An Agreement

An Agreement
Bab 22



*


*


Hari semakin siang, namun Mutiara masih enggan beranjak dari tempatnya, ia masih duduk di sebelah wastafel.


Tidak ada makanan yang masuk, hanya air putih saja, itu pun tidak banyak yang masuk, sebagain akan keluar lagi.


Yuwina berjalan mondar-mandir di sebelah Mutiara membuat Mutiara semakin pusing. "Mama ngapain sih? Mondar-mandir gitu! Bikin tambah pusing deh." protesnya.


"Kita ke rumah sakit aja ya?"


"Nggak usah mah."


Yuwina kembali berpikir, kalau Mutiara sampai pingsan atau kenapa-napa bagaimana? Di rumah ini tidak ada seorang pria yang bisa menggendong Mutiara, suaminya akan bebas beberapa hari lagi dan beberapa hari ini pak Budi sedang ijin tidak masuk kerja.


Kalau Mutiara benar-benar hamil, bagaimana reaksi suaminya?


Yuwina semakin gelisah, ia berdiri di depan Mutiara. "Kita ke rumah sakit ya?" bujuknya lagi.


Mutiara mengeram kesal. "Tidak usah mah." jawabanya jengah.


"Mama keluar sebentar." Yuwina meninggalkan Mutiara yang masih duduk di sebelah wastafel.


Yuwina mencari handphone Mutiara yang ada di kamarnya, ia mencari di atas meja rias lalu di laci namun ia tidak menemukannya, pencarian Yuwina beralih ke ranjang, ia menyibak selimut namun tidak juga menemukannya, Yuwina mengangkat bantal lalu matanya membulat saat menemukan apa yang ia cari.


Yuwina mencari handphone Mutiara hanya untuk menghubungi Erlang, biar bagaimanapun Erlang masih suaminya Mutiara, dia berhak tau keadaan Mutiara saat ini, apalagi kalau sampai Mutiara pingsan, mau minta tolong sama siapa? Yuwina tidak akan kuat menggendongnya.


Setelah menghubungi Erlang, Yuwina mengembalikan handphone Mutiara di tempat semula lalu melangkah menuju dapur, untuk membuatkan teh hangat untuk Mutiara.


Sebelum membuat teh, Yuwina menyempatkan diri memakan sepotong roti untuk mengganjal perutnya karena sedari tadi ia belum sempat memakan apapun.


Yuwina telah selesai membuat teh hangat lalu membawanya ke kamar Mutiara.


"Ayo kita ke kamar, mama udah buatin teh hangat buat kamu, diminum biar enakan badannya."


Mutiara mencoba bangkit dari posisinya lalu melangkah dengan di tuntun oleh Yuwina, namun benar apa yang ia takutkan, sebelum sampai di ranjang ia sudah mual lagi.


Akhirnya Mutiara kembali ke tempat semula, Yuwina semakin khawatir dengan kondisi putrinya, kalau di biarkan seperti ini terus Mutiara bisa kehilangan banyak cairan dan bisa-bisa tubuh Mutiara tumbang.


"Mama bawa teh nya kesini ya?"


"Iya mah."


Yuwina kembali ke kamar lalu mengambil teh hangat yang ia letakkan di atas nakas tadi.


"Minum dulu!"


Mutiara menyeruput sedikit teh hangat buatan mamanya, hanya baru beberapa teguk namun Mutiara memuntahkannya kembali.


Yuwina segera memijit tengkuk Mutiara, ia membuang napas berat. "Kita ke rumah sakit Tiara. Kamu semakin parah."


"Gimana caranya kita ke rumah sakit mah? Tiara nggak sanggup berjalan keluar dari rumah ini. Lagian yang mau nganter kita ke rumah sakit siapa? Pak Budi sedang tidak masuk kerja kan?" jawab Mutiara setelah berkumur.


'Tok tok tok'


"Ada tamu mah."


Yuwina mendudukkan Mutiara di kursi. "Mama buka pintu dulu."


Yuwina meninggalkan Mutiara di kursi lalu melangkah menuju pintu utama, ia sudah bisa menebak siapa yang datang kerumahnya.


Yuwina membuka pintu dan benar saja, Erlang sudah berdiri di depan pintu dengan raut wajah cemasnya.


Yuwina membuka pintu lebar-lebar. "Masuk!" titahnya lalu menutup kembali pintu tersebut setelah Erlang memasuki rumahnya.


Yuwina berjalan lebih dulu dan Erlang mengikutinya dari belakang, Erlang memang belum pernah memasuki ke rumah itu.


Yuwina membuka pintu kamar Mutiara. "Masuklah! Terus masuk ke pintu sebelah kiri, Tiara duduk di dekat wastafel." ujar Yuwina lalu meninggalkan Erlang, ia akan menyiapkan bubur untuk putrinya.


Erlang menuruti perintah mertuanya, ia memasuki kamar Mutiara lalu mencari pintu di sebelah kiri, setelah menemukan pintu tersebut, Erlang membukanya.


Erlang terbelalak kaget saat melihat Mutiara terduduk lesu di sebuah kursi di sebelah wastafel, dengan wajah yang sudah pucat.


Erlang berjalan cepat mendekati Mutiara. "Tiara... kamu kenapa? Sakit? Kita ke dokter ya?" Erlang langsung memberondong banyak pertanyaan.


"Kak?" Mutiara tidak menjawab satu pun pertanyaan dari Erlang namun ia malah menghirup dalam-dalam aroma dari tubuh Erlang, entah mengapa rasa mualnya mereda.


Mutiara semakin mencondongkan tubuhnya mendekati tubuh Erlang sembari terus menghirup aroma tersebut.


"Tiara boleh peluk kak Erlang?" lagi-lagi Mutiara tidak menjawab pertanyaan Erlang.


Erlang semakin di buat bingung dengan permintaan Mutiara, selama ini Mutiara belum pernah meminta peluk padanya.


Mutiara mendesah kecewa. "Nggak boleh ya?"


Erlang mencondongkan tubuhnya lalu merengkuh tubuh Mutiara. Dan benar saja rasa mual yang mendera Mutiara tadi perlahan mereda dan berangsur menghilang.


"Kok kak Erlang bisa disini?" tanya Mutiara sambil terus menghirup aroma tubuh Erlang.


"Tadi mama Wina yang telfon aku." jawab Erlang. "Kita kembali ke kamar ya? Kamu pasti capek kan dari pagi disini terus."


"Tapi tadi kalau ke kamar pasti muntah lagi kak."


"Kita coba lagi." kata Erlang, lalu ia melepas pelukannya membuat Mutiara memberenggut.


"Cuma sebentar, nanti di kamar aku peluk lagi." ujar Erlang seolah tau apa yang di pikiran Mutiara saat ini.


"Kak...!!!" Mutiara memekik saat merasakan tubuhnya melayang tinggi, Erlang membopongnya menuju ranjang.


Erlang membaringkan tubuh Mutiara di atas kasur dengan hati-hati. "Masih mual?" tanyanya sembari menarik selimut hingga sebatas pinggang.


Mutiara menggeleng. "Sudah mendingan."


"Aku ambilkan makanan ya, kata mama Wina dari pagi perut kamu belum terisi sedikit pun."


Mutiara mengangguk pasrah.


Erlang melangkah menuju pintu, namun baru beberapa langkah, Yuwina lebih dulu memasuki kamar beserta nampan berisi bubur dan teh hangat di tangannya.


"Biar Erlang yang menyuapi Tiara mah." Erlang mengambil alih nampan di tangan Yuwina.


Yuwina kembali meninggalkan Mutiara dan Erlang di kamar, ia memilih ke ruang kerjanya.


Erlang meletakkan nampan berisi makanan untuk Mutiara di atas nakas, lalu dirinya duduk di tepi ranjang. "Sekarang kamu makan dulu ya?"


"Tapi takut muntah lagi kak, tadi udah coba beberapa kali sama mama, tapi tetep nggak ada yang masuk."


"Sekarang udah mendingan kan perutnya?"


"Iya sih."


Erlang meraih mangkuk di atas nakas lalu mulai menyendok buburnya. "Aak.."


Mutiara beringsut duduk. "Tiara bisa sendiri kak."


"Aku aja."


Mutiara membuka mulutnya dan Erlang mulai menyuapinya, sesuap demi sesuap.


Baru beberapa suap namun Mutiara kembali menutup mulutnya. "Udah kak."


"Lagi Tiara, kamu makannya baru sedikit loh."


"Dari pada di paksa nanti malah muntah lagi."


Erlang mendesah pasrah, ia meletakkan mangkuk di atas nakas lalu beralih mengambil cangkir berisi teh hangat. "Minum dulu!"


Mutiara menurut, ia meneguk sedikit teh hangat tersebut.


"Kenapa kak Erlang baik padaku? Kita kan sebentar lagi akan berpisah." tanya Mutiara setelah meminum teh nya.


Erlang meletakkan cangkir di atas nakas lalu menatap Mutiara. "Karena aku s--" Erlang berpikir sesaat, masa ia akan mengatakan kalau dirinya sayang pada Mutiara sama seperti adiknya. "Karena sampai saat ini status kamu masih istriku."


*


*


Kirain Erlang mau jawab sayang dan cinta.


Ha.. ha.. ha..



Erlangga Samudra si pria ganteng yang memiliki dua istri.


Kalau kalian jadi istri berikutnya ada yang mau nggak sih? 🤭🤭🤭