
*
*
Erlang mengecup puncak kepala Mutiara yang sudah terlelap dalam dekapannya, rasanya ia enggan untuk pulang kerumahnya, mengingat ini sudah larut malam dan Elmira sedang tidak ada di rumah.
Tangannya beralih mengusap perut Mutiara kemudian sebuah senyuman terbit di sudut bibirnya saat teringat belum lama tadi ia telah menjenguk anaknya, entah mengapa rasanya begitu membahagiakan bagi dirinya saat bisa melakukannya lagi bersama Mutiara, mereka melakukannya sangat pelan dan penuh perasaan, mengingat ada nyawa lain di rahim Mutiara, yaitu anak mereka.
Mutiara memaksa membuka matanya saat merasakan usapan di perutnya, ia mengerjab beberapa kali kemudian mendongak untuk bertatap mata dengan Erlang. "Kak... kok belum pulang?" tanyanya kemudian beringsut mundur.
Erlang menarik tubuh Mutiara lagi. "Aku masih ingin disini."
"Kak Mira gimana?" tanya Mutiara lagi.
"Dia sedang nginep di rumah mamanya." Erlang menjauhkan tanganya dari perut Mutiara lalu beralih mendekap tubuh Mutiara lagi. "Tetaplah menjadi istriku Tiara, meskipun nantinya anak kita sudah lahir."
"Dasar serakah!!" dengus Mutiara.
"Semenjak kamu hamil, rasanya aku ingin selalu dekat denganmu Tiara."
"Itu terjadi karena aku sedang mengandung anakmu kak, setelah anak ini lahir rasa itu pasti akan hilang, mungkin itu hanya ikatan batin antara ayah dan anak."
Erlang melonggarkan pelukannya untuk menatap Mutiara. "Apa mungkin seperti itu?"
"Kenapa tidak mungkin?" tangan Mutiara meraih tangan Erlang dan menuntunnya ke perutnya. "Karena ada bagian dari dirimu yang sedang berkembang disini."
Erlang mengangguk kemudian ia menarik tangannya beserta tangan Mutiara kemudian mengecup tangan Mutiara. "Maafkan aku Tiara. Kamu sudah hamil, seharusnya aku tidak melakukan itu lagi."
Mutiara tidak tahu harus merespon bagaimana perkataan Erlang barusan, jujur sebenarnya ia tidak keberatan melakukannya bersama Erlang selain status mereka yang masih suami istri ia juga mencintai pria di pelukannya ini, namun ada rasa bersalah di saat ia telah selesai melakukannya, yaitu rasa bersalah terhadap Elmira.
"Kenapa diam Tiara?"
"Bukankah kita masih suami istri? Bukankah itu wajar jika kita melakukannya?" jawab Mutiara pada akhirnya.
Erlang mengangguk membenarkan kata Mutiara, namun sebenarnya ia sudah berjanji tidak ingin menyakiti Mutiara dengan menyeretnya dalam permainan mereka yang sebelumnya.
Dan yang di lakukan Erlang tadi adalah kembali menyeret Mutiara ke dalam permainan itu lagi, maka dari itu Erlang meminta Mutiara agar tetap jadi istrinya supaya Mutiara tidak tersakiti di kemudian hari. Apakah bisa? Bagaimana jika rasa ingin dekat Mutiara hilang ketika anak mereka sudah lahir?
"Kak..."
"Hmm.."
"Kita tidur aja udah malem."
"Tidurlah, aku akan disini sampai pagi." ucap Erlang lalu tangannya kembali mengusap perut Mutiara. "Supaya anak kita puas bisa semalaman bersama ayahnya, selama ini belum pernah kan?"
Dengan senang hati Mutiara segera menenggelamkan wajahnya di dada Erlang. "Si tengil bakalan mimpi indah malam ini."
Erlang tergelak. "Kok jadi ikut-ikutan manggil dia si tengil sih." ucapnya setelah berhasil menghentikan tawanya.
"Kamu yang mulai duluan, jadi aku ngikut."
"Jangan panggil dia tengil! Nanti kalau lahir jadi tengil beneran gimana?" kata Erlang sambil bergidik ngeri.
"Iyaa... kasih dia panggilan yang bagus dong!"
"Nanti aku pikirkan." jawab Erlang lalu memejamkan matanya dan Mutiara pun melakukan hal yang sama.
*****
"Huekk..."
Mata Erlang masih enggan terbuka ia masih terlelap dalam tidurnya namun saat ia mendengar Mutiara sedang muntah Erlang langsung membuka matanya sempurna lalu secepat kilat ia menuruni ranjang untuk menyusul Mutiara di wastafel.
Setelah selesai memuntahkan isi perutnya Mutiara berkumur kemudian menegakkan tubuhnya.
Tangan Erlang berhenti memijat tengkuk Mutiara lalu beralih mengambil beberapa lembar tisu sedangkan tangan kirinya menarik kepala Mutiara kemudian membersihkan sisa-sisa cairan di sekitar mulut Mutiara. "Sudah enakan?" tanyanya lembut.
Mutiara hanya mengangguk, meskipun hanya muntah namun cukup menguras tenaganya.
"Kita ke kamar lagi atau mau sekalian mandi?"
"Aku mau sekalian mandi kak."
"Kamu mandi dan aku bikinin teh hangat ya? Atau susu?"
"Tidak usah, nanti aku bikin sendiri."
"Kalau nggak mau di bikinin susu, aku ikut kamu mandi loh!" goda Erlang.
Mutiara membulatkan matanya. "Nggak boleh!!"
"Kenapa?" protes Erlang.
"Ya-- ya malu aja."
"Bagian mana yang membuat kamu malu? Hm? Sedangkan aku udah pernah lihat semuanya."
Pipi Mutiara langsung memerah. "Aishh... pokoknya nggak boleh!!"
Erlang terkekeh. "Ya udah sana mandi!"
Mutiara memasuki kamar mandi dan Erlang melangkahkan kakinya keluar dari kamar menuju dapur.
"Bi Lastri tolong bikinin susu hangat!"
Lastri langsung mengecilkan kompornya. "Biak den."
Erlang kembali melangkah menuju kamarnya namun langkahnya terhenti saat melihat ada seseorang yang sedang duduk di sofa ruang tamu dengan posisi membelakangi dirinya. "Siapa yang bertamu sepagi ini?" gumamnya lalu membelokkan langkahnya menuju ruang tamu.
"Brian??" Erlang terkejut saat melihat seseorang yang sedang duduk di sofa ruang tamu adalah temannya, bagaimana tidak terkejut, dirinya sudah tidak tinggal di rumah ini dan Brian kesini mencari siapa?
Brian menoleh. "Woi... kok lo disini Lang?"
Erlang melanjutkan langkahnya kemudian duduk di sebelah Brian. "Kok kayak terkejut gitu? Ini kan rumah orang tua gue, wajar dong kalau gue disini. Eh, lo ngapain pagi buta kek gini kesini? Jangan bilang lo mau bawa kabur adek gue!"
Brian memukul pelan bahu Erlang. "Ya elah... sejak kapan gue suka bawa kabur cewek?!" dengus Brian.
"Ya terus lo ngapain kesini?!" tanya Erlang jengah.
"Gue mau ajak adek lo ke puncak Bogor." jawab Brian.
Erlang kembali terkejut dengan pengakuan Brian, selama ini Brian bukan tipe cowok yang suka ngalusin cewek bahkan di antara teman-temannya Brian adalah cowok yang paling cemen deketin cewek. Ini malah deketin adiknya? Padahal adeknya adalah tipe cewek senggol bacok, Erlang mengira Brian tidak akan berani mendekati adiknya yang manjanya tingkat dewa dan galaknya melebihi singa di hutan. Dari segi usia memang Brian sudah cukup matang dirinya dan Brian memang seumuran, dirinya saja sudah memiliki dua istri dan sekarang sudah mau punya anak.
Di antara temanya Erlang, hanya Brian yang masih lajang yang lain sudah memiliki istri, karena Brian jarang mendekati cewek.
Brian adalah salah satu teman Erlang yang pada waktu itu ikut mendaki gunung saat Erlang terperosok ke jurang, saat itu Kayla ikut dan sejak itulah ia mengenal Kayla.
Erlang memang jarang membawa pulang teman-temannya karena mereka dulu mempunyai tempat nongkrong tersendiri jadi jarang main ke rumah masing-masing paling hanya sekedar tahu saja.
*
*
Tuh udah aku tambahin updatenya, aku nggak sejahat itu ngebiarin kalian menikmati khayalanku terlalu sedikit, kurang apa lagi coba?? 🤭🤭🤭