An Agreement

An Agreement
Bab 9



*


*


Tangan Erlang terulur untuk meraih tas kerjanya yang berada di atas nakas kemudian membukanya, tangannya bergerak mencari sesuatu.


"Kak Erlang nyari apa?" tanya Mutiara bingung.


Setelah menemukan apa yang ia cari, Erlang meletakkan kembali tas kerjanya di atas nakas lalu menoleh ke samping dimana Mutiara berada.


Tangannya meraih tangan Mutiara serta memberikan telapak tangan Mutiara. "Mulai sering kamu tidak usah ke kantor lagi Tiara." ujar Erlang sembari meletakkan sebuah kartu debit di tangan Mutiara.


Wajah Mutiara langsung berubah menjadi murung. "Kenapa? Kerjaan Tiara tidak bagus?"


"Bukan." jawab Erlang.


"Terus kenapa?"


"Kamu tidak boleh capek supaya kamu cepat hamil." jawab Erlang kemudian mengusap perut Mutiara. "Aku berharap semoga benihku segera tumbuh supaya kita tidak melakukan itu lagi, yang tadi malam pasti menyakiti kamu kan? Semakin sering kita melakukan itu maka semakin sakit pula bagi kamu kedepannya."


Air mata Mutiara langsung luruh dan Erlang memeluk Mutiara lagi. "Maafkan aku Tiara, hanya itu yang bisa aku ucapkan saat ini." Erlang melepas pelukannya lalu beralih mengusap rambut Mutiara. "Terima kasih atas semuanya."


Mutiara hanya mengangguk kemudian Erlang membaringkan tubuh Mutiara lagi serta membenarkan selimutnya. "Tidurlah ini belum waktunya bangun, aku pulang dulu besok kesini lagi. Ingat jangan capek-capek!"


Mutiara kembali mengangguk lalu menatap Erlang yang menuruni ranjang kemudian berjalan semakin menjauh, Mutiara hanya bisa menatap punggung Erlang yang kian menjauh hingga menghilang di balik pintu.


Setelah Erlang menghilang dari balik pintu, Mutiara menyelipkan kartu pemberian Erlang di bawah bantal kemudian meraba perutnya seakan tidak percaya dengan apa yang telah terjadi.


Jika benih itu tumbuh maka dirinya akan segera menjadi ibu.


Semakin lama mata Mutiara terasa semakin berat lagi dan perlahan menutup, Mutiara memasuki alam mimpi lagi.


*


🌴🌴🌴


*


Erlang memarkirkan mobilnya di garasi kemudian berjalan cepat menuju kamarnya.


Setelah sampai di depan pintu kamar, Erlang membuka pintu kamarnya dengan gerakan pelan bahkan sangat pelan, pintu terbuka dan Erlang bisa bernapas lega saat melihat istrinya tidur.


Erlang melangkah masuk kemudian menutup pintu kembali lalu berjalan pelan sampai di ranjang.


Erlang menaiki ranjang lalu memasuki selimut juga pelan kemudian memejamkan matanya kembali.


Cahaya matahari membuat Erlang menyipitkan matanya kemudian mengerjab beberapa kali.


Rasanya baru sebentar ia memejamkan matanya namun ternyata sudah pagi, Erlang memiringkan tubuhnya menghadap Elmira dan ternyata Elmira juga sudah bangun.


"Tadi malem pulang jam berapa?" tanya Elmira to the point.


"Jam--." Erlang berpikir sejenak. "Aku pulangnya tidak melihat jam tapi sepertinya tengah malam."


Elmira menatap mata Erlang seolah mencari kejujuran disana. "Bener??"


"Bener."


"Awas kalau bohong!" Elmira menuruni ranjang kemudian berjalan menuju kamar mandi.


Erlang mengusap dadanya kemudian memejamkan matanya sesaat sembari menunggu Elmira mandi.


Elmira telah selesai mandi barulah Erlang yang bergantian yang mandi.


*


🌴🌴🌴


*


Yusuf, Niar dan Mutiara sudah berada di ruang makan, mereka hanya tinggal menunggu Kayla.


"Kay--."


"Dasar gadis pemalas!!" gerutu Niar.


Mutiara terkekeh saat mendengar gerutu mertuanya kemudian menggeser kursinya ke belakang, Mutiara beranjak dari kursi lalu melangkah menuju kamar Kayla.


Mutiara sudah sampai di depan kamar Kayla, tangannya terangkat untuk mengetuk pintu namun sebelum Mutiara mengetuk pintu, pintu itu sudah terbuka dari dalam.


"Tiara? Ngapain kesini?" tanya Kayla yang baru muncul dari balik pintu.


"Papa mama sudah menunggu di bawah." jawab Mutiara, kemudian mereka menuruni tangga menuju ruang makan.


"Kamu belum siap-siap ke kantor Tiara?" tanya Kayla setelah menuruni anak tangga terakhir kemudian melanjutkan langkahnya hingga sampai di meja makan.


Mutiara menarik kursi kemudian menduduki kursi tersebut. "Kak Erlang bilang aku harus berhenti kerja dulu." jawab Mutiara membuat semua orang yang berada di ruangan itu menatap dirinya.


Niar baru ingat kalau Erlang tadi malam pulang, kemudian dia mengedarkan pandangannya. "Erlang mana Tiara?" tanyanya saat tidak menemukan sosok anak sulungnya.


"Sudah pulang mah." jawab Mutiara dan di angguki oleh Niar.


"Papa setuju dengan Erlang, lebih baik kamu istirahat dulu Tiara." sahut Yusuf sembari menyodorkan piring kosongnya pada Niar.


Niar mengambil alih piring kosong dari tangan Yusuf kemudian mengisinya dengan nasi beserta teman-temannya, setelah piring di tangannya sudah terisi, Niar menaruhnya di atas meja depan Yusuf, setelah itu barulah Niar mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Kayla dan Mutiara juga melakukan hal yang sama, mereka makan dalam diam.


Niar sedang memakan makanannya namun tidak sengaja melihat tanda di leher Mutiara bagian samping, meskipun tidak banyak dan tidak terlalu merah apalagi sampai keunguan namun tanda itu jelas kentara di kulit Mutiara yang putih bersih.


Niar menggerakkan kakinya di bawah meja untuk menyenggol kaki Yusuf.


Yusuf menghentikan suapannya lalu menatap istrinya, Niar menaikan alisnya untuk memberi kode pada Yusuf kemudian melirik ke arah leher Mutiara.


Yusuf mengikuti arah ekor mata Niar, detik itu juga Yusuf merapatkan bibirnya menahan tawa.


Yusuf mencondongkan tubuhnya kemudian mendekatkan bibirnya di telinga Niar serta menutupinya dengan tangan. "Kita akan segera punya cucu sayang." bisik Yusuf kemudian keduanya terkekeh.


"Papa mama kenapa sih?" tanya Kayla membuat Yusuf dan Niar segera melanjutkan suapannya.


"Nggak apa-apa." jawab Yusuf.


Kayla memicingkan matanya, menatap kedua orang tuanya bergantian bahkan Mutiara juga ikut menghentikan suapannya.


"Sudah-sudah kita makan lagi, nanti kamu keburu siang Kayla."


Mereka melanjutkan acara sarapannya sampai selesai.


Setelah selesai Kayla segera berangkat ke kantor, Yusuf ke ruang kerja, tinggalah Niar dan Mutiara yang masih berada di ruang makan.


Niar dan Mutiara membereskan meja makan beserta bi Lastri.


"Tiara di rumah mau ngapain ya mah?" tanya Mutiara sembari mengumpulkan gelas dan piring kotor.


"Kita ke panti aja gimana?" usul Niar.


Mutiara menghentikan kegiatannya lalu menoleh ke arah Niar. "Boleh tuh mah."


"Okey, kita ke panti."


Setelah semua sudah beres, Niar dan Mutiara menaiki tangga menuju kamar mereka masing-masing untuk siap-siap ke panti, hari ini mereka akan menghabiskan waktu bersama.


Melihat anak-anak bermain merupakan hiburan tersendiri bagi Niar dan Mutiara, mereka bisa tertawa lepas ketika sedang bercanda dengan anak-anak, itulah mengapa Niar sering ke panti.


Melihat nasib anak panti yang kurang beruntung membuat Niar selalu merasa bersyukur atas semua yang ia miliki, keluarga yang lengkap dan hidup berkecukupan.


*


*


Mutiara adalah gadis yang sederhana, sangat kontras dengan Elmira yang fashionable.


Namun seperti yang kalian tau kalau kecantikan hati lebih berarti di banding kecantikan wajah ataupun sesuatu yang melekat pada tubuhnya.