An Agreement

An Agreement
Bab 56



*


*


🌴🌴🌴


*


Sejak Hanna terlepas waktu itu, akhirnya Mahendra menyerahkan Hanna sepenuhnya pada pihak yang berwajib ada yang lebih penting dari pada mengurusi Hanna, yaitu kedua putrinya, kedua putrinya yang saat ini sama-sama menderita.


Saat ini Hanna sudah di penjara dan juga orang-orang yang dulu bekerja sama dengannya, meskipun sebenarnya Mahendra ingin memberi pelajaran pada Hanna karena telah mengambil anaknya, namun ia mengurungkan niatnya biar bagaimanapun Hanna yang membesarkan putri sulungnya.


Meskipun Mahendra tidak tahu bagaimana cara Hanna mendidik anaknya, namun melihat anaknya bisa tumbuh sampai dewasa ia sudah sangat bersyukur.


Sampai saat ini Elmira masih setia memejamkan matanya, wanita muda itu belum menyadari bahwa orangtua kandungnya sudah menantinya.


Elmira dan Mutiara. Kedua wanita kakak beradik itu masih terikat satu suami karena belum ada yang bisa berpisah dengan suami mereka, sang kakak sedang koma dan sang adik sedang hamil.


Erlang pun tidak tega kalau harus menceraikan Elmira di saat wanita itu sedang koma, meskipun sebenarnya bisa ia lakukan, namun ia lebih memilih menunggu sampai Elmira sadar dan sembuh, ia akan menjadi orang terjahat di dunia jika memaksakan perpisahan sepihak.


Mutiara tinggal bersama kedua orangtuanya sedangkan Erlang tinggal di rumah yang dulu ia tinggali bersama Mutiara.


Erlang keluar dari rumahnya hendak ke kantor, ia memang sudah menjalani kehidupan seperti biasa, tidak mungkin kan ia akan cuti terus dari kantor, kasihan papa dan adiknya jika ia terus-terusan cuti.


Langkah Erlang terhenti di halaman rumahnya, ia melihat bunga-bunga yang di tanam Mutiara dulu, kini masih bermekaran, bunga Krisan memang tidak mengeluarkan aroma yang wangi namun bentuk bunga itu sangat cantik.


Mutiara biasanya akan menaruh beberapa tangkai bunga Krisan ke dalam vas bunga dan di tambah satu atau dua tangkai bunga sedap malam sebagai pengharumnya kemudian Mutiara akan meletakkan vas berisi bunga kesayangannya di meja riasnya.


Erlang melanjutkan langkahnya sampai di mobil, ia memasuki mobil kemudian melajukannya menuju rumah mertuanya.


Kurang lebih dua bulan yang lalu, Mutiara benar-benar melarang dirinya untuk menemui Mutiara, semenjak saat itu Erlang sering memperhatikan Mutiara dari kejauhan. Seperti saat ini, ia sedang memperhatikan Mutiara yang sedang menyiram tanaman di depan rumah.


Erlang tersenyum saat melihat perut Mutiara sudah semakin buncit, ingin rasanya ia mencium serta mengelus perut gendut itu, janin yang biasanya ia tenangkan di saat janin itu gelisah.


Senyum Erlang memudar saat menyadari bahwa tubuh Mutiara semakin kurus, biasanya wanita hamil identik dengan tubuh melar namun berbeda dengan Mutiara, semakin besar kandungannya tapi tubuhnya semakin kurus.


Erlang hendak menyalakan mesin mobilnya namun ia urungkan niatnya saat melihat Mutiara meringis sembari memegangi perutnya. Tangan Erlang terulur untuk membuka pintu mobilnya namun ia urungkan saat teringat dengan ancaman dari Mutiara bahwa dirinya tidak boleh menemui Mutiara lagi kalau sampai dirinya melanggar maka Mutiara akan pergi jauh, lebih tepatnya ke Lombok dan Erlang tidak mau jika itu sampai terjadi, ia masih ingin melihat Mutiara meskipun dari jauh.


Hingga beberapa saat Erlang menunggu namun sepertinya rasa sakit itu tak kunjung mereda, Mutiara duduk di kursi depan rumah, ia meringis menahan sakit sembari terus mengelus perutnya.


Erlang sudah tidak bisa menahan dirinya lagi, akhirnya ia turun dari mobil kemudian berjalan cepat sampai di depan Mutiara. "Perut kamu sakit Tiara?"


Mutiara terbelalak kaget ia sangat terkejut dengan kedatangan Erlang namun ia tetap mengangguk untuk menjawab pertanyaan Erlang.


Tangan Erlang terangkat hendak mengelus perut Mutiara namun dengan cepat Mutiara menepisnya. "Aku bisa sendiri." ucapnya datar kemudian menoleh ke arah pintu. "MAH....." teriaknya.


Mau tidak mau Erlang menurunkan tangannya kembali.


Yuwina berjalan cepat dari dapur saat mendengar teriakkan putrinya. "Ada apa Tiara?" tanyanya setelah sampai di ambang pintu utama rumahnya, detik berikutnya ia juga terbelalak kaget dengan kedatangan Erlang.


Sudah hampir dua bulan Yuwina tidak melihat Erlang mendatangi rumahnya, kadang hanya sesekali bertemu ketika di rumah sakit saat menjenguk Elmira, itupun jarang karena dirinya ke rumah sakit di pagi hari sampai sore sedangkan Erlang ke rumah sakit di malam hari.


"Perut Tiara sakit lagi mah..." keluh Mutiara sembari terus mengelus perutnya.


"Kita ke dokter sekarang ya?"


"Akhhh..." Mutiara kembali meringis saat sakit yang ia rasakan semakin bertambah.


"Aku anter ke rumah sakit ya?" tanya Erlang namun Mutiara menggeleng.


*


🌴🌴🌴


*


"Bagaimana kondisi istri dan anak saya dok?" tanya Erlang pada dokter yang baru saja menangani Mutiara.


"Janinnya terpaksa harus di lahirkan sekarang pak." jawab sang dokter.


Cairan bening langsung mengalir di pipi Yuwina, ia menutup mulutnya bahkan sampai tidak bisa berkata apa-apa, cucunya harus di terlahir sebelum waktunya.


Yuwina merasa kasihan terhadap cucunya, kurang lebih dua bulan yang lalu anak itu hampir celaka karena ibunya terguling dari tangga sampai lantai dasar dan sekarang harus terlahir sebelum waktunya.


Anak itu belum terlahir saja sudah menderita, dia sudah terkena imbas dari keegoisan orang-orang di sekitarnya.


"Tapi usia kandungan istri saya baru tujuh bulan dok?" protes Erlang.


"Tapi kalau tetap di pertahankan, itu akan membahayakan bagi keduanya pak."


"Lakukan yang terbaik dok!"


"Pasti pak." ucap sang dokter kemudian ia berjalan ke ruang operasi dan di susul beberapa suster yang mendorong ranjang brankar yang di tempati Mutiara.


Erlang dan Yuwina mengikuti langkah para suster menuju ruang operasi dan berhenti di depan pintu saja, namun sebelum ranjang brankar itu memasuki ruang operasi Erlang menghentikannya sejenak. "Semua akan baik-baik saja." ucapnya sembari mengusap pipi Mutiara.


Mutiara hanya mengangguk samar, ia sudah tidak mampu mengeluarkan suara, rasa sakit di perutnya kian menjadi.


Setelah Mutiara mengangguk, Erlang membiarkan para suster melanjutkan langkah mereka mendorong ranjang brankar memasuki ruang operasi, dirinya dan mertuanya menunggu di luar sembari menghubungi keluarga masing-masing.


Yuwina segera menghubungi Mahendra untuk sekedar memberitahu keadaan Mutiara, meskipun Mahendra tidak bisa menyusul kesini karena ia sedang menjaga putri sulung mereka yang masih setia memejamkan matanya.


Setelah sekian jam menunggu akhirnya operasi selesai, pintu terbuka dan muncul beberapa orang suster yang sedang mendorong inkubator dan di dalamnya ada seorang bayi kecil bahkan sangat kecil karena berat badannya kurang dari 2kg.


"Tunggu sus!!" Erlang menghentikan langkah para suster, ia ingin melihat anaknya.


Yuwina pun ikut mendekat. "Dia sehat kan sus?" tanyanya.


"Bayinya sehat bu." jawab salah satu seorang suster.


"Tidak kekurangan suatu apapun kan?" kali ini Erlang yang bertanya.


"Bayinya sempurna pak." jawab seorang suster satunya lagi.


Erlang tersenyum kemudian menatap anaknya, anak yang biasanya ia elus di dalam perut kini ia bisa melihatnya, meskipun anaknya terlahir prematur namun setidaknya anaknya sehat dan sempurna.


"Maaf kami harus membawa bayinya ke ruang bayi, anda bisa menjenguknya disana." ujar seorang suster kemudian kembali mendorong inkubator tersebut ke ruang bayi.


*


*


Aduh kasian banget sih debay nya, seharusnya ia masih merasakan kehangatan hidup dan berkembang di dalam rahim ibunya, namun ia harus keluar sebelum tubuh dan kulitnya siap menghadapi dinginnya udara.


Semua gara-gara keegoisan Authornya sih... 🀭🀭🀭