
*
*
π΄π΄π΄
*
Hanna kembali menjenguk Elmira setelah kemarin ia menjual tas branded milik Elmira dan hasil jual tas itu mungkin hanya cukup untuk menghidupi dirinya selama 1 bulan.
Hanna di ruang ICU bersama seorang suster yang sedang memeriksa kondisi Elmira, namun baru beberapa saat ia merasa lapar, Hanna beranjak dari kursi kemudian melangkah menuju pintu keluar untuk makan siang.
Namun Hanna kembali memasuki ruang ICU saat melihat Mahendra dan Yuwina berjalan menuju ruang ICU.
"Sus tolong nanti kalau ada orang yang menanyakan saya, bilang kalau saya sedang makan siang ya!!" titahnya pada sang suster kemudian ia berjalan cepat lalu memasuki toilet.
Tak berselang waktu lama pintu ruang ICU terbuka, Mahendra dan Yuwina memasuki ruangan tersebut.
"Bagaimana kondisinya sus?" tanya Yuwina pada suster yang sedang memeriksa Elmira.
"Masih seperti kemarin bu." jawab sang suster.
"Apa tidak ada orang yang menemani pasien sus? Kok pasien sendirian?" Yuwina mengajukan pertanyaanya lagi.
"Tadi ada ibunya tapi sekarang beliau sedang makan siang." jawab sang suster lagi.
"Oh..." Yuwina menanggapi jawaban sang suster.
"Saya keluar dulu pak, bu..."
"Silahkan..."
Suster keluar dari ruangan tersebut, tinggallah Yuwina dan Mahendra yang masih di dalam.
Yuwina menatap sang suami. "Menurut papa dia Aurel apa bukan?"
"Papa juga nggak tahu mah, andai wajahnya tidak terluka kita pasti bisa mengenalinya." jawab Mahendra lesu.
"Kapan hasil tes DNA nya keluar pah?"
"Mungkin beberapa hari lagi."
Yuwina mendekati Elmira ia menatap Elmira dalam, tangannya terulur untuk mengelus rambut Elmira. "Cepat bangun nak! Tunjukkan siapa diri kamu."
Mahendra merangkul istrinya membuat Yuwina mengalihkan atensinya, ia menatap suaminya. "Kalau dia benar-benar Aurel gimana pah?"
Mahendra menggeleng pelan. "Papa juga tidak tahu mah, bagaimana nasib salah satu putri kita."
Yuwina membuang napas berat. "Mama takut pah, kalau sampai benar dia putri kita."
Mahendra mengusap lembut bahu istrinya untuk menenangkannya. "Kita pulang mah atau mau ke rumah Tiara dulu?"
"Pulang aja pah, besok aja kita ke rumah Tiara. Mama capek."
Yuwina dan Mahendra keluar dari ruang ICU membuat Hanna bernapas lega, lain kali ia harus hati-hati jika sewaktu-waktu Mahendra dan Yuwina datang lagi.
*
π΄π΄π΄
*
Mutiara sedang duduk bersandar di kepala ranjang ia masih menonton drama kesukaannya padahal ini sudah malam.
Erlang juga sedang duduk berselonjor dan bersandar di kepala ranjang, ia memangku laptop dan jemarinya bergerak lincah di atas keyboard.
Beberapa saat kemudian Mutiara mematikan handphonenya karena drama yang ia tonton sedang melow, ia akan melanjutkannya lain kali kalau Erlang sedang kerja, untuk saat ini ia menundanya karena Erlang pasti akan melarangnya jika ia sampai menangis gara-gara drama.
Erlang menoleh saat melihat Mutiara menyudahi nonton dramanya. "Kok udahan?"
"Udah selesai." jawab Mutiara sambil memanyunkan bibirnya.
Erlang menutup laptopnya kemudian meletakkannya di nakas. "Kita main tebak-tebakan aja gimana?"
"Yang kalah hukumannya apa dulu?"
"Kalau kamu kalah kamu cium aku."
"Kalau kamu yang kalah?"
"Aku yang cium kamu."
Mutiara memukul Erlang dengan bantal. "Yee!!! Itu mah enak di kamu semua."
"Ya udah kalau aku kalah kamu yang ngasih hukuman ke aku."
Mutiara nampak berpikir sejenak. "Kalau kamu kalah besok kamu harus masakin buat aku ya?"
"Yang lain Tiara, aku nggak bisa masak."
"Aku maunya itu!"
"Oke deal." Erlang mengulurkan tangannya.
Mutiara menerima uluran tangan Erlang. "Deal."
"Kita pingsut atau gunting batu kertas?"
"Gunting batu kertas aja." usul Mutiara.
"Oke mulai!"
"Gunting batu kerrrtas."
"Gunting batu kerrrtas."
"Batu?"
"Sama."
ucap Erlang, mereka sama-sama mengepalkan tangannya.
"Ulang!"
Mereka kembali mengulang dan akhirnya Erlang mengeluarkan tanda batu dan Mutiara tanda gunting.
"Kamu kalah." Erlang bersorak gembira membuat Mutiara mendengkus sebal.
"Kak Erlang jangan seneng dulu! Kita belum mulai permainannya siapa tahu nanti kamu yang kalah!"
"Okey kita mulai, tapi janji kalau kamu kalah kamu cium aku!"
"Iya ya!!"
"Pertanyaan... apa arti dragon?"
Mutiara tergelak. "Itu mah pertanyaan anak SD kak."
"Jawab aja!!"
"Naga." jawab Mutiara dengan percaya diri.
"Fly?"
"Terbang."
"Dragonfly."
"Naga terbang."
"Kamu kalah!!!"
Mutiara membulatkan matanya. "Enggak ya!! Aku bener."
"Jawabannya capung."
Mutiara mendorong tubuh Erlang sampai dirinya berada di atas Erlang. "Kamu curang!!!"
Erlang tergelak kencang. "Loh. Bener itu dragonfly kan emang capung."
"Tapi kamu tadi ngasih pertanyaannya bertahap, nggak di gabungin!!"
"Jawabannya tetep capung nggak bisa di ganggu gugat! Kamu kalah! Ayo sekarang kamu cium aku!"
"Cium yang mana nih?"
Erlang memajukan bibirnya.
"Harus di situ ya?" tanya Mutiara kemudian ia menggigit bibir bawahnya.
Erlang mengangguk.
Mutiara mendekatkan wajahnya kemudian mendaratkan kecupan singkat di bibir Erlang, namun dengan cepat Erlang menahannya, ia membalas kecupan Mutiara menjadi ******* lembut, ia menghisapnya pelan atas bawah bergantian lidahnya berusaha menelusup masuk ke dalam mulut Mutiara namun Mutiara segera melepas pagutan mereka, mengingat kalau di teruskan maka ciuman itu akan semakin menuntut dan mereka belum boleh melakukan itu.
"Aku mau bikin susu dulu kak." Mutiara mengalihkan hasrat mereka sebelum semakin menjadi.
Erlang terkekeh pelan. "Biar aku aja yang bikin susu, kamu balikin laptop aku aja."
Erlang menuruni ranjang, ia melangkah keluar dari kamar menuju dapur.
Mutiara pun melakukan hal yang sama, ia menuruni ranjang kemudian meraih laptop Erlang yang berada di atas nakas untuk ia kembalikan di meja kerja Erlang yang tidak jauh dari ranjangnya.
Sebenarnya di lantai bawah ada ruang kosong yang bisa ia jadikan ruang kerja, namun Erlang lebih memilih di kamarnya, alasannya kalau capek atau ngantuk bisa langsung istirahat.
Mutiara meletakkan laptop Erlang di meja, namun saat hendak berbalik ia melihat sebuah amplop ber- stample rumah sakit, rasa penasaran pun menguasai Mutiara, ia meraih amplop tersebut kemudian membukanya, air matanya langsung mengalir di pipinya bahkan kertas tersebut sampai jatuh di lantai.
Mutiara mencengkram kuat ujung meja, ia mencari pegangan seakan kakinya tidak kuat menopang berat tubuhnya, feeling nya tidak meleset Elmira benar-benar kakak kandungnya.
"Tiara kamu kenapa??" tanya Erlang panik saat melihat Mutiara sedang menangis, ia mempercepat langkahnya kemudian meletakkan gelas yang ia bawa di atas meja.
"Ada apa Tiara?" tanya Erlang lagi.
"Kenapa kak Erlang tidak memberitahu aku kalau hasil tes DNA nya udah keluar? Kenapa kak Erlang seolah menutupinya dari aku?"
"Aku tidak menutupinya Tiara, aku hanya meletakkannya di situ dan berniat nanti aja ngasih tahunya ke kamu namun aku malah lupa."
Mutiara hampir menjatuhkan tubuhnya di lantai namun Erlang menahannya. "Jangan begini Tiara! Kita cari solusinya bersama."
"Tidak ada solusi dalam permasalahan ini kak, satu-satunya solusi adalah aku berpisah dengan kamu karena kamu adalah milik kakakku."
"ENGGAK TIARA!!!" tolak Erlang tegas.
*
*
Mungkinkah Tiara akan melanjutkan rencananya yang kemarin?
Membiasakan diri hidup tanpa Erlang.