
*
*
"Tiara akan jelaskan nanti mah, sekarang jelaskan dulu kenapa mama menitipkan Tiara di panti? Jangan bilang kalau Tiara ini anak haram?" bibir Mutiara sudah bergetar menahan isak tangis.
Yuwina menggeleng cepat. "Jangan pernah punya pikiran seperti itu sayang." tangan Yuwina terangkat untuk mengelus rambut Mutiara. "Kamu terlahir dari ikatan yang sah, kamu ada karena cinta. Cinta mama dan papa."
"Tapi kenapa kalian menitipkan Tiara di panti?" Mutiara mengulang pertanyaanya.
"Mama akan jelaskan asal usul papa dan mama dulu, kamu pasti belum tau kan asal usul papa dan mama?"
Semua yang ada di ruangan itu menatap Yuwina, mereka siap mendengarkan setiap kata yang akan lolos dari bibir Yuwina.
Yuwina menurunkan tangannya dari rambut Mutiara lalu beralih menggenggam tangan Mutiara. "Mama asli Lombok, kakekmu peternak dan pengrajin mutiara disana.
Kalau papamu asli Jakarta beliau bekerja di perusahaan bidang pemasaran mutiara dan papamu mengambil produk dari kakekmu untuk di pasarkan, disitulah kami bertemu lalu menjalin hubungan sampai menikah.
Setelah mama menikah dengan papamu, mama tinggal di Jakarta ikut papa dan kami di karuniai dua anak perem--."
Yuwina menghentikan kalimatnya karena ada Lastri yang sedang menaruh minuman dan beberapa cemilan di atas meja.
"Mari silahkan di minum." ujar Lastri lalu undur diri.
"Terus mah!" desak Mutiara tidak sabar.
"Kita tinggal di Jakarta dan hidup bahagia ber empat, sampai suatu hari mama mendapat kabar kalau kakekmu sakit dan kritis yang mengharuskan mama pulang ke Lombok.
Tapi mama tidak bisa membawa salah satu di antara kalian, papa tidak mengijinkan mama membawa kamu karena pada saat itu kamu masih bayi dan kakakmu sedang sakit.
Papamu menyuruh mama pulang sendiri, kalian dirumah bersama papa dan pengasuh kalian.
Pada saat itu mama sudah turun dari pesawat terus masuk mobil menuju rumah sakit dimana kakekmu dirawat, tapi---." Yuwina menghela napas pelan lalu mengusap air mata di pipinya. "Mama kecelakaan, benturan di kepala mama cukup parah dan itu membuat mama koma beberapa bulan.
Setelah mama sadar dari koma ternyata masih ada masalah lagi, mama amnesia dan mama tidak mengingat kalau mama punya anak dan suami.
Bertahun-tahun mama amnesia, ingatan mama kembali kurang lebih satu bulan yang lalu dan itupun mama harus menjalani beberapa terapi sampai ingatan mama benar-benar pulih.
Setelah mama sudah pulih mama memutuskan ke Jakarta untuk menyusul anak dan suami mama.
Sampai di Jakarta mama langsung ke rumah kita yang dulu namun ternyata rumah itu sudah di beli orang lain, mama bingung harus mencari kalian kemana, setelah berfikir cukup lama mama memutuskan pergi ke perusahaan papamu yang dulu dan kabar yang mama terima membuat mama sangat shock, ternyata selang waktu satu hari setelah kepulangan mama ke Lombok papamu di tuduh korupsi dan semua bukti mengarah ke papamu, akhirnya semua harta benda papa di sita dan papa masuk penjara.
Setelah mendengar penjelasan dari pihak perusahaan papamu dulu bekerja, mama langsung mengunjungi papa di penjara, disitulah papa menjelaskan kalau kalian harus di titipkan di panti karena tidak ada yang merawat kalian, mama saat itu tidak bisa di hubungi karena mama papa saat itu sedang koma.
Papa menyerahkan kalian sepenuhnya pada pengasuh kalian karena pada saat itu juga papa langsung di tahan oleh pihak kepolisian.
Kenapa kalian tidak tinggal di panti yang sama? Karena di panti tempat kakakmu di titipkan belum ada pengasuh bayi, dan bodohnya pengasuh kalian tidak memberi tau asal usul sang anak yang ia titipkan.
Hari sudah larut malam dan pengasuh kalian harus segera pulang, akhirnya pengasuh kalian menaruh Tiara di panti yang di kelola bu Dewi dan pengasuh kalian hanya meninggalkan nama dan gelang pada kalian supaya suatu saat papa dan mama bisa mencari kalian.
Sebelum mama kesini mama lebih dulu ke panti tempat kakakmu dulu di titipkan tapi kakakmu sudah di adopsi oleh orang, yang mama sesalkan adalah orang yang mengadopsi kakakmu tidak memperbolehkan orang tua kandungnya mengetahui siapa mereka." Yuwina kembali meneteskan air matanya. "Mama kehilangan jejak kakakmu."
Mendengar cerita dari Yuwina membuat semua orang yang ada di ruangan itu diam membisu, Niar dan Dewi pun ikut menangis, begitu miris kehidupan keluarganya Mutiara.
"Kamu bantu mama cari kakakmu ya? Kita cari sama-sama." ujar Yuwina dan di balas pelukan erat dari Mutiara. "Pasti mah, Tiara akan cari kakak sampai ketemu." Mutiara beranjak dari sofa lalu menarik tangan Yuwina. "Antar Tiara bertemu papa mah."
"Sekarang mah."
Yuwina beranjak dari sofa untuk menuruti keinginan putrinya.
"Aku ikut." pinta Erlang.
"Kami juga ikut." Yusuf bersuara sembari beranjak dari tempatnya serta menarik tangan Niar.
"Maaf tapi pengunjungnya di batasi, hanya dua orang yang boleh masuk." tolak Yuwina.
"Kita bisa gantian." usul Erlang.
"Maaf sebaiknya saya dan Tiara dulu yang kesana, biar kami bisa lebih intens. Besok atau lusa barulah saya akan mengajak anda semua menjenguk papanya Tiara."
"Saya rasa betul kata bu Wina, biarkan Tiara bertemu dengan papanya dulu kapan-kapan kita kesananya." Dewi berujar.
Yuwina dan Mutiara segera berpamitan lalu keluar dari rumah Yusuf menuju Rutan dimana seorang pria paruh baya sedang menjalani masa hukuman, padahal ia tidak melakukan kesalahan.
Namun nasi telah menjadi bubur di saat istrinya datang untuk membantu membebaskan dirinya namun masa hukuman itu hanya tinggal beberapa minggu saja.
Mungkin ini memang takdir Tuhan yang ingin menguji umatnya dengan cara memisahkan dari orang-orang tersayangnya.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh akhirnya Yuwina dan Mutiara sampai di Rutan, mereka turun dari mobil lalu masuk ke dalam.
Yuwina dan Mutiara memperlihatkan kartu identitas diri mereka lalu menjalani pemeriksaan akhirnya mereka bisa masuk ke ruang berkunjung.
Yuwina dan Mutiara duduk di kursi dan bersebelahan, Mutiara menunggu kehadiran papanya, beberapa saat kemudian munculah seorang pria paruh baya yang bentuk wajahnya mirip Mutiara.
Yuwina beranjak dari tempatnya lalu melangkah beberapa langkah hingga sampai di depan suaminya kemudian memeluknya erat, Mutiara berdiri dengan ragu-ragu.
Yuwina melepas pelukannya pada suaminya lalu menoleh ke arah Mutiara. "Sini sayang."
"Siapa mah?" tanya pria paruh baya itu.
Mutiara melangkah beberapa langkah hingga sampai di depan kedua orang tuanya, Yuwina merangkul pundak Mutiara serta menatap suaminya. "Dia anak kita pah, dia adalah Tiara bayi kecil kita yang dulu di titipkan di panti asuhan."
Air mata pria paruh baya itu langsung luruh. "Ya Tuhan.... putriku." ucapnya lalu memeluk erat tubuh Mutiara.
Mutiara membalas pelukan papanya tak kalah erat. "Papa..." lirihnya.
"Kamu sudah besar dan cantik." ucapnya lalu melepas satu tangannya kemudian menarik tubuh Yuwina ke dalam pelukannya, ia memeluk kedua wanita yang di sayanginya sekaligus.
Mereka bertiga sama-sama menangis, tangis bahagia tentunya, sekian lama terpisah akhirnya mereka bisa bertemu, tapi masih ada satu orang lagi yang belum ketemu.
Yaitu putri sulung Mahendra dan Yuwina.
*
*
Masuk akal nggak sih?
Kalau nggak masuk di masuk-masukkin ajalah. 🤣🤣🤣