An Agreement

An Agreement
Bab 7



*


*


🌴🌴🌴


*


Matahari mulai tenggelam hari sudah mulai gelap, Erlang membereskan meja kerjanya, semua tugasnya hari ini telah selesai dan waktunya pulang.


Erlang melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya menuju ruangan Mutiara, sebelumnya Kayla telah mengirim pesan padanya untuk mengajak Mutiara pulang bersamanya karena Kayla hari ini ada acara.


Erlang terus melanjutkan sampai di depan pintu kaca kemudian membuka pintu tersebut.


Menegakkan kepalanya saat mendengar suara pintu ruangannya terbuka. "Kak Erlang? Ngapain kesini lagi?"


Erlang melanjutkan langkahnya kemudian duduk di kursi yang tadi siang ia duduki. "Pulangnya bareng aku aja hari ini Kayla ada acara." jawab Erlang.


"Kerjaanku masih banyak kak."


Erlang mengeluarkan laptop dari dalam tas kerjanya kemudian menaruhnya di atas meja persis seperti yang ia lakukan tadi siang. "Aku akan bantuin kamu lagi."


Mutiara menggeser beberapa lembar kertas yang belum selesai ia kerjakan pada Erlang, kali ini Mutiara tidak menolak di bantu oleh Erlang karena Mutiara memang butuh bantuan, lagi pula saat ini sudah diluar jam kerja tidak ada salahnya jika seorang atasan membantu bawahannya, hanya tinggal beberapa karyawan saja yang masih di kantor ini.


'Hening' cukup lama, mereka berdua fokus dengan kegiatan mereka masing-masing sampai tidak terasa kalau sudah larut malam.


Mutiara meregangkan tangan dan kakinya yang terasa kaku karena terlalu lama dalam posisi seperti itu, kerjaannya hari ini sudah selesai berkat bantuan dari Erlang.


Mutiara membereskan meja kerjanya, Erlang juga melipat laptopnya kemudian memasukkannya ke dalam tas kerjanya.


"Sudah?" tanya Erlang memastikan kalau semua benar-benar sudah beres.


"Sudah." jawab Mutiara.


Mereka beranjak dari tempatnya kemudian melangkah menuju pintu, Erlang membuka pintu kaca di depannya lalu mereka keluar dari ruangan tersebut.


Mereka terus melangkah sampai di basement, dimana mobil Erlang terparkir disana lalu mereka memasuki mobil.


Erlang menyalakan mesin mobilnya lalu melajukannya membelah jalan menuju rumah orang tuanya.


"Kamu mau makan dulu?" tanya Erlang sambil tetap fokus menyetir.


Mutiara menoleh ke samping dimana Erlang berada. "Nanti di rumah aja kak, ini sudah malam lebih baik kita pulang."


"Okey." jawab Erlang kemudian kembali fokus dengan jalan di depannya.


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh akhirnya mereka sampai di rumah, Erlang memakirkan mobilnya di garasi kemudian mereka turun lalu berjalan beriringan memasuki rumah.


"Mah.." Erlang memanggil namanya yang sedang menaiki anak tangga.


Niar menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah sumber suara. "Erlang? Kamu mau nginep disini?" tanyanya sembari menuruni tangga.


Erlang menggeleng. "Enggak mah, Erlang hanya sebentar disini." jawab Erlang lalu memeluk mamanya sesaat.


Niar mengusap lembut punggung Erlang. "Capek? Sudah makan malam?"


Erlang melepas pelukannya. "Ini mau mandi dulu setelah itu baru makan malam." jawab Erlang kemudian menoleh ke belakang. "Ayo Tiara kita mandi dulu terus makan malam." ujar Erlang lalu menaiki tangga menuju kamarnya.


"Tiara ke kamar dulu mah." pamit Mutiara pada Niar lalu mengikuti langkah Erlang menuju kamar mereka.


Niar melangkah menuju kamar bi Lastri pembantunya, untuk meminta menyiapkan makan malamnya Erlang dan Mutiara, setelah beres barulah dia menaiki tangga lagi menuju kamarnya dimana suaminya sudah menunggu dirinya.


Erlang mandi terlebih dahulu, setelah selesai mandi Erlang masuk ke dalam walk in closed dan Mutiara yang bergantian yang mandi.


Setelah mereka sama-sama sudah bersih barulah mereka turun untuk makan mengisi perut mereka sebelum istirahat.


Mutiara meraih piring kosong di depan Erlang kemudian mengambilkan nasi untuk Erlang. "Kak Erlang mau sayur dan lauk yang mana?" tanyanya.


Mutiara mengambilkan sayur beserta lauknya kemudian menyerahkannya pada Erlang, setelah itu barulah dirinya mengambil untuk dirinya sendiri, mereka makan dalam diam.


Mereka hanya berdua karena Yusuf, Niar dan Kayla sudah makan terlebih dahulu.


Erlang menggeser piring kosongnya lalu minum air putih yang sudah di sediakan oleh Mutiara sebelumnya.


"Kak Erlang duluan aja, Tiara mau membereskan meja makannya dulu." ujar Mutiara sembari mengumpulkan piring kotor di meja tersebut, sudah menjadi kebiasaan Mutiara setelah makan pasti akan membereskan meja makan, mungkin sudah menjadi kebiasaannya selama hidup di panti harus bisa mandiri.


Erlang menggeser kursinya ke belakang lalu beranjak dari kursi tersebut kemudian melangkah menuju kamarnya.


Mutiara segera membereskan meja makan di bantu oleh bi Lastri pembantu di rumah tersebut.


"Seharusnya non Tiara nggak usah repot-repot bantuin bibi." ujar bi Lastri.


"Tidak apa-apa bi, Tiara sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan seperti ini."


Bi Lastri yang mencuci piring sedangkan Mutiara yang memindahkan piring dari meja makan menuju wastafel sampai meja makan itu bersih.


"Tiara tinggal ya bi." ujar Mutiara setelah meletakkan piring terakhir di wastafel.


"Iya non, makasih sudah bantuin bibi."


Mutiara kembali menaiki tangga menuju kamarnya, biasanya Mutiara sendiri di dalam kamar tersebut tapi tidak untuk malam ini, ada orang lain yang berada di dalam kamar lebih tepatnya pemilik kamar tersebut.


Mutiara telah memegang handle pintu namun tiba-tiba dia ragu untuk memutarnya, jantungnya berdetak lebih cepat saat membayangkan seseorang yang berada di dalam kamarnya.


Mutiara menarik napas dalam lalu menghembuskan perlahan kemudian membuka pintu di depannya pelan-pelan.


Mutiara memasuki kamarnya dan bernapas lega saat melihat Erlang sudah berbaring dengan mata terpejam, kemudian Mutiara membelokkan langkahnya menuju wastafel untuk gosok gigi dan cuci muka.


Setelah selesai semuanya barulah Mutiara melangkah menuju ranjang, dengan ragu Mutiara menaiki ranjang pelan-pelan supaya tidak menggangu istirahatnya Erlang.


Mutiara duduk bersandar di kepala ranjang lalu menatap Erlang yang sedang tertidur, gurat kelelahan terlihat jelas di wajahnya, entah itu masalah kantor atau ada beban lain yang di pikulnya.


Mutiara terus memandangi wajah Erlang sampai mata Erlang tiba-tiba terbuka dan membuat Mutiara tersentak kaget.


"Kedip Tiara! Aku tau kalau aku tuh ganteng, tapi tidak perlu sampai segitunya memandanginya." ucap Erlang di serta kekehan.


Seketika wajah Mutiara memerah karena malu lalu segera memutar bola matanya ke arah lain asal tidak bertemu dengan mata Erlang. "Haishh... kak Erlang kepedean!!"


Erlang tergelak kencang, ternyata menggoda Mutiara itu mengasikkan.


"Kak Erlang capek?" tanya Mutiara. "Mau Tiara pijitin?"


Erlang beringsut duduk. "Kalau di tanya capek atau tidak jawabannya ya pasti capek tapi tidak usah repot-repot mijitin aku, kamu sendiri juga capek kan? Kerjaan kamu juga banyak tadi."


"Tidak apa-apa kerjaan Tiara kan tidak terlalu menguras otak, hanya butuh istirahat sebentar saja pasti hilang capeknya, beda dengan kak Erlang pasti kerjaan kak Erlang sangat menguras otak, secara, tanggung jawab yang kak Erlang sangatlah besar."


Erlang kembali membaringkan tubuhnya tapi kali ini tengkurap. "Ya sudah kalau kamu memaksa, aku hanya bisa pasrah."


"Tiara nggak maksa!!!" protes Mutiara dan di balas gelak tawa oleh Erlang. "Ha.. ha.. ha.." Erlang tertawa, sungguh menyenangkan sekali menggoda Mutiara.


"Ayo!" seru Erlang.


Mutiara beringsut sampai di sebelah Erlang, tanganya terangkat dengan ragu.


Mutiara sudah beberapa kali bersentuhan dengan seorang pria karena Mutiara sudah beberapa kali memiliki kekasih, namun berbeda dengan Erlang, Mutiara merasa ada dinding tak kasat mata yang menghalanginya untuk menyentuh Erlang, mungkin status Erlang yang sudah beristri atau mungkin karena Mutiara sudah menganggap Erlang sebagai kakaknya sendiri.


*


*


Bingung nih mau ngomong apa hahaha readersnya masih di Buai kupu-kupu malam semua. πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜