
*
*
π΄π΄π΄
*
Sudah tiga hari Mutiara bedrest di rumah sakit dan kemungkinan besok sudah boleh pulang.
Kalau siang hari Mutiara akan di temani oleh Yuwina kadang Mahendra tapi kalau malam Erlang yang menemaninya sama seperti waktu menjaga Elmira, Erlang berangkat dan pulang kerja akan langsung menuju rumah sakit.
Hari ini Erlang pulang agak malam, ia melangkah menelusuri lorong rumah sakit menuju kamar rawatnya Mutiara. Langkahnya terhenti di depan pintu kamar VIP lalu ia membuka pintu pelan supaya tidak mengganggu istirahatnya sang istri, namun di luar dugaan ternyata sang istri masih terjaga ia sedang fokus menatap layar handphonenya.
Erlang menutup pintu kemudian melangkah menuju ranjang, namun sebelum dekat dengan ranjang ia terkejut saat mendapati istrinya sedang menangis. "Tiara... kamu kenapa nangis?" tanya Erlang panik lalu ia mempercepat langkahnya.
Mutiara tersentak kaget saat mendengar suara Erlang, karena sedari tadi ia fokus dengan handphonenya.
"Kamu kenapa Tiara? Ada yang sakit?" tanya Erlang lagi.
Mutiara segera menghapus air matanya kemudian memperlihatkan drama yang sedang ia tonton.
Erlang mencubit hidung Mutiara gemas, bagaimana tidak gemas? Dirinya sudah khawatir takut jika terjadi apa-apa pada Mutiara atau janinnya karena ia telat datang cukup lama dan Mutiara sendirian di kamarnya, tapi ternyata Mutiara hanya terbawa suasana drama yang di tontonnya. "Kamu tuh bikin aku panik tau nggak!"
"Maaf... habisnya aku bingung mau ngapain sendirian di kamar."
Erlang duduk di kursi samping ranjang Mutiara. "Mama dan papa udah pulang dari tadi?"
"Baru setengah jam man sih."
"Maaf aku pulang telat karena memang banyak yang harus aku selesaikan dulu di kantor."
Mutiara tersenyum tipis. "Tidak apa-apa."
"Kok belum tidur sih? Ini udah malam loh."
"Belum bisa tidur."
Erlang membuka tas kerjanya lalu mengeluarkan laptopnya dari dalam tas tersebut.
Mutiara mengernyit. "Kok bawa laptop kak? Kamu mau ngerjain tugas kantor disini? Emang banyak banget ya kerjaan di kantor sampai kamu mau lembur disini?"
"Bukan." jawab Erlang singkat.
Mutiara mendengkus sebal, pertanyaannya segitu banyak dan Erlang hanya menjawab satu kalimat saja. "Terus buat apa?" tanya Mutiara lagi.
"Geser dong!" Erlang tidak menjawab pertanyaan dari Mutiara namun malah meminta Mutiara menggeser sedikit tubuhnya supaya dirinya bisa ikut naik ke ranjang.
Mutiara beringsut duduk. "Kenapa sih?" tanyanya lagi sembari menggeser tubuhnya memberi tempat untuk Erlang duduk di sebelahnya.
Erlang menaiki ranjang kemudian mengarahkan layar laptopnya di depan Mutiara. "Kamu mau pilih yang mana?"
Mutiara semakin di buat bingung oleh Erlang, ia menatap laptop dan Erlang bergantian. "Maksudnya apa sih kak? Jangan buat aku bingung deh!"
"Katanya kamu mau merasakan menjadi istri yang sesungguhnya, hidup satu atap dan menjalani waktu bersama. Untuk memenuhi semua itu ya kita harus beli rumah sendiri."
"Ya nggak harus beli rumah juga kali kak, kita kan bisa tinggal di rumah mama Niar atau mama Wina."
"Bukankah aku harus bersikap adil pada kamu dan Elmira? Maka dari itu aku akan beli rumah untuk kita tempati, sama seperti Elmira."
"Kalau kita beli rumah, terus kalau kamu nginep di rumah lama aku sendirian dong?!"
"Enggak sendirian, nanti kita memperkerjakan pembantu untuk membersihkan rumah sekaligus menemani kamu. Sama seperti Elmira."
"Nggak usah ajalah kak, aku nyaman kok tinggal di rumah mama Wina atau mama Niar."
"Kamu harus nurut!! Apa kata suami kamu!"
"Harus banget ya?"
"Harus! Dan aku sudah membicarakannya sama mama dan papa, mereka juga sudah setuju."
"Baiklah." ujar Mutiara pasrah.
Mutiara mengambil alih laptop di pangkuan Erlang kemudian ia yang memangkunya, jemarinya bergerak di atas keyboard dan tatapan matanya fokus ke layar laptop.
Erlang hanya mengamati setiap gambar yang di pilih Mutiara. "Jangan milih yang jauh-jauh!" pesannya pada Mutiara.
"Iya..."
Gerakan jemari Mutiara terhenti saat melihat gambar rumah yang menurutnya cocok. "Yang ini aja kak."
Erlang mencondongkan tubuhnya untuk melihat lebih jelas lagi gambar yang di pilih Mutiara. "Ini terlalu kecil Tiara!" protesnya.
"Tapi aku suka yang ini kak. Tuh rumah itu juga deket dengan kantor, kamu lebih enak kan kalau berangkat dan pulang kerja tidak terlalu capek di perjalanan."
Jemari Mutiara bergerak lagi di atas keyboard, ia sedang mencari fasilitas apa saja yang tersedia di rumah itu. Rumah berlantai dua dengan desain minimalis, ukuran rumah itu tidak seberapa di banding rumah Yusuf yang megah.
Rumah itu hanya ada dua kamar di lantai atas dan satu kamar di lantai bawah dekat dapur, rumah minimalis namun asri karena terdapat banyak tanaman di halaman.
"Cari yang agak besaran dikit Tiara!"
"Aku maunya yang ini titik!"
Erlang mangambil alih laptopnya, ia meneliti setiap sudut rumah tersebut, memang benar yang di katakan Mutiara, rumah itu memang kecil namun cukup nyaman jika di tempati mereka bertiga, rumah itu sederhana namun enak di lihat dan fasilitasnya pun cukup memuaskan. "Ya sudah kita ambil ini, besok aku akan survei langsung kesitu, nggak apa-apa kan kalau kamu tidak ikut?"
"Nggak apa-apa."
Erlang menutup laptopnya lalu mengembalikannya ke tempat semula.
"Kamu udah makan malam?"
"Udah, kak Erlang sendiri udah makan malam?"
"Sudah. Aku mandi dulu ya?"
"Nggak usah mandi juga nggak apa-apa, aromanya tetep enak kok dan aku tetep suka."
"Lebih enak kalau udah wangi kan?"
"Ya udah sana mandi!"
Erlang menuruni ranjang lalu melangkah menuju kamar mandi.
Sembari menunggu Erlang mandi, Mutiara kembali membuka layar handphonenya ia akan melanjutkan nonton dramanya yang tertunda.
Namun baru sekitar sepuluh menit Mutiara menonton dramanya, Erlang sudah keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah segar dan wangi.
"Awas kalau sampai nangis lagi! Aku sita handphone kamu."
Mutiara hanya meringis.
Erlang melangkah sampai di sebelah ranjang kemudian mengambil handphone Mutiara. "Waktunya tidur!" ucapnya sembari meletakkan handphone tersebut di atas nakas.
Mutiara segera membaringkan tubuhnya.
Erlang menaiki ranjang seperti biasa, Erlang akan menemani Mutiara sampai tertidur setelah Mutiara tidur maka ia akan pindah ke sofa dan tidur disana.
Tak butuh waktu lama, Mutiara sudah terlelap, ia memang mudah sekali tertidur dalam dekapan hangat suaminya.
Erlang memandangi wajah Mutiara yang sedang tertidur, kebiasaan yang ia lakukan beberapa hari terakhir ini, wajah itu terlihat begitu damai dan itu membuat Erlang mengulum senyumnya.
"Tetaplah menjadi istriku Tiara, kita rawat debay sama-sama." bisik Erlang.
"Tapi bagaimana dengan Elmira?" batinnya.
Erlang menatap kosong ke wajah Mutiara, dirinya ingin sekali mempertahankan Mutiara supaya tetap menjadi istrinya dan membesarkan anak mereka bersama namun ia juga tidak mau kehilangan Elmira.
*
*
Mas Erlang jangan egois deh... maunya dua-duanya? πππ Pilih satu aja!
Author cuti dulu ya sampai lebaran? π€π€π€