara, berat sungguh berat bagi Erlang saat ini, ada sesuatu yang hilang yang ia rasakan saat ini.


***


Hidup memang selalu ada pilihan mungkin itu memang pilihan yang di pilih Mutiara.


Mutiara sadar jika dirinya dan Erlang tidak akan pernah bersatu, mungkin berpisah dengan Erlang adalah keputusan yang terbaik sebelum dirinya jatuh terlalu dalam.


Jika perjanjian itu tetap di teruskan maka dirinya yang akan tersakiti disini, di paksa berpisah dengan kedua orang yang di cintainya, lebih baik sekarang, berpisah dengan satu orang yang di cintainya.


*


*


Jadi ikutan sedih aing. πŸ˜”πŸ˜”πŸ™ˆπŸ™ˆ